Fotografer yang memotret sosok-sosok perempuan 'misterius'

Cindy Sherman Hak atas foto Cindy Sherman

Seorang perempuan tampak putus asa tengah bersandar ke dinding di sebuah motel kumuh, isi kopernya berserakan di tempat tidur.

Citra lain menunjukkan seorang perempuan berpakaian elegan dengan setelan jas abu-abu dan topi, memandang dengan hati-hati ke arah kiri saat dia melewati gedung pencakar langit yang menjulang di belakangannya.

Sementara foto ketiga memperlihatkan seorang perempuan dengan cemberut mengumpulkan bahan makanan yang tumpah di lantai dapurnya.

Perempuan-perempuan ini adalah karakter yang ditampilkan dalam foto-foto self portrait karya fotografer Cindy Sherman, Untitled Film Stills (1977-1980).

Karakter yang ditampilkan tampak seperti sosok dalam film-film karya sutradara Alfred Hitchcock, film-film neo wave Prancis dan neorealisme Italia. Namun, ada sesuatu yang tampak misterius.

Membeku dalam satu momen tanpa masa lalu atau masa depan, mereka membuat kita berspekulasi tentang apa yang membawa mereka ke titik ini dan ke mana mereka menuju.

"Ceritakan semua yang kamu lihat dan apa maknanya buatmu," kata Grace Kelly kepada James Stewart di film Rear Window karya Alfred Hitchcock, yang menjadi inspirasi utama dalam seri foto ini.

Seperti Sherman, karakter yang diperankan Stewart adalah seorang fotografer. Untuk sementara, dia terpaksa harus duduk di kursi roda setelah kecelakaan. Dia menghabiskan waktunya dengan mengamati tetangganya dan meramu kisah cinta, pembunuhan, dan intrik semata-mata berdasarkan dari apa yang dilihatnya.

Hak atas foto Cindy Sherman

"Saya menyukai semua adegan yang Jimmy Stewart lihat dari jendelanya — Anda tidak tahu banyak tentang karakter-karakter ini sehingga Ana mencoba mengisi bagian-bagian itu," ujar Sherman.

Film ini akhirnya mengungkap di mana Stewart melakukannya dengan benar dan salah — dan ketika melakukannya, menyoroti bahaya dari membuat penilaian berdasar penampilan semata,

Namun, dalam rentang karir lebih dari 40 tahun, di mana dia telah mengadopsi banyak identitas dari penyamaran yang dia lakukan dalam seri foto self-portrait-nya, mulai dari perempuan sosialita lanjut usia, Sherman jarang menawarkan kesimpulan seperti itu.

Hak atas foto Cindy Sherman

"Ini hampir strategis," kata Paul Moorhouse, kurator pameran retrospektif Cindy Sherman yang saat ini ditampilkan di Galeri Potret Nasional di London.

"Karyanya mengundang interpretasi dan dia berkata penting untuk melakukannya. Dia juga mengatakan itu penting bahwa itu ambigu. Ada serangkaian tanggapan berbeda yang muncul selama bertahun-tahun dan dia tidak mendukung atau menyangkal salah satu dari mereka."

Ketidakpastian yang tak henti-hentinya ini telah membuat publik dan kritik sama-sama bebas untuk menafsirkan karyanya sesuai dengan kebutuhan pribadi dan mungkin bahkan masyarakat.

Hak atas foto Cindy Sherman

Baru-baru ini, fokusnya pada dirinya sendiri sebagai subjek yang selalu berubah telah dilihat sebagai pengalaman menakutkan dari budaya kontemporer yang terobsesi pada gambar sampul majalah yang dimanipulasi melalui Photoshop.

Moorhouse sadar bahwa "ada orang-orang ini, mungkin yang lebih muda, yang akan masuk dan berpikir bahwa karya-karya ini adalah selfie dan itu akan menjadi respons karya itu terhadap mereka."

Mereka terus digambarkan seperti itu, "meskipun Cindy tidak melihat mereka dengan cara itu," tambahnya.

Di era berita bohong, orang lain akan melihat karya-karya ini sebagai peringatan atas nilai dari penampilan kita.

Feminis atau pengintip?

Wajah-wajah yang ditawarkan Sherman dalam Pink Robes and Color Studies (1981-82) bagi Moorhouse adalah "tentang psikologi dan kesenjangan yang kita rasakan antara apa yang kita lihat dan apa yang orang pikirkan dan rasakan."

Sebelumnya dia membayangkan karakternya sebagai model yang tengah telanjang dalam sebuah pemotretan.

"Dia sangat menekankan bahwa model yang menampilkan dirinya sebagai tubuh ini sebenarnya memiliki pikiran," kata Moorhouse.

Tetapi apakah pikiran itu bosan, pasrah, atau marah? Jawabannya mengatakan lebih banyak tentang pandangan kita sendiri daripada karakter fiktif di depan kita.

Demikian juga para perempuan yang secara ambigu tampak sibuk dalam Colour Study membuat mereka semakin cocok untuk menjadi wadah bagi gangguan kejiwaan dan kelelahan kita.

Hak atas foto Cindy Sherman

Seri-seri foto seperti ini telah membuat sebagian orang melihat karya Sherman memiliki agenda yang pasti feminis.

Hal ini tampaknya sangat jelas dalam Centerfolds (1981), di mana ia merongrong konvensi format dengan mengganti gambar yang menggairahkan dengan yang, dalam kata-katanya sendiri, "mungkin mengganggu rasa sakit, kesedihan, atau lamunan pribadi seseorang".

Bagi para penikmat seni kontemporer, kehadiran potret yang intens secara psikologis cenderung menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan mungkin voyeurisme.

Karena itu, tampak luar biasa bahwa para kritikus feminis pada awal 1980-an merasa bahwa gambar-gambar itu menjadi "tatapan laki-laki".

Begitu kuatnya pandangan ini sehingga Artforum, majalah yang membayarnya untuk membuat foto-foto itu, menolak untuk menerbitkannya.

Meskipun Moorhouse berpikir mereka salah, dia juga memperingatkan interpretasi feminis tentang karya-karynya.

"Anda dapat membaca karyanya dengan cara seperti itu jika Anda mau," katanya.

"Satu-satunya kesulitan adalah di jurnal Cindy sendiri, saya menemukan frasa di mana dia mengatakan sesuatu seperti 'teori, teori, teori, tidak ada yang bekerja untuk saya'. Dia juga mengatakan bahwa dia seorang feminis tetapi bukan seniman feminis."

Hak atas foto Cindy Sherman

Sherman tampaknya membuatnya lebih mudah bagi kita dengan fotografi fesyennya yang tajam, bahkan menawarkan deskripsi yang jarang tentang niatnya.

"Saya muak dengan bagaimana orang membuat diri mereka terlihat cantik ... Saya mencoba mengolok-olok fesyen," katanya.

Ini sangat jelas dalam gambar-gambar promosi yang ia ciptakan untuk pemilik butik New York, Dianne Benson pada tahun 1983.

Mengenakan wig keriting merah dan baju terusan Jean-Paul Gaultier dengan bra kerucut, karakter Sherman memancarkan kesadaran diri yang canggung, jauh dari daya pikat glamor dari citra mode konvensional.

Hak atas foto Cindy Sherman

Tetapi mengapa, Sherman terus menerima penugasan memotret? Jelas para desainer dan majalah yang mempekerjakannya, tahu betul hasil apa yang akan terjadi, berpikir mereka menganggapnya sebagai lelucon. Mungkin, seperti banyak orang lain yang melihat foto-fotonya, dia benar-benar berpikir mereka adalah lelucon.

Pada pandangan pertama, Sherman Society Portraits (2008) dapat tampak kasarnya.

Perempuan-perempuan tua yang digambarkan jelas telah kehilangan daya pikat kaum muda dan tampaknya dengan sedih mencoba mengimbangi ini dengan prosedur kosmetik yang tidak meyakinkan dan tampilan kekayaan yang mencolok.

Khusus untuk audiens yang lebih muda, belum ditandai dengan kerutan pertama mereka, karyanya bisa jadi bahan ejekan. Tetapi pemirsa yang lebih tua dapat mendeteksi rasa kesedihan.

Bagaimanapun, mereka adalah korban dari budaya yang terobsesi oleh kaum muda yang telah kita semua ciptakan. Sherman sendiri mengatakan dia merasa "sangat menakutkan ketika saya melihat diri saya pada wanita yang lebih tua ini".

Perempuan dewasa Flappers (2016-18) mungkin juga mengungkapkan keprihatinan Sherman terhadap penuaan. Mereka tampaknya menjadi bidikan publisitas untuk aktris.

Tapi ini adalah perempuan yang akan memiliki masa kejayaannya di era sunyi dan sekarang cenderung dibuat usang oleh teknologi baru dan model yang lebih muda, sebuah bacaan yang menambah tingkat kepedihan pada postur kebanggaan mereka yang ditentukan dengan tekun.

Hak atas foto Cindy Sherman

Karena tidak ada konfirmasi dari senimannya itu sendiri, makna yang kami proyeksikan ke karya Sherman akan selalu "sangat berkaitan dengan siapa kita dan dari mana kita berasal, preferensi dan nilai kita sendiri," kata Moorhouse.

Dan dengan demikian, mungkin, mengungkapkan lebih banyak tentang kita daripada niat ambigu Sherman sendiri.

"Ketika Anda mementingkan apa yang Anda lihat, Anda mungkin mundur dan berkata, 'Mengapa saya melihatnya dengan cara itu?'," Katanya.

Mungkinkah ini bacaan utama karya Sherman — seni sebagai terapi? Seperti ahli terapi yang baik, ia tetap diam dan membiarkan kami berbicara ketika kami berdiri di hadapan banyak samaran dan bertanya kepada diri sendiri, ketika Grace Kelly bertanya kepada James Stewart, "Apa yang kita lihat dan apa artinya menurut kita?"

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris darti artikel ini, Why Cindy Sherman's photos are so mysterious di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait