Kisah ahli kimia keturunan Yahudi yang selamat dari kekejaman Nazi

Auschwitz Hak atas foto Sean Gallup/GETTY

Primo Levi, seorang ahli kimia keturunan Yahudi Italia, menceritakan kisah nyata Holocaust yang dialami dalam memoar-memoarnya.

"Penyulingan adalah pekerjaan yang indah. Pertama-tama, karena itu adalah pekerjaan yang lambat, filosofis, dan sunyi, yang membuat Anda sibuk, tetapi memberi Anda waktu untuk memikirkan hal-hal lain, seperti saat Anda mengendarai sepeda."

"Kemudian, karena proses ini melibatkan metamorfosis dari cairan menjadi uap yang tidak terlihat, dan kembali lagi menjadi cair. Dalam perjalanan ganda ini, kemurnian tercapai, kondisi yang ambigu dan mempesona."

Beberapa kutipan seperti itu menggambarkan semangat sang penulis otobiografi Primo Levi dalam bukunya The Periodic Table.

Levi adalah seorang ahli kimia dan hal itu tercermin dalam gaya prosanya yang terukur dan teliti. Dia adalah seorang Yahudi Italia yang saat berusia 24 tahun dikirim ke Auschwitz.

Gaya penulisan Levi, menghindari kesombongan demi kejelasan. Hal itu tergambar pula dalam deskripsinya terkait perjalanannya dari Turin di Italia ke Auschwitz di Polandia, kemudian kembali ke Turin, tempat ia menjalani sisa hidupnya di apartemen yang sama tempat ia dilahirkan.

Pengalaman pahit yang dia alami melucuti ego dan kesombongan yang dimilikinya dan membuatnya melihat segala sesuatu dengan lebih jelas.

Tahun ini adalah satu abad dari tahun kelahiran Levi, dan saat yang tepat untuk meninjau kembali tiga memoarnya terkait Holocaust.

Buku "This Is a Man" ditulis segera setelah dia kembali ke rumah setelah perang dan menggambarkan waktunya di Auschwitz. "The Truce" yang ditulis lebih dari satu dekade setelah itu, menggambarkan pengalamannya saat meninggalkan Auschwitz dan kembali ke Turin.

Tiga dekade setelah itu, dan tak lama sebelum dia meninggal, Levi menulis "The Drowned and the Saved" sebuah polemik di mana dia mengumpulkan mitos-mitos seputar Holocaust di masa hidupnya.

Penghancuran manusia

"Saya beruntung baru dideportasi ke Auschwitz pada tahun 1944," tulis Levi.

Pada saat itu, di akhir perang, Nazi memutuskan untuk mempertahankan buruh Yahudi yang berharga dan tidak lagi mengeksekusi mereka. Itu memperbesar peluang mereka untuk hidup.

Namun, tetap saja, dari 650 orang Italia yang berangkat dengan kereta yang sama dengan Levi, hanya 20 yang selamat pada akhirnya.

Hak atas foto Archivio Fondazione CDEC, Milano
Image caption Primo Levi tumbuh besar di Turin, Italia.

Butuh beberapa waktu sebelum Levi menyadari apa itu kamp. Bagi orang Yahudi, kamp itu bukan tempat pemusnahan atau kamp kerja paksa. Kamp itu dirancang untuk "menghancurkan manusia".

Pada saat kedatangan, para pendatang baru digiring ke dalam dua kelompok - berguna atau tidak - dan Levi, meskipun bukan orang yang tangguh, dimasukkan di kelompok pertama.

Mereka ditelanjangi, dicukur dan ditato: Levi berubah menjadi tahanan nomor 174517.

Levi tidak menuliskan unsur filosofis atau historis dari pengalamannya. Ia tidak mengeksplorasi akar Nazisme, atau asal-usul dan sifat kejahatan.

Alih-alih, dia berfokus pada detail kehidupan di kamp. Levi suka mengatakan, dengan kecut, bahwa ia membuat tulisannya dengan mencontoh laporan laboratorium kimia. Ceritanya begitu rinci dan ada pula bagian-bagian komedi yang sangat "kering".

Tetapi sebagian besar menakutkan dan mengganggu, dan jelas nyata.

Hari-hari itu dingin, membuatnya lapar, dan menyengsarakan kehidupan para tahanan. Mereka melakukan apa yang diperintahkan, dan memakan apa yang diberikan, hanya orang-orang yang luar biasa yang bertahan lebih dari tiga bulan.

Suatu pagi, selama kerja kasar, Levi tahu "[dia] akan mati kelelahan dalam setengah jam. " Dia merasa "tuli dan hampir buta" saat itu.

Dia menggigit bibirnya karena menyadari bahwa "rasa sakit dapat menjadi stimulan untuk memobilisasi cadangan energi terakhir."

Para petugas pengawas tahanan Yahudi, juga mengetahui hal ini. Beberapa dari mereka memukuli para tahanan karena "murni ingin melakukan kebinalan dan kekerasan", tetapi yang lain melakukannya "hampir dengan penuh kasih, menyertai pukulan dengan ucapan yang mengharuskan kami terus bekerja, seperti yang biasa dilakukan pengemudi kereta terhadap kuda mereka yang penurut."

Primo Levi di masa kecilnya bersama ibu dan saudara perempuannya.

Hak atas foto Archivio Fondazione CDEC, Milano
Image caption Primo Levi di masa kecilnya bersama ibu dan saudara perempuannya.

Pada malam hari, tahanan yang tidur seranjang berdua, kerap bermimpi.

Mereka memimpikan entah mimpi buruk di mana mereka mencoba untuk menceritakan kisah mereka hanya untuk diabaikan atau mimpi tentang makanan.

"Banyak yang menjilat bibir mereka dan menggerakkan rahang mereka. Mereka bermimpi makan."

Mimpi apa pun lebih baik daripada bangun.

Perintah Auschwitz, 'Wstawàch' (bangun), terasa seperti cambukan.

Bahkan ketika dia menulis adegan-adegan ini, Levi mengakui dia merasa bahasa tidak akan cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi saat Holocaust.

Ia merasa pembaca yang tidak ada di sana tidak akan benar-benar mengerti penderitaan yang terjadi di sana.

"Kami mengatakan 'lapar', kami mengatakan 'kelelahan', 'takut', 'sakit', kami mengatakan 'musim dingin' dan itu adalah kata-kata yang berbeda dari apa yang terjadi. Kata-kata itu diciptakan dan digunakan oleh orang-orang bebas yang hidup dalam kenyamanan. Jika [kamp] Lagers ada dalam waktu yang lebih lama, bahasa yang lebih kasar akan lahir."

Yang dimaksudkannya adalah bahasa baru untuk menggambarkan fenomena yang terjadi di kamp, yang merupakan jenis eksperimen sosial dan biologis yang terasa seperti neraka.

Levi tidak berhenti mengamati, dengan "keingintahuan para naturalis yang menemukan dirinya di dalam lingkungan yang mengerikan tetapi baru, sangat baru."

Auschwitz menunjukkan kepada Levi batasan dan hukum kodrat manusia. Dengan mendorong para tahanan ke titik ekstrem, para petugas melakukan tes psikologis, bahkan metafisik.

Bagaimana seseorang berubah dalam kondisi ini - dan bagaimana seharusnya ini mengubah persepsi kita tentang umat manusia? Judul buku itu berbunyi seperti deduksi logis: "Jika ini adalah manusia, maka ..."

Di kamp, Levi menulis "lebih baik tidak berpikir". Dia mengingat peristiwa-peristiwa itu ketika dia dapat melihat mereka kembali sebagai manusia.

Yang tenggelam dan yang diselamatkan

Setelah 11 bulan di Auschwitz, saat musim dingin kedua, orang-orang kamp dibebaskan oleh tentara Rusia, yang malu dengan apa yang mereka lihat.

Memoar kedua Levi, "The Truce" menggambarkan perjalanannya pulang ke Turin. Tetapi bagi Levi, itu tidak berarti langsung langsung meninggalkan Auschwitz menuju Turin, tetapi ke timur.

Ia menuju timur ke Uni Soviet, ke utara hingga hampir ke Minsk, kemudian berputar dan pergi ke selatan ke Rumania.

Baru setelah itu ia menuju barat: melalui Hongaria, Cekoslowakia, Austria, Jerman dan akhirnya ke Italia. Ini adalah perjalanan monumental.

Musim dingin berhenti, matahari kembali, dan Levi memberi judul bab pertama dalam bukunya "The Thaw" (mencair). Kemanusiaan Levi pun kembali seperti daging dan lemak di tulangnya.

Ketika Levi tiba di Turin, mimpinya saat di Auschwitz terjadi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Primo Levi di Roma pada tahun 1986.

Rumah, keluarga dan makanan, tetapi juga kebutuhan untuk menceritakan kisahnya, dan rasa takut dia tidak akan bisa mengomunikasikannya.

Dia kembali menjadi seorang ahli kimia dan menghabiskan waktunya di pabrik cat yang sama dan mendedikasikan hari Minggu untuk menulis.

Fakta bahwa dia hidup membingungkan Levi. Kenapa dia? Apa yang menentukan kelangsungan hidupnya Auschwitz?

Bagi Levi, mungkin karena dia memasuki kamp dengan kesehatan yang baik dan dia bisa berbahasa Jerman. Keberuntungan juga vital.

Levi menikmati dua keberuntungan besar: bertemu seorang warga Italia yang menyelundupkan makanan untuknya selama enam bulan, dan jatuh sakit pada saat yang tepat untuk menghindari pawai kematian dari Auschwitz ketika Rusia mendekat.

Tapi Levi tidak percaya bahwa dia selamat karena berkat Tuhan.

"Yang terburuk selamat, yang egois, kasar, tidak peka, kolaborator dari 'zona abu-abu', mata-mata. Tidak ada peraturan yang pasti terkait hal itu... tapi bagaimanapun aturan itu... Yang terbaik semua mati."

"Zona kelabu" adalah istilah Levi untuk ranah moral di antara Nazi dan "orang-orang yang tenggelam", istilahnya untuk para korban yang meninggal tanpa berjuang atau berkompromi.

Ada juga orang-orang seperti dirinya yang bekerja sama dengan kejahatan untuk memperpanjang hidup mereka. Bagi sebagian orang, kolaborasi ini kecil, seperti membetulkan sepatu bot Nazi untuk mendapat tambahan roti. Sejumlah tahanan membantu mengelola kelancaran kamp. Di antara kedua kutub itu, ada unsur kerja sama dan paksaan, dan hal itu mengacaukan hasrat untuk menghakimi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Manuskrip Primo Levi didonasikan ke Museum Memorial Holocaust di AS.

Apa yang Levi lihat dalam Holocaust mengubah persepsinya tentang manusia, tetapi dia tidak pernah percaya itu menunjukkan kepada sifat alami mereka yang sebenarnya.

"Kami tidak percaya bahwa manusia pada dasarnya brutal, egois, dan saat institusi beradab tidak ada ... Kami percaya bahwa satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa dalam memperjuangkan kepentingan dan keterbatasan fisik, banyak kebiasaan dan naluri sosial yang jadi berkurang dan bahkan menjadi sunyi. "

Tapi bagaimana dengan Nazi? Apakah apa yang mereka lakukan "berasal dari niat logis pada kejahatan atau karena ketiadaan logika? Seperti yang sering terjadi dalam urusan manusia, kedua hal itu sering saling terkait.

"Sulit untuk memahami Holocaust yang tidak berkerimanusiaan dilihat dari standar manusia beradab. Tetapi Levi menekankan bahwa bukannya itu tidak dapat dipahami. Dalam tingkat individu, setidaknya, kejahatan itu terdiri dari motivasi manusia yang dapat dikenali. Beberapa anggota Nazi fanatik; beberapa oportunis; beberapa pengecut. Tetapi manusia, secara keseluruhan, dapat melakukan hal-hal yang tidak manusiawi.

Pada tahun 1961, 14 tahun setelah diterbitkan untuk pertama kali, If This Is a Man diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Levi menghabiskan waktu yang sangat panjang untuk membuat kata pengantar untuk buku itu. Dia merasakan emosi yang hebat, tapi menahan dirinya.

Kata-kata yang dipilihnya sangat kuat dan telah "disuling"-nya: "Saya hidup, dan saya ingin memahami Anda untuk menghakimi Anda."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini,Primo Levi : A clear-eyed view of evil, pain and humanity di BBC Culture.

Berita terkait