Bagaimana fenomena Brexit mengubah bahasa Inggris

Hak atas foto Christopher Furlong/Getty Images
Image caption Brexit

Dari 'Bremain' dan 'Bregret' hingga 'Euro-Fudge', Christine Ro menilik satu per satu istilah serta ungkapan yang tercipta akibat referendum tersebut.

Awal Maret lalu, penyair asal Inggris Brian Bilston membagikan sebuah puisi baru di akun Twitternya. Berjudul 'Meaningful Vote' alias 'Pilihan yang Bermakna', puisi tersebut diakhiri dengan kalimat "How foolish, it seems/How senseless, absurd/To redefine a nation/In pursuit of a word".

Artinya, "Betapa bodoh, kelihatannya/Betapa tak masuk akal, absurd/Untuk mendefinisikan kembali sebuah negeri/Dalam pencarian sebuah kata".

Istilah 'Brexit' dengan cepat masuk ke dalam ruang percakapan sehari-hari - sesering kita mengucapkan kata 'maaf' dalam percakapan bahasa Inggris atau seperti obrolan tentang cuaca sehari-hari. Bagi Anda yang belum 'Brexhausted' alias muak dengan Brexit, terdapat sejumlah kaitan menarik antara kata 'Brexit' dengan fenomena politik Brexit.

Kelihatannya seperti sudah sangat lama terjadi, namun Brexit didahului oleh sebuah kebijakan lain bernama Grexit. Sepasang ekonom Citigroup pertama kali menggunakan istilah 'Grexit' pada bulan Februari 2012, untuk merujuk pada kemungkinan Yunani (Greece) meninggalkan kawasan Eropa.

Tiga bulan kemudian, Peter Wilding menciptakan istilah 'Brexit', menggambarkannya sebagai 'kata menyedihkan lainnya', pada sebuah artikel lembaga kajian.

Wilding, seorang pengacara, mengurusi kebijakan dan media Uni Eropa untuk Partai Konservatif yang kala itu dipimpin David Cameron.

Ia adalah salah satu Remainer - pihak yang tak ingin Inggris keluar dari Uni Eropa - yang merasa bahwa kepopuleran istilah 'Brexit' justru mendorong agenda kelompok Leave - pihak yang ingin Inggris keluar dari Uni Eropa - dan oleh karenanya menyesal karena telah menciptakan kata tersebut. Ini mungkin sebuah Bregret yang pertama.

Menurut Peter Wilding, sang pencipta kata 'Brexit', kata 'Bregret' dapat menjadi "tulisan di batu nisan untuk kemunduran dan kemungkinan jatuhnya negeri (Inggris)"
Image caption Menurut Peter Wilding, sang pencipta kata 'Brexit', kata 'Bregret' dapat menjadi "tulisan di batu nisan untuk kemunduran dan kemungkinan jatuhnya negeri (Inggris)"

Ironi lainnya adalah bahwa 'Brexit' telah menjadi jargon bagi mereka yang menginginkan hubungan yang lebih berjarak dengan Eropa, padahal kata 'exit' sendiri berasal dari bahasa Latin.

"Karena kata itu sendiri, kita dibuat terpojok," ujar ahli bahasa Universitas Cardiff, Lise Fontaine. "Dengan menerima istilah ini, dengan mengulang-ulangnya, dengan sering membahasnya sampai-sampai terucap sendiri, kita telah menutup perspektif dan gagasan alternatif tentang pemutusan keanggotaan Inggris dan Uni Eropa."

Perspektif alternatif tersebut mungkin telah memasukkan lebih banyak perhatian sejak awal terhadap Irlandia Utara, yang tentu saja bagian dari Inggris Raya, namun sesungguhnya bukan bagian dari Inggris (pulau besar Inggris, Wales dan Skotlandia).

Pada bulan Juni 2012, The Economist menerbitkan sebuah artikel dengan tajuk utama 'A Brixit looms' alias 'Brixit mulai terlihat' - namun istilah itu kalah populer dibandingkan Brexit yang semakin sering digunakan sehari-hari
Image caption Pada bulan Juni 2012, The Economist menerbitkan sebuah artikel dengan tajuk utama 'A Brixit looms' alias 'Brixit mulai terlihat' - namun istilah itu kalah populer dibandingkan Brexit yang semakin sering digunakan sehari-hari

Penelitian Fontaine tentang makna kata 'Brexit' menunjukkan bahwa setelah sempat menggunakan istilah 'Brixit' secara singkat, 'Brexit'-lah yang kemudian menjadi standar.

Namun pada mulanya, istilah 'Brexit' ditulis menggunakan tanda kutip, cetak tebal, diberi definisi dan ungkapan seperti 'yang biasa disebut' -- menunjukkan bahwa meski memiliki ejaan yang sudah distandarisasi, penggunaan istilah tersebut belum sepenuhnya dinormalisasi.

Dan benar saja, istilah 'Brexit' tidak terdengar selama beberapa tahun, hingga akhirnya kembali bersirkulasi menjelang pemilihan umum Inggris tahun 2015.

Salah satu janji kampanye David Cameron adalah negosisasi ulang hubungan Inggris dengan Uni Eropa. Sejak saat itu lah, khususnya sejak pengumuman akan diadakannya referendum, istilah 'Brexit' meledak.

Fontaine ingat ia tiba-tiba mendengar kata itu di mana-mana, entah di taksi atau di dalam pub. Tahun 2016, Kamus Collins menasbihkannya sebagai word of the year alias kata tahun itu.

'Backstop' biasanya digunakan dalam dunia olahraga atau keuangan, namun kini memiliki arti tersendiri sejak referendum tahun 2016 lalu
Image caption 'Backstop' biasanya digunakan dalam dunia olahraga atau keuangan, namun kini memiliki arti tersendiri sejak referendum tahun 2016 lalu

Selain banyak istilah-istilah baru yang bermunculan, Brexit juga membuat sejumlah kata memiliki makna-makna baru. Kata 'Unicorn' kini digunakan untuk mengejek penganut Brexit yang 'tidak realistis', ketika Presiden Majelis Eropa Donald Tusk membagikan sebuah surat dari seorang anak berusia enam tahun yang menggambar mahluk mitos tersebut di akun instagramnya.

Kata 'Backstop' adalah contoh lainnya. Hingga akhir tahun 2017, hasil pencarian web untuk kata 'backstop' masih didominasi para penggemar olahraga atau pakar keuangan. Namun setelah itu, istilah tersebut punya arti yang sama dengan perbatasan terbuka antara Republik Irlandia dengan Irlandia Utara - salah satu pokok bahasan utama dalam negosisasi Brexit.

Mengubah 'Brexit' menjadi seni

'Backstop' dan kata lainnya di atas hanyalah sedikit di antara banyak istilah yang muncul dalam Kamus Brexit, sebuah instalasi seni berbentuk video yang diciptakan seniman Simon Roberts.

Karya tersebut terdiri dari dua bagian: video berdurasi 80 menit berisi video seorang pembaca berita merapal daftar kata dan ungkapan yang berkaitan dengan Brexit secara alfabetis; dan sebuah proyeksi dari teleprompter yang ia baca. Efeknya luar biasa.

Seniman Simon Roberts telah menciptakan kamus Brexit, mengumpulkan hampir 5.000 ungkapan dari media sosial dan pemberitaan Hak atas foto Courtesy of Flowers Gallery London and New York
Image caption Seniman Simon Roberts telah menciptakan kamus Brexit, mengumpulkan hampir 5.000 ungkapan dari media sosial dan pemberitaan

Roberts telah mengumpulkan istilah-istilah tersebut sejak sehari setelah digelarnya referendum, yang mana hasilnya mengejutkannya dan membuatnya berkeinginan untuk membuat sebuah karya seni tentang Brexit.

Proses pengumpulan istilah untuk kamus tersebut sangat melelahkan. Selama dua tahun, Roberts menjelajahi media sosial dan pemberitaan untuk mencatat hampir 5.000 ungkapan yang menggambarkan sejumlah aspek Brexit.

Ia dengan cepat menyadari adanya istilah-istilah teknis, lalu sejumlah besar ungkapan politis. Ada juga sekelompok ungkapan terkait kejadian tertentu, seperti ketika rencana Brexit disepakati di rumah pedesaan mewah perdana menteri Inggris (Chequers country house) Juli 2018 lalu.

Hal ini memunculkan istilah - di antara banyak ungkapan lain - 'Chequers Blueprint' alias 'Rencana Chequers', 'Chequers Checkmated' alias 'Skakmat Chequers', 'Chequers Euro-fudge' alias 'Omong kosong Eropa di Chequers' dan 'Chuck Chequers'.

Jelas dalam Kamus Brexit bahwa istilah 'Brexit' sudah merambah ke luar dunia politik.

Sejak referendum, terdapat puluhan registrasi perusahaan baru yang mencantumkan kata 'Brexit' di nama perusahaan mereka, demikian halnya dengan pendaftaran merek dagang untuk sejumlah produk seperti biskuit Brexit dan minuman berenergi Brexit.

Persebaran internasional istilah 'Brexit'

Sejumlah hal membuat 'Brexit' menyebar ke mana-mana. Salah satunya adalah keseruan berbahasa Inggris, khususnya bahasa Inggris British.

Tabloid-tabloid Inggris semakin mahir bermain kata dengan tajuk-tajuk utama mereka sejak setelah masa referendum. Sampel koran yang dikumpulkan untuk Kamus bahasa Inggris - termasuk 'All the Authority of a Smacked Blancmange' yang berarti 'Seluruh Kekuasaan Blacnmange (makanan penutup seperti agar-agar) yang Babak Belur'.

Ada pula 'Fudgiest Fudge in the History of Euro-fudge' yang berarti 'Bualan paling omong kosong dalam sejarah Omong kosong Eropa', dan 'Ambitious Managed Divergence' atau 'Penyimpangan Teratur yang Ambisius' - menunjukkan beragam humor gelap, penulisan jargon dan kesegaran berbahasa yang orang-orang lakukan dalam upaya untuk menjelaskan Brexit.

Penggemar sepakbola dunia bereaksi terhadap pensiunnya Lionel Messi dari sepakbola dunia, dan meminta diadakannya referendum 'Mexit' sebelum mereka membiarkannya pensiun
Image caption Penggemar sepakbola dunia bereaksi terhadap pensiunnya Lionel Messi dari sepakbola dunia, dan meminta diadakannya referendum 'Mexit' sebelum mereka membiarkannya pensiun

"Bahasa Inggris memiliki tradisi yang kaya dan lama akan humor verbal. Media Inggris khususnya sangat familiar dengan beragam permainan kata," ungkap Gordana Lalić-Krstin.

Ia dan Nadežda Silaški, yang mengajar bahasa di Universitas Belgrade, telah meneliti neologisme (atau istilah-istilah baru) yang dipengaruhi Brexit.

Sebuah petisi yang ditandatangani 53.000 orang memicu pemerintahan Finlandia memperdebatkan keluarnya negara tersebut dari kawasan Eropa tahun 2015, menginspirasi munculnya kata 'Fixit'
Image caption Sebuah petisi yang ditandatangani 53.000 orang memicu pemerintahan Finlandia memperdebatkan keluarnya negara tersebut dari kawasan Eropa tahun 2015, menginspirasi munculnya kata 'Fixit'

'Brexit' membangkitkan kemungkinan-kemungkinan seperti 'Califexit' (yang bisa saja menjadi judul album baru Red Hot Chili Peppers, dan bermakna California keluar dari AS) dan 'Fixit' (yang terdengar seperti peralatan tukang leding, namun sebenarnya merujuk pada kemungkinan keluarnya Finlandia dari Uni Eropa).

Silaški dan Lalić-Krstin juga menemukan bahwa struktur tersebut juga digunakan untuk istilah seperti 'Mexit' (untuk pensiunnya pesepakbola Lionel Messi) dan 'Trexit' (jika warga AS memutuskan untuk meninggalkan negara tersebut karena kepemimpinan Donald Trump).

'Trexit' punya banyak makna, termasuk pendukung Trump yang menolak keungkinan pemakzulan Presiden Trump
Image caption 'Trexit' punya banyak makna, termasuk pendukung Trump yang menolak keungkinan pemakzulan Presiden Trump

Munculnya istilah-istilah yang terinspirasi dari 'Brexit' tersebut terbantu oleh daya jangkau internasional bahasa Inggris.

"Dominasi global bahasa Inggris, khususnya di internet, membuat kata-kata tersebar dengan cepat, dan mungkin diadopsi oleh bahasa lain atau ke dalam variasi lain dalam bahasa Inggris dengan lebih cepat dari sebelumnya," kata Lalić-Krstin.

"'Brexit' adalah sebuah bentuk internasionalisme, di mana kata tersebut dikenali secara global dan telah memasuki banyak bahasa lain dalam bentuk dan makna aslinya, tanpa diterjemahkan terlebih dahulu."

Selain itu, terdapat juga sifat mudah untuk dimodifikasi dari kata itu sendiri (dan sebagian istilah lain dalam bahasa Inggris pada umumnya). Fontaine mengatakan: "'Exit' adalah satu dari sejumlah kata yang sangat fleksibel yang tidak dengan mudah dikategorikan sebagai kata benda saja atau kata kerja saja.

Jadi, bagi saya keambiguan tersebut menjadi sebuah keuntungan untuk kata seperti ini, di mana Anda bisa menangkap makna pergerakan yang terkandung di dalamnya, namun justru menggunakannya sebagai sebuah kata benda.

Kata ini membuka banyak kemungkinan yang biasanya tidak demikian." Meskipun kebanyakan kamus mengkategorikan 'Brexit' sebagai kata benda, kata tersebut kini tengah menjalani proses denominalisasi, atau pengkatakerjaan, untuk merujuk pada makna 'Brexiting' atau 'melakukan Brexit'.

Fontaine menyebut 'Brexit' sebagai kata benda yang kompleks, atau sebuah kata kerja yang mengandung banyak arti. Ketimbang menggunakan ungkapan panjang seperti 'kemungkinan keluarnya Inggris dari Uni Eropa', Fontaine mengatakan, "ia mengandung kalimat bertatabahasa dalam sebuah ceruk yang biasanya diisi dengan kata benda."

"Ia adalah sebuah perpaduan (atau sebuah koper), memiliki formasi yang jenaka, hampir membuat orang-orang bermain-main dengannya dan membuat kata-kata lain seperti 'bregret', 'regrexit', 'Brexitesque' atau 'Brexitannia'," ujar Lalić-Krstin. "Kata-kata ini sangat ringkas tetapi juga sangat mahal."

'Bremain' tidak mengandung unsur risiko atau ancaman, sehingga ia tidak terlalu menarik
Image caption 'Bremain' tidak mengandung unsur risiko atau ancaman, sehingga ia tidak terlalu menarik

Meskipun 'Bremain' adalah kebalikan dari 'Brexit', Fontaine menjelaskan bahwa "tatabahasa masing-masing kata tersebut cukup berbeda".

Satu hal, kata 'Bremain' tidak sefleksibel 'Brexit': "Anda tidak bisa berbicara tentang 'the Remain' ('yang Tersisa'). Kata itu tidak memiliki padanan kata bendanya." Dan kata tersebut kurang menarik sebagai sebuah kata karena, menurut Fontaine, "Tak ada yang asyik (dengan kata itu). Tak mengandung risiko, tak mengandung ancaman. Kata itu tidak layak diberitakan."

Masa lalu dan masa depan 'Brexit'

Tampaknya istilah Brexit menangkap lebih banyak perhatian dunia dibandingkan penemuan istilah-istilah politik lainnya.

Namun sebelumnya ada skandal Watergate di tahun 1970-an. Watergate terus menjadi pengaruh dalam penemuan kata-kata baru dalam dekade-dekade berikutnya, seperti 'Monicagate' (merujuk pada hubungan terlarang antara Monica Lewinsky dan Bill Clinton) dan 'Piggate' (merujuk pada tuduhan buruk yang melibatkan David Cameron dan klub makan malam Oxford).

Dan untuk masa depan 'Brexit', terlepas apa yang akan terjadi 29 Maret mendatang?

"Apa yang sebaiknya terjadi terhadap sebuah kata yang seumum dan sesering ini digunakan adalah untuk segera digunakan dalam makna metafora," ujar Fontaine.

Kita lihat, apakah istilah 'pull a Brexit' alias 'melakukan Brexit' akan merujuk pada sebuah upaya pemisahan diri suatu negara, atau menyambut sebuah era baru kemakmuran dan kedaulatan.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di How Brexit changed the English language di laman BBC Culture

Berita terkait