The Sopranos: acara revolusioner yang mengubah dunia televisi

The Sopranos Hak atas foto Tom Briglia/Getty Images

David Chase ingin menjadi seorang pembuat film avant-garde dari Eropa, penerus Fellini, atau setidaknya menjadi penulis AS yang berjaya di tahun 70-an, penerus Scorsese. Tapi alih-alih, sepanjang tahun 70-an, 80-an, dan 90-an, ia mendapati dirinya terus-terusan bekerja di serial televisi seperti The Rockford Files dan Northern Exposure.

Ia membenci televisi sebagai media, tapi ia tampaknya tidak bisa melompat ke ranah pembuatan film panjang.

Ketika ia mendapat ide untuk naskah The Sopranos – bos mafia yang menjalani terapi untuk menangani ibunya yang suka mengatur – ia membayangkannya sebagai film layar lebar.

Plotnya tentang seorang gangster di pinggiran kota New Jersey, Tony Soprano, dan hubungan yang rumit antara kehidupan profesional dan kehidupan keluarganya sebagai anak, suami, dan ayah. Ceritanya terkadang sensitif, terkadang brutal, dan merupakan versi modern dari film-film gangster seperti Goodfellas dan Godfather.

Namun manajer Chase memintanya untuk mempertimbangkan televisi, khususnya HBO, yang waktu itu belum sebesar sekarang.

Pada waktu itu, akhir '90-an, HBO hanyalah jaringan televisi kabel berbayar yang dikenal suka menyajikan film, pertandingan tinju, dan acara The Larry Sanders Show. Mereka menginginkan acara TV yang menantang dan berkualitas - acara yang sangat mirip dengan film yang selalu dicita-citakan Chase.

Populer karena gosip

Ketika The Sopranos tayang perdana di HBO pada 10 Januari 1999, para pemerhati film menyukainya. HBO mencetak rekor penonton, dan menikmati gelombang pujian dari pers dan kepopuleran di masyarakat.

Beberapa bulan kemudian negara-negara Eropa mulai berebut hak untuk menyiarkan serial tersebut. Hanya para penonton di Italia yang – mungkin ironis, mungkin juga wajar – merasa segan pada acara tentang seorang gangster Italia-Amerika yang suka marah-marah.

Kini, 20 tahun setelah penayangan perdananya di AS, mustahil untuk melebih-lebihkan pengaruh The Sopranos pada televisi di seluruh dunia. Meski Game of Thrones telah melampaui rekor penontonnya, The Sopranos membuka jalan untuk kualitas ala-film, anggaran masif, dan kepopuleran serial kolosal itu di seluruh dunia.

Bisa dibilang, setiap drama yang tayang setelahnya dipengaruhi The Sopranos: ceritanya lebih gelap, protagonisnya merupakan anti-hero, taruhannya lebih besar. Bahkan acara-acara komedi mengadopsi beberapa ciri khasnya, antara lain tokoh utama yang cacat dan jalan cerita yang berseri dan penuh kejutan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tony Soprano (tengah) adalah bos gangster yang menjalani terapi demi menangani ibunya yang suka mengatur.

Pengaruh yang merambat ini dimulai dengan nilai seni The Sopranos, dan penampilan luar biasa dari James Gandolfini sebagai Tony dan Edie Falco sebagai istrinya, Carmela, dan hal-hal lain. Tapi lanskap pertelevisian saat itu dan perkembangan teknologi begitu melipatgandakan pengaruhnya.

The Sopranos adalah Big Bang di puncak sejarah pertelevisian. Ia adalah acara yang tepat di waktu dan tempat yang tepat.

Ketika The Sopranos pertama kali tayang, ia sangat berbeda dari acara-acara lainnya di televisi. Friends, Touched by an Angel, Frasier, dan Everybody Loves Raymond sedang populer. ER menjadi standar emas dalam drama, terobosan dengan pengambilan gambar ala-dokumenter, dan jalan cerita yang realistis, tanpa akhir bahagia khas televisi.

Tapi The Sopranos mengalahkan ER sebagai acara drama terhormat. Kisah Tony adalah telaah halus tentang karakter dan risalah tentang maskulinitas modern, diceritakan dengan detail dan metafor sastra, sesekali diselingi dengan kekerasan brutal dan humor jorok.

Formula itu tidak akan berhasil sebelum 1999. Pada waktu itu, televisi kabel mulai menjadi standar di rumah-rumah AS, dan saluran kabel mulai mengeksplorasi acara-acara orisinal untuk menambah jadwal mereka yang penuh dengan siaran ulang acara sindikasi dan film.

Dengan banyaknya rental video, saluran televisi berbayar seperti HBO butuh cara untuk menarik penonton dengan sesuatu yang unik dan layak dibeli. Satu-satunya cara melakukannya adalah dengan acara yang memberi penonton sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan di saluran televisi biasa: serial yang terlihat seperti film panjang, lengkap dengan konten-konten dewasa seperti adegan telanjang, kata-kata kasar, dan kekerasan.

Latar cerita The Sopranos punya semua itu; seandainya acara ini berakhir di salah satu saluran televisi gratis di AS, yang diatur oleh standar Federal Communications Commission, ia akan terasa begitu lembek.

Kejutannya membuat orang-orang membicarakannya, yang mendorong orang-orang yang tak sengaja mendengar Sopranos dipuji-puji dalam percakapan untuk pulang ke rumah dan berlangganan ke HBO untuk melihat sendiri apa sih yang sering dibicarakan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Bisa dibilang semua drama yang tayang setelah The Sopranos membawa pengaruhnya."

Apa TV kabel saya tiba-tiba mati?

Dan seiring acara ini berkembang, internet menjadi lebih mainstream, memungkinkan para penggemar yang kini saling terhubung untuk saling berdebat dan menganalisis poin-poin plot, mendekonstruksi simbolisme, dan membuat katalog hal-hal kecil tentang dunia The Sopranos.

Hal ini tampak paling jelas ketika episode pamungkasnya pertama kali tayang pada 2007, yang berakhir dengan adegan Tony dan keluarganya makan malam dan ia mungkin atau mungkin tidak mendapatkan pembunuhan yang sudah ia tunggu-tunggu, lalu tiba-tiba layar berubah hitam. (Reaksi pertama kebanyakan pemirsa: 'Apakah TV kabel saya mati di saat-saat paling buruk?')

Seorang penggemar memulai sebuah blog untuk mengunggah esai panjang yang menjelaskan mengapa tidak diragukan lagi bahwa Tony akhirnya mati — sebuah tulisan yang sudah menjadi viral berkali-kali. Sejak itu, episode pamungkas The Sopranos itu telah dianalisis di seluruh penjuru internet.

The Sopranos menjadi templat bagi siklus hidup serial TV hebat, dalam 20 tahun sejak tayang perdananya. Sebuah acara dipuji-puji pemerhati, lalu para penonton mulai ikut membicarakannya. Ia menjadi fenomena, dengan setiap detailnya ditilik, dianalisis, dalam percakapan yang tidak akan mati di zaman streaming.

Dan setiap saluran televisi kabel, berbayar maupun basic, mengambil satu pelajaran yang akan meneruskan pengaruh The Sopranos: jika Anda membuat acara berkualitas dengan karakter yang kompleks dan nilai produksi tinggi, penonton akan datang dengan sendirinya — dan acara yang tepat bisa memberikan citra baru pada suatu saluran televisi.

Hak atas foto Bobby Bank/Getty Images
Image caption Penampilan James Gandolfini sebagai Tony Soprano sungguh "luar biasa".

The Shield, Battlestar Galactica, Breaking Bad, Sons of Anarchy, dan Mad Men semuanya memberikan saluran televisi mereka kehormatan baru. Model ini muncul kembali di era streaming: Orange is the New Black membesarkan Netflix, Transparent membesarkan Amazon Prime, dan The Handmaid's Tale membesarkan Hulu.

The Sopranos adalah pijakan bagi HBO untuk menjadi sebuah kekuatan budaya. Sex and the City tayang perdana di HBO enam bulan sebelum The Sopranos, sebuah terobosan bagi perempuan di televisi dan komedi, menjadi pabrik tren yang berpengaruh. Tapi sifatnya yang ringan dan fokusnya pada perempuan menyulitkannya untuk meraih respek yang langsung didapatkan The Sopranos karena kualitasnya.

Sejak saat itu, HBO menjadi identik dengan drama berkualitas. Rekam jejak HBO di tahun-tahun berikutnya memang tidak sempurna, tapi tetap mengagumkan: The Wire, Six Feet Under, Deadwood, Game of Thrones, Big Little Lies, Insecure.

Pengaruh ini juga terpancar ke seluruh dunia, dengan model The Sopranos menjadi standar de facto bagi acara televisi berkualitas. Drama politik Denmark Borgen, seri antologi distopia Inggris Black Mirror, dan drama penjara perempuan Australia Wentworth adalah beberapa contoh yang mengikuti jejak artistik The Sopranos.

Kita mungkin akan berdebat apakah Tony sudah mati atau belum dalam berpuluh-puluh tahun ke depan. Tapi satu hal yang pasti: warisan The Sopranos di televisi akan hidup lebih lama dari itu.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait