Ulasan film: Dua bintang untuk X-men The Dark Phoenix

Dark Phoenix Hak atas foto 20th Century Fox

"Siapa kita?" tanya Jean Grey - superhero utama di Dark Phoenix dengan kemampuan telepati dan telekinetik yang sedang mencari jati dirinya - dalam narasi suara yang mengawali film ini.

Jika mendengar pertanyaan ini, setiap ahli telepati yang ada di dekat situ akan dapat melihat ke dalam benaknya dan menjawab: "Yah, yang jelas kamu bukan orang yang menarik."

Film rilisan terbaru waralaba The X-Men ini lebih datar daripada halaman-halaman tipis buku komik yang menjadi inspirasinya.

Akting Sophie Turner sebagai Jean (alias Phoenix) seharusnya menunjukkan pergolakan emosional saat dia dihadapkan dengan pilihan: apakah akan menggunakan kekuatannya untuk kebaikan atau kejahatan.

Sayangnya, di sini dia tidak menunjukkan kecerdasan dan kedalaman karakter yang pernah dia tampilkan saat memerankan Sansa Stark di Game of Thrones.

Dark Phoenix sangat mengecewakan karena film-film X-Men sebelumnya selalu mampu menjadi tontonan yang paling cerdas dan paling memukau dari genre film aksi-superhero serupa saat ini.

Keunggulan tersebut sebagian besar didapatkan dari akting James McAvoy sebagai profesor Charles Xavier. Akting kemampuan mengendalikan pikirannya bisa membuat kekuatan mental tampak dinamis.

Ada juga Michael Fassbender yang memerankan Erik Lehnsherr alias Magneto. Masa lalunya yang suram terus menghantui pikirannya, dan kemampuannya menggerakkan potongan logam-logam raksasa.

Charles dan Magneto juga ada di Dark Phoenix, bersama dengan karakter-karakter lain yang sudah tak asing lagi.

Ada Jennifer Lawrence sebagai Raven yang dapat berubah bentuk, yang mencoba menjadi mentor bagi Jean. Nicholas Hoult sebagai Hank alias the Beast - kadang terlihat sebagai manusia normal, di lain waktu biru dan berbulu.

Tye Sheridan memerankan kekasih Jean, Scott, yang bisa menembakkan sinar perusak kuat dari matanya. Sayangnya, karakter-karakter ini hanya melintas dalam jalinan cerita tanpa ada koneksi mendalam yang seharusnya menjadikan mereka sebuah tim, yang seringkali terbelah oleh persaingan.

Hak atas foto 20th Century Fox

Alur utama cerita film ini sangat sederhana sehingga nyaris bisa dibilang tidak ada alur sama sekali. Kilas balik kilat ke trauma di masa kanak-kanak Jean membawanya ke sekolah khusus untuk mutan milik Xavier.

Cerita dimulai pada tahun 1992, satu dekade setelah peristiwa di film X-Men Apocalypse. Para mutan X-Men diluncurkan ke ruang angkasa untuk menyelamatkan pesawat ulang-alik AS yang rusak. Misi itu berhasil, tapi ada efek samping yang buruk.

Jean terkena lidah api matahari yang lalu terserap dan meningkatkan energi gelapnya, membuatnya menjadi mutan yang paling kuat. Selama sisa film ia berjuang entah bagaimana caranya agar 'Jean baik' dapat mencegah 'Jean jahat' mengambil kendali kekuatannya dan membunuhi orang-orang.

Dalam adegan awal, Jean jahat melemparkan mobil-mobil polisi ke udara, menghancurkan rumah-rumah dan membunuh karakter utama yang dicintai.

Setidaknya untuk saat ini, karena siapa yang bisa memastikan seorang karakter benar-benar mati dalam kisah saga superhero?

Lanskap mereka sekarang dipenuhi dengan karakter yang sebelumnya mati, lebih banyak daripada yang ada di film zombie. X-Men, yang selalu bersifat filosofis, terbelah antara ingin menyelamatkan Jean dari dirinya sendiri, atau menghancurkannya demi kebaikan dunia.

Cukup mengejutkan bahwa premis yang menjanjikan dengan karakter-karakter kuat ini ternyata gagal lepas landas, karena film ini disutradarai dan ditulis oleh Simon Kinberg, yang telah berperan memproduksi atau menulis film-film X-Men sejak The Last Stand pada tahun 2006.

Sayangnya ternyata sebagai sutradara, ia tidak memiliki bakat untuk bekerja dengan aktor. Jessica Chastain tersia-sia dalam perannya sebagai alien bernama Vuk yang mengambil alih tubuh manusia dan berteman dengan Jean.

Vuk berencana menggunakan kekuatan Jean agar alien bisa mengambil alih Bumi. Dengan ekspresi pasif sepanjang film, Vuk tidak pernah nampak culas atau berbahaya.

Kinberg memang menghadirkan beberapa adegan aksi spektakuler di film ini. Jean mencari Magneto di sebuah pulau tempat ia dan mutan-mutan lain menemukan kedamaian. (Mari berdoa demi kemunculan reality show berjudul Survivor: Mutant Island.)

Hak atas foto 20th century fox

Ketika helikopter militer tiba untuk mengambil Jean, Magneto mengangkat tangan dan menangkisnya. Tampaknya Fassbender dapat melakukan apa saja, karena dia benar-benar membuat kita melihat dan percaya pada perjuangan fisik dan emosional Magneto dalam adegan itu.

Pertempuran yang lebih besar terjadi di kota New York, di mana Magneto, Charles dan anggota X-Men lainnya telah melacak Jean dan Vuk. Kekuatan Magneto mengangkat kereta bawah tanah keluar dan melemparkannya sampai meluncur ke aula depan sebuah bangunan mewah di seberang Central Park. Tetapi dua adegan yang keren tidak cukup untuk menjaga sisa filmnya tetap menarik.

Layar bersinar dengan bola api energi setiap 10 menitan, tetapi efek khusus yang lebih baik dimunculkan pada wajah Jean.

Ketika kekuatan gelapnya muncul, tanda kecil seperti petir muncul di wajahnya, seolah-olah mukanya diretakkan oleh pembuluh darah keemasan. Matanya berubah emas dan bersinar. Ini visual yang menyeramkan dan efektif. Setidaknya Jean terlihat jahat, bahkan jika Turner tidak melakukan apa pun di balik topeng itu.

Dark Phoenix menghadirkan tema-tema yang banyak diandalkan oleh film aksi-superhero. Ada pertanyaan tentang bagaimana menggunakan kekuatan manusia super, diimbangi oleh usaha memanusiawikan sebuah tim superhero sebagai sebuah keluarga.

Apakah keluarga ini akan bertahan atau pecah? Pada film-film X-Men sebelumnya yang lebih baik, terutama First Class (2011), penonton diberi kesempatan untuk merasa terlibat dengan isu-isu ini dan penasaran dengan akhir ceritanya. Di sini, sulit untuk merasa terlibat ketika karakter-karakternya sendiri tampak begitu terpisah.

Script Kinberg sesekali memunculkan kecerdasan dan kesadaran sejarah merek waralabanya. Ketika Magneto bertemu Charles lagi, teman lama dan saingannya itu mulai menjelaskan mengapa mereka harus menyelamatkan Jean daripada membunuhnya. Magneto mengatakan: "Selalu ada pidato."

Dan Raven membentak Charles, "Ngomong-ngomong, para perempuan selalu menyelamatkan para pria di sekitar sini. Anda bisa mempertimbangkan mengganti nama menjadi X-women."

Dialog ini nampaknya digunakan untuk menyenangkan penonton, tetapi sayangnya terasa kosong. Phoenix harus melalui aksi yang tidak bersemangat untuk menyelamatkan dunia, tetapi dia bahkan tidak bisa menyelamatkan filmnya sendiri.

★★☆☆☆

Anda bisa membaca bersi bahasa Inggris dari artikel ini, Film Review: X Men Dark Phoenix di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait