Film The Matrix, 20 tahun kemudian: fantasi yang ketinggalan zaman

The Matrix Hak atas foto Warner Bros

The Matrix melampaui zamannya. Film tech-noir besutan sutradara Wachowski bersaudara ini dirilis tahun 1999, tepat 20 tahun lalu.

Film ini menciptakan kembali tren aksi super hero di layar lebar, setahun sebelum film X-Men dirilis dan memamerkan koreografi pertarungan 'wire-fu' gaya Hong Kong setahun sebelum film silat Crouching Tiger, Hidden Dragon.

Efek 'bullet-time', yang menampilkan karakter film diserbu rentetan peluru dalam adegan lambat, banyak dicontoh oleh film-film aksi lain. Sementara ide film tentang realitas virtual dan kecerdasan buatan, juga banyak ditiru.

Terlepas dari semua ini, betapapun, dalam beberapa hal penting, The Matrix dianggap sudah ketinggalan jaman sehingga sekarang tampak menjadi sekedar peninggalan.

Sama seperti ras manusia dalam kisah Wachowski di film itu, The Matrix terperangkap selamanya di tahun 1990-an.

Pahlawan dari film ini adalah Thomas Anderson yang diperankan Keanu Reeves, seorang programmer perangkat lunak yang bekerja sebagai peretas, yang dikenal sebagai Neo.

Setelah menerima beberapa pesan samar melalui komputernya, ia bertemu dua orang, Trinity yang diperankan Carrie-Anne Moss dan Morpheus yang diperankan Laurence Fishburne, yang juga memiliki nama-nama sok keren seperti dia.

Keduanya memberinya kabar yang mengganggu.

Dunia yang selama ini dia tahu - dan semua orang tahu, dalam hal ini - ternyata adalah simulasi realitas virtual yang disebut Matrix. Sementara dalam realitas aktual, bumi adalah gurun pasca-apokaliptik.

Tidak hanya telah terjadi perang antara manusia dan mesin-mesin artifisial yang cerdas, tetapi manusia juga tersesat, dan terpaksa memendam dendam ketika hidup dalam wahana luar angkasa, sementara "mimpi yang dihasilkan komputer" dipompa ke dalam otak mereka.

Namun, itu tidak selamanya berita buruk.

Hak atas foto Warner Bros

Sekarang setelah Anderson tahu bahwa Matrix pada dasarnya adalah sebuah permainan komputer, ia dapat membengkokkan aturan, dan membuat avatarnya menjadi sangat kuat, super cepat, dan mengenakan setelan yang necis.

Bahkan lebih baik lagi, dia ternyata adalah "The One", seorang pemimpin seperti dewa yang telah dinubuatkan untuk menyelamatkan manusia dari robot yang menguasai mereka.

Ini adalah premis yang fantastis, tetapi memiliki kekurangan.

Secara umum, Anderson/Neo adalah salah satu dari para pahlawan yang membosankan yang tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkan status pahlawan mereka.

Dia menjadi seniman bela diri yang tidak terkalahkan bukan dengan pelatihan selama bertahun-tahun, tetapi dengan terhubung ke program pengajaran selama beberapa jam.

Dan dia menjadi mahakuasa dalam Matrix bukan karena dia sangat berani, mulia atau pintar, tetapi karena, seperti kata Morpheus, dia bersedia "percaya".

Sebelumnya, ketika dia masih seorang programmer komputer, Anderson juga bukan mesias pemula yang paling jelas.

Dia bukan pejuang lingkungan atau aktivis politik, tetapi seorang penyendiri yang satu-satunya alasan dia memenuhi syarat menjadi The One adalah karena kejahatan dunia maya yang tidak jelas yang sudah dilakukannya dan kecemasannya bahwa keberadaannya bukanlah yang semestinya.

"Kamu telah merasakannya seumur hidupmu," ujar Morpheus lirih (Anderson sendiri sangat sedikit berbicara di film ini), "bahwa ada sesuatu yang salah dengan dunia. Kamu tidak tahu apa itu, tetapi ada di sana, seperti serpihan dalam pikiranmu, membuatmu marah. "

Sikap inilah yang sekarang tampak kuno - sangat mencolok di akhir abad ke-20.

Anderson tidak terjaga di malam hari oleh perang atau perubahan iklim atau kebangkitan fasisme. Dia tidak berkampanye untuk kesetaraan hak - dan dia tentu saja tidak melakukan latihan kung-fu.

Dia adalah pekerja kerah putih yang masalah paling mendesaknya adalah sedikit ketidakpuasan dengan kehidupan kantor.

Hak atas foto Warner Bros

Dia, pada dasarnya, adalah adik Chandler Bing yang kurang cerdas dalam serial Friends. Dan mereka punya banyak saudara lain. Salah satunya adalah narator tanpa nama yang diperankan Edward Norton dari film Fight Club.

Yang lainnya adalah Peter Gibbons (Ron Livingston), seorang programmer perangkat lunak yang tidak puas dalam komedi populer Office Space besutan sutradara Mike Judge.

Kedua film tersebut dirilis pada tahun 1999, seperti yang dilakukan The Matrix. Meski ketiganya tampak beda, semua film berbagi tema yang prevalensinya pada budaya pop 1990-an memuncak dengan debut sitkom BBC2 The Office, pada Juli 2001.

Temanya adalah menjadi seorang profesional yang tampan, kelas menengah, berusia tiga puluhan yang pada akhirnya kariernya tidak terlalu memuaskan.

The Matrix mungkin menyinggung Alice in Wonderland dan The Wizard of Oz, Jean Baudrillard dan Jesus, tetapi tesis utamanya ada di sana di poster Office Space: "Work Sucks".

Salah satu dari banyak elemen dalam film karya Wachowski bersaudara ini memiliki kesamaan dengan Office Space dan Fight Club adalah urutan yang bisa Anda sebut 'Amukan Pekerja Kantor'.

Di Office Space, Peter dan teman-temannya secara ritual menghancurkan printer yang rusak dengan tongkat baseball.

Di Fight Club, sang anti-hero menghancurkan selusin blok menara di distrik keuangan.

Dalam The Matrix, Agen Smith (Hugo Weaving) menginterogasi Morpheus - bukan di sarang bawah tanah atau pesawat ruang angkasa yang mengorbit, tetapi, dengan jelas, di gedung pencakar langit perusahaan.

Pada saat ini, karakter Keanu Reeves tidak lagi Thomas Anderson, programmer yang diomeli oleh bosnya karena datang terlambat bekerja.

Dia telah terlahir kembali sebagai Neo, seorang penuntut balas yang berjalan ke lobi gedung pencakar langit, ditemani oleh seorang wanita Amazon dalam setelah baju hitam ketat, dan kemudian secara akrobatik membantai penjaga keamanan gedung. (ada banyak orang idak bersalah terbunuh di The Matrix), sebelum menghancurkan tempat itu dengan bom dan helikopter tempur.

Ini adalah fantasi kekuatan laki-laki yang patut dicontoh, dirancang dengan presisi untuk menyanjung siapa pun yang memiliki pekerjaan kantoran dan terkungkung dalam kubikelnya yang merasa, seperti yang dikatakan bos Anderson tentangnya, "bahwa kamu istimewa, bahwa entah bagaimana aturan tidak berlaku untukmu".

Tapi itu adalah fantasi yang sekarang tampak naif dan kuno.

Bagi generasi pasca-The Matrix, bosan dengan pekerjaan tetap yang dibayar dengan baik telah menjadi mimpi, bukan mimpi buruk.

Orang-orang nampaknya terkesima setelah serangan 11 September, banyak kemarahan teroris yang terjadi kemudian, perang di Timur Tengah, krisis keuangan 2008, dan bencana lingkungan yang sedang berlangsung.

Hak atas foto Warner Bros

Beberapa atau semua masalah ini bergemuruh di film-film fiksi ilmiah terbaru: film seperti Children of Men, Interstellar, dan Arrival yang didorong oleh ketakutan kita akan konflik global dan keruntuhan ekologis.

Tetapi pada tahun 1999, The Matrix lebih tertarik pada betapa membosankannya duduk dengan nyaman di depan komputer sepanjang hari.

Dan itulah sebabnya, untuk semua inovasi gaya dan teknisnya, sekarang muncul sebagai monumen untuk mengasihani Generasi X: kapsul waktu yang terkubur di era yang lebih polos dan gemar berpuas diri.

Dirilis tujuh tahun setelah The End of History dan Last Man karya Francis Fukuyama, yang berpendapat bahwa dunia telah mencapai titik stabilitas yang tidak terbatas, Matrix mengambil pandangan yang sama.

Mesin memilih akhir 1990-an sebagai masa untuk simulasi realitas virtual mereka, seperti yang dijelaskan Agen Smith, karena periode itu adalah "puncak peradaban Anda".

Tidak ada banyak kesempatan bahwa penjahat fiksi ilmiah akan mengatakan itu sekitar 2019.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini,The Matrix's male power fantasy has dated badly di BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait