Mana yang lebih kuat di Instagram: Foto atau teksnya?

instagram caption teks Hak atas foto Getty Images
Image caption Bagaimana membuat teks atau caption Instagram yang baik dan mengundang interaksi?

Dengan jumlah 'likes' yang kini disembunyikan oleh Instagram, keterangan foto menjadi semakin penting untuk platform media sosial yang sangat visual ini.

Teks tulisan yang menyertai foto-foto 'Instagramable' Anda bisa bernada lucu atau serius, pendek atau panjang, sedikit julid atau mencela diri sendiri, atau mengandung permainan kata: "Dan sekarang kita FRIENDS di Instagram juga," kata Jennifer Aniston.

Atau Anda lebih memilih menuliskan keterangan foto yang tanpa tedeng aling-aling: "Selamat Hari Halloween semuanya," kata Christiano Ronaldo. Bisa juga ajakan konyol: "Mari memecahkan rekor dunia bersama dan membuat unggahan ini paling disukai di Instagram," baca tulisan yang menyertai sebuah foto telur.

Meskipun foto masih menjadi jualan utama di platform media sosial yang sangat visual ini, beberapa baris teks bisa membuat perbedaan yang sangat besar.

Ke depannya, kekuatan teks bahkan bisa semakin bertambah, seiring fitur baru yang digulirkan Instagram; menyembunyikan jumlah 'likes' dari pengguna lain. Hanya pemilik akun saja yang bisa melihat berapa orang yang memberikan tanda hati, menurut Instagram, untuk mengurangi rasa kompetisi dan memberi dampak positif pada kesehatan mental.

Fitur baru ini sempat menjadi kontroversi, setelah sejumlah influencer dan selebriti mengatakan pekerjaan mereka akan jadi lebih sulit. Pakar media sosial kemudian menyatakan fokus banyak pengguna Instagram akan beralih dari 'likes' kepada teks yang menyertai foto, dan kepada komentar-komentar di bawahnya.

Dari kata-kata bijak hingga pengakuan terdalam, teks foto akan menyaring mana influencer yang bisa bertahan. Namun seberapa besar kekuatan teks di Instagram? Dan bagaimana melakukannya dengan sukses?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam video Instagram yang kemudian menjadi viral, penyanyi hip-hop America Cardi B berkata bukan jumlah 'likes' yang buruk bagi kesehatan mental, melainkan teks yang menyertai foto.

Kekuatan kata-kata

Pencarian di mesin Google menunjukkan bahwa cara membuat keterangan foto yang indah cukup populer. Bahkan, ada pula situs yang memberikan pilihan untuk segala situasi: misalnya, untuk tema pertemanan ("Kamu yin untuk yang-ku"), tema olahraga ("Lebih kuat dari hari kemarin"), dan tema makanan ("Tapi sebelumnya, kopi").

Kebanyakan, tentu saja, sangat berguna bagi pengguna Instagram amatir yang sering kebingungan menyertakan keterangan apa untuk foto mereka, sehingga membutuhkan sedikit inspirasi. Tentu saja ada sisi serius dari fenomena ini: jika Anda menggunakan Instagram sebagai bagian dari bisnis atau pekerjaan, Anda pasti sudah tahu bahwa teks keterangan bukan tempat untuk mengobral emoji. Ini adalah tempat untuk menarik banyak orang berinteraksi dengan unggahan Anda.

"Saya sering menggunakan teks dan foto-foto indah untuk menyampaikan kebenaran yang sulit diterima, seperti saat ada larangan keluar rumah atau lockdown di Kashmir," kata Siddharta Joshi, seorang fotografer yang berasal dari Mumbai. Dalam unggahannya, teks memberikan informasi tambahan yang tidak bisa dilihat dari foto saja. Ini mengundang perhatian lebih kepada orang lain yang melihat akunnya. Meski demikian, Joshi tetap menganggap foto lebih penting ketimbang teks.

Teks juga sebaiknya tidak dipikirkan belakangan; karena mereka memberi konteks dan membentuk suara Anda, semua ini bisa membantu Anda mendapatkan lebih banyak pengikut.

"Seperti ceri di atas kue," kata seorang influencer asal Chicago, Mariko Dennis, yang memakai Instagram untuk mempromosikan bisnis perhiasan miliknya. Buat Dennis, teks berguna untuk membangun koneksi dengan pegikutnya, membiarkan mereka "lebih mengenal diri Anda dan proses kreatif serta pemikiran Anda, alih-alih hanya melihat Anda dari penampilan fisik saja."

Bagi para influencer, teks adalah tenaga yang bisa menaikkan engagement: sesuatu yang menentukan hidup dan mati mereka. Engagement dinilai dari jumlah orang yang memberikan 'like', komentar, atau membagikan unggahan Anda. Bila orang hanya melihat sekilas konten Anda, maka tidak masuk hitungan.

Semakin tinggi engagement Anda, semakin besar peluang merek-merek menghubungi influencer untuk melakukan kerjasama promosi.

"Di instagram, foto yang indah akan membuat pengguna lain berhenti dan mengamati. Tapi, teks-lah yang mengundang engagement," kata Stephanie Cartin, co-CEO di Socialfly, sebuah perusahaan agensi di New York City yang menghubungkan influencer media sosial dengan perusahaan-perusahaan. "Berbagi kisah-kisah personal, meminta umpan balik spesifik, atau melontarkan pertanyaan ringan adalah cara terbaik untuk memulai diskusi."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Teks pada foto ini meminta pengguna lain memberikan 'like', sebuah usaha untuk menjadi unggahan paling banyak disukai di Instagram — dan berhasil.

Para analis menunjukkan bahwa foto-foto di Instagram yang disertai keterangan atau teks mendapatkan interaksi yang lebih tinggi ketimbang yang tidak. Socialbakers, sebuah firma marketing media sosial internasional, melihat data dari enam perusahaan media besar, di antaranya BuzzFeed dan HuffPost, dan menemukan bahwa unggahan foto yang ditambahi teks di atas foto menarik 41% lebih banyak interaksi dari rata-rata di sepanjang 2017. Untuk orang pemasaran, "dialog menjaga komunitas tetap hidup, sehingga teks yang kuat memberi nilai tambahan," kata Cartin.

Sebuah cara untuk berhubungan

Salah satu kekuatan teks adalah caranya menyuburkan komunitas. Para ahli beranggapan, kata-kata menjembatani kita dan pengikut, sehingga ada hubungan yang lebih personal di sana.

Paul Benzon, profesor Bahasa Inggris di Skidmore College, New York, yang mempelajari budaya internet dan identitas digital, berkata bahwa teks melekatkan kita dengan orang lain. Itu adalah salah satu alasan mengapa media sosial sangat adiktif.

"Ada gagasan bahwa media sosial membuat keberadaan kita, pengguna lain, dan selebritis sejajar. Sementara, influencer adalah orang yang mencari uang dengan melakukan itu," ujar dia. "Maka, sebagian besar tugas mereka adalah membuat orang tertarik dan berinteraksi dengan konten."

Teks Instagram seperti apa yang dianggap bagus? Beberapa menyarankan agar teks berisi undangan supaya orang lain menyukai atau menge-tag konten, menggunakan emoji dan tagar, memutuskan apakah teks akan super panjang atau super pendek, dan membuat draft beberapa kali sebelum mengunggah.

Beberapa selebriti, seperti Lena Dunham dan Taylor Swift, biasa membuat "megacaption", yang berisi pemikiran atau pengalaman yang super-personal.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Teks keterangan dalam unggahan pertama Ratu Elizabeth di 2019 ini memiliki gaya narasi, menceritakan kisah di balik surat tua untuk Pangeran Albert.

Teks semacam ini sejalan dengan tren yang semakin meningkat, di mana para selebritis dan influencer semakin rentan dan terbuka soal isu kesehatan mental dan perjuangan pribadi mereka mengatasinya.

Di sisi lain, teks yang mengundang komentar ini bisa menjadi bumerang. Rapper Amerika Cardi B, yang memiliki 54 juta pengikut di Instagram, mengkritik keputusan Instagram menyembunyikan jumlah 'likes', dan berkata bahwa komentar-komentar netizen-lah yang sebenarnya problematis di Instagram, terutama karena pengguna pun bisa memberikan 'likes' dan balasan di bawah komentar individual.

Para pengguna Instagram, ujarnya melalui video, telah "menuliskan argumen-argumen paling gila, memulai debat kusir, semua karena mereka ingin komentarnya berada paling atas dan mendapatkan banyak reaksi."

Beberapa media setuju dengan Cardi. Begitupun sejumlah pengguna lain, yang menyatakan Instagram seharusnya lebih fokus menghapus akun-akun bot atau troll, ketimbang menyembunyikan 'likes'.

'Microinfluencer'

Beberapa analis media sosial, seperti AdExchanger di New York, memprediksi ketika 'likes' tidak lagi menjadi ukuran, justru orang-orang yang lebih tidak terkenal dari Kylie Jenner dan Justin Bieber diuntungkan.

"Fitur ini memaksa bisnis memunculkan lebih banyak 'microinfluencer' — yakni orang-orang dengan pengikut yang setia — ketimbang selebritis yang mendapatkan banyak 'likes' tapi tak punya koneksi personal dengan pengikutnya," ujar AdExchanger di blog mereka.

"Nilai seorang influencer sangat tergantung pada komunitas yang berhasil mereka ciptakan," ujar Cartin.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Are Instagram captions more powerful than pics? pada laman BBC Worklife.

Berita terkait