Kisah Edward Burne-Jones, pelukis era Victoria yang tak menentukan identitas gender subjeknya

The Garden Court oleh Burne-Jones, 1874-84 Hak atas foto The Faringdon Collection Trust
Image caption Lukisan The Garden Court oleh Burne-Jones, 1874-84.

Subjek lukisan Burne-Jones digambarkan 'cantik dan tak berdaya'. Dia melukis perempuan simpanannya sebagai dewi-dewi era Renaisans meski dianggap seorang modernis.

Istilah sprezzatura dalam bahasa Italia berarti membuat sesuatu yang sulit seolah mudah. Pelukis Edward Burne-Jones membuat sesuatu yang sulit terlihat sulit. Dan terlepas dari apa ekspektasi Anda, karya-karya Burne-Jones bisa terlihat rumit atau malah subtil.

Burne-Jones sudah membelah pendapat kritikus seni sejak dia pertama berkarya. Baru-baru ini, Waldemar Januszczak menyebutnya sebagai 'seniman yang buruk', tapi dia juga dipuji sebagai salah satu dari tiga pelukis terhebat Inggris oleh sejarawan seni terkemuka, John Pope-Hennessy.

Ada tekanan untuk memilih pendapat siapa yang benar. Dan melihat dari pameran yang tengah berlangsung di Tate Britain di London, ada kemungkinan besar bahwa Burne-Jones kini menjadi penting lagi.

Mungkin kita merasa ingin menggulung diri sendiri di karpet Pomona (1885; linen yang dibordir dengan sutra) yang tergantung di pameran Burne-Jones.

Kain itu terlihat begitu mewah dan menggoda, tapi tentu saja petugas keamanan tak akan mengizinkannya. Atau mungkin Anda ingin duduk dan memainkan piano Graham, yang didekorasi bagian dalam dan luarnya oleh Burne-Jones. (Sama seperti sahabatnya, perancang jenius William Morris, Burne-Jones pasti akan ingin mendekorasi tembok dan lantai di sekitarnya.)

Hak atas foto Koleksi pribadi
Image caption Burne-Jones dan William Morris, Pomona, 1885

Dengan harga tiket masuk ke pameran ini, para pengunjung seharusnya dibolehkan untuk menyentuh panel relief yang dibuat oleh Burne-Jones sebagai bagian dari renovasi dan desain ulang ruang gambar di rumah mewah Arthur Balfour di London pada 1878.

Dan tentu akan menyenangkan untuk memegang penjilidan dan halaman buku Chaucer edisi Kelmscott yang sangat besar, tapi seseorang yang tak berpikir panjang malah memilih untuk menaruhnya di bawah lemari kaca.

Bagi Burne-Jones, tak ada istilah setengah-setengah — dan semua karyanya menjadi tak optimal ketika ditampilkan secara bersamaan di sebuah galeri. Kemewahan yang ditampilkan muncul lewat warna merah dan oranye terang.

Karya-karyanya terasa sensual, baik dalam pemikiran maupun di tingkat eksekusi, dan dia sangat mempercayai konteks, selain juga (dan ini cukup mengejutkan) percaya pada reformasi sosial. Dia adalah seorang anti-elitis. Pendekatannya pada permukaan, tekstur dan material mengungkapkan kecintaan akan kerajinan.

Hak atas foto Laing Art Gallery - Tyne & Wear Archives & Museums
Image caption Laus Veneris oleh Burne-Jones, 1873-8

Mungkin ini yang menyebabkan karya-karyanya selalu populer. Terlepas dari kemewahan serta gaya neo-klasik para subjeknya, Burne-Jones adalah seorang pelukis populer; dia mengundang Anda untuk masuk dalam karyanya.

Warna-warna yang cerah dan tingkat detail karyanya yang cermat adalah sebuah dorongan bagi penikmat karyanya untuk terlibat. Tak ada dua bunga atau dua lipatan kain yang persis sama, dan Burne-Jones serta rekan-rekannya dari era Pra-Raphael benar-benar menerapkan ini.

Mereka menantang Anda untuk mendekat, menempelkan hidung ke kanvas agar Anda bisa melihat lebih jelas.

Kehabisan waktu

Burne-Jones bisa dianggap sebagai salah satu dinosaurus terakhir era Victoria atau salah satu modernis pertama, tergantung dari era mana Anda melihatnya.

Lukisan-lukisannya punya pendekatan surealisme yang tak terbantahkan; tema-tema serta gaya Renaisans dimanipulasi dengan cara yang sadar tapi juga ambigu, dan diubah menjadi seolah adegan-adegan fantasi dan mimpi yang tipikal.

Burne-Jones dikagumi oleh Picasso muda. Ada foto terkenal Warhol dengan piano Graham pada pameran 1975, yang meski seolah aneh, tapi sebenarnya masuk akal.

Baik Burne-Jones dan Warhol adalah 'seniman yang total', mereka punya kecenderungan untuk meluap atau melebihi bingkai karya mereka dan masuk ke medium lain, dan juga konsisten di medium baru itu. Keduanya sama-sama terobsesi dengan permukaan.

Hak atas foto Victoria and Albert Museum
Image caption Andy Warhol dengan Graham Piano di pameran Burne-Jones di Hayward Gallery di London, 1975-1976.

Mungkin benar bahwa Burne-Jones terus mendorong tema dewi era Renaisans sampai batas maksimalnya.

Perempuan-perempuan dalam karyanya terlihat pucat dan hanya bermalas-malasan. Mereka malah sering terlihat berwajah sama; gaun-gaun luar biasa yang mereka kenakan malah terlihat lebih menarik daripada sosok mereka.

Lupakan saja dekorasi yang tampak mewah di sekitar mereka, yang seolah selalu akan menenggelamkan atau memakan subjek-subjek di sekitarnya.

The Golden Stairs (1880), salah satu lukisan Burne-Jones yang paling dicintai (dan dibenci), menampilkan beberapa sosialita muda cantik pada masa itu sebagai modelnya.

Semuanya tampak mirip, seperti karya Botticelli — dan seolah hanya ada satu orang yang berjalan menuruni tangga dalam fotografi stop-motion.

Hak atas foto Tate Britain
Image caption The Golden Stairs oleh Burne-Jones, 1880.

Kritikus seni Laura Cumming menyebut gaya Burne-Jones sebagai "klasisisme yang dibekukan", dan melihat "kecantikan yang tanpa energi" dari para modelnya sebagai sesuatu yang gelap.

Burne-Jones tak henti-hentinya berhubungan dan terpaku dengan model-modelnya yang muda dan cantik, tanpa mempedulikan perasaan istrinya yang terus-terusan menderita. (Dalam sebuah lukisan 1883 yang gamblang, istrinya terlihat menatap sedih, dan anak-anak mereka terlihat di belakang.)

Dia juga punya ambisi sebagai seniman yang harus dikalahkan oleh keluarga dan karier suaminya. Setelah kematian Burne-Jones, istrinya menulis biografi dua volume yang tak menyebut soal perselingkuhan suaminya. Tak ada yang iri dengan nasib perempuan era Victoria.

Hak atas foto Koleksi pribadi
Image caption Potret Georgiana Burne-Jones oleh Burne-Jones, 1883.

Salah satu lukisan Burne-Jones lain yang terkenal, The Mill (1882), tak punya makna apa-apa, meski sepertinya terinspirasi oleh mural Lorenzetti yang dilukis di Italia pada 1340 (meski tak mirip sama sekali).

Tiga perempuan muda yang berdansa (atau melakukan suatu ritual?) adalah kenalan Burne-Jones; dia menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka.

Semua perempuan itu tampak sama. Struktur rumit di belakang mereka seharusnya adalah penggilingan gandum, tapi dia tampak tergoda untuk terus menambah detil-detil. Selain itu, ada juga pria telanjang di latar, berenang di kolam. Latar itu tercermin di permukaan air. Tampak aneh.

Hak atas foto Print Collector/Getty Images
Image caption Lukisan The Mill, Girls Dancing to Music by a River, 1870.

Burne-Jones adalah orang yang lebih rumit dari yang dibayangkan berdasarkan lukisan-lukisannya. Dia datang dari latar belakang keluarga miskin dan belajar untuk menjadi seniman.

Dia belajar teologi di Exeter College, Oxford University, dan di sana bertemu dengan kolaboratornya, William Morris. Saat mereka lulus kuliah, mereka memutuskan untuk meninggalkan gereja dan bekerja di bidang seni.

Morris adalah seorang sosialis Marx, tapi kedua pria ini punya misi untuk "membuat keindahan dan seni tersedia bagi semua orang", seperti kata sejarawan seni Elizabeth Prettejohn dalam katalog pameran. Di sinilah kita bisa melihat bibit komitmen mereka pada estetik serta akses.

Hak atas foto Frederick Hollyer/ National Portrait Gallery, Lond
Image caption Burne-Jones [kiri] dan William Morris, 1874

Burne-Jones selalu mengatakan bahwa dia lebih memilih untuk membuat karya seni bagi gedung-gedung publik dan gereja.

Dia melihat dirinya sebagai seorang intelektual dan perajin. Karya kreatif dua pria ini cukup besar, dan selain komisi pribadi, mereka merancang begitu banyak desain jendela serta mosaik kaca. Saking banyaknya karya Burne-Jones, sampai-sampai tak pernah didata atau dicatat secara lengkap.

Perempuan-perempuan dalam karya Burne-Jones tak hanya mirip satu sama lain, tapi mereka juga terlihat seperti pria. Bagi rekan-rekannya, dia seolah sedang mengaburkan batasan antara gender. (Contohnya, lihat The Briar Wood, 1884, sebuah versi lain dari mitos Putri Tidur, dan para serdadu tertidur dengan cantik.)

Pada masanya, karyanya selalu dituduh punya unsur feminin yang meresahkan, atau mengalami sensor karena 'berlawanan dengan karakter maskulin yang asli'.

Hak atas foto The Faringdon Collection Trust
Image caption The Briar Wood oleh Burne-Jones, 1874-84

Pahlawan-pahlawan dalam lukisan Burne-Jones, menurut pengamat seni Inggris abad 19 John Ruskin, menunjukkan bahwa pendekatan fantasi dalam karyanya, dengan menghindari realita, sebagai sesuatu yang feminin.

Mungkin ini awalnya bukan pujian, tapi kemudian menjadi sesuatu yang subversif. Bisa juga dibilang bahwa salah satu kekuatan Burne-Jones adalah kemampuannya untuk menembus bawah sadar lewat legenda dan simbol.

Elemen visioner dalam karyanya menjadi sesuatu yang lepas. Permukaan yang penuh teka-teki pun menjadi cara masuk ke pikiran serta membebaskannya.

Ada sebagian orang yang berpikir bahwa karya seni Burne-Jones sudah lewat masanya dan harus dikubur, tapi ada yang kontemporer dan baru dari identitas yang cair serta gambar yang penuh dengan detail gaya.

Burne-Jones selalu populer dengan publik, dan dia pasti akan menemukan pengagum baru di kalangan milenial serta post-milenial.

Kita hidup di masa yang sangat peduli akan hiper-realitas gambar-gambar yang indah dan sempurna, serta kemungkinan eskapis yang muncul dari situ. Kita juga tak bisa lepas dari pemikiran akan makna apa yang ada di baliknya, atau adakah makna itu.

Orang-orang yang tampak bersantai di lukisan Burne-Jones hanya perlu memegang ponsel pintar untuk menyempurnakan analogi itu. Gambaran Burne-Jones akan orang-orang cantik yang tengah melamun menjadi pesan bagi masa depan dan seolah digambar untuk kita.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Edward Burne-Jones: A Victorian painter of gender fluidity di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait