Ulasan serial Black Mirror seri 5: satu episode yang mencengangkan dan dua yang lumayan buruk

netflix, black mirror Hak atas foto Netflix

Serial distopia karya Charlie Brooker dan Annabel Jones hadir kembali, kali ini lebih campur aduk daripada sebelumnya. Satu episode yang brilian membuatnya layak untuk disaksikan.

Apakah seri antologi distopia Black Mirror mulai terasa agak ketinggalan zaman? Lagipula, fokusnya pada pengaruh teknologi yang mengacaukan dan korup terasa agak aneh di era ancaman yang lebih besar: isu keruntuhan politik dan bencana ekologis yang meluas.

Ada juga pertanyaan tentang ada berapa banyak cerita berbeda yang bisa dibuat untuk mendukung obsesi utama serial ini: interaksi antara realitas virtual dan fisik.

Nah, pada seri kelima ini, kelanjutannya dibenarkan dengan satu episode yang mencengangkan. Bahkan hanya dengan tiga episode, kualitas variabelnya nampak lebih jelas dari musim sebelumnya.

Anda mungkin menganggap musim terbaru ini lebih pendek dari biasanya karena tahun lalu Broker dan Jones harus menghabiskan waktu mereka untuk membuat Bandersnatch, film eksperimen di mana Anda bisa memilih petualangan Anda sendiri.

Tapi mari kita mulai dengan yang positif: "Striking Viper" adalah episode terbaik di musim ini, setara dengan "Be Right Back" dan "San Junipero". Tiga episode ini bisa disebut sebagai episode terbaik dan paling penuh penjiwaan dari episode-episode Black Mirror.

Bintang Avengers, Anthony Mackie, memerankan seorang lelaki berusia dua puluhan di Striking Viper. Kita melihatnya pertama kali saat dia pura-pura jadi "orang asing seksi" dengan pacarnya (Nicole Beharie) di sebuah klub, sebelum dia pulang dan melanjutkan permainan peran yang lain di rumah. Yaitu, bermain gim video Striking Vipers dengan sahabatnya (Yahya Abdul-Mateen II) hingga dini hari.

Hak atas foto Netflix
Image caption Anthony Mackie bermain gim video Striking Vipers dengan sahabatnya (Yahya Abdul-Mateen II) hingga dini hari.

Melompat ke 11 tahun kemudian, kini dia sudah menikmati kehidupan keluarga pinggiran kota. Tetapi ketika permainan favorit lamanya diperbarui, ternyata itu menjadi sesuatu yang lebih dari gangguan.

Premis episode ini menyentuh titik terbaik Black Mirror, yaitu sesuatu yang masuk akal secara teknologi tapi sangat filosofis.

Saya menghitung tema-tema yang diangkatnya antara lain: aspek homoerotisme dari bermain gim, kualitas pornografi dari kekerasan gim komputer, sifat dasar ambigu seksualitas dan gender, dan nilai pengorbanan diri yang dipertanyakan dalam hubungan.

Tetapi di atas semua itu, seperti San Junipero, episode ini banyak memperhatikan emosi manusia yang tak lekang oleh waktu, bagaikan komentar yang sangat tepat terhadap dunia yang kita tinggali. Salah satu adegan terbaik adalah percakapan sederhana antara suami dan istri di sebuah bilik restoran, yang bergemuruh dengan kesedihan seperti pada film John Cassavetes.

Sebaliknya, episode Smithereens adalah ketika para karakter disandera oleh alur cerita yang hanya bertujuan untuk membuktikan suatu poin yang tidak berdasar.

Andrew Scott, yang saat ini paling dikenal sebagai 'pendeta ganteng' di Fleabag, berperan sebagai sopir untuk aplikasi semacam Uber di London, dengan 'masa lalu' yang jelas. Dia mencoba menjemput pelanggan di luar kantor perusahaan media sosial bernama Smithereens.

Ketika seorang karyawan akhirnya naik taksi, dia menyandera karyawan itu. Tindakan ini mengarah pada kebuntuan, ketika si penculik menuntut untuk berbicara pada bos besar Smithereens. Sang bos besar adalah seorang tech-bro dengan kuncir ekor kuda yang saat ini sedang berada dalam retret tanpa bicara selama 10 hari di Utah.

Hak atas foto Netflix
Image caption Andrew Scott, yang saat ini paling dikenal sebagai 'pendeta ganteng' di Fleabag, berperan sebagai sopir untuk aplikasi semacam Uber di London

Bertujuan membidik soal akuntabilitas dan kekuatan yang tidak terkendali dari raksasa media sosial saat ini, episode ini menjadi seri Black Mirror yang paling jelas maksudnya.

Tetapi ada juga pertanyaan yang lebih dalam lagi. Siapa yang paling bertanggung jawab jika teknologi membuat kita melakukan hal-hal buruk: pencipta atau konsumen?

Sayangnya, titik diskusi yang menarik ini diterjemahkan menjadi sebuah drama yang kurang berkarakter. Topher Grace memerankan parodi Jack Dorsey yang menghibur, dan Scott adalah sosok yang menarik tapi gelisah dan ambigu, setidaknya dalam beberapa waktu.

Tetapi jika ini pada dasarnya adalah kisah tentang seorang lelaki yang mencerca anggapan bahwa ia tidak memiliki hak memilih, tampaknya ironis bahwa penulis naskah juga harus membuat tokoh itu menjadi suatu kode.

Namun, Smithereens masih cukup layak ditonton, yang sayangnya tidak dapat dikatakan untuk episode "Rachel, Jack, dan Ashley" yang agak menyiksa, yang merupakan contoh pengerjaan Black Mirror yang paling kasar.

Hak atas foto Netflix
Image caption Episode "Rachel, Jack, dan Ashley"i dibintangi Miley Cyrus sebagai Ashley O.

Mengikuti "A Star Born" dan "Vox Lux" sebagai tren terbaru gelombang film yang marah pada industri pop, film ini dibintangi Miley Cyrus sebagai Ashley O, bintang besar berambut palsu warna merah muda yang memproduksi boneka robot yang diprogram untuk berbicara dan bertindak seperti dia.

Sementara itu, dalam alur cerita paralel, seorang penggemar berat yang kesepian membeli salah satu robot Ashley Too ini, dan mereka minum-minum dan terlibat dalam obrolan ringan yang luar biasa. Pertanyaannya adalah: dengan semua proksi ini di dunia, apakah Ashley O sendiri sekarang bisa habis?

Penampilan spektakuler Cyrus yang tenang di awal episode ini adalah hal terbaik dari episode ini. Kita dapat melihat orang yang tertekan dan tereksploitasi di belakang sosok panggung Ashley O. Miley Cyrus yang menaklukkan dunia dengan karier popnya sendiri memang membuat adegan-adegan ini menjadi lebih mendalam, tentu saja, dan dia memang telah menjelaskan dalam wawancara bagaimana dia memberi penulis naskah masukan dari pengalamannya sendiri.

Tetapi seiring dengan berjalannya episode, avatarnya mengalami transformasi, dan menjadi semakin menggelikan dan kekanak-kanakan. Episode ini berakhir sebagai petualangan fiksi sains remaja yang penuh tipu-tipu. Film ini menjadi mirip dengan jenis-jenis film yang dibuat setelah ET pada tahun 1980-an.

Jadi, bagaimana menilai satu episode yang bagus dan dua yang lumayan buruk?

Bukan jumlah yang terlalu baik, tapi sekali lagi, satu permata seperti Striking Viper sudah cukup untuk memberi pembenaran produksi Black Mirror musim selanjutnya.

Striking Vipers: ★★★★★

Smithereens: ★★★☆☆

Rachel Jack and Ashley Too: ★★☆☆☆

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Black Mirror series 5 review di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait