Mengapa orang Prancis begitu anggun?

Paris Hak atas foto Getty Images

Dari Marie Antoinette sampai adibusana di masa kini, Prancis terus mendominasi dunia fesyen. Joobin Bekhard menelusuri alasan mengapa, sebagai sebuah bangsa, Prancis menjadi pusat mode yang tidak terbantahkan.

"Mengunjungi Paris merupakan impian saya," kata perancang Kenzo Takada, saat mengenang kala ia berangkat ke sana lewat jalur laut sebagai pemuda yang penuh impian di usia 20 tahun.

Pendiri merk terkenal dunia, Kenzo - yang kantor pusatnya terletak di ibu kota Prancis - mengakui bahwa meski London pada pertengahan tahun 1960-an merupakan tempat yang "sangat dinamis dan menarik", tetapi bukan ibu kota Inggris itu yang berseliweran di alam imajinasinya, melainkan Paris.

"Ketika saya tumbuh dewasa di Jepang, dan ingin memasuki industri ini, fesyen benar-benar ada di Paris… Saya terdorong untuk pergi ke ibu kota mode itu."

Takada tidak sendirian. Terlepas dari kenyataan bahwa Paris bersaing dengan London dan New York, begitu juga dengan kenyataan bahwa 'Zaman Keemasan' adibusana Prancis telah berakhir dekade sebelumnya, di akhir tahun 1950-an.

Pada waktu itu banyak yang percaya bahwa Paris masih menjadi pusat mode dunia. Tampaknya tidak banyak perubahan.

Sama seperti label eponim Takada yang masih terletak di Kota Cahaya, maka Paris - pusat perhatian dalam sebuah pameran yang sedang berlangsung di Fashion Institute of Technology, New York - terus dianggap sebagai ikon dunia mode.

Tetapi kenapa? Apa yang membuat orang-orang Prancis begitu anggun?

Hak atas foto The Museum at FIT
Image caption Keanggunan Prancis berputar di sekitar gambaran perempuan Paris yang ideal dan elegan.

Sebenarnya di luar Paris, tepatnya di dekat Versailles, kisah fesyen Prancis benar-benar dimulai. Selama masa kekuasaan Louis XIV (1643-1715), istana banyak berinvestasi dalam bidang seni - dan fesyen.

Para pengunjung ke Versailles akan terpesona oleh "Raja Matahari" itu sendiri, tetapi juga pada para bangsawan dan gundik istana yang menetapkan tren di Prancis dan di luar negeri.

Menurut Dr. Valerie Steel, kurator Paris, Capital of Fashion dan editor buku yang juga menyertai pameran ini, penekanan pada mode ini jauh lebih dari sekedar estetika.

"Pertunjukan kekuasaan sangat penting," katanya pada BBC Designed.

"[Louis XIV] sangat ingin memastikan bahwa penampilannya dan penampilan para abdi dalemnya sesuai dengan gagasannya sebagai raja yang modern, kuat dan beradab - tidak lagi sekedar raja pejuang dari Abad Pertengahan, tetapi 'Raja Matahari' yang nyata, dengan segala macam konotasi mitologis. Dan tentu saja mode dan busana upacara… adalah bagian utamanya."

Investasi busana Louis XIV sangat luar biasa, dan dia dipandang sebagai teladan monarki.

"Semua orang [ingin] terlihat dan bertindak seperti [dia]," kata Steele.

Namun, bukan hanya soft power dan branding budaya yang diperhatikan oleh Louis XIV. Dalam bidang fesyen, dia dan menteri keuangannya, Jean-Baptiste Colbert, melihat potensi ekonomi yang sangat besar juga.

Oleh karena itu, secara bersama-sama mereka berusaha untuk mencegah persaingan dengan negara lain dan melindungi industri tekstil lokal, yang mereka beri bantuan dana dalam jumlah besar.

"Colbert mengatakan bahwa 'bagi Prancis, mode akan menjadi seperti tambang emas Peru untuk Spanyol,'" ujar Steel.

"[Keyakinan] ini kemudian menjadi pusat agenda ekonomi mereka yang luar biasa, karena tiga setengah abad kemudian hal itu masih tepat: [mode] adalah pilar ekonomi Prancis."

Hak atas foto The Museum at FIT

Setelah kematian Louis XIV, pada abdi dalem di Versailles, mulai lebih banyak menghabiskan waktu di Paris.

Ditambah dengan munculnya ikon mode seperti Marie Antoinette, hal ini membuat semakin banyak orang mengasosiasikan Paris dengan "mode dan kesenangan sensual", seperti yang ditulis Steele dalam buku pameran.

Revolusi Prancis mungkin telah menyebabkan isu ini reda sejenak, tetapi, berkat gaya kaum merveilleuses (anggota dari subkultur para aristokrat modis di masa pasca-Revolusi) yang gagah dan menakjubkan, tidak ada yang melupakan fesyen.

Hanya masalah waktu sebelum Ancien Régime akan terlihat kembali - setidaknya dalam hal gaya - dengan nostalgia dan kekaguman.

Kekuatan busana

Meski gelar negara adidaya terbesar di dunia beralih ke Inggris, superioritas dalam hal mode - dan semua bentuk budaya tinggi - tetap bertahan lama setelah jatuhnya kekuasaan Kekaisaran Pertama Prancis.

Berbeda dengan London, yang unggul di busana laki-laki, Paris berfokus pada pakaian perempuan. Mode Prancis berputar di sekitar gagasan la Parisienne - perempuan Paris yang ideal, modis, berbudaya dan cerdas - dan Paris sendiri dirujuk dalam bentuk feminin, dan bahkan merupakan antropomorfis sebagai perempuan.

Tetapi untuk semua prestise dan kemasyurannya, fesyen Prancis beroperasi dalam skala kecil sampai desainer Inggris, Charles Frederick Worth, mendirikan toko di Paris pada pertengahan abad ke-19.

"Kamu punya banyak penjahit," kata Steele, "tapi… kebanyakan mereka adalah pengrajin kecil".

Hak atas foto The Museum at FIT
Image caption Kostum mewah yang dikenakan dalam film Marie Antoinette produksi MGM pada 1938.

Worth merevolusi industri mode Perancis dengan memperkenalkan konsep grande couture. Untuk pertama kalinya di negara ini, adibusana diproduksi dalam skala besar.

Namun Worth, yang juga mendirikan Chambre Syndicale untuk mengatur dan menyediakan kerangka kerja bagi industri mode Prancis, kemudian tidak berbicara tentang grande atau couture skala besar, tetapi haute (artinya 'high') couture.

"Hal itu," kata Steele, "jelas merupakan cara untuk membedakan (grande couture) dari kebangkitan simultan, putaran pertama pakaian siap pakai, dijual di pusat perbelanjaan di Prancis… Dia mengklaim bahwa [adibusana/haute couture] adalah bentuk seni dan bahwa dia seorang seniman."

Adibusana masa kini sering digunakan sebagai istilah untuk pakaian mewah secara umum, tetapi di Prancis - dan dalam komunitas fesyen umumnya - hal itu merupakan sebutan khusus bagi para perancang yang memenuhi kriteria yang tepat.

Juga bertentangan dengan pendapat umum, karya adibusana tidak mesti selalu satu-satunya. Adibusana tidak unik," kata Steele.

"Karya itu memang dibuat khusus untuk tubuh Anda, tetapi tidak unik."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lily-Rose Depp dalam adibusana Chanel dalam peragaan busana musim semi/musim panas tahun 2017 di

Dengan semangat Louis XIV, sekali lagi Prancis memanfaatkan adibusana sebagai sarana unjuk soft power setelah kekalahan mereka dari Jerman dalam Perang Prancis-Prusia (1870-1871) dan Paris Commune (1871), ketika pemerintah sosialis revolusioner secara singkat merebut kekuasaan.

Meskipun jelas-jelas bukan lagi kekuatan ekonomi atau politik penting, setidaknya Prancis memiliki budaya dan pakaian mereka.

"Hal itu.. bukan kebetulan," tulis Dr David Gilbert dari Royal Holloway University dalam sebuah esai yang berjudul Paris, New York, London, Milan: Paris and World Order of Fashion Capitals.

"Itu merupakan promosi besar-besaran sistem couture… setelah penghinaan militer atas Perang Prancis-Prusia dan selanjutnya trauma dari 1871 Commune."

Gilbert melanjutkan dengan mengatakan bahwa "fesyen Paris.. di bawah pemerintahan Republik Ketiga… adalah bagian dari kembalinya kekuasaan Prancis dan pengaruhnya di luar negeri."

Hak atas foto Guy Marineau
Image caption Koleksi musim gugur/musim dingin 2000-2001 adibusana Christian Dior menyebarkan fesyen ala bangsawan yang bersejarah.

Dan dalam upaya kembali memastikan diri mereka di panggung dunia, seperti yang dikatakan Steele, "[menyamakan] Prancis [dengan] peradaban dan Jerman [dengan] kebiadaban, [yang] menjadi bagian dari etos Prancis yang sudah lama ada."

Orang-orang Prancis telah membuat 'Raja Matahari' bangga. Bahkan setelah kehancuran berat yang disebabkan oleh dua perang dunia, New York, sebagai pusat ekonomi dunia yang tidak terbantahkan, mengambil sebagian besar contoh fesyen dari Paris pada awal dan pertengahan abad ke-20.

"The Chambre Syndicale," tulis Gilbert, "...mempromosikan selera luar biasa dari para perempuan Paris. Tetapi kekuatan yang sebenarnya berasal dari cara mengulang ide ini, seringnya tanpa kritik seolah-olah merupakan kenyataan yang alamiah, di dalam dunia fesyen, promosi dan media memiliki basis di kota-kota besar lainnya.

Dan tidak ada yang lebih kuat dan lebih penting, baik secara lokal maupun untuk wilayah mode yang lebih luas daripada di 'ibukota abad ke-20', kota New York."

Hak atas foto YOSHIKAZU TSUNO/AFP
Image caption Busana yang digunakan dalam film Marie Antoinette tahun 2006, disutradarai olehef Sofia Coppola memenangkan piala Oscar untuk desain kostum terbaik.

Mungkin akan tampak aneh, bahwa kota yang ambisius dan sekuat New York akan mempromosikan fesyen Paris; tetapi ada alasan yang kuat untuk hal ini, karena dengan cepat Steele menunjukkannya.

"Banyak majalah [Amerika Serikat] seperti Vogue dan Harper's Bazaar diperuntukkan bagi orang-orang elit," katanya.

"Mereka telah melakukan perjalanan ke Paris untuk mendapatkan pakaian adibusana selama beberapa dekade. Mereka banyak berinvestasi."

Steel juga menyatakan perasaan bernostalgia yang dirasakan banyak orang di seluruh dunia untuk "kemewahan yang mereka asosiasikan dengan mode Prancis".

Dikatakan bahwa maraknya fesyen Prancis di Amerika Serikat bermata dua, karena berlimpahnya salinan desain adibusana dengan harga murah membuat banyak orang Amerika Utara pada saat itu lebih memilih yang lebih murah ketimbang yang asli.

"Tahukah Anda," komentar Steele, "gaun hitam mungil, siap pakai dan murah dari New York atau Berlin, [tampak] sangat mirip dengan versi adibusana Chanel".

Masa keemasan

Di akhir 1949-an dan awal 1950-an, para perancang seperti Christian Dior, Gabrielle 'Coco' Chanel, dan Hubert de Givenchy, mengantarkan apa yang sekarang disebut sebagai 'Zaman Keemasan' mode Prancis, dan tidak ada keraguan tentang supremasi Paris terkait pakaian perempuan.

Segalanya menjadi lebih rumit pada pertengahan tahun 60-an, namun dengan 'youthquake' di London, dipimpin oleh orang-orang seperti Mary Quant, kemudian pada 1970-an dan 1980-an menyaksikan kebangkitan Milan dan Tokyo sebagai pusat mode utama.

Dan jika 'pembelotan' dari banyak desainer Jepang ke Prancis à la Takada mengatasi ancaman dari Timur, Paris, meskipun menikmati kebangkitan dengan desainer-desainer seperti Christian Lacroix dan Jean-Paul Gaultier, menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari London dan New York, yang merupakan saingan lama dan baru, di akhir 80-an dan 90-an.

"Tetapi mereka terus berupaya," kata Steele yang berasal dari Prancis.

Hak atas foto The Museum at FIT
Image caption Setelan jas wol klasik dirancang oleh Gabrielle 'Coco' Chanel.

Melalui soft power dan merek budaya, kemunculan adibusana dan promosi fesyen Prancis yang terus menerus atas nama negara Prancis, serta para influencer di luar negeri, Paris kembali menikmati reputasi mewah yang tampaknya tidak terbantahkan.

Tetapi saat ini, mengingat status kota-kota seperti London, Milan dan New York, serta meningkatnya globalisasi industri mode - "[Mode] cukup banyak di seluruh dunia," seperti yang dikatakan Kenzo Takada - dapatkah Paris masih menjadi bahan pembicaraan sebagai ibukota mode dunia?

Menurut Steele, Paris masih menguasai sebagai kota metropolitan fesyen secara internasional, karena berbagai alasan. Satu, Paris adalah rumah bagi beberapa konglomerat mode paling terkemuka di dunia.

"Fesyen bukan lagi masalah bisnis kecil mandiri," katanya, "tetapi konglomerat raksasa. Hampir semua grup mewah - LVMH, Kering, dan lain-lainnya berpusat di Paris, [walaupun] membeli perusahaan di Italia, dan berinvestasi di Inggris dan Amerika."

Steele juga percaya bahwa peragaan busana Paris lebih unggul daripada di kota-kota lain.

"Bukanlah sesuatu yang istimewa untuk pergi ke Milan. Dan, New York adalah tempat yang indah, tetapi peragaan busana New York tidak memiliki kemewahan dan kegembiraan seperti yang ada di Paris, sebagian besar."

Hak atas foto Getty Images
Image caption 'Prancis memiliki warisan budaya yang luar biasa,' kata Isabel Marant - dalam gambar, koleksi musim gugur/musim dinginnya tahun 2019-2020.

Pendapatnya digemakan oleh desainer yang berbasis di Paris, Agnès b: "Mereka sudah mencoba di Milan dan London, [dan] dengan New York - ada beberapa peragaan di mana-mana," katanya pada BBC Designed.

"Tetapi inspirasi datang dari Paris, tentunya."

Begitu juga Isabel Marant, desainer yang juga berbasis di Paris, menunjuk pada kemegahan peragaan busana di kota itu, ketika mengomentari status kota ini sebagai ibukota fesyen.

"Paris," kata Marant, "sangat unik dalam hal mengekspresikan fesyen, untuk kualitas dan banyaknya peragaan dalam pekan fesyen."

Kehadiran para konglomerat besar di Paris dan kualitas peragaan busana kontemporernya tentu saja penting untuk dipertimbangkan.

Namun, faktor sejarah bisa jadi merupakan elemen penting dalam persepsi Paris yang terus menerus menjadi pusat mode - terlepas dari apakah asosiasi historis yang dibuat itu rasional atau hasil dari pemasaran yang cerdas, yang dilakukan oleh orang Prancis dan orang lain yang memiliki kepentingan dalam fesyen Prancis.

"Selalu seperti ini di Prancis. Kami sudah memiliki ini sejak lama."

Marant setuju: "Prancis memiliki warisan budaya yang hebat," katanya kepada BBC Designed.

Dia menyebutkan orang-orang seperti Paul Poiret, Elsa Schiaparelli dan Chanel, yang menciptakan tren baru, dan dikagumi di seluruh dunia, dan seperti yang ditunjukkan Agnès b: "Sekarang ini ada generasi baru desainer, tetapi saya kira Paris masih memiliki aura itu".

Hak atas foto The Museum at FIT
Image caption Jubah malam Chanel tahun 1927 adalah salah satu yang dipamerkan dalam pameran di Paris, Capital of Fashion.

Mungkin terasa aneh untuk terlalu menekankan masa lalu busana Paris, tidak peduli seberapa memesonanya hal itu.

Namun, seperti yang ditulis Gilbert, "Status ibukota fesyen di abad ke-21 adalah tentang reputasi, harapan, warisan dan tradisi seperti halnya desain dan produksi pakaian yang sebenarnya… hubungan simbolik yang dalam dan berlangsung lama juga memiliki konsekuensi ekonomi dan budaya yang nyata."

Steele mengungkapkannya dengan sedikit lebih santai.

"Hukum dari preseden itu sangat penting. Jika Anda telah menjadi ibukota fesyen paling lama dan memiliki reputasi luar biasa ini, maka Anda dapat melakukannya dengan sangat baik sampai ke sudut-sudutnya dan masih terlihat seperti 'Oh ya, itu masih yang terbaik!'"

Dalam paparan argumen seperti itu, sulit sekali orang menyangkal keunggulan Paris sebagai ibu kota mode.Tetapi bagaimana dengan masa depan?

Apakah mereka yang merasa Paris sebagai ibu kota mode dunia berpikir bahwa gelar tersebut berpotensi direbut pihak lain?

"Tentu saja apapun bisa berubah," kata Steele, yang menganggap Shanghai sebagai calon penantang, karena pengaruh ekonomi Cina yang terus meningkat.

Dan, meskipun mereka tidak memilih kota-kota tertentu, Takada dan Marant juga mengangkat masalah meningkatkan persaingan internasional dan semakin banyaknya peragaan busana di seluruh dunia.

"Ada banyak [juga] kota yang yang menunjukkan... [gaya] dan talenta yang sangat menarik," aku Marant.

Bagaimanapun, mengingat peran besar yang diwajibkan oleh warisan dan sejarah dalam membentuk persepsi kota sebagai ibu kota mode, tampaknya tidak mungkin bahwa Paris, yang digambarkan sebagai 'Ratu Dunia' akan beranjak dari takhtanya dalam waktu dekat, jika tidak sama sekali.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Why are the French so chic, bisa Anda baca di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait