Sejarah memalukan dunia perfilman yang menyudutkan imej orang-orang dengan bekas luka

Dirty God film Hak atas foto Viking Film/EMU Films

Dari Lon Chaney hingga Thanos di Marvel, kecacatan kerap menjadi sumber ketakutan dalam dunia film. Namun, film drama baru berjudul Dirty God mendobrak stereotip tokoh mengerikan, ujar Alex Godfrey.

"Waktu kecil saya dipanggil Freddy Krueger," kata Vicky Knight (23). "Saya tidak tahu siapa dia, jadi saya bertanya pada ibu saya dan beliau menjawab Freddy Krueger adalah monster dengan luka bakar di sekujur tubuhnya. Itu melukai hati saya. Saya dicap sebagai monster."

Ia berusia delapan tahun saat bar milik kakek-neneknya di London terbakar. Ia tinggal bersama bibi dan pamannya, yang mengelola bar saat itu, serta sepupu-sepupunya.

Saat ia terbangun pukul 5.30 pagi, tubuhnya sudah dilalap api. Masyarakat setempat dan seorang pelanggan tetap bar bernama Ronni Springer yang berumur 45 tahun pun tiba, lari ke atas, menghancurkan jendela, dan membawa turun Knight dan salah satu sepupunya, sebelum ia kemudian pingsan karena kehabisan oksigen dan jatuh dari jendela.

Ronni tewas di rumah sakit, sementara kedua ponakan Knight pun tewas dalam kebakaran. Knight menderita luka bakar tingkat tiga dan empat di 33% bagian atas tubuhnya, termasuk wajahnya, dan harus menjalani beberapa operasi sekaligus cangkok kulit.

"Saya sering dirundung selama sekolah," ia menceritakan apa yang terjadi berikutnya.

"Saya dipukuli setiap hari. Ibu saya harus menjemput saya setiap hari karena ada murid perempuan yang selalu memukuli saya. Ia tidak menyukai penampilan saya. Saya tidak bisa melindungi diri karena tangan saya tidak berfungsi dengan baik, saya tidak bisa mengepalkan tangan saya. Saya pikir ini akan berhenti saat saya masuk perguruan tinggi, tapi tidak."

Pada 2014, seseorang menyarankannya untuk membuat video YouTube tentang bagaimana ia mendapat luka bakar, yang kemudian ia lakukan, dengan harapan agar bisa menginspirasi korban luka bakar lainnya yang sama menderitanya seperti Knight.

Videonya lantas menjadi viral dan dilihat oleh seorang sutradara, dan menjadikannya sebagai Knight yang seperti sekarang.

Meskipun tidak memiliki pengalaman akting ataupun cita-sita menjadi seorang aktor, ia mendapatkan peran utama dalam film berpengaruh yang baru rilis, Dirty God.

Dalam film drama yang berlatar belakang di London ini, Knight menghadirkan penampilan yang lepas namun berciri khas sebagai seorang ibu muda bernama Jade, yang baru keluar dari rumah sakit setelah mengalami serangan air keras.

Ia berjuang sebagai ibu muda dan menjalani kehidupan dengan bekas luka di wajahnya. Karakter Jade adalah sosok seseorang yang terampil dan orisinil. Ini penting.

Hak atas foto Viking Film/EMU Films
Image caption Vicky Night, yang menderita luka bakar ketiga dan keempat saat kecil, memulai debut aktingnya di film drama berpengaruh, Dirty God

Luka fisik telah digunakan secara berlebihan oleh para pembuat film untuk melanggengkan sebuah stereotip yang merusak. Kita tidak berbicara tentang penampilan mulus Harrison Ford atau Bradley Cooper - dengan luka kecil asli akibat kecelakaan kecil atau operasi - tapi tentang luka palsu yang dipakaikan kepada aktor yang tidak memiliki luka, dan digunakan sebagai simbol yang hampir selalu bermakna negatif.

Stigma Mengerikan

Ini adalah fenomena yang menodai sejarah perfilman - meskipun tidak selalu demikian.

Menurut Joe Kember, seorang lektor kepala di program studi film University of Exeter yang telah meneliti isu-isu berkaitan dengan representasi wajah manusia, pasca Perang Dunia I, ada periode singkat dimana Hollywood menawarkan karakter tiga dimensi dengan bekas luka di wajah - film mengenai para pria yang kembali ke pelukan orang-orang yang mereka cintai, dan belajar hidup dengan luka yang mereka derita.

Arthur Guy Empey, seorang tentara Amerika Serikat yang tertembak di bagian wajahnya pada 1916, ikut serta dalam propaganda tersebut dengan menulis naskah serta membintangi film Over The Top pada tahun 1918, yang mana sedikit terinspirasi dari pengalamannya sendiri.

Film Face Value tahun 1927, yang disutradarai Robert Florey, menampilkan seorang veteran perang dengan luka parut wajah yang tidak dapat diperbaiki. Adegannya dimulai dengan sang veteran dan teman-temannya yang sama-sama terluka tertawa dan minum saat makan malam.

Akan tetapi, bentuk penghormatan terhadap mereka yang cacat lalu hilang begitu saja. Lon Chaney, bintang film horror yang namanya melejit karena memerankan monster dengan bekas luka parah, bertanggung jawab atas awal terbentuknya stigma tersebut dalam perfilman.

Semuanya menjadi lebih buruk saat genre horror meraih kepopuleran. "Ketika Anda menonton film bergenre slasher, gore, horror, dan eksploitasi," kata Kember, "sejak tahun 1970an hingga 80an, ada semacam kesamaan antara bekas luka di wajah dan keburukan moral."

Tokoh Freddy Krueger di A Nightmare On Elm Street adalah pelaku utama, begitu juga dengan Jason Voorhees di Friday The 13th.

"Itu adalah pembentukan karakter yang sangat mudah dan tanpa basa-basi," lanjutnya. "Kita melakukan karakterisasi setiap saat - kita menandai gender, ras, dan segala sesuatu dengan cara seperti itu, tapi kecacatan menjadi contoh yang sangat mengerikan."

Hak atas foto DISNEY
Image caption Tokoh Thanos dalam Jagat Marvel adalah salah satu dari banyak tokoh antagonis layar lebar yang memiliki luka parut pada wajahnya.

Ada pengecualian: korban luka bakar Ralph Fiennes dirawat dengan penuh kehati-hatian dalam The English Patient karya Anthony Minghella, dan Rush karya Ron Howard menyajikan kisah inspiratif tentang ketangguhan dan kebangkitan karir Niki Lauda setelah kecelakaan yang mengerikan.

Namun penggambaran positif tentang penderita luka sangatlah jarang. Masih menjadi suatu keharusan bagi film bergenre blockbuster untuk membuat karakter jahat memiliki bekas luka.

Sederet penjahat Star Wars disajikan seperti itu. Tokoh antagonis di Jagat Sinematik Marvel, Thanos, memiliki beberapa bekas luka pada wajahnya, meskipun ia sudah memiliki kepala alien berwarna ungu yang aneh, yang mana ia sebenarnya tidak membutuhkan "hiasan" lagi pada wajahnya.

Di The Dark Knight, Christopher Nolan membuat Joker menjadi nyata dengan mengubah seringai permanennya menjadi bekas luka, dan penjahat dalam film Bond baru-baru ini , Le Chiffre dan Blofeld, sama-sama mendapatkan bekas luka yang jelas, meskipun tidak digambarkan di bukunya.

Selain itu, hal sebaliknya juga bisa terjadi - dengan tokoh pahlawan yang bekas lukanya dihapus untuk membuat mereka lebih menarik secara fisik.

Pada Mortal Engines, adaptasi buku fantasi populer karya Philip Reeve yang dirilis tahun lalu, kecacatan karakter pahlawan Hester Shaw berkurang secara dramatis di layar, yang sebelumnya, menurut Reeve, karakter tersebut memiliki mulut yang "miring ke samping dengan seringai yang permanen", hidung dengan "ujung yang melesak", dan satu mata yang menatap "keluar dari reruntuhan" menjadi sebuah bekas luka yang sederhana, meskipun tebal.

Pada novel James Bond 'Casino Royale', penulis Ian Fleming menggambarkan Bond memiliki bekas luka di pipinya - tetapi dalam berbagai tampilan sang agen rahasia di film-filmnya, hal ini tidak pernah muncul ke layar.

Menelusuri Rasa Trauma

Dirty God adalah bentuk penolakan besar terhadap kedangkalan semacam itu. Film ini terinspirasi dari pengalaman penulis/sutradaranya, Sacha Polak yang berasal dari Belanda, saat ia berada di festival musik Lowland di Belanda lima tahun lalu.

Saat itu ia melihat seorang pemudi korban luka bakar, memalingkan muka, dan merasa semua orang di sekitarnya melakukan hal yang sama, berbisik di belakangnya.

"Saya pikir, 'perempuan ini mengalaminya setiap hari dalam hidupnya.' Hal itu terngiang di kepala saya selama bertahun-tahun."

Kemudian, ketika dia bekerja di London, Polak membaca tentang meningkatnya jumlah serangan air keras terhadap perempuan, sering kali disebabkan oleh kekasih mereka yang penuh dendam dengan tujuan untuk menghancurkan kecantikan mereka.

Dia dan rekan penulisnya, Susanne Farrell, lalu bertemu dengan beberapa perempuan penyintas luka bakar untuk melakukan penelitian, dan berbicara kepada mereka tentang kehidupan sehari-hari mereka dan bagaimana pandangan mereka tentang gagasan mencari pasangan di masa depan.

Keduanya mulai mengerjakan naskah bersama-sama tentang seorang perempuan yang wajahnya disiram oleh pacarnya, dan berjuang setelah keluar dari rumah sakit.

Hak atas foto Primo Barol/Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Ralph Fiennes memerankan karakter seorang pahlawan perang dengan luka bakar parah dalam film The English Patient. Ini adalah contoh langka bagaimana Hollywood menggambarkan karakter berwajah cacat dengan hati-hati.

Polak memiliki pengalaman membuat tubuhnya terluka - dia melakukan mastektomi (operasi pengangkatan payudara), sebuah pengalaman yang ia lalui dalam film dokumenternya, Nieuwe Tieten (New Boobs), pada 2013.

Dia tidak yakin apakah hal itu secara langsung memengaruhi Dirty God, namun ia berkata, "Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang membuat Anda feminin, jadi mungkin (mastektomi) adalah bagian dari itu."

Sebelum Dirty God, Vicky Knight memiliki pengalaman dokumenter sendiri, tapi begitu buruknya hingga ia tidak percaya pada industri film.

Setelah videonya pada 2014 menjadi viral, para produser reality show menghubunginya dan menyampaikan bahwa mereka ingin merekam kehidupan sehari-hari seorang penyintas luka bakar; Knight pun menyetujui dengan harapan bahwa hal ini akan mendidik masyarakat.

Dua minggu sebelum acara tersebut ditayangkan, mereka mengatakan padanya bahwa ini adalah acara kencan berjudul Too Ugly For Love? Ia pun kecewa.

Interaksi non-romantisnya dengan orang-orang selama syuting acara itu dibuat agar terlihat seperti sesuatu yang lain.

"Aku lesbian, dan mereka membuatku berkencan dengan laki-laki," katanya, dulu ia tidak menyadari bahwa adegannya akan jadi seperti itu.

"Salah satu anak lelaki itu juga gay, jadi acara itu berantakan total. Sangat kacau." Yang lebih buruk adalah akibatnya, menurutnya. Di situs yang misoginis, orang-orang yang pernah menonton acara itu membuat komentar yang menjijikkan tentang dirinya.

"Ada warganet yang mengatakan, 'Orang yang salah matinya terbakar.' 'Kamu terlihat seperti Freddy Krueger.' 'Satu-satunya hal baik tentang dia adalah kakinya karena keduanya tidak terbakar.' Orang-orang menghinaku, dan aku sama sekali tidak mendapat dukungan dari orang-orang TV. Saya mengirim email kepada mereka dan mereka membalasnya untuk menanyakan apakah saya ingin menjadi bagian dari The Undateables" - sebuah acara televisi yang dibuat oleh perusahaan produksi yang sama, di mana orang-orang dengan keterbatasan dikirim untuk berkencan.

Hak atas foto EZEQUIEL BECERRA/AFP/Getty Images
Image caption James Bond yang digambarkan Ian Flemming dibukunya memiliki luka wajah, namun tak satu pun tampilan Bond di film-filmnya menunjukkan hal itu

Wajar jika Knight tidak ingin berada di depan kamera lagi. Jadi ketika pengarah peran yang bekerja untuk Polak melihat video YouTube Knight dan menghubunginya tentang Dirty God, ia menolaknya dan mengabaikan tawaran mereka selama setahun.

"Aku berkata, 'Tidak, aku tidak akan mempermalukan diri sendiri lagi," jelasnya. Namun, ketika dia akhirnya berbicara dengan mereka, Polak berhasil meyakinkan Knight tentang niat baiknya.

Haruskah aktor memiliki 'bekas luka'?

Polak tidak ingin memakai aktor terkenal dan memakai riasan bekas luka yang jelas.

"Saya benar-benar ingin para penonton bersimpati terhadap Jade, dan merasakan bahwa gadis yang Anda tonton benar-benar berurusan dengan hal-hal ini," katanya.

Namun, keputusannya itu lebih kepada upaya untuk menciptakan karakter yang dapat dipercaya ketimbang alasan untuk mewakili kaum tertentu, dan dia sendiri pada prinsipnya tetap menerima para aktor dengan luka bohongan.

"Saya merasa para pembuat film perlu memiliki kebebasan untuk menciptakan filmnya seperti yang mereka bayangkan," katanya.

"Masalahnya adalah saya sedang mencari sesuatu yang murni." Banyak pengalaman nyata Knight, seperti menghubungi dokter di seluruh dunia "untuk mencari tahu apakah mereka dapat menghilangkan bekas lukanya" tercermin dalam Dirty God.

Saat awal proses syuting, Knight sempat ragu untuk melanjutkan perannya sebagai Jade, karena saat proses produksi berlangsung lebih banyak mata yang menatapnya ketimbang biasanya.

"Pembuatan film itu sangat, sangat emosional baginya," kata Polak. "Dia telah menutupi tubuhnya begitu lama, mengenakan lengan panjang di musim panas… Telanjang di depan kamera sangat sulit baginya, tetapi yang lebih sulit adalah ketika kami memfilmkan bekas lukanya dari jarak dekat, karena dia selalu merasa bekas luka itu sangat jelek."

Film dibuka dengan adegan close-up ekstrim pada bekas luka Knight; itu terlihat luar biasa.

"Ketika kami sedang syuting" kata Knight, "Saya menangis di sana karena saya pikir, 'Saya telah menyembunyikan bekas luka saya selama 15 tahun, dan sekarang seluruh dunia akan melihatnya."

Tetapi ketika saya menonton filmnya, saya terkejut. Ini terlihat seperti sebuah karya seni. Saya pikir ini terlihat luar biasa di layar. "

Hak atas foto Paul Kane/Getty Images
Image caption British Film Institute kini secara resmi menyatakan tidak akan mendanai film-film yang menampilkan para penjahat dengan bekas luka di wajah, seperti Joker di The Dark Knight

Akibat dari keputusan Polak memulai film dengan adegan itu - dengan mengambil gambar wajah Knight dari jarak dekat - luka-luka itu menjadi hal yang normal.

Dalam beberapa menit Anda akan terhanyut dalam aktingnya, dan juga ceritanya. Ini adalah tujuan Polak, setelah mengalami efek yang sama saat ia bertemu korban luka bakar untuk penelitiannya:

"Saya lupa tentang bekas luka mereka setelah lima menit, dan saya ingin menunjukkan itu dalam film ini, bahwa Anda akan lupa, dan Anda bisa melupakannya."

Bicara tentang representasi bekas luka di dunia film, Dirty God tentu saja jadi perintisnya.

"Sekarang adalah saatnya kita dapat menunjukkan bahwa setiap orang berbeda, dan menunjukkan bahwa mereka cantik," kata Polak.

"Saya pikir sangat mungkin bagi Vicky untuk berakting setelah film ini, dan menjadi bagian dari serial TV. Segalanya akan mulai berubah."

Sebagai buktinya, Dirty God dibiayai sebagian oleh British Film Institute, yang tahun lalu mengumumkan bahwa institut tersebut menolak untuk mendanai film-film di mana orang-orang dengan bekas luka di wajah digambarkan sebagai penjahat.

"Film adalah katalisator perubahan dan itulah sebabnya kami berkomitmen untuk tidak memiliki representasi negatif yang digambarkan melalui bekas luka atau kondisi wajah berbeda dalam film yang kami danai," kata Wakil CEO BFI Ben Roberts.

Knight berkata Dirty God telah mengubah hidupnya, memberi 100 persen keberanian kepadanya.

"Saya mungkin tidak akan ada di sini jika saya tidak bergabung di film ini. Sebelum saya mulai syuting, saya ingin bunuh diri. Saya melukai diri sendiri, mengabaikan diri sendiri. Saya melakukan segalanya untuk menghilangkan pikiran dan rasa sakit ini dari kepala saya. Saya hancur. Saya berada pada titik di mana saya berpikir, "Tahukah kamu? (Hidup) ini benar-benar tidak layak lagi (untuk dijalani)."

Dan tiba-tiba Sacha datang dan membuat saya melihat dunia dari perspektif lain. Sekarang, saya pergi memakai celana pendek dan kaos. Saya tidak peduli apa yang orang pikirkan. Sebelumnya, jika seseorang menatapku, aku akan memberi mereka pandangan hina, lalu aku pulang dan menangis. Sekarang, saya akan dengan senang mengatakan kepada mereka, "Apakah Anda ingin tahu apa yang terjadi?" Ini membuat saya lebih mencintai diri saya sendiri. Saya bangga dengan bekas luka saya sekarang. Saya merasa layaknya seorang manusia, bukan sekadar makhluk hidup."

Ia berharap film ini akan membantu orang lain juga. Dalam kehidupannya sehari-hari, ia adalah seorang perawat, dan baru-baru ini mengunjungi unit luka bakar di rumah sakit tempat ia bekerja - rumah sakit yang sama yang telah "menyelamatkan"-nya setelah kebakaran.

"Ada beberapa pasien yang pernah terbakar parah di sana. Saya memberi tahu mereka tentang film ini, dan Anda seharusnya melihat bagaimana mata mereka berbinar. Mereka menyadari, 'Ada kehidupan setelah mendapatkan luka bakar.' Saya ingin dapat menunjukkan kepada orang-orang bahwa hidup bukan hanya tentang bekas luka dan operasi. Saya pulang dari tugas jaga dengan senang karena setidaknya saya membuat mereka tersenyum."

Itulah kekuatan film. Dan manusia.

Dirty God dirilis di Inggris pada 7 Juni dan Prancis pada 19 Juni.

Anda dapat membaca dalam bahasa Inggris artikel Cinema's shameful history of demonising the scarred di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait