Apakah zaman sekarang make-up pria jadi populer?

make up, pria Hak atas foto Getty Images
Image caption Jeffree Starr, Manny Gutierrez dan James Charles dalam peluncurkan merek make up KKW Beauty di Los Angeles.

Bulan ini, David Beckham dalam balutan busana Dior muncul di sampul majalah fesyen LOVE 20.5. Gayanya ditata oleh Kim Jones lengkap dengan hias mawar hijau dan tato burung melilit lehernya.

"Dengan pencahayaan dan pose seperti itu, David mengingatkan saya pada David Sylvian dari [band tahun 1970-an dan 80-an] Jepang," kata perias wajah Miranda Joyce, yang terlibat dalam pemotretan itu.

"Tampaknya tepat untuk menambahkan riasan mata, (seperti) warna biru cerah yang dipakai (David) Bowie dalam video Life on Mars. Saya tahu David bisa membuatnya sukses, meskipun itu bukan sesuatu yang pernah ia lakukan sebelumnya."

Itu potret yang bagus —namun yang benar-benar membuatnya jadi dibicarakan orang adalah eyeshadow itu.

Laki-laki tidaklah asing dengan rias wajah. Alexander Agung menggemarinya, sementara para Pict (orang Skotlandia kuno) memulas wajah mereka dengan warna biru. Rambut palsu dan tempat-tempat kecantikan sangat populer di istana Louis XIII —dan jangan lupa para dandies.

Tetapi suatu saat di tahun 1800-an, seseorang memutuskan bahwa pria sejati tidak perlu pakai riasan dan, setelah itu, ketika ada yang memakainya—mereka melakukannya dalam semangat perlawanan.

David Bowie, Prince dan Johnny Depp tidak (hanya) berusaha membuat diri mereka terlihat lebih baik, mereka juga menantang semua yang kita ketahui tentang gender, seks, dan masyarakat.

Hak atas foto Call This Number - Steve Mackey and Douglas Hart,

Tapi, di balik sampul LOVE, apakah dandanan pria akan menjadi mainstream? Lagipula, di sini Anda memiliki salah satu wajah paling terkenal yang sudah melakukannya.

Sejumlah faktor seperti: merek rias wajah pria diluncurkan oleh Chanel dan Tom Ford, dan kemunculan make-up artist pria Manny Gutierrez dan James Charles yang masing-masing mengkampanyekan merek Maybelline dan Covergirl—sudah menjadi awal mula suatu gerakan.

Plus Gutierrez dan Charles adalah bagian dari kelompok perias wajah pria yang berpengaruh, termasuk Jeffree Star dan lainnya.

Pada Januari 2019, ketika Charles mengunjungi Birmingham di Inggris untuk meluncurkan palet dengan Morphe, lalu lintas benar-benar terhenti.

Namun, jika dilihat lebih teliti status quo hampir tidak berubah. BOY de Chanel (tagline 'Be Only You') adalah koleksi ramping yang hanya berisi tiga produk—foundation, pensil alis dan lip balm— dalam kemasan warna hitam yang hampir tidak menantang gagasan maskulinitas konvensional.

Dan para laki-laki dalam industri rias wajah ini? Mereka sebagian besar cantik, gay, dan punya kesan hiperbolis — dan hingga 80% dari jutaan penggemar berat mereka tampaknya adalah gadis-gadis muda.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Potret Justus van Egmont of Louis XIII — yang menggemari rias wajah.

Mengapa pria masih begitu menentang ide-ide rias wajah? "Ya, karena mereka disuruh untuk itu," kata Glen Jankowski, dosen di Sekolah Ilmu Sosial di Universitas Leeds Beckett.

"Terlepas dari klaim peningkatan metroseksualitas, norma gender untuk pria masih kuat. Analisis tentang mainan yang dipasarkan kepada anak laki-laki, misalnya, menunjukkan bahwa pesan-pesannya tetap kuat, berani, dan tidak berinvestasi pada penampilan. Bagi cewek, kecantikan adalah kuncinya."

Perbedaan yang mencolok itu mengejutkan seorang perias wajah transgender Joseph Harwood. "Saya adalah anak kecil dengan pena gel berkilauan," kenangnya.

"Saya tidak mengetahui betapa kuatnya pengkondisian itu sampai orang-orang mengira saya perempuan dan mengatakan kepada saya apa yang salah dengan kulit saya. Jelas bahwa orang-orang memiliki harapan yang berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan —dan saya tidak cocok dengan keduanya.

Pria sering dipuji karena tampil polos; hidung yang patah adalah jantan, kulit yang pecah-pecah adalah seakan-akan efek maskulin [tetapi] di sisi lain, ada kampanye yang kuat dalam kehidupan seorang gadis yang melibatkan gambar-gambar di majalah yang terlalu diedit. "

Kini, Harwood 'meminjamkan' wajahnya pada merek make-up yang bebas gender dan vegan Jecca Blac. Tetapi jika pria tidak cukup siap untuk tampil penuh make-up, mereka pasti siap untuk riasan tipis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption David Bowie, dipotret tahun 1973, bereksperimen dengan kosmetik.

Bisnis perawatan wajah pria, senilai $57,7 miliar pada tahun 2017, tumbuh secara eksponensial.

Menurut Research and Markets, pasar ini bisa mencapai $78,6 miliar pada tahun 2023. Dan kita tidak hanya berbicara Nivea; kita berbicara tentang pelembab dan bronzer, concealer, dan brow definers — kosmetik betulan.

Alex Dalley tidak terkejut. Dia menciptakan make-up MMUK untuk pria pada tahun 2012. Ketika remaja, dia punya banyak jerawat—sampai ibunya memakaikan foundation padanya.

"Awalnya, kami memiliki delapan atau sembilan produk dan yang paling berani adalah gel alis bening dan stik concealer. Tetapi, selama bertahun-tahun, pelanggan mulai meminta alas bedak dan bronzer." Hari ini, merek tersebut memiliki sekitar 60 produk dan tersedia di Asos. "Ini lansekap yang sama sekali berbeda," tegas Dalley.

Hak atas foto Call This Number - Steve Mackey and Douglas Hart,

Blend It Beckham

Daniel Gray meluncurkan merek make-up pria yang vegan, bebas dari eksploitasi binatang bernama "War Paint" dan diproduksi di Inggris hampir dua tahun yang lalu. "Perawatan semacam ini laris," katanya.

"Kami mulai berjualan online pada 1 November dan saya sudah merekrut lebih banyak staf. Ada pasar besar untuk ini, dan tampaknya akan tumbuh. Apa yang kita ingin orang sadari adalah bahwa, "Ketika Anda mengatakan make-up, kami tidak hanya berbicara tentang lipstik merah. Make-up adalah dasar yang bagus sehingga Anda dapat memiliki warna kulit yang rata dan merasakan yang terbaik yang Anda bisa."

Apakah pria benar-benar ingin terjebak dalam sentuhan berwarna dan bersinar? Seperti yang dibilang sebagian besar wanita, rutinitas sehari-hari 'memoles wajah Anda' bisa menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi, Anda memiliki kepercayaan diri untuk menghadirkan diri Anda yang terbaik dan tanpa cacat ke dunia; di sisi lain, Anda tahu itu bukan gambaran seutuhnya.

Dalam sebuah artikel baru-baru ini di Independent, aktivis feminis Julie Bindel menunjukkan bahwa "15% wanita heteroseksual yang disurvei tentang apa yang mereka sebut sebagai rezim kecantikan mengungkapkan bahwa mereka menggunakan make-up sebelum pasangan mereka bangun." Tugas yang berat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Make-up vlogger James Charles dan Kim Kardashian West di Los Angeles, 2017

Perempuan di Inggris juga menghabiskan rata-rata 474 hari untuk merias wajah, di mana saat itu mereka menghamburkan hingga 200 bahan kimia sintetis ke wajah mereka dan membayar rata-rata £9.525 seumur hidup demi mengikuti tren.

"Make-up untuk banyak perempuan telah menjadi kebutuhan, sesuatu yang mereka tidak merasa percaya diri tanpanya," aku Miranda Joyce.

"Saya benar-benar berharap make up dapat dilihat sebagai perangkat yang lebih membebaskan, menyenangkan, ekspresif. Jika perspektif berubah, mungkin pria akan merasa lebih bisa bereksperimen. "

Melihat lebih banyak pria bereksperimen dengan penampilan menggunakan make-up akan menjadi tanda kami memperluas gagasan tentang "apa artinya menjadi pria," kata Ingold.

Joyce setuju: "Walau fluiditas gender tengah jadi sorotan, kita masih masyarakat patriarki."

Beckham dalam make-up mengkomunikasikan pembebasan tertentu dari norma; dia seorang olahragawan dan pengusaha dan pemimpin gaya dan, di sampulnya, saya pikir dia melambangkan maskulinitas modern, percaya diri untuk keluar dari zona nyaman dan eksperimennya."

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Is men's make-up going mainstream di laman BBC Culture

Berita terkait