Green Book: film nominasi Oscar yang cuma dapat 'dua bintang'

Green Book Hak atas foto Universal Pictures

Viggo Mortensen dan Mahershala Ali 'tampil luar biasa' dalam film yang tak sempurna tapi mendapat nominasi Oscar, kata Caryn James.

Tony Vallelonga adalah seorang penjaga klub malam Amerika keturunan Italia yang cepat naik pitam.

Don Shirley adalah pianis kulit hitam yang sangat terpelajar. Dr Shirley bisa memainkan Chopin — nama yang dari mulut Toni terdengar seperti 'Joe Pan'.

Pada 1962, Shirley yang sopan dan kaku menyewa Tony yang blak-blakan untuk mengantar dan melindunginya dalam sebuah tur konser di AS bagian selatan yang masih tersegregasi. Hanya seseorang yang sebelumnya tak pernah menonton film — bukan hanya Driving Miss Daisy, tapi film apapun — yang tak bisa menebak akhir dari film perjalanan dan pertemanan unik ini.

Untungnya, Green Book punya Viggo Mortensen yang memerankan Tony dan Mahershala Ali sebagai Shirley, dua aktor yang sangat bagus penampilannya di film manapun yang mereka bintangi.

Mereka membuat film ini bisa ditonton dan kadang menghibur, terlepas dari film ini mudah ditebak dan punya kelemahan di sana-sini.

Green Book, yang memenangkan Audience Award di Toronto International Film Festival dan tampaknya meraih nominasi Oscar, adalah bukti bahwa sebuah film bisa layak mendapat penghargaan tanpa harus bagus.

Mortensen, dengan perut buncit dan aksen Bronx, larut dalam perannya sebagai pemalas berhati lembut. Dia membuat Tony menjadi sosok hangat yang menyenangkan untuk ditonton — lihat caranya melipat pizza besar dan memakannya seperti roti isi — dia membuat kita lupa bahwa karakternya tak lebih dari stereotipe orang Italia-Amerika dengan gaya bicara cepat.

Dia adalah penipu kecil-kecilan, di luar tampak tangguh, namun sebenarnya pria yang cinta keluarga, dan meja makannya penuh dengan kerabat yang makan pasta, selain juga istrinya yang sabar (Linda Cardellini) dan lebih pintar dari dia.

Dalam sebuah adegan awal, Tony juga menunjukkan dirinya sebagai seorang rasis yang tak berpikir, dan ini adalah sebuah masalah yang pastikan akan diselesaikan oleh film.

Setelah dua pekerja kulit hitam meninggalkan dapurnya, dia mengambil gelas-gelas air yang mereka minum dan membuangnya ke tempat sampah. Green Book, dalam beberapa adegan, sama tak tahunya seperti Tony, film ini justru menguatkan stereotipe yang akan dihancurkannya.

Film ini berdasar pada sosok dan peristiwa nyata, dan naskahnya ditulis oleh Nick Vallelonga, anak Tony yang sebenarnya. Kisah ini sebagian besar adalah tentang Tony dan ditulis dari sudut pandangnya.

Karakter Shirley dengan pakaian yang rapi dan kaku adalah peran yang kurang menonjol, namun saat dia mewawancara Tony untuk pekerjaan sebagai sopir, Shirley mengenakan jubah Afrika warna putih dan emas dan duduk di kursi yang mirip tahta di apartemennya di Carnegie Hall.

Dalam perjalanan, dua pria ini saling kesal satu sama lain, tapi tak lama kemudian, Shirley membantu Tony untuk menulis surat untuk istrinya yang lebih romantis dan lebih tepat susunan kalimatnya.

Shirley menguasai beberapa bahasa, punya banyak gelar tinggi dan meremehkan bakatnya itu dengan memainkan lagu-lagu pop klasik yang banyak diterima penonton. Dia adalah sosok luar biasa, tapi naskah film ini hanya menampilkan selapis dari karakternya, dan sekilas menampilkan adegan bahwa dia gay.

Ali adalah sosok yang kehadirannya sangat kuat dan bisa menampilkan kedalaman serta renungan hanya dalam satu tatapan, hampir menghadirkan karakter yang tak ditampilkan lewat naskah.

"Martabat selalu menang," katanya pada Tony. Dia menyatakannya sebagai penjelasan akan kesopanan yang ditampilkan sebagai perlawanan terhadap dunia yang tak melihat harga dirinya.

Aspek paling menyadarkan dari film ini muncul lewat kisah-kisah tentang perlakuan rasis sehari-hari yang masih membentuk masyarakat di selatan Amerika pada awal 1960an.

Shirley menunjukkan pada Tony sebuah buku kecil berjudul The Negro Motorist Green Book, sebuah buku yang memandu para pejalan kulit hitam ke hotel-hotel dan restoran-restoran yang mau menerima mereka.

Dalam satu adegan yang menyentuh, Tony dan Shirley harus berurusan dengan polisi karena aturan hukum melarang orang kulit hitam berada di luar rumah pada malam hari.

Namun tak banyak yang bisa dilakukan oleh Mahershala Ali untuk film yang memperlihatkan adegan Tony berasumsi Shirley suka ayam goreng, dan setelah tahu bahwa stereotipe itu tak berlaku bagi Shirley, Tony mengajari Shirley cara menikmati ayam goreng.

Kenapa menghancurkan stereotipe hanya untuk menyatukannya lagi?

Sutradara Peter Farrelly telah membuat komedi dengan saudaranya, termasuk Dum and Dumber dan Something About Mary.

Di sini, dia bekerja sendiri, namun dia tak jauh-jauh dari formula film-film sebelumnya, memilih untuk menampilkan komedi yang blak-blakan di setiap kesempatan. Film ini pada akhirnya menuju sebuah momen persaudaraan antara dua pria yang di dunia nyata tak mungkin menjadi teman, tapi hanya bisa jadi teman di film.

Mortensen dan Ali memang menyenangkan untuk ditonton, tapi Green Book hanyalah serangkaian klisé.

★★☆☆☆

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di Film Review: Two stars for Green Book di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait