The Rise of Skywalker: Star Wars yang itu lagi-itu lagi

Rey (Daisy Ridley), Poe (Oscar Isaac), dan C-3PO (Anthony Daniels) dalam The Rise of Skywalker. Hak atas foto Lucasfilm Ltd.

"Akankah penderitaan ini berakhir," keluh C-3PO dalam Star Wars Episode IX: The Rise of Skywalker, dan Anda paham mengapa ia berkata begitu.

Bukannya film ini membuat penontonnya menderita. Film terbaru dalam waralaba Star Wars adalah space opera epik yang penuh aksi dan menegangkan, dengan desain produksi dan efek visual yang wah, dan kombinasi yang pas antara kemuraman dan humor. Tapi wajar bila Anda sudah bosan jauh sebelum ceritanya selesai.

Seperti halnya dua episode pertama dalam trilogi Star Wars ketiga yang menjiplak dua episode pertama trilogi orisinal dari tahun 1970-an dan 80-an, episode pemungkas ini menjiplak The Return of The Jedi pada 1983. Masalahnya, The Return of the Jedi adalah kesimpulan yang memuaskan dari hikayat Star Wars, menyelesaikan semua elemen cerita yang perlu diselesaikan.

Yang dilakukan The Rise of Skywalker ialah menyelesaikan semuanya untuk kedua kalinya, menjawab pertanyaan yang sama dan membahas kembali tema yang sama. Ini adalah sebuah encore yang canggung dan tidak perlu; ibarat Anda mengucapkan selamat tinggal kepada seorang kawan, kemudian bertemu mereka lagi dan harus mengucapkan selamat tinggal lagi.

Faktor lainnya ialah episode sebelumnya, The Last Jedi arahan Rian Johnson, menyubversi dan mengomentari ceritanya sejauh ini. Ia mencoba sesuatu yang baru dan menantang — dan para penggemar tak henti-henti mengeluhkannya di internet sejak itu. Namun The Rise of Skywalker menandai kembalinya JJ Abrams, yang mengarahkan The Force Awakens, dan Abrams bertekad untuk memberi para penggemar semua yang mereka inginkan dan harapkan.

Seperti halnya film pemungkas blockbuster lainnya di tahun 2019, Avengers: Endgame, film ini memang tidak berniat memikat penonton kasual. Film ini mengajak para penggemar setia bersorak pada setiap slogan; setiap pengulangan melodi klasik gubahan John Williams; setiap kemunculan karakter favorit.

Ngomong-ngomong soal itu, Abrams membawa kembali Billy Dee Williams, yang masih sekarismatik dahulu dengan perannya sebagai Lando Calrissian. Dia juga membawa kembali karakter Palpatine (Ia McDiarmid), kaisar jahat yang dibunuh oleh Darth Vader – atau sepertinya begitu – pada akhir Return of the Jedi.

Bahkan sebenarnya, Palpatine masih hidup dan berjaya, serta memanipulasi para karakter dalam dua film sebelumnya dari balik layar — sebuah kecurangan naratif, yang hampir sama menyebalkannya dengan ketika dalam film Spectre, Blofeld (Christoph Waltz) ternyata bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada James Bond (Daniel Craig).

Hak atas foto Getty Images
Image caption J.J. Abrams, sutradara The Force Awakens, kembali mengarahkan episode pemungkas dari trilogi Star Wars baru.

Palpatine bahkan punya waktu untuk mengumpulkan armada pesawat luar angkasa raksasa yang akan memusnahkan kelompok pemberontak Resistance selamanya, kecuali seseorang bisa menemukan tempat persembunyiannya di sebuah gua bawah tanah. Tentu saja, orang yang tepat untuk tugas itu adalah Rey (Daisy Ridley) seorang Jedi trainee, Poe (Oscar Isaac) si pilot jagoan, dan Finn (John Boyega) si Stormtrooper tobat, bersama Chewbacca (Joonas Suotamo) dan C-3PO (Anthony Daniels).

Para penggemar akan senang melihat mereka berkumpul kembali. Tapi untuk menemukan Palpatine, Rey dan kawan-kawan pertama-tama harus menemukan sebuah aksesori berbentuk piramida. Dan untuk menemukan pernak-pernik itu mereka harus terlebih dahulu harus menemukan belati ajaib. Dan untuk menerjemahkan tulisan yang terukir pada belati mereka harus menemukan seorang mekanik, Poe.

Jalan cerita ala video gim ini begitu dibikin rumit dan pada akhirnya sia-sia. George Lucas mungkin bakal membuangnya saat membuat trilogi prekuel bertahun-tahun lalu. Tapi mungkin lebih akurat mengatakan bahwa Abrams dan para rekan penulisnya telah mengabaikan jalan cerita sepenuhnya. Mereka hanya tertarik untuk menjejali film ini dengan sebanyak mungkin material Star Wars selama kurang-lebih dua jam.

Ingat bagaimana trilogi pertama punya robot kecil imut-imut bernama R2-D2, dan kemudian trilogi baru memperkenalkan robot yang lebih kecil dan lebih imut bernama BB-8? Yah, The Rise of Skywalker memperkenalkan robot lain yang lebih kecil dan lebih imut lagi, memunculkan pertanyaan akan seberapa kecil dan imut robot yang menjadi sidekick ketika Disney kembali meluncurkan trilogi Star Wars di masa depan.

Film ini dijejali dengan begitu banyak karakter dan latar sehingga tidak satu pun dari mereka punya cukup waktu untuk meninggalkan kesan. Betapapun saya senang melihat Richard E. Grant berjalan-jalan di sepanjang koridor yang mengilap sebagai tokoh antagonis bernama General Pryde, ia tidak diberi ciri kepribadian apapun kecuali 'pride' (keangkuhan) di namanya, itu pun saya tidak yakin.

Sebagai ganti momen yang unik dan berkesan, The Rise of Skywalker memperdaya kita dengan yang familier. Nih satu lagi planet gurun; nih satu lagi planet hancur; satu lagi duel lightsaber; nih satu lagi tembak-tembakan di udara antara kawanan TIE Fighters dan X-Wing Fighters.

Dan ini dia satu lagi mitologi ala Harry Potter tentang Jedi dan Sith, ditambah penekanan tentang karakter mana yang terkait dengan karakter lain.

Semua fan service ini berujung pada persoalan yang luar biasa tidak menarik tentang apakah Kylo Ren (Adam Driver) dan Palpatine bisa menggoda Rey untuk menerima Dark Side of The Force. Yah, bagaimana menurut Anda? Kalau Anda sudah menonton Return of the Jedi, Anda tahu bagaimana akhirnya karena Anda sudah pernah melihatnya.

Meski demikian, film ini tampak elok, penampilan para aktornya baik, dan memberi pesan positif tentang jangan pernah menyerah. Tapi kesan utama yang ditanamkan pada penonton ialah rasa hormat pada imajinasi George Lucas yang tak tertandingi.

The Rise of Skywalker dibuat dengan penuh cinta oleh sekumpulan orang berbakat, tapi hal terbaik yang bisa mereka lakukan hanyalah memberi penghormatan untuk semua dilakukan Lucas berpuluh-puluh tahun yang lalu.

★★★☆☆Tiga bintang dari lima.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Film review: Star Wars The Rise of Skywalker pada laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait