Akan jadi seperti apa film dalam 20 tahun lagi?

Seorang pengunjung menggunakan teknologi realitas virtual di sebuah konferensi di Los Angeles. Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang pengunjung menggunakan teknologi realitas virtual di sebuah konferensi di Los Angeles.

Beragam teknologi yang berkembang cepat menawarkan kemungkinan yang menarik bagi masa depan film. Luke Buckmaster pun bertanya pada para pakar, apa saja teknologi tersebut.

Selama beberapa dekade, virtual reality (VR) atau realitas virtual telah diramal sebagai masa depan perfilman, mampu menawarkan pengalaman yang lebih mendalam daripada film dan televisi yang kita ketahui sekarang.

Dalam sebuah esai yang ditulis pada 1995, berjudul The Cinema of the Future, sinematografer Morton Hellig memprediksi bahwa proses pembuatan film akan begitu canggih sampai-sampai bisa "mengungkap dunia sains baru bagi manusia yang begitu hidup dan penuh akan dinamika penting kesadarannya."

Heilig menegaskan banyak dari karakteristik realitas virtual — tapi dia tak menggunakan istilah itu, karena memang belum diciptakan.

Kini, masa depan itu telah tiba — meski butuh waktu panjang bagi film sebelum bisa memasukkan teknologi canggih yang populer di film dan televisi, seperti The Lawnmower Man dan Star Trek.

Banyak pembuat film yang telah mengganti kamera konvensional mereka dengan kamera 360 (yang merekam gambar dari berbagai sudut pandang), momen ini bisa dibandingkan dengan tahun-tahun eksperimental dalam film di awal 1800an dan awal 1900an.

Singkatnya, kita sedang berada di tahap awal revolusi pembuatan film. Berbagai teknologi yang berkembang cepat menawarkan berbagai potensi yang menarik untuk masa depan film — seperti meningkatnya penggunaan AR (augmented reality) atau realitas tertambah, AI (kecerdasan buatan) dan semakin tak terbatasnya kemampuan komputer untuk menghidupkan dunia digital.

Akan seperti apa film dalam 20 tahun? Dan bagaimana kisah film di masa depan berbeda dengan pengalaman kita menonton sekarang?

Semakin personal

Menurut pakar realitas virtual dan seniman Chris Milk, film masa depan akan menawarkan berbagai pengalaman mendalam yang bisa disesuaikan secara khusus.

Pada BBC Culture, dia mengatakan bahwa teknologi ini mampu untuk "menciptakan cerita pada saat itu juga, yang hanya untuk Anda, dan akan memuaskan Anda secara unik berdasarkan apa yang Anda suka dan tidak suka."

Milk lebih memilih istilah "story living" atau mengalami suatu cerita daripada istilah "storytelling" atau penceritaan. Dia meyakini bahwa pengalaman sinematik akan terus berevolusi sampai "terasa alami dan nyata seperti hari yang Anda alami, tapi memiliki karakteristik luar biasa dari cerita menarik yang bisa kita dengar."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seniman Chris Milk yakin bahwa masa depan akan menawarkan film unik dan khusus yang sesuai dengan individu.

Pada 2015, Milk memberi sebuah TED Talk penting tentang potensi artistik dari realitas virtual. Dia meyakini bahwa kemajuan dalam teknologi kecerdasan buatan akan memungkinkan karakter yang dibuat oleh komputer untuk merespon penonton secara langsung.

Bayangkan versi yang lebih canggih dari Siri — tapi muncul dalam wujud karakter di dalam sebuah pengalaman narasi.

Milk mengakui bahwa teknologi yang memungkinkan karakter kecerdasan buatan untuk "merespon dan bisa bercakap-cakap pada Anda seperti layaknya manusia" memang "belum sepenuhnya ada". Tapi, dia menambahkan, "Saya pikir tak sampai 20 tahun sampai teknologi itu ada."

Menjadi 'volumetrik'

Pembuat dokumenter, wartawan dan entrepreneur berpengaruh Nonny de la Peña — yang digambarkan sebagai "Godmother of VR" oleh The Wall Street Journal — mengatakan bahwa kata pertama yang muncul dalam bayangan saat dia membayangkan masa depan medium ini adalah "volumetrik", dia membandingkannya dengan layar dua dimensi yang kita ketahui sekarang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Nonny de la Peña, di Sundance Film Festival pada 2012, disebut sebagai "the godmother of VR".

Menurut de la Peña, di masa depan, "media datar akan tetap ada bersama kita, sama seperti radio tetap ada. Tapi pembuatan film tak akan tetap menjadi datar."

Menurutnya, kita akan punya "pengalaman-pengalaman volumetrik yang akan kita alami sepenuhnya, di mana kita bisa berjalan-jalan dan berada di ruangan sesungguhnya" karena "penonton yang lebih muda terbiasa dengan pengalaman di mana mereka terlibat di dalamnya…Mereka ingin menonton, mendapat pengetahuan, dan semuanya dalam bentuk yang langsung mereka alami."

Tiruan virtual dunia

Eugene Chung menyutradarai film realitas virtual, Allumette, yang diterima dengan baik dan disebut sebagai "karya besar". Dia dibandingkan dengan sutradara pionir DW Griffith.

Film yang berlatar kota futuristik yang mengambang di awan ini menggunakan teknologi yang disebut 'six degrees of freedom' atau '6Dof' yang membuat penontonnya bisa berjalan melalui dunia tersebut.

Chung meyakini bahwa di masa depan, VR akan menjadi semakin tercampur dengan AR Cloud atau tiruan digital dari dunia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Eugene Chung berbicara di panggung saat Tribeca Film Festival pada 2016 - film VR-nya, Allumette, disebut sebagai "karya penting".

"Bayangkan versi yang lebih canggih dan kaya dari Google Earth," katanya, "Anda tak hanya melihat jalanan, tapi Anda menirukan dunia. Kemudian itu digabungkan dengan teknologi VR yang sangat canggih, yang sekarang saja sudah begitu mengagumkan."

Menurut Chung, di masa depan, "cerita-cerita ada di sekitar Anda." Contohnya, "Anda bisa bangun tidur dan di sebelah tempat tidur ada meja dengan karakter yang Anda suka. Ada film-film yang menggambarkan ini, seperti dalam film Her."

'Seni kesadaran'

Peraih Emmy dan sutradara dari pengalaman VR seperti Collisions dan Awavena, Lynette Wallworth, mengatakan bahwa pengalaman narasi masa depan, lewat VR, akan bisa menawarkan cara-cara baru untuk menjelajahi keragaman saraf.

"Kita akan punya kemampuan untuk merasakan bagaimana seseorang dengan autisme akan melihat dunia," katanya. "Berbagai tingkat pemahaman akan diungkap lewat VR, dan ini tak mungkin dilakukan di bentuk seni lain."

Wallworth juga membayangkan bahwa realitas virtual serta realitas tambahan akan memperluas pandangan akan film tradisional, sebagian lewat headset yang memungkinkan penonton untuk berpindah-pindah antara menonton suatu momen dan kemudian mengalaminya sendiri.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penonton memakai headset realitas virtual di acara An Evening with Lynette Wallworth pada 2016.

"Jika Anda membayangkan ini saat menonton Mad Max: Fury Road karya George Miller, misalnya, Anda bisa menonton film ini lewat headset untuk menonton layar film lalu berpindah mode," katanya, "jadi Anda sekarang duduk di sebelah Furiosa, di dalam kabin truknya, saat dia mengemudi di padang pasir dengan kecepatan tinggi."

Dengan teknologi realitas virtual yang berkembang dengan sangat cepat, kemungkinan-kemungkinan ini benar-benar tak terbatas.

Realitas virtual pun disebut "berbahaya" karena pembuat film di bidang ini tak punya kendali dibandingkan sutradara di film non-interaktif. Pada 2016, Steven Spielberg mengatakan bahwa dunia virtual "memberi ruang bagi penonton untuk tidak mengikuti arahan dari pembuat cerita tapi membuat kisah-kisah mereka sendiri."

Banyak yang menganggap masa depan seperti ini — di mana penonton memiliki kemampuan untuk membentuk narasi yang mereka alami — sebagai sesuatu yang positif.

Kemungkinan akan penonton yang bisa membuat pilihan-pilihan mereka sendiri cocok dengan prediksi Heilig bahwa "sinema masa depan bukan lagi seni visual, tapi seni kesadaran."

Mungkin perbedaannya terletak antara "penceritaan suatu kisah" dan "mengalami suatu kisah".

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di What films will be like in 20 years di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait