Resensi film: Once Upon a Time in... Hollywood

once upon a time in hollywood, quentin tarantino, brad pitt, leonardo dicaprio Hak atas foto Columbia Pictures

Brad Pitt, Leonardo DiCaprio dan Margot Robbie membintangi film terbaru Quentin Tarantino, yang ditayangkan perdana di Festival Film Cannes. Apakah filmnya bagus? Ini ulasan Nicholas Barber.

Selang 25 tahun setelah Quentin Tarantino memenangkan Palme d'Or untuk Pulp Fiction, ia kembali ke Cannes dengan film terbarunya. Tidak ada film di Festival 2019 yang lebih dinanti-nantikan daripada film ini.

Film terbaru Tarantino selalu ditunggu, tentu saja, tetapi ketika durasinya hampir tiga jam, ketika itu tentang bisnis film, dan ketika judulnya mengingatkan kita pada Sergio Leone, Once Upon a Time in... Hollywood.

Nah, apa lagi yang bisa membuatnya lebih mengasyikkan? Banyak dari kita berharap bisa menggunakan kalimat Brad Pitt di akhir Inglourious Basterds untuk mendefinisikan film ini: "Saya pikir mungkin inilah karya terbaik saya."

Faktanya, film ini terlalu santai untuk mencapai ketinggian yang memabukkan itu. Satu karakter bicara panjang lebar tentang sebuah novel yang menampilkan seorang penunggang rodeo dengan julukan 'Easy Breezy'. Dan, dengan mengabaikan dua adegan kekerasan mengerikan khas Tarantino, "semilir angin" lebih tepat untuk mendefinisikan Once Upon a Time in... Hollywood.

Latarnya Los Angeles pada tahun 1969, pada masa ketika mereka berubah. Bintang-bintang studio dengan setelan rapi keluar dari gedung, hippie berambut panjang berjalan-jalan, dan Anda hanya perlu mengingat bagaimana biasanya pria berpakaian dalam film Tarantino untuk mengenali kelompok mana yang mendapat simpati.

Pada intinya, film ini adalah fantasi macho reaksioner di mana tidak ada dan tidak satu orang pun bisa mengalahkan pria kulit putih yang pemabuk, perokok, setengah baya.

Kita bisa menyebutnya 'Make Hollywood Great Again'. Tak pernah merasa malu dalam antusiasmenya pada kaki, Tarantino menampakkan secara jelas bahwa hal terbaik tentang generasi bunga adalah para perempuan yang berjalan-jalan tanpa sepatu dan kaus kaki.

Leonardo DiCaprio memerankan Rick Dalton, seorang aktor yang sedikit gagap di belakang layar, yang memiliki serial TV sendiri di tahun 1950-an.

Kini, setelah upaya yang gagal untuk masuk ke industri film, dia harus puas menjadi peran bintang tamu "kelas berat" di serial milik aktor-aktor muda.

Seperti yang dikatakan oleh agennya (peran mengecewakan untuk Al Pacino), dia tadinya selalu memenangkan pertarungan di akhir setiap episode; tapi sekarang tugasnya adalah kalah dalam pertarungan yang sama.

Hak atas foto Anadolu Agency

Sahabatnya, yang diperankan oleh Brad Pitt dengan aksen John Wayne, adalah Cliff Booth. Cliff adalah pemeran pengganti Rick di acara TV 1950-an, dan sekarang menjadi sopir dan asisten serba guna.

Seperti dikatakan dalam dialog, Cliff "terlalu ganteng untuk jadi pemeran pengganti". Masalahnya dengan Once Upon A Time in... Hollywood adalah bahwa seseorang dengan penampilan seperti Pitt dan karismanya, pasti akan dipromosikan menjadi bintang film; sebuah adegan bertelanjang dada membuat penonton menghela napas dan cekikikan di Cannes.

Karakter utama ketiga adalah tokoh nyata. Memadukan fakta dengan fiksi, seperti yang ia lakukan di Inglourious Basterds, Tarantino mengikutsertakan Sharon Tate (Margot Robbie), seorang bintang muda berambut pirang.

Sharon baru saja pindah ke se sebelah Rick bersama suaminya Roman Polanski (Rafal Zawierucha dalam jas biru dan kemeja putih acak-acakan yang sekarang mengingatkan kita pada Austin Powers).

Tate dibunuh pada tahun 1969 oleh pengikut Charles Manson. Ketegangan dalam film tersebut berasal dari kesadaran kita bahwa, bagaimanapun caranya, Tarantino akhirnya akan membahas tragedi mengerikan itu.

Tapi sebelum dia tiba di sana, Once Upon a Time in... Hollywood pada dasarnya adalah komedi konyol yang santai, dibumbui dengan lelucon dan didukung oleh koneksi kuat antara dua aktor pria yang memparodikan dan menertawakan diri sendiri.

Semua itu berjalan di antara tiga cerita santai, dua di antaranya sangat tidak penting sehingga mereka nyaris tidak memenuhi syarat sebagai cerita sama sekali. Dalam salah satu cerita, Rick berjuang untuk berperan sebagai penjahat Wild West, setelah minum terlalu banyak koktail malam sebelumnya.

Di tempat lain, Sharon melihat sebuah bioskop yang memutar film terbarunya — The Wrecking Crew bersama Dean Martin — jadi dia masuk dan menonton.

Dan yang ketiga, Cliff memberi tumpangan kepada remaja yang menggoda (Margaret Qualley), tanpa tahu bahwa dia (bersama dengan wanita yang diperankan oleh Dakota Fanning, Lena Dunham dan lainnya) tinggal di komune Charles Manson, di peternakan tempat dia dan Rick mengambil gambar untuk serial mereka.

Di luar itu, ada kemunculan sekilas Steve McQueen (Damian Lewis) dan Bruce Lee (Mike Moh), pesta singkat (dan sopan) di Playboy Mansion, dan beberapa kutipan yang sangat panjang dari Western Rick. Ada iklan dan poster film dan lampu neon, dan karena ini adalah film Tarantino, ada lagu-lagu pop dari akhir 1960-an.

Jika Anda dapat mengabaikan politik rasial dan seksual, Anda dapat menikmati lelucon tersembunyi, sinematografi cerah dan detail periode nostalgia.

Tetapi apakah itu benar-benar cukup, mengingat apa yang terjadi pada Tate? Once Upon a Time in ... Hollywood adalah film yang membuat Anda tersenyum tanpa pernah membuat Anda marah atau menantang Anda. Karena diilhami oleh pembunuhan di kehidupan nyata, saya tidak yakin seberapa pantaskah itu.

Tiga dari limabintang

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Cannes 2019 review: Once Upon a Time in.... Hollywood di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait