Captain Marvel: Kisah pemberdayaan perempuan atau film superhero biasa?

captain marvel Hak atas foto Marvel

Brie Larson memerankan jagoan super perempuan pertama yang menjadi tokoh utama dalam film Marvel. Tapi ini bukan cerita pemberdayaan perempuan seperti yang banyak dibicarakan orang, kata Cary James.

Ledakan yang direkam dalam gerak lambat melemparkan Brie Larson ke tanah, darah berwarna biru mengalir dari hidungnya. Sekilas tampak Annette Bening memegang senjata.

Karakter Larson, yang belum menjadi Kapten Marvel, terbangun dari kenangan ini, yang datang padanya dalam bentuk mimpi. Tapi kehidupannya yang sebenarnya bahkan lebih aneh. Dia benar-benar bercahaya, sinar terang berpendar dari tangannya.

Pembukaan itu mengawali dunia lain film itu, misteri pribadinya (apa yang terjadi dalam memori itu?) dan yang terpenting, aksinya.

Badai publisitas telah menggembar-gemborkan superhero wanita pertama dalam film Marvel, tetapi bukan soal pemberdayaan wanita yang membuatnya jadi trendi.

Ini adalah film aksi yang dibentuk dengan cetakan Marvel, dengan efek khusus yang sangat memadai tetapi tidak mengejutkan.

Larson dengan mudah menyesuaikan diri dalam dunia Avengers, dunia yang berarti melompat ke ruang angkasa dan mengirim energi biru dari tinjunya. Captain Marvel mungkin bisa memuaskan pemirsa setia seri ini, tetapi akan mengecewakan mereka yang berharap lebih.

Para pemeran pendukunglah yang justru menawarkan beberapa kejutan paling menyenangkan. Kita akan bertemu pahlawan yang dikenal sebagai Vers, (diucapkan Veers) yang tinggal di planet ras Kree.

Dia adalah prajurit yang dilatih oleh Yon-Rogg, diperankan dengan kecerdikan yang sulit dipahami oleh Jude Law dengan mengenakan lensa kontak berwarna kuning vampir.

Mereka dan pemeran penggantinya yang tampak mencolok kemudian bahu membahu dalam pertempuran penuh pukulan dan lemparan judo. Yon-Rogg mengajarkan Vers untuk mengendalikan ledakan foton dari tangannya, dan memintanya untuk tidak terlalu emosional, tindakan yang seharusnya jadi peringatan bagi para penonton.

Yon-Rogg meminta agar Vers tidak menjadi manusiawi, padahal identitas manusiawi Vers adalah apa yang sesungguhnya perlu dia temukan.

Dia juga mendapat saran dari Supreme Intelligence, sebuah kecerdasan buatan (AI) yang telah mengumpulkan para pemikir hebat dalam sejarah Kree.

Setiap orang melihat AI dalam wujud orang yang paling mereka kagumi. Untuk Vers, itu adalah versi Bening dengan rambut perak, mata pucat sedingin es, dan jumpsuit hitam-perak yang terlihat seperti perlengkapan pemotor elit.

Hak atas foto Dia Dipasupil/WireImage
Image caption Brie Larson "memancarkan kesan seorang aktor yang memainkan perannya dengan serius, tapi tanpa nuansa."

Siapa yang tidak menginginkan gadis tangguh ini sebagai penjaga semua kecerdasan? Bening sempurna, dengan binar yang bijak tetapi licik di matanya.

Dalam pertempuran luar angkasa pertama di film yang gelap dan suram (nantinya akan ada ada lebih banyak pertempuran yang lebih cerah) Kree melawan bangsa pengubah bentuk jahat yang disebut Skrulls.

Mereka dipimpin oleh Ben Mendelsohn berkulit hijau, di dalam prostetik yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk dikenakan tetapi masih terlihat seperti topeng karet.

Akibat semua perubahan bentuk itu, sangat sulit untuk mengidentifikasi musuh. Prajurit Kree mana pun bisa saja sebenarnya Skrull yang menyamar. Seiring berjalannya cerita, perubahan bentuk ini juga akan memberikan kejutan terbaik dalam plot film ini.

Suasana tegang reda sementara ketika misi Vers membawanya jatuh ke Bumi di tahun 1995, melalui atap toko video Blockbuster, sumber tawa nostalgia murah.

Di sana ia bertemu Nick Fury dalam wujud Samuel L. Jackson, yang terlihat 25 tahun lebih muda berkat efek digital yang sangat meyakinkan.

Dalam film-film Marvel lainnya, Fury adalah pria dengan penutup mata yang menyatukan Avengers. Dalam prekuel ini dia sudah bekerja untuk badan intelijen S.H.I.E.L.D., tetapi belum mengetahui keberadaan jagoan super.

Adegan-adegan Jackson sebagai Fury yang skeptis menjadi daya tarik utama film ini, dan memberi sentuhan jenaka. Dia juga bermain dengan kucing bernama Goose, yang memiliki peran strategis dalam plot.

Adegan jenaka Jackson memberi kelegaan pada tontonan yang penuh ledakan berapi-api dan tindakan aksi yang biasa saja. Vers membidik dengan kepalan tangannya, kemudian sinar energi melubangi pintu logam. Dia melompat ke atas kereta. Bukankah James Bond telah membuat kita bosan akan adegan itu?

Hak atas foto Frazer Harrison/Getty Images
Image caption Samuel L. Jackson terlihat 25 tahun lebih muda dalam film berkat efek digital yang sangat meyakinkan.

Dia juga menjelajahi masa lalunya, menemukan bahwa nama aslinya adalah Carol Danvers dan bahwa dia adalah seorang pilot jet Angkatan Udara yang tangguh. Kita melihat bagaimana dia mendapatkan kekuatan supernya, dan caranya berlipat-lipat kali lebih keren daripada digigit laba-laba.

Ini juga salah satu adegan aksi terbaik di film ini, dan semua kilatan cahaya yang menerpa layar akhirnya menciptakan efek yang bagus.

Baik sebagai Carol Danvers maupun Kapten Marvel, karakter ini tipis. Seperti juga banyak Avengers lain, tetapi mereka tidak pernah menjanjikan lebih.

Larson sering melotot, seperti seharusnya. Ada momen meta ketika seorang laki-laki meminta Vers untuk tersenyum, dengan kata-kata yang mirip dengan yang dilayangkan para troll di internet kepada Larson sendiri. Ia memancarkan kesan seorang aktor yang memainkan perannya dengan serius, tapi tanpa nuansa.

Para sutradara, Anna Boden dan Ryan Fleck, telah membuat banyak film kecil yang hebat, termasuk Half Nelson, dengan Ryan Gosling, dan Mississippi Grind, film tentang sepasang penjudi yang dibintangi Mendelsohn dan Ryan Reynolds. Tapi seperti Larson, suara unik mereka tenggelam dalam gaya homogen Marvel.

Captain Marvel menerima begitu saja bahwa wanita bisa tangguh dan memimpin. Carol menemukan kembali sahabatnya, Maria (Lashana Lynch), seorang ibu tunggal yang juga adalah seorang pilot kelas satu.

Tapi film ini bukanlah Wonder Woman (film laris tahun 2017 dari waralaba yang berbeda), yang kisahnya tentang seorang perempuan yang menemukan kekuatan di dunia laki-laki bisa diapresiasi pemirsa yang lebih luas, di luar penggemar film berbasis komik.

Satu elemen memang memenuhi hype pemberdayaan perempuan film ini. Kita melihat betapa vitalnya peran jagoan ini dalam penciptaan tim Avengers, dengan petunjuk akan betapa pentingnya dia dalam Avengers: Endgame, yang akan dirilis bulan depan.

Pada akhirnya, menyiapkan pemirsa untuk film blockbuster berikutnya mungkin merupakan pencapaian terbesar Captain Marvel.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Film review Captain Marvel di lamanBBC Culture

Topik terkait

Berita terkait