Ulasan film: Toy Story 4, apakah kisahnya sesuai ekspektasi?

Toy Story 4 Hak atas foto John Parra/Getty Images for Disney

Woody, Buzz, dan geng imut nan canggungnya kembali! Tapi apakah kisah keempat mereka sesuai ekspektasi? Nicholas Barber memberikan penilaiannya.

Ada di antara kita (termasuk saya) yang menganggap bahwa tiga seri pertama Toy Story adalah trilogi terbaik dalam sejarah Hollywood, dan rencana hadirnya Toy Story 4 merupakan gagasan yang bikin tegang.

Sembilan tahun yang lalu, Toy Story 3 terasa menjadi perpisahan sempurna untuk seri yang sempurna ini, sehingga rencana penggarapan episode lain Toy Story pun disambut penuh antusias, seantusias jika kita melihat lukisan Mona Lisa mengenakan kacamata hitam dan kumis tebal.

Kita tidak perlu merasa khawatir. Kita langsung yakin bahwa film kartun baru arahan Josh Cooley ini akan digarap dengan animasi yang memesona dan bertabur banyak lelucon yang membuatnya menjadi film terbaik Pixar.

Segala rasa was-was yang sebelumnya hadir diharapkan langsung sirna dalam siraman hangat penampilan Woody (disuarakan oleh Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen) dan teman-teman satu gengnya yang imut nan canggung.

Kenyataannya berbeda. Toy Story 4 tidak merusak seri yang sudah ada, tapi juga tidak memberikan nilai plus apapun. Ini adalah film berskala lebih kecil, tidak semengharukan dan, untungnya, tidak setraumatis seri ketiganya.

Ia juga tidak sememuaskan alur kisah pendahulunya, dan temanya pun tidak seprovokatif Toy Story lainnya. Akan tetapi kisahnya memang dimulai dengan menjanjikan.

Karena bocah laki-laki dari ketiga seri Toy Story sebelumnya, Andy, sudah berkuliah, kini mainan-mainannya dimiliki oleh Bonnie, seorang gadis kecil yang biasanya meninggalkan Woody di dalam lemari sementara ia bermain dengan mainan lainnya.

Seakan situasinya tidak bisa lebih buruk lagi bagi Woody si boneka koboi yang gampang tersinggung, Bonnie harus masuk taman kanak-kanak, dan orang tuanya memaksanya untuk tidak membawa mainan ke sekolah. Woody, tentu saja, ditaruh begitu saja di dalam tas, sementara Bonnie menjalin 'persahabatan' dengan sebuah sendok-garpu plastik berwarna putih, pembersih pipa berwarna merah, dan sebuah stik permen loli yang terbuat dari kayu.

Ia menamai mahluk aneh itu dengan panggilan Forky (disuarakan Tony Hale), dan yang membuat Woody terkejut, bukan hanya bisa hidup, Forky juga kemudian menjadi barang paling berharga milik Bonnie.

Meski terdengar sangat mustahil, hal itu benar-benar bisa terjadi: anak perempuan saya sendiri pernah mengamuk saat kehilangan mainan kesukaannya, Spoony di sendok plastik.

Seperti film Up produksi Pixar, bagian terkuat dari kisah Toy Story 4 terletak pada 15 menit pertama film tersebut.

Pada bagian itulah film ini mengisahkan kecemasan berlebihan yang orang tua rasakan ketika anak mereka pertama kali masuk sekolah (sebuah perasaan yang sama yang dikisahkan Pixar juga lewat Finding Nemo), dan di bagian itu juga lah film ini mempertanyakan masalah identitas dan kebebasan - dan bagaimana persisnya mainan-mainan ajaib ini bisa berjalan dan berbicara.

Anda mungkin berpikiran bahwa Toy Story 4 berkutat pada tema-tema itu. Namun, layaknya seorang anak yang merasa bosan, film ini lantas membuang jauh-jauh tema itu dan membawa karakter-karakternya menjalani sebuah petualangan gila, seperti yang terjadi dalam film Up.

Sepulang sekolah, Bonnie dan orang tuanya pergi berlibur dengan menyewa sebuah mobil van dan membawa serta mainan-mainannya.

Dalam perjalanan, Forky terus menerus merengek dan menyebut dirinya adalah "sampah", lalu berulang kali memasukkan dirinya sendiri ke dalam tempat sampah dan lompat keluar jendela, sebuah perilaku semi-bunuh diri yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Woody berusaha untuk meyakinkan Forky bahwa menjadi mainan bisa sama bermanfaatnya seperti menjadi peralatan makan sekali pakai, akan tetapi di tengah upaya itu, fokus Woody teralihkan ketika ia melihat sebuah toko barang antik.

Saat menyelinap masuk untuk mencari cintanya yang hilang, Bo Peep (disuarakan Annie Potts) yang muncul pada dua film Toy Story pertama namun absen pada film ketiga, Woody jatuh ke dalam cengkeraman Gabby Gabby (Christina Hendricks), boneka rusak yang memiliki desain kotak suara Woody.

Beruntungnya, ia berhasil kabur, tapi Forky tidak, yang tentu saja menjadi awal dari plot misi penyelamatan yang menjadi salah satu ciri khas film waralaba itu.

Film kartun Toy Story tidak pernah jauh dari genre film horor, dan kali ini kengerian kisahnya dihadirkan dalam bentuk boneka-boneka kecil nan kuno menyerupai bentuk manusia sesungguhnya yang merupakan pengawal Gabby Gabby.

Sebagai penyeimbang, nuansa humor muncul dari karakter Duke Caboom (Keanu Reeves), miniatur stuntman setipe Evel Knievel versi Kanada, begitu pula dari dua mainan berbulu yang sering ribut sendiri (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key), dan karakter Bo Peep sendiri yang kini digambarkan sebagai sosok pahlawan perempuan yang mahir berakrobat untuk menandingi katakter Rey dari sekuel Star Wars terbaru.

Yang jadi masalah adalah semua karakter tersebut lantas menutupi karakter-karakter lain seperti si dinosaurus yang mudah gugup, celengan babi yang sensitif, dan karakter Toy Story lainnya yang sudah kita kenal dan cintai lebih dulu.

Bahkan karakter Buzz Lightyear pun hanya diberi porsi peran pendukung yang sedikit, meski sosoknya 'ditanami' kelakar kocak tentang "suara hati" yang terus dimainkan sepanjang film.

Masalah lainnya adalah betapa rumit dan berulangnya alur yang diciptakan: para pahlawan, beserta sepuluh penulis naskah yang menulisnya, menghabiskan banyak waktu untuk menggarap misi penyelamatan karakter si sendok-garpu yang ia sendiri tidak begitu peduli untuk diselamatkan.

Pertaruhannya tidak sebanding dengan usaha yang mereka lakukan. Yang membedakan Toy Story yang ini dengan lainnya yaitu hubungan antara Bonnie dan Forky yang baru berumur dua hari, sehingga momen penyelamatannya tidak sepenting ketika Woody berjuang untuk bisa bertemu lagi dengan Andy di seri sebelumnya.

Dan sejujurnya, filmnya sendiri menyadari kelemahan itu ketika Bo Peep menolak menyelamatkan Forky dari dalam toko. "Anak-anak sering kehilangan mainan mereka," ujarnya. "Ia akan baik-baik saja."Dan memang benar: anakku tidak pernah menyebut-nyebut Spoony lagi setelah bertahun-tahun.

Pada hakikatnya, kisah Toy Story 4 adalah tentang bagaimana Woody belajar memahami bahwasanya mainan mungkin tidak seberharga itu bagi anak-anak seperti yang ia bayangkan, meski pesan itu tidak mungkin bisa dipahami tanpa menyadari premis lemah di sepanjang filmnya, sehingga film ini diakhiri dengan pesan yang berantakan: beberapa mainan penting, sementara lainnya tidak; beberapa mainan diperlukan anak-anak, sementara sisanya tidak mereka butuhkan.

Saat Toy Story 3 dirilis, berbagai surat kabar menuliskan bahwa banyak orang dewasa keluar dari bioskop dengan berurai air mata. Betapa pun menakjubkannya Toy Story 4, emosi terkuat yang diakibatkannya adalah rasa kasihan bagi orang tua Bonnie, yang liburannya dikacaukan oleh Woody dan gengnya yang suka ikut campur.

Jika saja mainan-mainan itu meninggalkan Forky di toko barang antik itu, nasib seluruh keluarga itu akan lebih bahagia.

★★★★☆

Anda dapat membaca dalam bahasa Inggris artikel Film review: Toy Story 4 di laman BBC Culture.

Berita terkait