Terminator Dark Fate: 'Jangan kembali lagi, Arnold'

Arnold dan Linda Hak atas foto Getty Images
Image caption Terminator Dark Fate menjadi ajang reuni bintang film orisinalnya, Arnold Schwarzenegger dan Linda Hamilton.

Yah, ia bilang ia akan kembali.

Arnold Schwarzenegger membuat janji itu dalam The Terminator pada tahun 1984, tanpa menyadari bahwa "I'll be back" akan menjadi potongan dialognya yang paling terkenal, atau bahwa karakter cyborg pembunuh yang ia perankan akan menjadi peran paling penting dalam kariernya.

Menepati janjinya, ia kembali ke Terminator 2: Judgment Day pada 1991, bersama dengan sutradara dan penulis naskah film pertama, James Cameron, dan lawan mainnya, Linda Hamilton.

Setelah itu, Schwarzenegger kembali lagi untuk Terminator 3: Rise of the Machines pada 2003, Terminator Salvation pada 2009, dan Terminator Genisys pada tahun 2015.

Namun film-film sekuel tersebut semakin menjauh dari konsep sederhana dan menegangkan dalam film pertamanya. Dan sekarang, ia kembali lagi di Terminator Dark Fate.

Ada tanda-tanda bahwa film ini mungkin akan mengembalikan serial Terminator ke jalan yang benar.

Untuk pertama kalinya sejak 1991, Cameron terlibat sebagai produser dan salah satu penulis skenario, serta Hamilton kembali sebagai tokoh jagoan, Sarah Connor, meskipun ia diceritakan mati di Terminator 3.

Terminator Dark Fate bahkan dipasarkan sebagai sekuel dari Terminator 2, mengabaikan sekuel lain yang dibuat setelah itu.

Seperti Star Wars: The Force Awakens, Terminator Dark Fate menghidupkan kembali karakter lama yang dicintai sambil memperkenalkan jajaran karakter baru untuk (harapannya) generasi penggemar baru.

Setelah prolog singkat berlatar tahun 1998, cerita melonjak ke Mexico City pada tahun 2020, dan kita dipertemukan dengan trinitas khas waralaba ini: seorang warga sipil yang ditakdirkan untuk membantu manusia menggulingkan kekuasaan robot; satu Terminator yang dikirim dari masa depan untuk membunuh mereka; dan satu agen perlawanan yang dikirim untuk melindungi mereka.

Dalam hal ini, si warga sipil adalah Dani (Natalia Reyes), seorang perempuan muda yang bekerja di pabrik mobil; si Terminator adalah Rev-9 (Gabriel Luna), yang mampu memisahkan tubuhnya yang cair (seperti T-1000 di Terminator 2) dari rangka karbon fibernya; dan si agen perlawanan adalah Grace (Mackenzie Davis), seorang prajurit super hasil rekayasa genetik.

Mereka bertiga cukup asyik ditonton, tetapi sebagian besar penonton akan menunggu Arnie dan Linda muncul — dan ketika mereka akhirnya muncul, penantiannya sepadan.

Seperti karakter Laurie Strode yang diperankan Jamie Lee Curtis dalam film Halloween tahun lalu, Sarah Connor yang diperankan Hamilton sekarang berambut perak, bermuka masam, membawa senjata, dengan suaranya begitu rendah dan keras sehingga kedengaran seakan-akan seolah kebiasaan merokoknya akan membunuhnya sebelum para robot itu.

Ia adalah ikon sejak ia melangkah keluar dari mobilnya sambil membawa pistol seukuran pohon Natal.

Kemunculan Schwarzenegger lebih menyenangkan lagi. Kekakuan itu ... gaya bicara yang datar itu ... tubuh yang kekar seperti batu Stonehenge ... bahkan pada usia 72 tahun, ia lebih baik dari siapa pun dalam memerankan cyborg yang tak terhentikan (Luna tidak cukup mengancam). Dan karakternya juga cukup mengharukan, mesin pembunuh yang telah tobat dan berkeluarga.

Dengan memampatkan dua generasi karakter dalam satu film, Terminator Dark Fate hampir sama padatnya dengan The Force Awakens. Hasilnya adalah alur cerita yang berbelit-belit dan urutan aksi yang kacau dan kerap sulit diikuti.

Terlebih, banyak dari adegan tersebut terjadi di bawah cahaya redup yang suram.

Satu adegan gontok-gontokan terjadi di bawah air di tengah malam, Anda seperti menontonnya lewat kacamata hitam khas Terminator. Cameron pasti akan memperbaiki adegan itu, tapi direktur Terminator Dark Fate, Tim Miller (Deadpool), meniru Cameron dengan cukup baik.

Hak atas foto Getty Images
Image caption James Cameron terlibat dalam pembuatan Terminator Dark Fate sebagai produser dan salah satu penulis skenario.

Ia mempertahankan tempo dan nada film Terminator pertama; kejar-kejaran di jalan yang diselingi adegan tenang di motel berdebu di tengah gurun; serta keseimbangan karakter yang tangguh tapi juga letih. Singkatnya, ini terasa seperti film Terminator yang pas.

Anda bahkan bisa bilang bahwa film ini terlalu terasa seperti film Terminator yang pas, dan karena itu tidak ada gunanya. Film ini mungkin menghasilkan uang, dan tentu saja menawarkan reuni Schwarzenegger/Hamilton yang manis, tapi selain itu tidak ada alasan yang jelas kenapa Terminator Dark Fate harus ada.

Tidak ada gagasan baru tentang takdir dan kehendak bebas yang menggugah pikiran kita, tidak ada efek visual baru atau aksi yang membuat jantug berdebar-debar. Tidak ada hal baru yang belum dilakukan dengan lebih baik dalam film-film lain.

Semua keunikan yang ada bersifat kosmetik, jawaban untuk serangkaian pertanyaan yang tidak menarik. Bagaimana jika AI itu disebut Legion alih-alih Skynet? Bagaimana jika target Terminator adalah orang Meksiko dan bukan orang Amerika? Bagaimana jika orang yang melindunginya adalah perempuan daripada pria?

Terminator Dark Fate dimaksudkan untuk menjadi tak lebih dari pengulangan yang akrab — dan memang begitulah ia.

Mungkin ia tidak bisa lepas dari nasib buruknya (dark fate) sendiri. Pada tahap ini, kelihatannya membuat sekuel Terminator adalah upaya yang sama sulitnya dengan membuat sekuel Alien.

Dalam kedua kasus tersebut, ada dua episode pembuka yang hebat(episode Alien kedua disutradarai oleh Cameron), diikuti oleh rangkaian sekuel, prekuel dan spin-off yang tidak dapat menangkap kembali daya magis di awal. Dan dalam kedua kasus tersebut, ada premis film fiksi-ilmiah/horor yang sangat sederhana.

Pertahankan kesederhanaan itu dalam sekuel selanjutnya, dan yang Anda dapatkan adalah remake dengan kualitas yang lebih rendah. Perumit mitologinya, dan Anda kehilangan intensitas yang berakar dari kesederhanaan di film pertama.

Para pembuat film Terminator Dark Fate memilih opsi yang pertama – remake yang inferior – dan hasilnya tidak buruk.

Tetapi jika itu hal terbaik yang bisa mereka lakukan, buat apa repot-repot? Waralaba ini perlu diterminasi.

★★★☆☆

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Please terminate this franchise, di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait