Perempuan-perempuan luar biasa di balik Christian Dior yang legendaris

Gaun Dior Hak atas foto V&A London

Bagaimana sebenarnya 'tiran keliman' ini melihat perempuan-perempuan yang mengenakan pakaiannya? Menurut Lindsay Baker, para pengikut sang perancang yang luar biasa dan elegan membantu menegaskan gaya Dior.

"Dior tidak merancang pakaian buat perempuan, dia melapisi mereka," kata Coco Chanel tentang rekan perancangnya, Christian Dior.

Dan tentang koleksi debut Dior, Chanel berkomentar pedas, "Lihat betapa konyolnya perempuan-perempuan ini, mengenakan pakaian buatan seorang pria yang tak tahu perempuan, tak pernah bersama perempuan, dan bermimpi menjadi perempuan."

Pernyataan ini dilontarkan Chanel pada 1947, saat Dior meluncurkan koleksi couture-nya untuk pertama kali pada publik, dengan rok panjang berbentuk lonceng dan seperti kelopak bunga menggunakan bahan taffeta dan tulle, serta potongan dada yang terangkat, bahu yang meliuk lembut dan pinggang kecil.

Gaya yang kemudian dikenal dengan nama New Look ini menjadi sangat berbeda dari gaya sebelumnya yang sederhana dan lebih androgini - yang dipopulerkan oleh Chanel.

Gaya Dior sangat romantis, mewah, rumit, feminin, dan kembali ke siluet Belle Epoque di masa lalu. Koleksi Dior pun sukses besar.

Hak atas foto V&A London
Image caption Gaun-gaun haute couture Dior yang dipamerkan di Museum V&A, London.

"Trennya sangat populer," kata Oriole Cullen, kurator pameran yang baru berlangsung di V&A, Christian Dior: Designer of Dreams, sebuah versi panjang dari pameran yang pertama ditampilkan di Musée des Arts Décoratifs di Paris.

"Ada begitu banyak orang di luar peragaannya, dan Nancy Mitford mencatat bahwa sampai para sopir taksi pun membicarakan Dior."

"Negosiasi untuk membangun rumah Dior mulai dilakukan pada 1946, saat dunia baru saja selesai dari Perang Dunia Dua. Setelah keterbatasan masa perang dan siluet kotak, Dior mengenalkan tampilan yang lebih glamor. Peluncuran koleksi itu menandai kembalinya industri mode Paris."

Dior adalah seorang "pebisnis cerdas" yang membawa klien-klien dunia ke Paris, kata Cullen.

Pendekatan dan ambisinya cukup global: dia menjalin koneksi bisnis bukan hanya di New York dan London tapi juga di Jepang, Australia dan Venezuela. Parfum dan produk butiknya, termasuk pakaian dalam dan stoking, juga idenya yang cerdas.

"Dia benar-benar melakukan semuanya secara maksimal, dan namanya terkenal di seluruh dunia."

Dior adalah tokoh budaya dan bisnis penting, sampai muncul di sampul depan Time. Gaun-gaun haute coutureciptaannya yang mewah adalah karya yang transformatif dan seperti dongeng, dipakai oleh bintang-bintang paling glamor pada masa itu, dari Marlene Dietrich, yang hanya mengenakan Dior, sampai Marilyn Monroe, Rita Hayworth, dan balerina Margot Fonteyn.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Marlene Dietrich hanya mengenakan Dior, dia adalah salah satu pendukung paling glamor dari rumah mode tersebut.

Tapi tepatkah 'kemarahan' Chanel itu? Benarkah pendekatan Dior merendahkan dan bahwa gaya korsetnya kuno serta membatasi perempuan?

Dior mendapat julukan 'Tiran Keliman' dan awalnya, beberapa perempuan memprotesnya karena mereka merasa rancangannya itu menutup kaki mereka, dan mereka tidak biasa karena sebelumnya ada pembatasan bahan kain di masa perang.

Benarkah dia sosok stereotipe itu, seorang ahli couture yang bergaya diktator, memaksa perempuan dalam siluet ramping untuk menciptakan gambaran perempuan sempurna yang ada dalam bayangan pria?

Yang mengejutkan, Dior sangat dekat dengan perempuan dan mereka menghormatinya. Perempuan tak hanya menyukai bagaimana rasa serta tampilan mereka saat mengenakan gaun Dior, tapi mereka yang kenal secara pribadi pun juga menyukai sosoknya.

Saat dia meninggal tiba-tiba pada usia 52, ada tumpahan rasa duka - 2.500 orang mendatangi pemakamannya.

Ada juga nada "panik", kata Cullen, kekhawatiran bahwa rumah mode Dior akan tutup. "Tapi karena tim perempuan yang hebat - dan beberapa pria - rumah mode itu bisa berlanjut dan setia pada visinya."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Christian Dior dan Madame Bricard, di balet Paris, adalah rekan kerja yang dekat.

Tim yang berbakat ini bekerja langsung dengan Dior dan sangat dihargai serta dihormati olehnya - fakta ini seperti membalikkan pandangan Chanel akan Dior sebagai sosok yang anti-perempuan.

Seperti Dior menjelaskan sendiri dalam satu dari dua autobiografinya, bahwa ada triumvirat perempuan-perempuan di rumah mode Dior.

Dia menyebut Madame Raymonde Zehnacker, direktur studio desain dan perempuan tangan kanan Dior, "Raymond adalah orang kedua saya", tulisnya di buku Je Suis Couturier pada 1951.

"Atau lebih tepatnya lagi, dia separuh dari saya. Dia pelengkap saya: dia adalah realita dalam fantasi saya, keteraturan dalam imajinasi saya, disiplin dalam kebebasan saya, kehati-hatian dalam kecerobohan saya, dan dia tahu bagaimana caranya membawa kedamaian dalam atmosfer yang sibuk."

"Secara singkat, dia telah...mengarahkan saya secara hati-hati melewati dunia mode yang rumit, di mana saya masih baru pada 1947."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Christian Dior dikelilingi oleh perempuan-perempuan berbakat yang membantunya menajamkan gaya khas rumah mode itu.

Menurut Cullen, Marguerite Carré - yang 'dicuri' oleh Dior dari rumah mode Patou - adalah seorang "jenius teknis". Carré akan melihat sketsa-sketsa Dior dan membuatnya jadi kenyataan, dari pilihan materi sampai eksekusi pakaian tersebut.

Hubungan mereka sangat simbiotik, kata Cullen, "kerjasama tim". Dior menulis tentang Mme Carré, "Setelah bertahun-tahun, dia kemudian menjadi bagian dari diri saya sendiri - diri saya yang membuat pakaian, jika saya bisa bilang seperti itu."

Deskripsi Dior akan Mitzah Bricard, perempuan ketiga dan paling penting dalam trio ini, paling menonjol, dan paling menentang karakterisasi Chanel yang meremehkan Dior.

Bricard, seperti perempuan lain dalam tim tersebut, adalah seorang kolaborator. Dior menjadikan Bricard sebagai kepala bidang topi, tapi perannya jauh lebih besar dari itu, dia adalah dewi inspirasi Dior.

Berdasarkan autobiografinya, dia adalah perwakilan keanggunan.

"Madame Bricard adalah salah satu orang itu, sangat jarang ditemukan, dan keanggunan adalah alasan hidupnya. Dia menatap kehidupan dari jendela Ritz dan tak terpengaruh oleh hal-hal kecil seperti politik, keuangan atau perubahan sosial."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mitzah Bricard, kepala bagian topi di rumah mode Dior dan juga dewi inspirasi Dior.

Seperti kata Cullen, "Dia adalah seorang warga Paris yang glamour dan Dior menyukai gayanya." Dia akan mengenakan cetakan leopard, kadang mutiara, dan topi-topi yang cantik. "Seluruh hidupnya didedikasikan untuk gayanya, dan ide-idenya - dia adalah orang kepercayaan Dior."

Tampaknya Bricard tak hanya terinspirasi oleh ide-ide Dior, tapi juga penting dalam proses penciptaannya.

Pada buku Talking about Fashion yang terbit pada 1954, Dior mengatakan, "Suasana hatinya, perilakunya yang ekstrem, ketidaksempurnaannya, caranya berjalan masuk, caranya datang terlambat, teatrikalitasnya, caranya bicara, gaya pakaiannya yang tidak biasa, perhiasannya, singkatnya kehadirannya, membawa sentuhan keanggunan yang sangat penting bagi sebuah rumah mode."

Seperti ditulis oleh Ilya Parkins dalam bukunya, Poiret, Dior and Schiaparelli: Fashion, Femininity and Modernity, Bricard memiliki "pemahaman kosakata chic yang mendasar, atau diwariskan, dan melihatnya sebagai sesuatu yang abadi, terlepas dari pemisahan konvensional antara perancang dan karya mereka."

Persahabatan antara keduanya sangat dekat dan penuh ketegangan, kata Dior. "Saya tahu kehadiran (Bricard) di rumah saya akan mendorong saya untuk berkreasi, bisa dari reaksinya - atau malah kebenciannya - terhadap ide-ide saya, tapi juga dari persetujuannya."

Perempuan kuat

Dari membaca komentar-komentar Dior soal tiga perempuan ini, ada satu hal yang sangat jelas di sini.

Komentar-komentar itu bukan berasal dari pria yang, seperti kata Chanel, "tak kenal perempuan". Sebaliknya, hubungan kolaboratif dengan beberapa perempuan ini terasa intens, dan penting bagi Dior, selain juga sesuatu yang sangat mendasar bagi rumah modenya.

Salah satu alasannya, dalam haute couture atau adibusana, para kliennya punya ukuran tubuh dan bentuk tubuh yang sangat beragam.

Tak semua kliennya muda, tinggi dan ramping. Dior, kata Cullen, "cerdas" dalam caranya berteman dan dikelilingi oleh perempuan-perempuan dari berbagai ukuran tubuh dan usia.

Hak atas foto V&A London
Image caption Christian Dior di studio dengan salah satu modelnya - dia mengatakan bahwa kerjanya 'didedikasikan untuk keindahan tubuh perempuan'.

Dan trio penting ini bukan satu-satunya pengaruh perempuan dalam kehidupan dan kerja si perancang.

Dior sangat mencintai ibunya, Isabelle Cardamone. Dia sangat mencintain siluet ramping gaya Belle Epoque, dan bahan-bahan mewah. Dia terbuka, pedandan yang elegan, dan karya Dior mencerminkan estetiknya.

Lalu ada Suzanne Luling, satu lagi orang dari tim Dior, yang mengurusi bagian humas. Dia adalah teman seumur hidup, dan Dior sangat setia padanya — dan dan Dior sudah dekat sejak masa kecil mereka di Granville, Normand

Dior juga sangat dekat dengan adik perempuannya, Catherine, dia memanjakan Catherine dan mereka mengalami banyak hal bersama.

Saat Christian berusia 20-an tahun dan adiknya masih remaja, keluarga ini mengalami kesulitan dan kehilangan semua uangnya.

Saat terjadi perang, Catherine pindah ke Grasse di Prancis Selatan dengan ayahnya dan saat Christian didemobilisasi dari militer, dia kemudian menyusul mereka.

Grasse menjadi tempat berlindung bagi kakak-beradik itu yang kemudian bekerja bersama di kebun sayur.

Tak butuh waktu lama sampai Catherine yang cerdas dan berani bergabung dengan Perlawanan, dan kemudian ditangkap oleh Gestapo dan dikirim ke kamp konsentrasi Ravensbruck, tempatnya ditahan sampai 1945.

Hak atas foto V&A, London
Image caption Christian Dior terinspirasi oleh Putri Margaret, Dior menggambarkan gayanya sebagai 'putri dongeng'.

Saat Catherine kembali, hubungan kakak-adik ini menjadi lebih dekat: dia memberi nama parfum pertama dari rumah mode itu, Miss Dior, untuk Catherine, sebagai penghormatan atas heroismenya, dan juga menciptakan gaun yang terinspirasi oleh adiknya itu.

Catherine kemudian pindah ke Château de la Colle Noire, puri abad 15 gaya Provençal di Grasse yang dibeli Dior pada 1951.

Di taman-tamannya, ada berhektar-hektar pepohononan, tanaman rambat, lavender, melati dan mawar, dan Catherine sangat terlibat dalam produksi bunga dalam parfum-parfum Dior.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Setelah Dior meninggal pada 1957, Yves Saint Laurent mengambil alih dengan dukungan dari Raymonde Zehnacker (kiri) dan Marguerite Carré (kanan).

Dan tentu saja, Dior punya banyak pengikut di kalangan perempuan-perempuan paling terkenal dan glamor di masanya.

Selain beberapa model terkenal, ada juga beberapa anggota keluarga kerajaan dan bangsawan, termasuk Putri Margaret, yang pertama kali mengunjungi rumah mode itu dalam tur Eropa pertamanya di usia 18.

Dior mengatakan soal Putri Margaret, "Dia adalah putri dongeng yang sebenarnya, halus, anggun, luar biasa."

Putri Margaret menjadi kliennya dan memesan beberapa pakaian, termasuk gaun warna krem yang dikenakannya pada ulang tahunnya yang ke-21 pada 1951.

Gaun silang satu bahu warna krem yang dramatis dengan rok tulle keemasan yang dipamerkan di V&A oleh Margaret disebut sebagai "gaun yang paling saya suka".

Kini perempuan-perempuan seperti Charlize Theron, Jennifer Lawrence, Marion Cottillard dan Lady Gaga yang mengenakan kreasi adibusana Dior.

Sejak era Christian Dior, rumah mode Dior sudah konsisten menunjukkan kekuatannya dan dikepalai oleh beberapa desainer paling berbakat dunia, dari Yves Saint Laurent ke John Galliano dan Raf Simons.

Sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada perempuan yang mengepalainya, Maria Grazia Chiuri.

Hak atas foto V&A, London
Image caption Dior menciptakan gaun adibusana yang dikenakan oleh Putri Margaret pada ulang tahunnya yang ke-21.

Untuk debutnya, Chiuri mereka ulang kaus yang membawa pesan dari penulis Chimamanda Ngozi Adichie, 'We Should all be Feminists', dan semua pemasukan dari penjualan kaus itu akan disumbangkan ke Clara Lionel Foundation, badan amal yang didirikan oleh Rihanna yang mendukung pendidikan anak perempuan. Cullen melihat Chiuri sebagai sosok progresif.

"Maria Grazia Chiuri merancang pakaian yang ingin dikenakan oleh perempuan, tak selalu garmen fantasi," kata si kurator.

"Dan dia sadar kekuatan media sosial, dan inilah cara mode dikonsumsi sekarang. Platform besar bagi para rumah mode…Anda bisa menjangkau jutaan orang."

Lalu bagaimana si kurator melihat pandangan merendahkan Coco Chanel soal Dior tak "tahu" perempuan?

"Anda harus melihat komentar itu dalam konteks waktunya - dia adalah seorang pria gay dan ada sedikit provokasi di situ. Tapi saya rasa kita bisa membuktikan bahwa dia tak hanya tahu perempuan, dia menghormati mereka."

Meski Chanel menyatakan bahwa Dior "melapisi" perempuan, Dior melihatnya dengan cara berbeda. Dia bilang, "Saya melihat karya saya sebagai arsitektur yang sementara dan didekasikan untuk keindahan tubuh perempuan."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lady Gaga mengenakan Dior haute couture pada Screen Actors Guild Awards ke-25, 27 Januari lalu.

Memang Dior hidup dalam masa di mana dia mendapat semua pujian dan penghormatan atas kerja keras yang dilakukan oleh timnya, meski Dior sangat menghargai kontribusi mereka.

Kira-kira seperti apa Cullen melihat posisi Dior jika dia mengetahui bahwa rumah modenya itu kini dipimpin perempuan?

"Saya rasa dia mencintai perempuan, dia menghormati opini mereka, dan dia mengandalkan pendapat mereka, jadi saya rasa dia akan sangat bahagia dengan ini."

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di The formidable women behind the legendary Christian Dior di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait