Ulasan film: Pokémon Detective Pikachu

Pokémon Detective Pikachu Hak atas foto Warner Bros
Image caption Pokémon Detective Pikachu

Bermula sebagai film yang mengimitasi sinema noir, kemudian berubah menjadi film pahlawan super berbujet raksasa, Pokémon Detective Pikachu "menolak untuk (bercerita secara) masuk akal sama sekali", tulis kritikus film BBC Nicholas Barber.

Pokémon mungkin salah satu waralaba multimedia terbesar di dunia, mulai dari video game, kartu permainan, komik, hingga kartunnya dinikmati sejak tahun 1996.

Tetapi jika Anda belum pernah mengonsumsinya, pencapaian seluruh bisnis tersebut cukup di luar dugaan.

Lagi pula, Anda tidak harus membaca komik Batman terlebih dahulu, kan, untuk memahami konsep pahlawan bertopeng menghabisi perampok bank?

Sementara itu, Pokémon… yaa, berlatar di sebuah dunia alternatif di mana orang-orang keluar rumah sambil membawa monster-monster bermata besar dengan kekuatan super yang dikerangkeng di dalam bola-bola logam - seperti jin di era teknologi tinggi - dan sesekali mengeluarkan mereka dari bolanya untuk dipertarungkan dengan satu sama lain.

Tidak jelas ada apa yang didapat para monster dari aksi perbudakan yang penuh kekerasan itu, dan film aksi-langsung alias live-action Pokémon pertama, Pokémon Detective Pikachu, juga tidak memperjelas hal itu.

Yang ada, penonton yang sebelumnya tidak familiar dengan waralaba Pokémon akan merasa lebih bingung setelah keluar bioskop, ketimbang ketika mereka masuk.

Pemuda yang menjadi tokoh utama film ini bernama Tim (Justice Smith), seorang agen asuransi pemarah dari kota kecil yang mendengar kabar bahwa ayahnya yang sudah lama tak ia temui, yang mana adalah seorang detektif kepolisian, tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.

Rasa duka yang dirasakan Tim membuatnya harus "menyelesaikan hal itu" dengan cara yang tidak jelas, yaitu menumpang kereta ke Kota Ryme, sebuah kota raksasa nan futuristik (sebenarnya sih distrik keuangan London yang dihiasi teknologi digital) di mana manusia dan teman Pokémon mereka hidup bersama dalam kedamaian dan harmoni.

Dan memang, beberapa manusia memiliki hubungan simbiosis dengan Pokémon tertentu, mirip orang-orang dan daemon mereka dalam novel 'His Dark Materials' karangan Philip Pullman.

Mantan bos sang Ayah (Ken Watanabe), misalnya, berbagi ruang kantornya dengan sesosok Pokémon berparas anjing bulldog pemarah, yang mana, seperti Pokémon-pokémon lainnya, adalah mahluk kreasi CGI yang 'dimasukkan' ke dalam latar live-action.

Pokémon lainnya kurang lebih sama cerdasnya dengan manusia, yang membuat saya bertanya-tanya akan hak asasi mereka.

Namun, pertanyaan-pertanyaan ini, seperti peryanyaan lain tentang dunia Pokémon yang mungkin muncul di benak Anda, tak terjawab sepanjang film.

Sementara itu, Tim adalah seorang fobia Pokémon hingga akhirnya ia bertemu Pikachu, monster berbulu kuning kecanduan kopi, yang lebih mirip boneka menggemaskan, dengan ekor berbentuk halilintar.

(Salah satu tokoh dalam film itu mengomentari topi detektif yang dikenakan Pikachu sebagai hal teraneh tentang mahluk tersebut - penilaian yang patut dipertanyakan).

Sejauh yang diketahui orang-orang, Pikachu hanya bisa mengeluarkan bunyi "Pika", tetapi di kuping Tim, Pikachu bisa berbicara dengan nada sinis nan jenaka khas Ryan Reynolds, sang pengisi suara.

Pikcahu mengaku hilang ingatan, namun ia tahu bahwa ia pernah menjadi 'rekan' ayah Tim - dan bahwa ayah Tim masih hidup.

Meski enggan, Tim setuju untuk menyelidiki hal itu dengan bantuan seorang wartawan muda (Kathryn Newton) yang juga menjadi sosok yang nantinya terlibat asmara dengan Tim, di mana Pokémonnya adalah, hmmm, seekor bebek raksasa yang akan mengeluarkan gelombang kejut mistis jika merasa sakit kepala.

Bersama mereka berusaha mengungkap sebuah konspirasi, yang akan mengingatkanmu pada film Who Framed Roger Rabbit, atau lebih dari itu, Zootopia buatan Disney.

Jika Anda berharap mendapatkan kesenangan seperti yang ditawarkan film-film petualangan ramah keluarga yang diproduksi dengan baik - karakter yang memikat, alur cerita tak terduga, lelucon yang pas porsinya - kisah monster berbulu yang aneh ini bisa jadi membuat Anda mengeluarkan sendiri gelombang kejut layaknya Pokémon bebek tadi.

Para tokoh manusianya memperlakukan naskah tak masuk akal ini seakan-akan ini naskah yang sangat serius, dan menyisakan Pikachu - yang disuarakan Ryan Reynolds - yang melontarkan sejumlah lelucon dengan mengatakan sebanyak mungkin kata-kata kurang sopan.

Jika Anda mengharapkan sebuah kisah dengan konsistensi logika yang terjaga, Anda juga akan putus asa.

Pokémon Detective Pikachu dibuka dengan mengimitasi nuansa film noir dengan tirai-tirai khas Venesia, lampu-lampu neon, serta gang-gang kecil yang diguyur hujan seperti yang bisa Anda tebak.

Namun sutradara sekaligus penulisnya, Rob Letterman (Shark Tale), dengan cepat melupakan nuansa film detektif klasik, dan membiarkan filmnya bermutasi menjadi sebuah film pahlawan super nyentrik berbujet raksasa.

Dari segi kerangka cerita, kisahnya cukup tipikal, mudah ditebak. Akan tetapi, dari segi rincian alurnya, kisah ini sangat aneh sampai-sampai mungkin membuat Anda bertanya-tanya apakah Anda mengikuti setengah ceritanya lalu tertidur dan memimpikan sisa kisahnya.

Di akhir film, saya tidak ingat apakah Pikachu telah melakukan apa pun yang bisa disebut sebagai pekerjaan seorang detektif.

Yang bisa saya ingat adalah Bill Nighy sebagai seorang konglomerat bijak yang duduk di kursi roda robotik, Rita Ora sebagai ilmuwan berkacamata, sejumlah diorama hologram, beberapa ekor naga, gumpalan ungu yang bisa berubah bentuk, dan hutan mistis yang bisa melipat diri dengan spektakuler layaknya kota Paris yang melipat-lipat sendiri dalam film Inception karya Christopher Nolan.

Mungkin semua ini tampak normal-normal saja bagi para penggila Pokémon. Tapi bagi kita, sisanya, keabsurdan film ini adalah penyelamat satu-satunya ketimbang menjadi mesin pencetak uang belaka.

Pokémon Detective Pikachu punya banyak cerita - dan, tentu saja, banyak sekali monster CGI yang imut - yang bisa membuat penonton anak-anak senang dengan kebodohan khas kartun yang ditampilkan.

Siapa pun yang diseret ke bioskop oleh saudara mereka yang lebih muda mungkin akan merasa bosan dengan karakter-karakter film yang hambar dan alur misterius yang mudah ditebak, tetapi, jika Anda pasrah dengan cerita yang ada, Anda bisa menikmati keseruan atas apa yang selanjutnya akan terjadi tanpa mengetahui alasan di baliknya.

Pada akhirnya, ada perasaan bebas yang bisa dirasakan saat menonton kisahnya yang mengada-ada dan sungguh gila. Dan tidak menutup kemungkinan juga ada bentuk kenekatan dan anarkis dari film yang dengan keras kepalanya menolak untuk menjadi tontonan yang masuk akal sama sekali ini.

★★☆☆☆

Anda bisa membaca artikel bahasa Inggris Film Review: Pokémon Detective Pikachu di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait