Mengapa film karya sutradara perempuan Ida Lupino masih relevan hingga hari ini

Ida Lupino Hak atas foto Getty Images

Dalam adegan berani dan dieksekusi dengan gemilang oleh Ida Lupino di film Outrage (1950), seorang perempuan muda bernama Ann berjalan keluar dari kantornya pada larut malam ke sebuah tempat parkir mobil yang sepi.

"Hei, cantik!," teriak seorang pria yang kemudian mengikutinya, dengan tidak menyenangkan.

Mencoba melarikan diri, Ann berlari melewati lorong-lorong dan gang di antara truk, bayang-bayang hitam-putih ekspresionis yang memotong layar. Dia menggedor jendela untuk meminta bantuan tetapi tidak mendapat jawaban.

Kita berbagi ketakutan yang meningkat dari sang pahlawan selama lima menit yang menyiksa sampai dia tersandung dan terjerembab, dan film tersebut terpotong ke adegan berikutnya: Ann berjalan kembali ke rumah berpagar yang terpisah dengan orang tuanya, dalam kondisi kotor dan tertegun, seorang korban trauma dari serangan.

Kecuali untuk mode dan mobil yang sekarang vintage, pemandangan itu bisa diaplikasikan di masa kini. Tapi tidak ada yang seperti itu di Hollywood lama, dan tidak ada yang menyukai Lupino.

Kata 'pemerkosaan' tidak pernah digunakan dalam Outrage, meskipun apa yang terjadi sepenuhnya jelas.

Menolak sikap sosial pada waktu itu, yang sering menyalahkan korban, film ini menggambarkan Ann sebagai tidak bersalah, dan dengan empatik menunjukkan tekanan pasca-trauma - sebuah ungkapan yang akan membingungkan penonton pada saat itu - ia menderita setelah serangannya.

Outrage, yang naskahnya ditulis bersama Lupino, menampilkan semua kualitas yang membedakannya sebagai pembuat film dan membuatnya menjadi yang terdepan di masanya.

Pada tahun 1940-an ia dikenal sebagai aktris, biasanya memainkan peran yang meskipun baik hati tapi juga tangguh, dalam thriller yang termasuk They Drive by Night (1940) dan yang aktingnya yang terbaik, High Sierra (1941), bersama Humphrey Bogart.

Namun dalam ledakan singkat yang brilian, dari tahun 1949 hingga 1953, ia menyutradarai enam dari tujuh filmnya, menulis bersama dan memproduksi banyak dari mereka.

Dia, tentu saja, seorang sutradara perempuan di dunia pria, tetapi lebih dari itu film-filmnya layak untuk dibahas kembali karena mereka begitu substansial, penuh gaya dan berani, dengan pandangan masyarakat yang idealistis yang tampaknya penuh harapan bahkan hingga sekarang.

Lupino sering mengambil masalah sosial yang biasanya tabu. Dua film terbaiknya adalah Outrage dan Not Wanted (1949), tentang seorang perempuan lajang yang menjadi hamil.

Never Fear (juga 1949) berurusan dengan epidemi polio.

Semua filmnya menawarkan belas kasih untuk pahlawan mereka, dan dengan keras mengkritik masyarakat yang menghakimi di sekitar mereka. Secara artistik, gaya noir Lupino memberikan suara pada gejolak batin karakternya serta realitas fisik yang menakutkan dari situasi mereka.

Pilihan seorang perempuan

Lupino mulai mengarahkan film pertamanya. Frustasi karena selalu memainkan peran tipikal, dia menolak untuk memperbarui kontrak jangka panjang dengan Warner Brothers, dan mulai menulis dan memproduksi film, dimulai dengan Not Wanted.

Ketika sutradara asli film itu, Elmer Clifton yang terlupakan, mengalami serangan jantung beberapa hari sebelum pengambilan gambar, Lupino, yang sudah siap dan ingin melindungi karyanya sendiri, mengambil alih.

Dalam banyak hal, dia adalah wanita pada masanya, dengan pendekatan tinju-dalam-sarung tangan-beludru. Dia tidak dikreditkan sebagai sutradara di Not Wanted, meskipun selalu diketahui bahwa dia mengambil alih peran itu.

"Astaga, tidak! Saya tidak akan berpikir untuk menyutradarai," katanya kepada seorang wartawan Los Angeles Daily News yang mengamatinya di lokasi syuting.

Dia menulis: "Sulit untuk mengatakan apa yang dia lakukan jika itu tidak menjadi sutradara."

Lupino telah belajar banyak tentang film noir saat berakting untuk sutradara seperti Nicholas Ray dan Raoul Walsh. Not Wanted dengan cekatan menerapkan sentuhan gaya itu pada kisah Sally (Sally Forrest), seorang gadis kota kecil yang memiliki percintaan singkat dengan seorang pianis klub malam.

Film dimulai dengan Sally berjalan menaiki bukit yang curam, dengan linglung. Dia melewati kereta bayi, menjemput anak itu dan terus berjalan, dengan khayalan mengatakan, "Ini bayiku."

Ketika dia ditangkap karena penculikan, jeruji sel penjara memberikan bayangan lembut padanya, menunjukkan pemenjaraan emosional yang sudah dialaminya.

Dalam kilas balik, kita melihat bagaimana dia sampai di sana. Steve, pianis jazz yang glamor (diperankan oleh Leo Penn, ayah Sean Penn), melewati kota kecil Sally.

Pada malam terakhirnya, mereka tidur bersama, meskipun kamera memotong sebelum kita melihat lebih dari sekedar ciuman. Lupino selalu menari-nari di sekitar batas sensor yang ditetapkan badan sensor Hollywood, Motion Picture Production Code, yang juga menolak judul asli untuk film itu, Unwed Mom.

Ketika Sally mengikuti Steve di sebuah kota, Steve mencampakkannya dengan kalimat yang hingga kini masih terasa segar, meskipun itu sebenarnya adalah dialog film tahun 1940an.

"Kita adalah dua orang yang paham apa yang sudah kita lakukan, ingat? Saya tidak pernah memberimu ide klise tentang menikah dan tua bersama… saya tidak pernah berbohong padamu, sekarang terima lah ini."

Lupino menggunakan trik visual -yang berhasil menguak kondisi pikiran dan fisik Sally- tanpa menjadi terlalu memberi iming-iming. Eksposur ganda memperlihatkan wajah Sally ketika dia sedang melamun, dan Steve memainkan piano di dalam mimpinya. Namun naskah Lupino menjadi elemen yang palin orisinal dalam film itu.

Setelah Steve lama pergi, Sally mendapati dirinya di rumah untuk ibu-ibu yang tidak menikah, dimana ada seorang perempuan yang berujar: "Kami temanmu, bukan orang yang menghakimimu."

Dia bertanya kepada Sally apakah dia ingin merawat anaknya, sebuah pilihan yang sulit pada saat itu ketika perempuan yang tidak menikah secara rutin ditekan agar merelakan anaknya untuk diadopsi orang lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gaya noir film-film Lupino membatu memvisualisasikan gejolak psikologis yang dialami tokohnya.

Hari ini, tentu saja, pilihan aborsi ada untuk Sally, namun kesulitan yang dihadapi atas keputusannya masih relevan dengan pilihan perempuan mana pun tentang masa depannya.

Betapapun, beberapa dialog terasa sudah kadaluwarsa. Ketika Sally bertanya tentang keluarga yang akan mengadopsi anaknya, dia diberitahu "Mereka adalah orang-orang yang memiliki ras dan agama yang sama denganmu."

Namun, menghadirkan Sally yang baik dan bijaksana, bukannya perempuan yang gampangan, adalah sesuatu yang radikal pada 1950. Melalui karakter yang menampilkan kepahlawanan itu, Lupio menawarkan sebuah visi tentang masyarakat yang berpikiran lebih terbuka.

Yang terbaik dari masyarakat

Outrage sama juga radikalnya. Elemen yang mendobrak batasan dimulai saat Ann (Mala Powers) dan orang tuanya melaporkan kejahatan yang baru saja dialaminya ke polisi, hal yang dirasa tidak bisa dilakukan oleh perempuan pada saat itu, bahkan hingga kini. Dan trauma yang dialami Ann masih terlihat secara jelas.

Orang tua dan tunangannya sepenuhnya sangat simpatik. Namun dia memutuskan pertunangan, berkata ke pasangannya bahwa "semuanya kotor", dan "kamu tidak pernah lupa."

Dia tahu tetangga dan temannya memandang dan bergosip tentangnya dan kabur ke kota lain.

Bayangan hitam putih Lupino berubah menjadi cerah ketika Ann akhirnya bekerja di sebuah kebun jeruk, namun dia tidak bisa lari dari trauma yang dideritanya.

Pada sebuah tamasya, seorang pria yang tidak dia kenal menciumnya, dan kenangan buruk itu menyergapnya.

Kita melihat kilas balik dari bekas luka di leher pemerkosanya, ketika pria yang tak dikenalnya ini mendekatinya. Dalam panik, Ann menyerang balik, berhasil meraih kunci Inggris dan memukul pria itu.

Lupino menggambarkannya sebagai pria yang tidak berbahaya. Itulah satu-satunya pendekatan film yang tampaknya ketinggalan zaman. Dan penekanan pada kondisi pikiran Ann dalam adegan tetap begitu jelas sehingga terasa abadi.

Sekali lagi, Lupino mengelilingi pahlawan wanita itu dengan tokoh-tokoh yang memahami kondisinya, yang mewakili karakter masyarakat terbaik.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Frustasi dengan karakter tokoh yang terbatas, Lupino beralih ke belakang layar dan menulis skenario

Seorang menteri membantunya, bukan dengan menawarkan nasihat keagamaan, tetapi dengan membagikan kisah tentang hari-hari kelamnya sendiri setelah ia terluka dalam Perang Dunia Kedua. Pengalaman mereka bersama tentang PTSD menjadi pusat emosional dari film ini.

Sebagian besar film Lupino diproduksi oleh The Filmakers (dieja dengan satu m), sebuah perusahaan yang ia mulai dengan suami keduanya, Collier Young.

Kesepakatan distribusi yang buruk dengan RKO Howard Hughes sebagian besar bertanggung jawab atas kematian perusahaan pada tahun 1955.

Lupino melanjutkan kariernya yang panjang dan sukses sebagai sutradara televisi, pada proyek-proyek yang tidak memungkinkannya untuk meninggalkan karya seorang autuer.

Tetapi masa pendek Lupino sebagai sutradara film sangat mengagumkan. Filmnya pada tahun 1953, The Hitch-Hiker, adalah salah satu filmnya yang paling sukses secara komersial dan selama bertahun-tahun dia sangat dipuji.

Ini adalah film thriller kencang tentang dua pria yang disandera oleh seorang pembunuh berantai saat mereka pergi memancing. Saat ini, kurangnya orisinalitas film sepertinya menjadi kunci keberhasilannya: ia berfokus pada karakter pria dan mungkin dibuat oleh banyak sutradara noir lainnya.

Tapi hanya Ida Lupino yang bisa membuat Outrage dan Not Wanted, film yang berbicara lebih keras hampir 70 tahun setelah mereka muncul.

Dan hanya Lupino yang bisa membuat The Bigamist (1953) di mana seorang salesman yang bermaksud baik menikahi dua wanita, diperankan oleh Lupino dan Joan Fontaine.

Pada saat itu, Lupino dan Collier Young telah bercerai, dan Young menikah dengan Fontaine - ini artinya Lupino mengarahkan dirinya dan istri mantan suaminya, memerankan perempuan yang menikah dengan pria yang sama.

Situasi yang memusingkan itu harus menjadi sejarah pertama, salah satu prestasi Lupino yang lebih kecil, namun tetap memesona.

Narasi tentang seorang wanita yang memegang kekuasaan di antara orang-orang sezamannya telah menemukan resonansi baru bagi generasi yang peduli akan kesetaraan.

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini, Why Ida Lupino's taboo-breaking films could be set today di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait