'Seks yang menjual': Era baru serial televisi yang eksplisit

Serial Sex Education di Netflix Hak atas foto Netflix

Ada beberapa serial televisi baru yang menampilkan adegan telanjang dan seks. Apakah penonton menjadi semakin terbuka? Emma Jones menuliskannya.

Pada 1995, penonton televisi terkena fenomena 'Darcy' — Colin Firth muda yang berperan sebagai Mr Darcy yang sombong muncul mengenakan pakaian lengkap yang basah karena keluar dari danau. Penonton serial 'Pride and Prejudice' yang diadaptasi oleh BBC mencapai 10 juta orang setelah adegan puncak itu.

Dua puluh tahun kemudian, kaus putih yang tembus pandang sepertinya akan membuat penonton bergeming.

Pada 2016, penonton radiotimes.com memilih Aidan Turner, aktor yang memainkan karakter utama dalam serial sejarah Poldark, yang melepas pakaian dan mandi menjadi momen televisi paling dikenang tahun itu. Lalu ada The Night Manager — dan adegan seks yang grafis yang memperlihatkan pantat Tom Hiddlestone memunculkan keributan di media sosial di seluruh dunia.

Angka penonton itu dikalahkan oleh serial The Bodyguard pada 2018 yang mencapai 11 juta di Inggris.

Image caption Headline berita membahas tubuh telanjang Richard Madden di adegan seks eksplisit bersama Keeley Hawes di serial The Bodyguard.

Ada banyak ledakan dan twist dalam plot serial itu — namun apakah semua itu akan jadi serial yang paling banyak dibicarakan jika bukan karena adegan seks eksplisit yang dibawakan oleh aktor peraih Golden Globe, Richard Madden, dan rekan aktrisnya, Keeley Hawes?

Dan dengan banyaknya judul berita yang membahas ketelanjangan Madden, sejak kapan sebenarnya tubuh pria menjadi bumbu penting dalam kesuksesan sebuah serial?

"Seks memang menjual, ini bukan hal baru, begitu juga dengan ide untuk menjual seks untuk kesuksesan acara televisi di waktu utama," kata Alice Jones, Editor Seni di koran The i.

"Namun The Night Manager dan Poldark memunculkan begitu banyak keramaian, dan begitu banyak judul berita, dan Anda tak bisa menyalahkan sutradara dan produser karena ingin meraup perhatian itu dengan lebih banyak tubuh pria.

"Orang-orang di balik mesin sensasi ini, para sutradara, editor koran, kemungkinan lebih banyak pria, dan mereka membayangkan apa yang diinginkan perempuan. Dan di era streaming, 'momen' televisi, saat ada sesuatu yang menangkap imajinasi orang, dan – dalam hal ini – membuat mereka tergila-gila dan mencuitkannya, ini menjadi senjata ampuh dalam perang merebut perhatian orang."

Adegan seks yang eksplisit dan adegan telanjang dalam serial televisi memang sudah ada sejak kemunculan Sex and the City di HBO, yang tayang sebelum pergantian milenium; HBO kemudian mengekor kesuksesan serial tersebut dengan Game of Thrones, di era yang sama saat serial seperti Rome dan The Tudors juga memperlihatkan adegan di balik kamar tidur.

Namun, sebagai sasaran tradisional dalam objektifikasi media, para aktris bisa menuntut kontrak 'tak ada adegan telanjang' begitu mereka punya kekuatan lebih — dari mulai Sarah Jessica Parker di Sex and the City sampai Emilia Clarke di Game of Thrones (meski kemudian dia memutuskan untuk sekali lagi tampil telanjang). Bagi beberapa aktris, ada adegan-adegan tertentu yang menjadi traumatis.

Hak atas foto HBO
Image caption HBO mengawali tren adegan telanjang dan seks yang eksplisit lewat acara televisi seperti Sex and the City dan Game of Thrones.

"Di musim ketiga [serial Lost], saya punya pengalaman buruk saat di set ketika saya dipojokkan untuk melakukan satu adegan yang setengah telanjang, dan saya merasa tak punya pilihan soal itu," kata aktris Evangeline Lilly di podcast Lost Boys pada 2018. "Saya menangis habis-habisan."

Setelah #MeToo, apakah berfokus pada tubuh pria menjadi lebih mudah bagi sutradara televisi?

"Jika dulu perempuan punya peran untuk menampilkan tubuh mereka dalam drama mata-mata contohnya, di 2019, ada kesan bahwa ini bukan sesuatu yang pantas dilakukan, dan bahwa ini anti-feminis serta eksploitatif," kata Alice Jones.

"Industri hiburan memang sedang lebih berhati-hati soal bagaimana mereka memperlakukan para aktris di depan dan di balik layar. Tapi mereka tahu bahwa mereka tetap butuh adegan seks untuk menarik penonton. Dengan membuat para aktor telanjang, sebuah serial televisi bisa menampilkan adegan panas sambil masih terlihat 'sadar secara sosial'."

Adegan berisiko

Namun menjadikan para aktor sebagai objek seks juga tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang remeh, menurut psikolog televisi Honey Langcaster-James.

"Ini sesuatu yang dialami perempuan sejak lama, tapi dengan membalikkan situasi dan mengobjektifikasi pria juga bukan solusi terbaik. Saya berpikir akan apa efek dari tren ini pada psikologi pria. Sudah ada tekanan berat pada pria, terutama pria yang lebih muda, untuk mencapai 'tubuh indah'. Saya merasa khawatir pada dampaknya ke kepercayaan diri dan citra diri pria jika mereka mulai menyerap beberapa pesan ini."

Image caption Pantat Tom Hiddleston disunting dalam versi AS serial The Night Manager.

Aktor Bodyguard, Richard Madden (yang juga memerankan Robb Stark di Game of Thrones) tampaknya bisa lepas dari objektifikasi itu, dan dia baru-baru ini menyebut adegan seks eksplisit di Game of Thrones seperti "porno 70-an" dalam wawancara di GQ.

Tom Hiddleston, saat mengetahui bahwa pantat telanjangnya disunting di versi AS serial The Night Manager, menyebut "ada banyak hal lebih berbahaya lainnya yang orang tak keberatan untuk menayangkan". Dan ketelanjangan ini tak melukai karier mereka. Oleh media, malah keduanya diajukan untuk menjadi 'James Bond berikutnya'.

Peluncuran epik abad pertengahan Outlaw King juga ramai dibicarakan, bukan karena aktris Florence Pugh tampil setengah telanjang dalam adegan seks eksplisit dengan aktor Chris Pine di film itu, tapi karena ada setengah detik kemunculan penis Chris Pine di satu adegan.

Alhasil, keributan di media sosial itu membuat Pine dan sutradara David Mackenzie berkomentar ke peonton di Toronto, "ada lebih banyak pembahasan soal adegan telanjang frontal di Outlaw King daripada soal pemenggalan dan penusukan."

Apakah pemberitaan ini menjadi tak terlalu eksploitatif karena yang dibahas adalah pria?

"Mungkin tidak," kata Alice Jones. "Histeria seputar alat kelaminnya tak membuat orang terlihat menarik. Ini malah menjadi aneh, dan ada beberapa media terhormat yang menulis artikel dengan judul, 'Bagaimana Melihat Penis Chris Pine di Outlaw King'."

Outlaw King adalah sebuah produk hibrida karena film ini dibuat untuk layanan streaming. Umumnya, film tertinggal jauh di belakang televisi soal seks.

"Studio lebih fokus dalam waralaba film yang lebih besar dan ada risiko yang lebih kecil yang ditampilkan untuk memaksimalkan keuntungan box office," kata wartawan budaya pop, Natalie Jamison.

"Masuk akal untuk membuat film Anda mendapat peringkat yang aman untuk bisa menarik sebanyak mungkin penonton — tapi itu berarti Anda tak bisa menampilkan sesuatu yang ekstrem atau eksplisit.

"Ada lebih banyak program televisi yang dirilis setiap minggu daripada yang bisa ditonton orang jadi Anda harus membuat orang membicarakan acara televisi Anda. Dengan menampilkan sesuatu yang mengejutkan atau seksual akan memicu percakapan di media sosial untuk menciptakan suatu momen bisa menjadi sesuatu yang berdampak baik, seperti adegan walk of shame Cersei di Game of Thrones.

Image caption Produksi BBC dan Netflix, Wanderlust, yang dibintangi oleh Toni Collette dan Steven Mackintosh sebagai pasangan suami istri yang mempertanyakan monogami.

"Anda mungkin tengah menonton acara televisi dengan gaya baru ini saat Anda merasa nyaman menonton ini di rumah. Dan mungkin rasanya tidak terlalu nyaman menonton sesuatu yang terlalu eksplisit atau ekstrem secara seksual di bioskop yang ramai dengan orang asing."

Televisi juga kini bergerak lebih jauh ke sisi eksplorasi seksual. Ada serial Wanderlust yang dibuat BBC/Netflix, yang dibintangi Toni Collette, yang mempertanyakan apakah hubungan monogami jangka panjang mungkin dilakukan, dan serial Pure dari Channel 4 (Inggris), tentang seorang perempuan dengan OCD yang selalu memikirkan pikiran seksualnya.

Menurut Asa Butterfield, bintang serial Sex Education di Netflix, penonton harus dibuat merasakan demistifikasi seks.

Butterfield berperan sebagai Otis, seorang remaja yang ibunya, diperankan oleh Gillian Anderson, adalah seorang terapis seks. Dengan berbagai buku petunjuk soal seks, Otis kemudian mendirikan klinik kecil-kecilan untuk membantu menangani masalah rekan-rekannya, tapi kemudian dia menyadari bahwa dia juga bermasalah.

Hak atas foto Netflix
Image caption Di Sex Education, Asa Butterfield berperan sebagai Otis, seorang remaja yang ibunya, diperankan oleh Gillian Anderson, adalah seorang terapis seks.

Terlepas dari berbagai konten grafis seperti yang terkesan di namanya, dan bahkan adegan pria telanjang tampak depan, aktor muda ini mengatakan pada Teen Vogue bahwa dia percaya serial ini bisa membantu mendidik penonton soal seks dalam keseharian, bukan hanya soal fantasi.

"Terlihat dalam semua keburukan dan kecanggungannya, dan kelucuannya dan ini menunjukkan bahwa para karakter ini mengalami masalah-masalahnya sendiri dan bingung dan tak tahu apa yang terjadi pada tubuh mereka. (Serial) ini tidak mencoba membuatnya menjadi seksi atau berusaha tampak keren. Dan ini benar-benar menampilkan apa adanya. Dan kadang-kadang seksi, tapi seringnya tidak."

Terlepas dari unsur komedi, adegan seks yang canggung atau ceroboh tampaknya tak akan segera tampil di serial televisi di slot utama, karena jaringan televisi lebih memilih untuk menyediakan eskapisme bagi penonton.

Tapi apakah mereka menampilkan cerminan sesungguhnya dari masyarakat Barat abad 21 atau hanya menyediakan, mengutip Alice Jones, "kesetaraan dalam ketelanjangan" baik bagi aktor dan aktris?

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di 'Sex sells': The new age of explicit TV di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait