Apakah ini saat yang tepat untuk menulis ulang cerita dongeng?

Dongeng Hak atas foto DE AGOSTINI PICTURE LIBRARY/Getty Images

Pada suatu ketika, saya benar-benar tidak percaya saat mendengar informasi tentang kepanikan beberapa orang tua terhadap dongeng-dongeng yang ada. Ya, dongeng-dongeng itu bisa jadi haus darah, memiliki standar moralitas yang tidak sesuai dengan nilai yang ada saat ini, hingga stereotip gender yang sama kerasnya seperti sepatu kaca, tetapi itu hanyalah dongeng.

Bukankah kemarahan yang disuarakan oleh aktris seperti Keira Knightley dan Kristen Bell, keduanya secara terbuka bersumpah untuk tidak membiarkan anak-anak mereka menonton film-film Disney, hanya menghilangkan sukacita yang tersisa dari masa anak-anak?

Tetapi kemudian, saat saya menjadi seorang ibu, saya mendapat pelajaran-pelajaran baru yang relevan, termasuk ini: tidak pernah mengatakan tidak. Misalnya, jangan pernah mengatakan bahwa Anda tidak akan pernah menjadi salah satu dari orang tua itu.

Bagi saya, kesadaran itu datang setelah membaca buku kumpulan dongeng-dongeng karya Hans Christian Andersen dan saya tidak dapat menemukan satu pun cerita yang layak saya bacakan pada putri saya secara keseluruhan.

Tiba-tiba, informasi mengenai sejumlah orang tua di Inggris yang mengubah isi cerita dongeng saat mereka membacakannya - satu dari empat orang tua, menurut sebuah jajak pendapat yang diterbitkan pada tahun 2018 - sangat masuk akal.

Jika saya adalah orangtua dari seorang anak laki-laki, saya berani mengatakan bahwa saya telah menyerah pada kisah-kisah kepahlawanan dan fobia kelemahan serta ketidakpercayaan pada ekspresi-ekspresi emosi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Beberapa cerita dongeng menekankan pada kecantikan fisik.

Sebagai orang tua dari anak perempuan, perhatian utama saya adalah fokus cerita-cerita itu pada kecantikan eksternal dan narasi-narasi yang terbentuk antara wajah yang cantik dan hati yang baik.

Anda dapat melakukan banyak hal untuk menjelaskan tentang keterbatasan hak para putri kerajaan untuk memilih maupun fokus mereka pada pernikahan, tetapi penekanan pada kesempurnaan fisik membuat anak - terutama anak perempuan - menghabiskan waktu mereka untuk mengedit hasil swafotomereka dan berjuang mengatasi masalah harga diri yang rendah.

Cerita-cerita pengantar tidur yang saya baca ketika masih kecil membuat saya merasa bertanggung jawab telah membuang banyak waktu untuk memakai dan menghapus riasan dan tidak secara kritis menilai tokoh laki-laki (pangeran).

Saya merasa yakin hal itu bisa dihindari kalau saja saya tidak terbuai oleh cerita-cerita seperti Cinderella dan Putri Salju, narasi mereka tentang kecantikan tanpa usaha mempengaruhi mimpi-mimpi saya, Ya, saya telah menjadi salah satu perempuan yang mengutuk para putri-putri dalam dongeng sebagai racun.

Hak atas foto DEA / G. SIOEN/Getty Images
Image caption Setelah membaca buku kumpulan dongeng-dongeng karya Hans Christian Andersen, saya tidak dapat menemukan satu pun cerita yang layak saya bacakan pada putri saya secara keseluruhan.

Hal itu tidak mengartikan saya pernah menjadi penggemar cerita-cerita putri, tapi "racun dalam apel" itu lebih tampak seperti produk bioskop daripada literatur.

Saya dididik untuk meyakini bahwa dongeng merupakan kumpulan dari kekuatan psikologis dan semangat imajinatif.

Seperti yang dikatakan oleh penggemar penulis dongeng dari Angela Carter hingg Neil Gaiman, dongeng melengkapi seorang anak dengan bekal untuk selamat dari tantangan-tantangan di masa depan dan mengajari mereka tentang sisi kejiwaan mereka sendiri.

