Ketika film salah menggambarkan psikopat sebagai sosok seksi

Ted Bundy yang dibintangi Zac Efron Hak atas foto Netflix/Brian Douglas 2017

Tak sepatutnya Anda menilai film dari trailernya.

Tapi tak banyak cuplikan film yang memicu kemarahan di awal peluncurannya seperti pada film Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile, biopik terbaru tentang pembunuh berseri Ted Bundy yang dibintangi Zac Efron.

Saat trailer film ini pertama diluncurkan pada Januari, ada pengkutukan akan cara film itu seolah membuat Bundy menjadi sosok glamor, lengkap dengan musik rock 'n' roll dan judul yang menggambarkan film tentang salah satu pembunuh berantai paling kejam di AS seperti semacam film Tarantino terbaru.

Sutradara Joe Berlinger, di bawah tekanan, berupaya untuk melepaskan diri dari "kesan sementara" yang dimunculkan trailer film tersebut. "Saya ingin meyakinkan bahwa film ini tidak mengglorifikasi Bundy atau tindakan kejamnya," katanya lewat pernyataan ke BuzzFeedNews saat menjawab kritik.

Namun benarkah trailer film itu menipu? Film ini sekarang sudah diluncurkan di seluruh dunia (di Netflix untuk AS dan wilayah lain, dan Sky Cinema di Inggris) sehingga penonton bisa menilai sendiri.

Tapi bahkan saat Anda menontonnya dan tahu akan kejahatan Bundy, film ini membuat kita gampang melupakan bahwa Bundy adalah pria yang memerkosa dan membunuh sedikitnya 30 perempuan di AS.

Film ini dikisahkan dari sudut pandang pacarnya yang tak tahu apa-apa, Liz Kloepfer (diperankan oleh Lily Collins), yang setelah tahu bahwa Bundy diawasi polisi, kemudian membela dan menyatakan Bundy tak bersalah — perspektif parsial yang kemudian membuat Bundy lebih mudah diterima dan menjadi terkesan tak bersalah dalam sebagian besar durasi film.

Penggambaran Bundy sebagai sosok netral pun ditambah lewat gaya pengemasannya, dari lagu latar tahun 1960an dan 1970an yang seduktif sampai cara film ini merekam Efron dalam gaya gerak lambat yang memesona — contohnya, dalam satu adegan, saat Bundy kabur dari sebuah gedung pengadilan di Aspen dalam pemeriksaan pra-peradilan.

Tapi yang terpenting lagi adalah pemilihan pemeran utamanya. Pembahasan akan Bundy sering menyoroti soal sosoknya yang atraktif secara fisik.

Namun menempatkan Efron, salah satu aktor pria yang menjadi simbol seks, dalam peran tersebut? Ini terasa seperti pelebih-lebihan yang diperhitungkan dan dipertimbangkan.

Hak atas foto Netflix/ Brian Douglas 2017
Image caption Film baru tentang pembunuh berantai Ted Bundy (Zac Efron) dikisahkan dari sudut pandang pacarnya, Liz Kloepfer (Lily Collins).

Namun Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile bukan satu-satunya film yang bersalah dalam menjadikan tokoh utamanya sebagai objek fetish.

Budaya pop pada 2019 penuh dengan kisah pembunuh pria, pelaku kekerasan, dan psikopat — dan seringnya, para simbol maskulinitas toksik ini diperankan oleh para bintang Hollywood idola.

Dua dari serial Netflix yang paling dibicarakan dalam beberapa waktu terakhir adalah You, drama tentang penguntit yang tampak seperti 'pria baik-baik' yang diperankan oleh mantan aktor idola Gossip Girl, Penn Badgley.

Film lainnya adalah Dirty John, yang merupakan adaptasi dari podcast kriminal tentang penipu berantai dan pelaku kekerasan John Meehan. Serial ini dibintangi oleh aktor Australia Eric Bana, yang membuat para penonton terpesona saat membintangi The Time Traveller's Wife dan Troy.

Sementara itu, bulan depan, serial penuh bintang dan banyak diantisipasi, Big Little Lies, akan kembali di HBO — musim pertama serial ini banyak membahas tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh aktor Skandinavia, Alexander Skarsgård.

Dan meski Bundy telah menjadi subjek untuk film panjang dan serial dokumenter empat episode di Netflix dalam beberapa bulan terakhir, ada pembunuh berantai lain yang pesonanya juga sedang disoroti.

Charles Manson, yang mengumpulkan sekelompok perempuan muda pemuja, diperankan oleh Matt Smith dalam biopik baru, Charlie Says, dan pembunuhan Manson juga akan menjadi plot utama dalam film terbaru Quentin Tarantino, Once Upon a Time in Hollywood.

Kisah untuk era #Metoo?

Haruskah kita merasa khawatir dengan kekaguman yang tak berakhir akan sosok yang digambarkan sebagai 'psikopat seksi'?

Di sisi lain, ada alasan yang kuat untuk membahas tentang maskulinitas yang meracuni — dan bahwa para pelakunya tidak digambarkan sebagai sosok berbahaya. Di sisi lain, karya-karya ini, selain membahas tentang laki-laki pelaku kekerasan, juga menggambarkan tuntutan budaya yang semakin luas, setelah munculnya #MeToo, untuk menempatkan perspektif korban perempuan.

"Saya pikir ada semakin banyak keinginan untuk memahami pengalaman perempuan dan mundur dari 'menyalahkan korban'," kata Jean Murley, seorang profesor Bahasa Inggris di Queensborough Community College di New York dan penulis The Rise of True Crime: 20th Century Murder and American Popular Culture.

"Dulu, kita bilang, 'bagaimana bisa dia berkencan dengan orang ini? Apa dia tidak tahu?'… [ada] pergerakan menjauh [dari situ] dan lebih ke melihat bagaimana setiap orang bisa tertipu oleh pria seperti ini."

Hak atas foto HBO
Image caption Musim pertama drama HBO Big Little Lies bergantung pada plot tentang pelaku kekerasan rumah tangga yang diperankan aktor Skandinavia, Alexander Skarsgård.

Namun di sisi lain, kita bisa bilang bahwa banyak film dan pertunjukan malah justru terpesona dengan pria-pria ini — dan mengeksploitasi kharisma mereka untuk hiburan, dan tidak melakukan sesuatu yang lebih membongkar karakter mereka.

Contohnya, serial You, yang mencurahkan hampir semua perhatiannya pada si karakter anti-hero penguntit dan bahkan melengkapinya dengan alih suara yang menggoda.

Sebagai perbandingan, korbannya, Beck, adalah karakter yang tak ditulis dengan baik; baru setelah beberapa episode dia diberi monolognya sendiri secara singkat, dan ini menyoroti betapa serial ini tak terlalu memedulikan sudut pandangnya.

Dalam Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile, pengisahan Bundy dari sudut pandang pacarnya justru menyoroti betapa Kloepfer adalah karakter yang tertutup dan betapa naskah film lebih tertarik dengan kharisma Bundy.

Menyederhanakan kekerasan

Selain soal karakterisasi, ada isu yang lebih besar akan bagaimana narasi akan kekerasan laki-laki dan psikopat ini dikemas.

Dirty John dan Big Little Lies lebih sebagai 'kisah akan gaya hidup' yang memamerkan orang-orang cantik dalam rumah indah mereka — dan kualitas itu tak bisa tak meringankan kisah mereka yang gelap.

"Jika Anda mau menyoroti kisah itu tanpa membuatnya jadi kisah gemerlap, Anda tak akan dapat dana yang dibutuhkan," kata Bridget Lawless, penulis buku, penulis naskah dan kritikus akan kekerasan berbasis gender di fiksi yang tahun lalu mengadakan Staunch Book Prize, penghargaan untuk buku yang tak menggambarkan kekerasan pada perempuan, atau eksploitasi seksual, pemerkosaan atau pembunuhan.

"Anda tak bisa tak menganggap ini sesuatu yang sinis, bahwa ini dianggap sekadar bisnis," tambahnya.

Cara psikopat pria serta para pelaku kekerasan terus dianggap glamor dan diobjektifikasi oleh budaya pop adalah cara penonton melihat film dan serial televisi ini. Dari foto pertama Efron sebagai karakter Bundy di Extremely Wicked… internet banyak membahas akan film 'Ted Bundy yang seksi'.

Ironisnya, film ini menggambarkan Bundy sebagai sosok tampan yang melawan hukum dalam sidangnya, yang ditayangkan secara nasional di televisi AS, dan Bundy mendapat banyak penggemar perempuan di pengadilan — dan dia pun kembali mendapat perhatian yang sama lagi.

"Ini seperti kritik kejam yang terus terjadi berulang dan tidak mendukung pemahaman yang lebih baik akan faktor penyebab kejahatan atau siapa orang-orang ini," kata kriminolog senior Profesor David Wilson.

Selain itu, beberapa tanggapan yang bernada mengidolakan Bundy dalam serial dokumenter Netflix pun membuat layanan streaming tersebut menggunakan akun Twitternya pada Januari lalu untuk mengingatkan para pelanggan bahwa, "ada RIBUAN pria tampan di layanan ini — dan hampir semuanya bukanlah pembunuh berantai."

Pada bulan yang sama, serangkaian cuitan Badgley yang main di serial You menjadi viral karena mengkritik para penggemar yang mengidolakannya.

Hak atas foto Netflix
Image caption Drama You menjadi besar di Netflix tapi para penggemar menyukai karakter anti-hero penguntit, Joe (Penn Badgley).

Sulit untuk melihat intervensi seperti itu sebagai seuatu yang tulus. (Badgley kemudian mengakui bahwa cuitannya itu "setengah tak tepat karena intinya [Joe] memang harus mengundang reaksi yang beragam.")

Namun dalam beberapa hal, Netflix adalah "korban kesuksesannya sendiri," kata Lawless. "Apa yang mereka harapkan terjadi? [Dengan] pria tampan ini di You, sebagai penonton Anda digoda seperti halnya karakter dalam film ini. Lalu mereka bilang 'ah sial' untuk menguranginya, tapi sebenarnya mereka sukses."

Warisan Lecter

Menurut Wilson, romantisasi akan pria pelaku pembunuh berantai bersumber pada satu karakter khusus: Hannibal Lecter yang diciptakan oleh Thomas Harris.

Penggambaran Lecter sebagai sosok peminum Chianti dan penyuka opera itu menjadi ikonik saat diperankan oleh Anthony Hopkins dan memunculkan gambaran seorang pembunuh sebagai sosok idola.

Namun, seperti ditegaskan oleh Wilson, baik pembaca dan penonton akan keliru juga mengira bahwa Lecter adalah perwakilan representatif akan sosok pembunuh berantai, karena cara buku-buku itu dijual, berdasarkan penelitian yang dilakukan Harris, termasuk kunjungan ke unit sains perilaku FBI.

Sepanjang kariernya, Wilson membongkar mitos yang disebarkan oleh orang-orang seperti Harris, lewat buku-bukunya, termasuk My Life with Murderers: Behind Bars with the World's Most Violent Men yang terbit tahun ini.

Menurut Wilson, ada persepsi yang salah bahwa "[Anda] berhadapan dengan predator super yang sangat cerdas dan akan mengutip Nietzsche atau makan makanan enak atau arsitektur Florence... sebenarnya pembunuh berantai itu biasa saja dan banal, dan tidak akan membahas kejahatan mereka sama sekali," katanya.

Saat menghadapi kisah kejahatan kriminal, menurut Wilson, jelas bahwa ada hierarki pembunuh yang diminati oleh industri hiburan.

Bundy adalah sumber kekaguman yang berulang - ada beberapa film dan buku yang jelas-jelas membahasnya, dan ada banyak lagi yang terinspirasi oleh dia dan tindakannya, termasuk seri Hannibal Lecter karya Harris dan American Psycho karya Bret Easton Ellis.

Jika dibandingkan, tak banyak karya yang berfokus pada Dennis Nilsen - pegawai negeri sipil Skotlandia yang membunuh sedikitnya 15 pemuda London pada awal 1970an dan 1980an, yang ditemui oleh Wilson pada awal kariernya.

Hak atas foto Phil Bray/MGM Pictures/Universal Pictures/Dino DeL
Image caption Romantisasi akan sosok pembunuh berantai dalam film bisa dilacak sampai karakter Hannibal Lecter yang diciptakan oleh Thomas Harris dan diperankan oleh Anthony Hopkins.

Wilson mengaitkannya dengan penampilan Nilsen - yang dia gambarkan di bukunya sebagai seperti guru geografi - dan jenis kelamin serta seksualitas korban-korbannya.

"Berbicara tentang seorang pria yang menggunakan homofobia masyarakat untuk membunuh pria-pria muda, kebanyakan gay, itu bukan hal menarik," katanya.

Ia menambahkan, "kita lebih tertarik dengan pria muda yang atraktif dan membunuh perempuan muda yang atraktif. Yang tidak kita bahas adalah misogini yang memungkinkan [Bundy] terus menjadi sumber ketertarikan kita."

Murley sepakat bahwa ada bias yang bermain dalam tindakan serta aksi kejam mereka yang kita pilih untuk didalami. "Saya bukan seorang kriminolog tapi saya tahu kebanyakan korban bukanlah perempuan muda yang cantik. Demografi terbesar korban adalah pria non-kulit putih di negara ini. Dan kisah-kisah itu tak pernah diceritakan. Tak ada yang tertarik untuk membuat atau membeli cerita-cerita itu."

Meski begitu, secara umum, dia meyakini ada diskusi yang semakin kritis tentang penggambaran kekerasan dan laki-laki pelaku kekerasan.

"Kita melihat perhatian [diberikan] pada isu-isu yang menyatu dalam representasi ini," katanya, "dan tentang bagaimana cerita-cerita ini disampaikan. Saya menerima itu, karena kita harus menjadi semakin kritis akan perwakilan cerita tersebut, dan mengisahkan lebih banyak sisi lain dari kisah-kisah tersebut."

Tentu saja, Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile telah mendapat banyak kritik sehingga, di masa depan, orang bisa berharap bahwa para sutradara yang mau memikat penonton dengan satu lagi kisah psikopat pria yang kharismatik akan berpikir lebih jauh tentang pilihan mereka itu.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di The troubling obsession with 'the sexy psychopath' di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait