Met Gala 2019: Apa arti tema 'camp'?

Lady Gaga Hak atas foto Getty Images
Image caption Lady Gaga, salah satu tuan rumah penyelenggara Met Gala tahun ini, bertransformasi ke dalam empat tampilan berbeda saat hadir pada gelaran tahunan yang kali ini bertema 'camp'.

Ketika para selebritas tiba di Met Gala dalam semangat ekstravaganza, dan pihak museum merayakan berbagai hal bernuansa 'camp' di dunia fesyen, Joobin Bekhard mencoba mencari definisi dari istilah 'camp' itu sendiri.

Ketika diminta mendeskripsikan apa sebenarnya makna istilah 'camp', perancang busana Dame Zandra Rhodes kebingungan. "Saya rasa ini benar-benar topik yang sangat sulit," ujarnya sambil tertawa. "Ini 'daerah ranjau'."

Rhodes tidak sendirian. Semenjak kata 'camp' diserap ke dalam bahasa Inggris pada penghujung abad ke-19, istilah itu diinterpretasikan secara beragam, dan hingga kini belum ditemukan definisi yang bisa disepakati bersama.

Esai yang ditulis Susan Sontag pada tahun 1964 yang berjudul Notes on Camp (Catatan tentang Camp) menjadi inspirasi tema pesta glamor tahunan yang digelar Met alias Metropolitan Museum of Art pada tahun 2019, beserta pameran se-tema yang ditampilkan di sana.

Dalam tulisannya, mendiang penulis dan sineas film itu menulis: "Jika konsep itu diterjemahkan ke dalam kata-kata… seseorang (intinya) harus berjiwa eksperimental dan lincah." Tetapi, dari esai Sontag, tampaknya bahkan ia sendiri kadang tersesat dalam kesederhanaan istilah yang ambigu tersebut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lupita Nyong'o merangkul konsep 'camp' dalam balutan kostum flamboyannya.

Definisi bahasa Inggris pertama untuk istilah itu, yang muncul dalam Kamus bahasa Inggris Oxford edisi tahun 1909, selaras dengan gagasan populer dan kontemporer akan istilah 'camp', yaitu: "mewah, berlebihan, terpengaruh, teatrikal; keperempuan-perempuanan atau homoseksual; berkaitan dan merupakan karakter dari homoseksual…"

Jika bukan sinonim stereotip homoseksualitas laki-laki sendiri yang dimaksud, maka 'camp'- seperti salah satu definisi dalam Kamus bahasa Inggris Oxford - setidaknya berhubungan erat dengan hal tersebut.

"Bagi saya 'camp' biasanya berarti, kau tahu, seorang gay dengan tangan melambai," ujar Rhodes. "Perempuan mengatakan hal itu tentang Oscar Wilde [di mana Sontag mendedikasikan esainya kepada Wilde] dulu."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Billy Porter muncul dalam tampilan ekstravaganza di Met Gala, merangkul semangat 'camp'.

Sama seperti sebelumnya, Fabio Cleto, penulis buku pendamping bagi pameran Met Gala 2019, mengatakan bahwa, "pengejawantahan 'camp' secara utuh muncul pada akhir abad ke-19, dan hadir dalam imej seorang Oscar Wilde sebagai seorang bintang yang nyentrik.

"'Camp' adalah tubuh Wilde yang distigmatisasi," kata Cleto kepada BBC Designed, "yang mana persidangannya dalam kasus perbuatan tidak senonoh pada tahun 1895 mengkarakterisasi sosok 'homoseksual', yang secara tata bahasa memaknai 'camp' sebagai sebuah bentuk pemelintiran estetika yang sebagian besarnya (jika bukan secara langsung) bermakna penyimpangan seksual."

Meski demikian, 'camp' bagi Sontag, lebih dari sekadar perangai homoseksual. "Ciri khas 'camp' adalah semangat ekstravaganza," tulis Sontag dalam esainya yang berpengaruh itu, yang menjelaskan 58 aspek konsep 'camp'.

Di antara bermacam hal, Sontag menggambarkan 'camp' dengan karakter ceria dan "antiserius", berlebihan, serta dibuat-buat. "Camp," ia analogikan sebagai "seorang perempuan yang berjalan-jalan mengenakan gaun yang terbuat dari tiga juta helai bulu."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dibuat-buat adalah sifat utama 'camp', seperti yang ditampilkan di Met Gala oleh aktor Ezra Miller dengan mata-mata artifisial.

Akan tetapi, di saat yang sama, Sontag membedakan antara bentuk 'camp' yang naif dengan 'camp' yang penuh kesadaran.

Tidak seperti, misalnya, David Bowie yang menyanyikan lagu ceria Fill Your Heart dengan penampilan menyerupai waria, Sontag menulis bahwa "perajin Art Nouveau yang membuat lampu dengan ular melingkarinya, itu tidak main-main… dengan sungguh-sungguh, ia berkata: Tada! Khas oriental!"

Serupa dengan itu, banyak yang mengatakan bahwa, meskipun novel tahun 1966 karya Jacqueline Susann berjudul Valley of the Dolls ditulis untuk menjadi sebuah 'camp', film yang mengadaptasi novel itu tidak berjiwa 'camp' sama sekali, meski akhirnya tetap dianggap sebagai 'camp'.

Sontag lebih menyukai 'camp' yang naif -'camp' murni - ketimbang 'camp' yang penuh kesadaram: "'Camp' yang sadar diri bahwa ia 'camp' ('camping') biasanya kurang memuaskan."

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art/ Johnny Dufort
Image caption Salah satu di antara sejumlah karya yang dipamerkan di Pameran Met adalah setelan pakaian rancangan Jeremy Scott untuk lini Moschino.

Sejak itu, lingkup konsep 'camp' telah berkembang. "Kini,'camp' ada di mana-mana," ujar Cleto kepada BBC Designed. "Ia benar-benar ada di mana-mana sampai mungkin orang tak lagi menganggapnya istimewa." 'Camp' telah menjadi inklusif bagi segala jenis kelamin dan orientasi seksual, misalnya 'camp lesbian', serta bagi jenis aksi atau penampilan, ujar Cleto, "sebagai strategi perlawanan bagi banyak identitas yang dimarginalisasi."

'Camp', seperti dalam kasus Art Nouveau yang dicontohkan Sontag, terkadang juga melepaskan diri dari konotasi seksual apa pun. "Istilah itu mengubah fokusnya," ungkap Rhodes, yang juga percaya bahwa pameran Met, di mana salah satu rancangannya turut ditampilkan, "[tidak] bertujuan untuk dihubungkan dengan homoseksualitas sama sekali".

Lantas apa makna 'camp' yang jadi tema pameran Notes on Fashion?

Menurut Rhodes, "artinya sesuatu yang benar-benar di luar dugaan dari segi konsep, yang tak mungkin tidak mengundang perhatian dan [memiliki] selera humor; tetapi tidak mainstream, serta penuh keceriaan dan tidak biasa…"

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gaun berbuntut panjang yang dikenakan Cardi B untuk Met Gala mewakili keflamboyanan 'camp'.

Dan tentunya fokus utama pameran ini adalah jenis 'camp' yang penuh kesadaran. Seperti yang Thierry Mugler - karyanya juga dipamerkan di sana - katakan kepada BBC Designed, 'camp' adalah "kemerdekaan dan kesehatan mental yang menyenangkan".

Atau, dalam kata-kata Cleto: "mungkin secara kasar bisa digambarkan sebagai suatu bentuk penampilan sekaligus bentuk persepsi dalam merayakan aksi teatrikal dan aksi berlebihan, juga mengimprovisasi dunia nyata sebagai sebuah panggung untuk pameran dan penemuan kembali jati diri yang luar biasa ironis."

Berposelah!

Menjadikan Perancis abad ke-17 sebagai titik awal (sejak lama kata 'camp' diduga bermula dari kata se camper, yang berarti 'berpose dengan berani'), gelaran Met 'Camp: Notes on Fashion' menjelajahi lintasan 'camp', mulai dari budaya pinggiran hingga budaya pop dalam bentuk 200 objek pameran - pakaian, patung, lukisan, dan sketsa tangan.

Meski dipamerkan di Pusat Kostum Anna Wintour, dan dikaitkan dengan Met Gala yang glamor, pameran ini sendiri pada dasarnya menekankan diri pada dunia fesyen.

Berdampingan dengan kostum bertabur hiasan yang berkilauan dengan epolet dari cangkang kerang laut karya Rhodes - "anda bisa menganggapnya luar biasa," katanya, "anda bisa menganggapnya punya selera humor" - dipamerkan pula kostum-kostum rancangan Mugler, Christian Lacroix, Giorgio Armani, Miuccia Prada, dan Anna Sui.

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art/ Johnny Dufort
Image caption Gaun berbentuk angsa karya Marjan Pejoski pernah dikenakan penyanyi Björk di acara karpet merah Oscars.

Banyak pakaian yang biasanya bisa kita lihat di pesta-pesta mewah, tanpa konotasi seksual tertentu.

Dalam sebuah rancangan dari koleksi musim gugur/musim dingin Marjan Pejoski tahun 2000 yang kemudian terkenal setelah dikenakan Björk di atas karpet merah Oscars, misalnya, seekor 'angsa' disulap menjadi sebuah gaun, di mana kepala 'angsa' berleher panjang tersebut dilingkarkan dan terkulai di bagian dada manekin.

Setelan jas pink rancangan Bertrand Guyon untuk koleksi musim gugur/musim dingin 2017 Schiaparelli bagi pria dihiasi gambar burung flaminggo pada blazernya lengkap dengan hiasan kepala berbentuk dua ekor burung.

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art/ Johnny Dufort
Image caption Setelan jas berwarna merah muda karya Bertand Guyon untuk koleksi musim gugur/musim dingin 2017 Schiaparelli dihiasi gambar burung flaminggo.

Meski demikian, di sini 'camp' masih mempertahankan afiliasi awal dengan homoseksualitas laki-laki yang telah lama bertahan.

Bodysuit pria dari koleksi musim semi/musim panas 2009 Walter van Beirendonck, lengkap dengan detail otot dan kerangka penis yang cukup besar, adalah contoh persisnya.

Demikian juga dengan rompi berumbai, celana chaps dan celana dalam kulit dari koleksi musim semi/musim panas 2012 Jeremy Scott - semuanya dalam warna pink dan hijau menyala dengan ornamen detail berwarna hitam - yang mengingatkan kita pada koboi Village People dan karya homoerotis seniman Finlandia, Tom dari Finlandia.

Tampaknya definisi yang terdapat dalam Kamus bahasa Inggris Oxford lebih dari satu abad lalu, dengan asosiasi homoseksualnya, masih cukup relevan hingga kini. Sontag, yang menekankan pada aspek teatrikal dan flamboyan dalam konsep 'camp' di atas aspek lainnya, menurut Cleto telah "dituduh menihilkan unsur gay dari konsep 'camp', mengkhianati rahasia keberadaan unsur gay dalam konsep 'camp' dengan membocorkannya kepada kalangan terpelajar."

Namun, bahkan, Sontag sendiri mengakui bahwa "homoseksualitas pria, pada umumnya, merupakan garda depan - dan audiens yang paling fasih - dari 'camp'."

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art/ Johnny Dufort
Image caption Rompi berwarna pink dan hijau menyala, celana chaps dan celana dalam karya Jeremy Scott menjadi salah satu objek pamera

"Parodi Queer" adalah bagaimana akademisi Moe Meyer, yang juga telah menulis cukup komprehensif tentang topik 'camp', menjelaskan konsep 'camp'.

Meski Rhodes menganggap bahwa frasa itu memunculkan imej berupa "seseorang yang memerankan versi ekstrem dari sosok perempuan dengan memegang gagang rokok", penambahan istilah parodi tersebut tidak bermaksud merendahkan atau menghina, namun dalam tujuan yang menyenangkan.

Alan Edwards, mantan publisis Inggris bagi David Bowie - yang pada awal masa karirnya kerap dihubungkan dengan 'camp'- mengatakan bahwa, sebelum mendengar tema yang diangkat dalam Met Gala, istilah itu mengingatkannya pada "film-film Inggris tahun 1950-an, terutama semua film Carry On dan episode ketika para pelawak TV kembali ke "ruang musik" tradisional, di mana terdapat banyak pria berpakaian perempuan."

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art/ Johnny Dufort
Image caption Pakaian rancangan Alessandro Michele untuk Gucci - konsep dibuat-buat dan berlebihan adalah jantung hati konsep 'camp'

Lantas, bagaimana pada akhirnya 'camp' didefinisikan? Meski Rhodes mencoba menjabarkannya ke dalam kata-kata dan sebenarnya memahami apa yang disampaikan dalam pameran ini, definisi 'camp' tetap membuatnya kebingungan.

"Saya bingung dengan artinya!" serunya, setelah jeda panjang. "Apakah artinya fesyen yang eksotis?" Sayangnya, seperti yang dijelaskan Cleto, tidak ada jawaban langsung: "Menjadi sulit dipahami, tidak stabil, dan bersifat elitis, 'camp' tidak bisa digambarkan dalam sebuah kalimat atau suatu definisi."

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art/ Johnny Dufort
Image caption Gaun rancangan Rossella Jardini dari koleksi musim semi/musim panas 1998 Moschino

Meskipun banyak perancang yang terlibat dalam pameran ini mungkin punya pemikiran yang sama dengan Rhodes bahwa 'camp' sebagai suatu tema pameran merupakan sebuah "benang tipis", keabsurdan 'camp' dari perspektif kuratorial, sebenarnya dapat menjadi suatu kekuatan. Karena jika beberapa pihak setuju dengan apa yang dimaksud dengan 'camp', maka beberapa juga bisa sepakat tentang apa yang bukan dimaksud dengan 'camp'.

Dalam hal ini, gaun hitam rancangan Rossella Jardini untuk koleksi musim semi/musim panas 1998 Moschino, dihiasi dengan tanda tanya besar di bagian depan, mengatakan segalanya.

Pameran Camp: Notes on Fashion digelar di Metropolitan Museum, New York, dari 8 Mei hingga 8 September 2019.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di What does it mean to be camp? pada laman BBC Culture.

Berita terkait