Namun, masalah saya dengan dongeng terus berlanjut. Tentu saja ada banyak buku-buku "anti-putri kerajaan" untuk anak-anak di luar sana, baik yang menceritakan kembali dongeng lama yang ada atau memuat narasi baru yang melibatkan perdebatan terkait metafora-metafora.

Saya akhirnya menyadari betapa alerginya saya terhadap kisah-kisah yang menceritakan putri kerjaan, tetapi jika ada satu klise terkait gender untuk menyaingi sang putri, itu adalah cerita tentang gadis yang 'garang'.

Masalahnya, cerita-cerita alternatif ini kurang mengeksplorasi hal-hal imajinatif dan anehnya seringkali agresif dengan itu. Beragam cerita itu tidak sebagus dongeng tradisional yang sering menceritakan soal elf dan kodok, hutan, batu rubi, dan duri.

Jadi, ketika saya mengetahui bahwa penulis buku anak-anak Sally Gardner telah menulis sebuah novel dewasa berdasarkan dongeng Beauty and the Beast, saya berharap seperti pada ibu peri yang bijak, dia dapat meyakinkan saya bahwa putri saya tidak akan ketinggalan banyak hal jika kami melewatkan dongeng-dongeng yang ada, juga tentunya menghilangkan kecemasan saya.

Ditulis dengan nama pena Wray Delaney, The Beauty of the Wolf menceritakan kisah fantastis yang berlatar belakang di era Elizabeth, Inggris.

Hak atas foto Harper Collins
Image caption Ditulis dengan nama pena Wray Delaney, The Beauty of the Wolf menceritakan kisah fantastis yang berlatar belakang di era Elizabeth, Inggris.

Yang disebut sebagai 'Si Cantik' dalam cerita ini adalah seorang pemuda. Tetapi ketika saya berharap sang penulis dapat berempati dengan mualnya saya terhadap cerita-cerita dongeng, saya salah arah.

"Cara anda memahaminya salah," kata Gardner ketika kami berbicara melalui telepon. "Dongeng-dongeng itu sangat kuat—mengandung semua yang Anda butuhkan," katanya.

"Ini bentuk seni yang sempurna untuk saat ini." Kunci kekuatan mereka adalah bentuknya yang fleksibel. Pada cerita Hansel dan Gretel, misalnya, "anak yang berbahagia melihat rumah tua yang berjamur, anak yang tidak bahagia merasakan roti jahe, anak yang trauma merasakan bagaimana bentuk jari-jari kurus penyihir itu".

Dia melanjutkan: "Dongeng memberi kekuatan pada anak-anak."

Dia menunjuk ke genre realisme dalam buku anak-anak. Jika Anda memberikan salah satu buku itu "kepada seorang anak di atas menara," ia berujar, "yang terjebak dengan seorang ibu pecandu dan orang tua pengedar narkoba, mereka akan berpikir tidak ada jalan keluar. Namun, berilah mereka Rapunzel dan Anda memberi mereka harapan."

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Dongeng memberi kekuatan pada anak-anak."

Tapi bagaimana dengan cerita-cerita putri kerajaan?

Pertama, anak-anak tidak harus mengidentifikasi diri mereka dengan putri-putri itu, katanya.

"Kamu bisa menjadi apa saja—kamu bisa menjadi penyihir."

Kedua, katanya, penting untuk diingat bahwa kisah-kisah ini kuno, dan berbagai cerita itu disampaikan oleh perempuan yang tidak berdaya.

Menjelaskan hal ini kepada seorang anak dapat membantu mereka menghadapi obsesi mereka terkait kecantikan. Saran utamanya terkait pembacaan dongeng untuk anak-anak adalah: tunggulah.

Tunggu sampai ia berusia 10 atau bahkan 12 tahun, dan kemudian pastikan mereka menerima dongeng dari edisi yang layak—misalnya dongeng Grimm karya Jack Zipes.

Kecantikan sebagai metafora?

Ahli mitologi dan budaya, Marina Warner, mengemukakan pendapatnya dalam studinya tahun 1994, From the Beast to the Blonde, bahwa sebagian besar dongeng pada awalnya tidak ditujukan untuk anak-anak.

Seperti yang dia katakan kepada saya dalam sebuah wawancara baru-baru ini, dongeng pada awalnya adalah literatur untuk orang miskin dan tidak terpelajar, sama sekali bukan untuk anak-anak.

The Brothers Grimm (dua pengumpul dongeng dari Jerman), misalnya, adalah ahli cerita rakyat dan cendekiawan; orang Inggris yang mengubah cerita yang itu menjadi dongeng anak-anak ketika terjemahan bahasa Inggris buku itu diterbitkan pada abad ke-19.

Kisah itu menceritakan tentang orang-orang biasa, dan mereka biasanya menang melawan rintangan mengerikan yang disebabkan oleh orang-orang yang lebih kuat dari mereka. Ada elemen keberanian yang penting—gagasan, harapan dan kecerdikan.

Maka itu, dia menunjukkan, banyak pahlawan perempuan dalam dongeng, seperti Gretel karya Grimm hingga Gerda karya Hans Christian Andersen. Selain itu, Anda akan menemukan cerita-cerita dongeng Irlandia dan Wales yang sangat kaya dengan pahlawan perempuan yang luar biasa.

Hak atas foto DEA / ICAS94/Getty Images
Image caption Ada elemen keberanian yang penting - gagasan, harapan dan kecerdikan dalam dongeng.

"Cerita putri kerajaan banyak berasal dari penulis Prancis abad ke-17 dan awal abad ke-18. Tetapi di sana juga, ada banyak perempuan muda yang melepaskan diri dari hubungan yang tidak mereka inginkan."

Adapun terkait obsesi universal pada kecantikan perempuan, "Anda harus menganggapnya sebagai metafora", kata Warner.

Lebih penting lagi, sangat penting untuk mengingat bahwa bersama dengan kosa kata imajinatif yang kuat dan penekanan pada harapan, unsur-unsur supernatural dari dongeng mengajarkan anak-anak untuk memahami bahwa Anda dapat dihibur oleh sesuatu tanpa harus 'mematuhinya'.

"Bahkan seorang anak pun dapat mengerti bahwa cerita itu tergantung pada peri yang memiliki kekuatan, tetapi peri itu tidak benar-benar memiliki kekuatan," kata Warner.

Dia menggarisbawahi, pelajaran penting lain tentang menjadi orang tua: bahwa anak-anak umumnya tahu apa yang mereka lakukan dan selalu jauh lebih cerdas dan lebih intuitif daripada kita orang-orang dewasa.

Sementara itu, saudara perempuan saya dibesarkan dengan dongeng-dongeng yang sama persis dengan saya, tapi dia tidak pernah sekali pun terganggu oleh kecenderungan untuk mencontoh putri-putri kerajaan.

Wray Delaney mengatakan bahwa selama karirnya selama seperempat abad sebagai penulis dongeng anak, dia mengamati satu perubahan di antara para pembacanya.

Dulu ketika dia bertanya apa cerita dongeng favorit mereka, masing-masing anak akan mengangkat tangan dan mengutarakan jawaban mereka. Sekarang, katanya, hampir tidak ada tangan yang merespons. "Kita kehilangan pengetahuan tentang dongeng," ia berujar dengan sedih.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Cerita dongeng, seperti kata Warner, adalah sebuah literatur "yang terus berubah": mereka dapat mengakomodasi pembaruan zaman tanpa batas.

Meskipun menyalahkan dongeng sebagai penghambat revolusi seksual sangat menggoda, itu hanyalah salah satu dari banyak hal yang membuat kemajuan para perempuan cenderung stagnan. Cerita dongeng, seperti kata Warner, adalah sebuah literatur "yang terus berubah": mereka dapat mengakomodasi pembaruan zaman tanpa batas.

Sementara itu, saudara perempuan saya mengingatkan saya bahwa dongeng favorit saya saat kecil adalah Goldilocks dan Tiga Beruang. Dengan rambut kuning dan mata biru, Goldilocks si bocah badung itu, memainkan peran pahlawan bukan putri kerajaan.

Jadi, meski saya tidak bisa menyalahkan dongeng-dongeng yang ada sebagai penyebab saya tidak percaya diri dengan penampilan saya, cerita-cerita pengantar tidur itu mungkin sedikit membantu membimbing saya berkecimpung dalam karier sebagai kritikus.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel iniIs it time to rewrite fairy tales?diBBC Culture.

Berita terkait