Vice: Film tentang wapres AS Dick Cheney yang tajam tapi tak cukup kuat

Aktor Christian Bale memerankan karakter mantan wakil presiden AS, Dick Cheney, dalam Vice. Hak atas foto Annapurna Pictures
Image caption Aktor Christian Bale memerankan karakter mantan wakil presiden AS, Dick Cheney, dalam Vice.

Sutradara The Big Short kini memilih untuk memfilmkan sosok Dick Cheney - mantan wakil presiden AS - dalam sebuah film yang sinis dan diteliti secara cermat dan tajam, tapi masih belum cukup kuat, menurut Nicholas Barber.

Adam McKay terkenal karena menyutradarai Anchorman, Step Brothers, dan beberapa film komedi lain yang memperlihatkan Will Ferrell menyumpah keras-keras dan merusak barang-barang, namun kemudian dia berubah menjadi pembuat film paling serius di AS.

Serius bukan dalam artian menjadi pemikir atau karyanya menjadi sulit, tapi serius dalam minatnya dengan masalah politik yang kompleks. Perubahan besar itu terjadi pada 2015, dengan The Big Short, sebuah drama dokumenter yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi di baik krisis keuangan 2007-2008, tapi tetap berupaya untuk membuatnya jadi lucu.

Selanjutnya, McKay mengikuti dengan Vice, film yang mempertanyakan bagaimana politik AS bisa sampai tahap yang sureal seperti sekarang. Jawabannya adalah dua kata, Dick Cheney.

Vice menggunakan cara-cara postmodern yang sama seperti The Big Short: ada bagian fantasi, monolog yang menjebol tembok keempat, alih suara yang ironis dan bahkan dialog yang mirip Shakespeare.

Namun kali ini, film ini menjadi lebih menggugah dan kuat dari film McKay sebelumnya karena fokusnya pada kehidupan satu sosok yang menarik dan hampir legendaris.

Pertama dia terlihat sebagai sosok mahasiswa drop out dan suka mengemudi saat mabuk di Wyoming pada 1963. Cheney (Christian Bale) kemudian menjadi asisten bagi Donald "Rummy" Rumsfeld (Steve Carell, yang masih terlalu Steve Carell), lalu menjadi kepala staf Gedung Putih, anggota kongres, lalu CEO perusahaan minyak, dan pada akhirnya menjadi wakil presiden yang lebih banyak mengambil keputusan untuk George W Bush (Sam Rockwell), dan satu lagi... sebagai pria suka pesta yang kemudian jadi serius.

Sepanjang film, Cheney menjadi semakin gendut dan semakin botak, dan ini memberi kesempatan bagi Bale untuk memperlihatkan perubahannya yang khas, dan bagi bagian tata rias untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa.

Pada satu titik, Anda akan lupa bahwa Bale ada di balik lapisan lateks karena dia sudah pelan-pelan berubah menjadi telur raksasa dengan kacamata di atasnya.

Cukup blak-blakan

Seperti yang sudah bisa Anda bayangkan dari sutradara Anchorman, Vice banyak menertawakan kebodohan pria dan rasa percaya diri yang berlebihan: Rockwell sangat menghibur sebagai Dubya yang konyol, lega bahwa kekuasaan dan wewenang tak lagi ada di dirinya. Namun yang paling menonjol dari proyek ini adalah kemarahan yang dipendamnya.

Saat Anda membayangkan bahwa Anda sedang menonton sketsa komedi di acara Saturday Night Live, McKay menaruh klip desa-desa di Kamboja yang hancur akibat bom AS atau kota-kota di Afghanistan yang dibuat menjadi debu.

McKay menegaskan bahwa Cheney dan rekan-rekannya bukanlah karakter kartun, mereka adalah penipu, penyiksa, pembunuh massal, perusak lingkungan dan calon diktator. Beberapa orang yang menonton Vice (atau menolak menontonnya) akan menyebutnya sebagai propaganda liberal, tapi McKay cukup cerdas untuk memasukkan lelucon tentang kemungkinan ini terjadi di bagian kredit.

Apapun pilihan atau kecenderungan politik Anda, film yang sinis dan punya sandaran riset yang kuat ini cukup blak-blakan.

Masalah apakah lelucon ini bisa mencapai targetnya, itu soal lain. Salah satu lelucon yang ada di Vice adalah Cheney begitu seringnya mengalami serangan jantung sampai-sampai dia menganggapnya sebagai gangguan ringan. Secara metafora, apa yang ada di hati Cheney? Apa yang ada dalam otak di muka yang tebal itu? Pada satu adegan, Cheney muda bertanya pada Rumsfeld, "Apa yang kita yakini?" Jawaban Rumsfeld hanya tawa yang jahat.

Ini pertanyaan wajar. Apa yang diyakini Cheney? Sebagai anggota kongres, dia diperlihatkan mendukung setiap undang-undang yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih kejam dan lebih kotor.

Sebagai wakil presiden, dia menyetujui "penahanan rahasia luar biasa" (extraordinary rendition) dan "interogasi yang diperluas", ungkapan yang sudah menggambarkan kengerian yang ditimbulkannya. Tapi, yang mengesalkan, kita tak diberi tahu alasannya mengambil keputusan-keputusan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Christian Bale memerankan sosok wapres AS Dick Cheney.

Pada awalnya, Cheney adalah orang bingung yang mau saja disuruh melakukan apapun. Dia bisa saja jadi saudara Forrest Gump atau saudara Chance, yang diperankan Peter Sellers di Being There: orang-orang yang tidak terlalu cerdas tapi bisa dekat dengan mereka yang berkuasa.

Namun pada satu titik, "pelajar yang biasa-biasa saja dan atlet yang medioker" ini, seperti dikisahkan oleh narator, berubah dari sosok asisten menjadi penguasa dengan gaya Machiavellian. McKay tidak memperlihatkan kenapa atau bagaimana ini terjadi. Sebuah penjelasan di bagian awal film menyatakan bahwa sulit untuk membuat biopik untuk seseorang yang begitu "penuh rahasia" tapi "kami sudah melakukan yang terbaik".

Pada akhirnya ini belum cukup bagus.

McKay lebih percaya diri dalam menyusun karakter istri Cheney, Lynne. Diperankan oleh Amy Adams, yang tak mendapat porsi cukup tapi layak mendapat penghargaan, Lady Macbeth ala Amerika ini tampil penuh dengan kepahitan dan ambisi.

Didorong oleh kebenciannya akan ayahnya yang kasar dan alkoholik, Lynne mendorong Cheney untuk bersih dari alkohol dan mengubah dirinya. Dialah yang punya karisma, tak seperti Cheney, untuk memenangkan pemilih di kota-kota kecil dan orang dalam Washington.

Kita baru saja akan mengenalnya, tapi kemudian dia hilang dari film. Dan suaminya, sepertinya tak termotivasi dengan patriotisme, ambisi, kerakusan (selain rakus terhadap kue-kue). Meski kita menikmati karakterisasi yang ditampilkan Bale - suara berat Bruce Wayne di The Dark Knight, sosok Patrick Bateman, sosiopat yang tenang, di American Psycho - kita tak bisa mengenal Cheney.

Vice, dengan segala gaya dan kecerdasannya, justru menunjukkan keterbatasan McKay yang terlalu gemerlap dan tak subtil dalam satir non-fiksi. Dia suka bergerak cepat melewati fakta dan angka yang terdokumentasi, dan ini bagus, tapi pada satu titik, seorang dramatis harus berhenti dan mulai melakukan drama.

Seorang dramatis harus menyoroti emosi dan tindakan seorang karakter secara intim, dan McKay tak mau mendekat. Mungkin dia terlalu membenci Cheney untuk memanusiakannya. Mungkin juga ada terlalu banyak materi yang harus ditampilkannya.

Menjelang akhir, Vice kehilangan semua struktur naratifnya dan menjadi daftar poin-poin kejahatan dan kemarahan. Masih tetap bernada marah, masih mendidik, dan masih cerdas. Tapi ini bukan karya seni, melainkan sebuah entry di Wikipedia yang dibuat jadi mewah.

★★★☆☆

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca dalam bahasa Inggris di Film review: Vice di laman BBC Culture

Topik terkait