Menghilangkan stigma tentang vagina

vagina, perempuan, museum vagina, reproduksi, seks Hak atas foto Getty Images

Sebuah museum baru dibuka di London, dan didedikasikan untuk alat kelamin perempuan. Museum ini berharap untuk membantu menghilangkan tabu dalam pembicaraan tentang vagina.

Pada 2017, Florence Schechter menemukan bahwa Islandia memiliki museum penis, tetapi tidak ada satu tempat pun di dunia yang punya padanan perempuan dari museum penis.

Maka, komunikator sains ini memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka pada bulan November lalu, Museum Vagina pun lahir di London.

Faktanya, Museum Vagina adalah proposisi yang sangat berbeda dengan museum penis.

"Penis dalam toples itu murahan," kata Schechter. "Museum kami jauh lebih bijaksana dan akan benar-benar membahas topik ini."

Pertama, catatan soal namanya. Schechter mengakui frustrasi soal bagaimana kata "vagina" sering digunakan ketika orang sebenarnya bicara tentang vulva eksternal (labia, klitoris, dan bukaan vagina), tetapi mereka membutuhkan istilah yang sudah dikenal orang.

"Banyak orang tidak tahu kata vulva, dan orang-orang tidak akan membicarakan sesuatu yang mereka tidak tahu," katanya. Sebuah Museum Vagina, terus terang, lebih menarik dan lebih mudah memulai percakapan.

Museum akan membahas soal seluruh anatomi ginekologi, bagian dalam (uterus, leher rahim, ovarium) serta bagian luar, dan mempertimbangkan keterwakilannya dalam budaya dan sejarah. Tetapi fakta bahwa Museum Vagina membutuhkan glosarium adalah bukti tentang tujuannya.

"Anatomi ginekologi adalah bagian tubuh yang sangat distigmatisasi," kata Schechter. "Museum ini adalah tempat untuk melakukan percakapan. Cara terbaik untuk melawan tabu dan stigma adalah dengan pengetahuan."

Hak atas foto Nicole Rixon
Image caption Florence Schechter membuka Museum Vagina di London.

Kita masih belum banyak bicara tentang semua bagian di antara kaki perempuan. Pembicaraan itu sering dilakukan dengan bodoh atau eufemistik, samar-samar atau malu, bahkan jika kita punya vagina sendiri.

Dan sikap budaya yang lebih luas pun pada umumnya mencibir, menyensor, jijik, mengobjektifikasi, atau menindas secara aktif.

Budaya ketakutan

Ketidakmampuan untuk berbicara tentang alat kelamin perempuan ini tentu berdampak pada seni dan budaya Barat.

Tabu dapat membuat gambar lebih kuat, tetapi juga dapat menyebabkan penggambaran yang menakutkan dari hal yang tidak diketahui, atau menghapus sebagian besar pengalaman perempuan.

Mari kita mulai dari awal: kelahiran. Di mana lukisan kelahiran dalam seni Barat? Sebelum abad ke-20, tidak ada.

Kurangnya rasa ingin tahu ini ditunjukkan oleh novelis dan penulis esai Siri Hustvedt. "Ini adalah ketidakhadiran yang menarik," katanya, menambahkan bahwa penindasan kehamilan dan kelahiran harus "terkait dengan penindasan dan ketakutan perempuan."

Ini juga tentunya berkaitan dengan tradisi melukis religius, di mana sosok perempuannya masih perawan.

Ketidaksukaan terhadap unsur-unsur mendalam direproduksi telah dikodekan menjadi seni sejak awal... "Ini adalah contoh vagina yang ditulis dari narasi budaya yang dominan," kata Emma EL Rees, Profesor Bahasa Inggris di Universitas Chester.

Sebagai penulis The Vagina: A Literary and Cultural History, Rees secara harfiah menulis buku tentang penggambaran vagina. Babnya tentang kelahiran menunjukkan bahwa, bahkan di zaman modern, sikap publik saat melihat bagian pribadi perempuan selama persalinan pun masih penuh tekanan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Instalasi seni karya Judy Chicago berjudul The Dinner Party (now in Brooklyn Museum) menggambarkan piring berbentuk vulva.

Pada 1997, lukisan seniman Inggris Jonathan Waller tentang perempuan dalam ukuran aslinya, dianggap sangat memicu stres oleh galeri, sampai dikeluarkan dari pertunjukan.

Gambar-gambar tersebut mendorong Independent pada hari Minggu menanyakan 'Apakah kelahiran adalah subjek tabu terakhir dalam seni?'

Rees memberi contoh lain yang lebih baru: pada pameran koleksi Birth Rites 2009, foto oleh Hermione Wiltshire dari bidan Ina May Gaskin berjudul Therese in Ecstatic Childbirth, yang menunjukkan ekspresi gembira seorang ibu pada saat melahirkan, berulang kali ditutup oleh pengunjung.

"Masih ada paradoks budaya dan kemunafikan di sekitar vagina," kata Rees kepada saya. "Orang-orang yang sama yang mengeluh ketika melihat foto kelahiran bayi, mungkin melihat video porno, yang artinya mereka suka dengan vagina, tetapi ketika vagina mulai melakukan hal-hal seperti mendorong bayi keluar, itu dianggap cabul."

Rees tertarik mendokumentasikan penggambaran budaya vagina, dengan alasan yang sama seperti Schechter yang ingin membuat Museum Vagina: karena masih ada begitu banyak pendiaman dan ketidaktahuan di sekitar mereka.

Salah satu pemicunya adalah sebuah pertemuan, di luar gereja di Kilpeck di Herefordshire, dengan pahatan batu yang menggambarkan perempuan membuka vulvanya.

Panduan tentang gereja dari abad ke-19 mengklaim bahwa ukiran itu adalah badut yang memegang dadanya yang terbuka . "Itu bukan badut, dan itu bukan dada!" kata Rees sambil tertawa.

Faktanya, yang dia lihat adalah 'sheela na gig', yaitu ukiran figuratif wanita telanjang yang memperlihatkan vulva berlebihan.

Kata yang akrab bagi penggemar PJ Harvey berkat lagunya dengan judul yang sama. Ukiran-ukiran itu ditemukan di gereja-gereja Norman di seluruh Eropa, dan meskipun tujuannya tidak sepenuhnya dipahami, ukiran itu mungkin berkaitan dengan mempromosikan kesuburan, kelahiran yang sehat, atau menangkal kejahatan.

Vagina otonom

Namun, dibandingkan dengan alat kelamin pria, penggambaran vulva cukup langka hingga abad ke-20. Tentu saja, organ seksual perempuan lebih tersembunyi dibandingkan dengan organ pria.

Dikombinasikan dengan kurangnya diskusi non-seksual, dan bahasa untuk menyebutnya, alat kelamin perempuan tampaknya memiliki dampak nyata pada penggambaran yang memang ada.

Saya kaget, membaca buku Rees yang sangat menarik, dan memberi banyak contoh orang yang menunjukkan vagina sebagai otonom, pemberontak, atau secara aneh tercerai dari pemiliknya, atau sebagai hal yang menakutkan dan berbahaya.

Hak atas foto Lionsgate
Image caption Dalam film Teeth tahun 2007, Toby mencoba memperkosa Dawn yang tak berdosa, namun vagina Dawn mengigit penis Toby hingga lepas.

Salah satu gambar mistik berasal dari dahulu kala: vagina dentata, yaitu vagina yang dipersenjatai dengan gigi, yang merusak atau mengebiri kelamin jantan.

"Itu adalah mitos yang punya sejarah dan pengaruh pada budaya dan peradaban berbeda, yang tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Di anak benua India dan di Amerika Selatan kita melihat cerita yang sama muncul, padahal saat itu tidak ada perjalanan trans-Atlantik," kata Rees.

Dia menambahkan bahwa dalam banyak mitos ini "ketakutan akan vagina yang tidak dimengerti, menjadi alasan untuk tindakan brutal yang ekstrem. Seperti merontokkan gigi melalui pemerkosaan atau serangan seksual yang serius."

Rees juga merujuk beberapa manifestasi modern dari ketakutan Freudian ini, tidak terkecuali film karya sutradara AS Mitchell Lichtenstein, yang berjudul Teeth.

Dalam film horor tahun 2007 itu, Toby mencoba memperkosa Dawn yang tak berdosa, namun vagina Dawn mengigit penis Toby hingga lepas. Dawn kemudian belajar menggunakan vaginanya yang kejam untuk membalas dendam pada pria pemangsa seksual.

Mitos vagina dentata ditampilkan dalam karya lucu seniman pertunjukan Annie Sprinkles, Public Cervix Announcement.

Dipentaskan secara langsung selama tahun 1990-an, dia membuka vulvanya dengan spekulum, dan mengundang penonton untuk meneranginya dengan obor, dan berbicara dengan mikrofon tentang apa yang mereka lihat.

Sekarang Anda dapat melihat itu di situs webnya. "Salah satu alasan mengapa saya menunjukkan cervix saya adalah untuk memberitahu mereka yang salah info, yang tampanya sebagian besar laki-laki, bahwa vagina maupun leher rahim tidak punya gigi. Mungkin mereka bisa tenang," kata Annie di web tersebut.

Annie membiarkan orang lain bicara tentang (atau untuk) alat kelaminnya, tetapi ada juga sejarah panjang tentang vagina yang digambarkan suka mengobrol.

Vagina digambarkan sebagai organ yang mengatakan kebenaran yang tidak dapat, tidak akan, atau tidak ingin didengar oleh pemiliknya.

"Gagasan vagina otonom adalah salah satu yang banyak saya lihat [dalam penelitian saya]," kata Rees, yang percaya bahwa ketidakmampuan umum kita untuk membahas vagina telah menyebabkan perempuan sering merasa terpisah dari anatomi mereka sendiri. Tapi ada juga tradisi dalam seni dan sastra di mana pria mengendalikan perempuan dengan memaksa vagina mereka bergumam...

Contoh-contoh Rees berasal dari puisi Prancis Abad Pertengahan, dan kisah Du Chevalier Qui fist les Cons Parler. Seorang ksatria diberi kekuatan magis oleh tiga wanita semacam-penyihir, yang membuatnya bisa bicara dengan alat kelamin perempuan.

Kekuatan itu memicu kekacauan di kastil, karena para perempuan tidak memiliki kendali: apa pun yang ksatria itu tanyakan, vagina mereka akan menjawab dengan kebenaran.

Vagina yang menceritakan kebenaran juga muncul dalam karya penulis Prancis abad ke-18, Denis Diderot, Les Bijoux Indiscrets. Seorang jin memberi sultan cincin ajaib yang dapat memerintahkan "bagian paling jujur" perempuan untuk berbicara kebenaran.

Sultan menggunakannya, sebagian besar untuk mempertanyakan kesetiaan perempuan, contoh jelas tentang bagaimana kecemasan pria tentang perempuan yang tidak jujur telah lama dikaitkan dengan kecemasan tentang selera seksual mereka.

Dan, tentu saja, contoh lain dari seorang pria yang secara paksa mengendalikan tubuh perempuan.

Dan tentu saja juga tidak mengherankan ketika South Park telah membuat animasi tentang berbagai bagian tubuh wanita yang bisa berbicara, biasanya untuk melemahkan kekuatan perempuan itu sendiri.

Salah satunya episode di mana Oprah Winfrey diceritakan memiliki vagina otonom yang tidak pernah terpuaskan dan menuntut lebih banyak perhatian.

Hillary Clinton, diceritakan memiliki vagina bergigi yang memakan kepala seorang pria. Kemudian lagi, film South Park, yang dibuat pada tahun 1999, menampilkan aksi alat vital yang berbicara penuh kebijakan: sebuah klitoris mistis yang penuh mitos.

Tapi vagina juga bisa berbicara untuk mendukung pemiliknya, bukan hanya menentang keinginan mereka.

Seniman perempuan Carolee Schneemann yang terkenal dengan karyanya yang dibuat tahun 1975, Interior Scroll menampilkannya melepas pakaiannya, mengeluarkan gulungan dari vaginanya, dan membacanya: teks tersebut berisi sebuah diskusi yang dilakukan Schneemann tentang pekerjaannya dengan seorang pembuat film sok yang menganggap pekerjaannya berantakan dan terlalu mementingkan perasaan.

Prinsip kenikmatan

Dari yang serius hingga yang konyol: Big Mouth dari Netflix adalah salah satu kartun lain tentang remaja yang menampilkan banyak bagian tubuh yang suka mengobrol.

Tetapi berbeda dengan South Park, komedi karya Nick Kroll tentang anak sekolah menengah yang melewati masa puber ini lebih bagus, logis dan benar-benar penuh dengan nasihat yang baik.

Rambut kelamin, hormon yang menggila, dan vagina, semuanya dipersonifikasikan.

Tetapi perlu dicatat bahwa meskipun vagina milik tokoh utamanya Jesse, adalah karakter tersediri yang terpisah darinya (disuarakan oleh Kristen Wiig), ketika ia berdialog dengan Jessi, vaginanya justru mendorongnya untuk menemukan kenikmatan-kenikmatan yang bisa mereka rasakan bersama.

"Merupakan suatu kehormatan untuk menjadi bagian dari Anda," katanya pada Jessi setelah orgasme pertama mereka. Vagina ini mempromosikan persatuan melalui kenikmatan, bukan rasa malu atau pemisahan.

Kenikmatan: fungsi yang cukup penting bagi setiap pemilik vagina - namun sayangnya tidak terlalu sering menjadi fokus seni.

Dengan vagina yang sebagian besar telah disembunyikan, selain di pornografi tentu saja, selama berabad-abad, untuk bisa terlihat saja tampaknya harus menghadapi banyak tantangan nyata ,dan karya-karya paling terkenal cenderung menarik kritik pedas dari laki-laki dan perempuan.

Ambil dua contoh paling terkenal: instalasi karya Judy Chicago pada tahun 1979: The Dinner Party dan karya Eve Ensler pada tahun 1996 berupa pertunjukkan panggung The Vagina Monologues.

Chicago menampilkan tiga meja untuk pesta khayalan yang dihadiri 39 perempuan, di antaranya adalah para dewi, ratu, dan ikon abad ke-20 termasuk Virginia Woolf dan Georgia O'Keeffe (yang lukisan bunganya sendiri sering ditafsirkan sebagai vulva yang sedang merekah, meskipun ia membantahnya).

Bersamaan dengan piala-piala emas, serbet bersulam dan pelari, ia menampilkan piring-piring yang berbentuk vulva individual seperti kupu-kupu abstrak

Ini adalah karya yang monumental, tetapi menimbulkan cemoohan dari kritikus seni laki-laki ketika dibuka dan selama bertahun-tahun setelahnya (kritikus seni Los Angeles Times menyebutnya sebagai "tumpukan kecerobohan murahan"; New York Times kemudian juga meyebutnya sebagai sesuatu yang kasar, vulgar, dan mendikte).

Karya ini juga menimbulkan kemarahan beberapa feminis yang mengklaim ia merendahkan perempuan dan pencapaian mereka dengan hanya berfokus pada alat kelamin mereka.

Museum akhirnya membatalkan pameran itu, sehingga Chicago harus bersusah payah untuk menemukan tempat bagi karyanya (di Museum Brooklyn sejak 2007), dan akhirya berdampak pada membebani kariernya.

Namun karya itu justru sangat populer di kalangan publik yang mengunjungi galeri, dan terutama pengunjung perempuan.

Chicago tentu saja telah memuaskan dahaga, sebuah kebutuhan, dengan The Dinner Party.

Dan Anda bisa mendapatkan hal yang sama dari karya Ensler, The Vagina Monologues, sebuah karya yang diambil dari wawancara yang dilakukan Ensler dengan perempuan mulai dari anak gadis berusia enam tahun hingga nenek berumur 70-an tahun, dari korban perang Bosnia hingga pekerja seks untuk wanita, yang menyentuh topik tentang seks, menstruasi, body image, pemerkosaan dan mutilasi alat kelamin wanita.

Tidak semuanya suram: monolog juga menampilkan seks yang menyenangkan dan orgasme-berulang.

Pertunjukan Ensler telah menjadi fenomena internasional, ditampilkan di seluruh dunia pada 14 Februari setiap tahun, juga dikenal sebagai V Day, sebuah inisiatif yang dimulai oleh Ensler untuk mengumpulkan dana untuk gerakan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.

Ini adalah ide feminis yang juga terbukti cocok untuk selebritas: semua orang dari Alanis Morrissette hingga Glenn Close sampai Oprah Winfrey telah mencoba untuk tampil di dalamnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Eve Ensler, The Vagina Monologues

Meski begitu, hiper-visibilitas pertunjukan Ensler juga telah menuai kritik yang tampaknya tak ada habisnya: ia dianggap terlalu sombong, sempit, radikal, esensialis, kolonial, atau mungkin hanya sekadar terlalu sukses.

Tapi apa pun yang dilakukan orang pada Ensler, pertunjukan itu benar-benar membantu membawa percakapan tentang vagina ke level publik.

Dan memang terasa sepertinya kita mungkin telah bergerak ke era di mana kita bisa melihat lebih banyak penggambaran, tidak hanya organ seksual perempuan, tetapi juga kenikmatan seksual perempuan.

Seniman di abad ke-21 tampaknya dapat menggambarkan vagina tanpa harus menjadi traumatik atau tabu.

Ambil contoh penulis dan aktor dari Inggris, Bella Heesom, yang menurut The Guardian "dapat dianggap sebagai pewaris milenium Ensler" berkat acaranya Bersukacita di Vulvanya yang Mengagumkan, Perempuan Muda Memuja Dirinya Sendiri, yang mendorong perempuan untuk mencintai diri mereka sendiri juga.

Dipentaskan di London awal tahun ini, acara itu melibatkan hiasan kepala berupa klitoris yang menyala, dan menampilkan kenikmatan masturbasi dan orgasme di atas panggung.

Dalam seni visual, Ghada Amer yang berbasis di New York menggunakan sulaman dalam gambar-gambarnya yang berwarna-warni tentang masturbasi perempuan; dia berharap jarum-dan-benang dapat membawa kelembutan pada gambar-gambar yang "diabaikan obyektifikasi sederhana".

Karya Tschabalala yang berani dan penuh warna juga memadukan kolase dan menjahit, menghadirkan perempuan kulit hitam yang kuat dan percaya diri, sering kali membuka paha lebar atau bokong berlekuk untuk menyingkap alat kelamin mereka, hati yang penuh warna, mungkin, atau ledakan pelangi.

Musik pop juga melakukan hal yang sama: video musik selalu sugestif secara seksual, tetapi baru-baru ini banyak artis perempuan memainkan musik dengan sindiran visual yang tegas untuk memperjelas bahwa mereka bernyanyi tentang kenikmatan mereka sendiri.

Misalnya video Ariana Grande untuk 2018 lagu God is a Woman, di mana ia menggeliat sensual di berbagai kolam, api, dan liang (perempuan) - dan pada satu titik didukung oleh paduan suara berang-berang asli yang berteriak (Beaver = berang-berang tapi bisa juga berarti vagina).

Tidak heran video itu adalah salah satu penggambaran budaya pop favorit Schechter: "cukup jelas bagi semua orang bahwa: itu ode ke vulva," katanya.

Mengapa vagina tidak bisa lucu?

Atau lihat juga video fantastis Janelle Monae untuk Pynk tahun lalu, nyanyian pujiannya untuk "cinta- diri sendiri, seksualitas, dan kekuatan vagina".

Monae dan penari perempuannya tampil mengenakan celana panjang seperti vulva, dan video itu dipenuhi figur merah muda pengganti untuk vagina: seperti milkshake, es krim sundae, tiram, dan grapefruits.

Dia bukan satu-satunya yang mencitrakan buah-buahan secara sensual. Artis yang berbasis di LA Nevine Mahmoud membuat patung-patung cantik dari marmer dan pualam yang entah bagaimana terlihat hangat dan sensual: buah persik berpisah untuk mengungkap sekilas batu, bunga lili yang dilipat dengan lembut (yang oleh Mahmoud dianggap "bunga paling erotis" "), dan daun miring yang disebut Fig/Vagina.

Potensi erotis buah juga dieksploitasi secara brilian dalam video artis multimedia Amerika Stephanie Sarley: dia dengan lembut menggosok potongan buah menjadi setengah bulatan dalam gerakan melingkar - lalu memasukkan jari-jarinya sampai mereka menyemprotkan air.

Mereka tampak megah dan konyol, dan juga mengungkapkan bahwa, bahkan sekarang, ide tentang ejakulasi perempuan bisa menjadi kontroversial.

Dalam satu bulan di 2016, Instagram memblokir dan mengembalikan akun Sarley tiga kali. Buah jeruk berdarah khususnya adaah yang menarik banyak kritikan, meskipun tujuan Sarley adalah mempromosikan penerimaan yang lebih besar terhadap seksualitas perempuan melalui humor.

Tetapi usaha para seniman setidaknya mencoba untuk menunjukkan bahwa organ seksual perempuan dapat menjadi lucu dengan cara yang sama seperti yang sering terjadi pada penis, jelas merupakan perkembangan yang menggembirakan.

Artis pertunjukan Inggris, Lucy McCormick, juga telah mendapat reputasi untuk pertunjukan-pertunjukannya yang eksplisit dan menarik, yang memunculkan ekspektasi konyol akan seksualitas perempuan yang dapat menjadi pertunjukan.

"Tubuh perempuan sering kali ditawarkan sebagai murni seksual, itu bisa menjadi kebebasan untuk merayakan fungsi tubuh yang aneh, mengherakan dan sering lucu," katanya.

Pertunjukannya saat ini, Post-Popular, misalnya, menunjukkannya menerjemahkan ide mencari pahlawan di dalam diri Anda secara harfiah: ia mengeluarkan Miniatur Hero dari Cadbury dari vaginanya, dan memakannya.

Artis visual lain yang secara eksplisit menggunakan humor adalah Megumi Igarashi, yang dikenal sebagai pembuat "perahu vagina": sebuah kano yang dibuat sesuai dengan pemindaian 3D vulvanya.

Tetapi pada tahun 2014, ketika mencoba mengumpulkan dana untuk membuatnya, dia mendapatkan masalah: Igarashi ditangkap di negara asalnya Jepang setelah menjual data yang memungkinkan orang membuat cetakan 3D vaginanya.

Dia didenda 400.000 yen - sekitar 2.575 poundsterling saat itu- karena mendistribusikan gambar-gambar cabul, meskipun bersikeras bahwa dia tidak bersalah. Pembelaannya tepat: dia menolak untuk menerima bahwa "karya seni yang berbentuk alat kelamin perempuan adalah cabul."

Penyensoran seperti itu membuktikan kita masih jauh dari perasaan nyaman dengan topik vagina seperti bagaimana seharusnya, bahkan jika penggambaran kreatif vagina dan vulva dalam semua kejayaan yang beragam - berantakan, konyol, lucu, seksi, cantik, dan berdaya, tampaknya semakin meningkat dapat dibicarakan. Belum lagi, akhirnya, diberi museum sendiri.

Contoh yang lebih baru dari kisah alat kelamin yang suka mengoceh adalah film komedi AS berjudul Chatterbox keluaran tahun 1977, dimana vagina milik Penelope, tokoh utama perempuannya, yang diberi nama Virginia mulai berbicara dan bahkan bernyanyi.

Meskipun Penelope khawatir vaginanya adalah "monster kecil bermulut kotor" yang hanya ingin berhubungan seks sepanjang waktu, Virginia segera menjadi bintang.

Sekali lagi, ada keterputusan antara seorang wanita dan vaginanya: film ini menegaskan gagasan bahwa vagina lebih bebas dan lebih jujur daripada pemiliknya, sementara Penelope sendiri harus menderita malu dalam diam.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di How vaginas are finally losing their stigma di laman BBC Culture

Berita terkait