Foto-foto di 2019 yang mirip karya seni klasik

Dari pemain basket yang melayang hingga ubur-ubur raksasa, Kelly Grovier memilih 12 foto yang mengejutkan, menginspirasi, atau viral sepanjang tahun 2019, lalu membandingkan kemiripannya dengan karya seni klasik.

Januari

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Wikimedia
Image caption Foto tradisi Spanyol, Luminarias, mirip dengan lukisan berjudul Death on a Pale House.

Orang Spanyol selama berabad-abad percaya, bila seekor kuda atau hewan lain melompati api unggun yang menyala, asap yang ditembus oleh hewan tersebut akan memberi perlindungan selama setahun penuh.

Foto yang diambil pada Januari ini menunjukkan seorang peserta sedang melakukan ritual yang diberi nama Luminarias, sebuah tradisi tahunan untuk menghormati Santo Anthony Abbot (santo pelindung hewan-hewan ternak) di Desa San Bartolomé de Pinares, Spanyol.

Foto ini sangat menakjubkan, baik secara visual maupun secara kontroversi.

Mereka yang menentang tradisi ini, termasuk para anggota Peta (kelompok pembela hak-hak binatang) yang hadir dalam ritual, tidak percaya klaim masyarakat yang mengatakan para hewan selalu muncul dari api tanpa luka.

Mengesampingkan persoalan kekejaman terhadap binatang, gambaran sesosok binatang dan penunggangnya membentuk siluet yang kabur di dalam nyala api mengingatkan kita pada lukisan JMW Turner berjudul Death on a Pale House (1825) yang inspirasinya berasal dari Kitab Wahyu.

Februari

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Wikipedia
Image caption Suasana bersalju dalam foto di Februari ini pernah digambarkan oleh Claude Monet dalam lukisan tahun 1885.

Dibutuhkan kombinasi sempurna dari sapuan angin, kecepatan embusan, dan arah angin tepat di tanah lapang yang diselimuti salju yang masih baru, sehingga teksturnya masih mirip bubuk, untuk bisa membuat sebuah bola salju alami seperti ini. Fenomena yang jarang terjadi ini tak sengaja ditemui dan diabadikan oleh pembawa acara Inggris, Brian Bayliss, saat dia berjalan-jalan pagi di Wiltshire.

Suasana magis dalam dunia es, tak terganggu oleh satupun makhuluk hidup di sekitarnya, ini seolah dicuplik dari lukisan hamparan salju milik Claude Monet dalam Road to Giverny in Winter (1885).

Maret

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Pinterest
Image caption Kedua karya ini menampilkan orang-orang yang sedang berlevitasi.

Semua orang tahu bahwa foto terkadang bisa menipu mata yang melihatnya, tapi terkadang pesan yang disampaikan oleh sebuah foto justru lebih nyata ketika sebuah momen dibekukan dalam waktu. Ini yang terjadi dengan foto dua pemain basket mahasiswa Universitas Duke – R J Barret dan Zion Williamson – yang terfoto dalam keadaan melawan gravitasi.

Kepiawaian fotografer Kevin C Fox menangkap momen kedua pemain seakan terbang tanpa memiliki beban tubuh ini seperti kenyataan yang mengingkari hukum-hukum fisika.

Pelukis sureal asal Belgia, René Magritte, pada 1953 pernah memvisualkan pria-pria berjubah hitam dengan topi bulat melayang secara mistis dengan latar belakang gedung dan langit biru.

April

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Wikimedia
Image caption Notre-Dame yang terbakar dan lukisan lawas milik Edward Hopper ini sama-sama memperlihatkan menara yang terpotong.

Berita tentang kebakaran dahsyat yang menghancurkan Katedral Notre-Dame di Paris pada April seakan membuat dunia terhenti.

Terletak di atas Sungai Seine, bangunan ikonik ini adalah denyut Paris yang elegan, menara-menara raksasanya seakan jantung yang memompa kehidupan ke seluruh kota. Beberapa pelukis telah berusaha menangkap sisi mistis Notre-Dame an menuangkannya dalam lukisan, sebut saja JMW Turner, Van Gogh, dan Matisse.

Bertahun-tahun sebelum pelukis realis Amerika Edward Hopper menemukan kesukaan melukiskan kesepian di kafe-kafe urban, dia juga pernah melukis Notre-Dame saat berkali-kali mengunjungi Prancis. Seperti sebuah firasat mengerikan akan kejadian di masa depan, lukisan Hopper, yang memperlihatkan Notre-Dame dari sisi tenggara, memangkas menaranya yang menjulang, mematahkannya dari keangkuhannya yang tak berujung.

Mei

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Wikipedia
Image caption Dalam kedua karya ini, warna digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan emosi.

Menuntut hak-hak teritorialnya, seorang pria Brasil mengenakan pakaian adat berdiri di bawah air mancur di tengah-tengah protes yang terjadi di ibu kota negara tersebut pada Mei. Percikan air dengan lembut mengaliri wajahnya yang tertutup riasan, menjadikan ekspresi wajahnya tak terbaca. Namun emosi yang disampaikan foto ini sekaran menembus ruang dan waktu.

Paduan warna merah dan biru gelap, wajah dan pakaian tradisionalnya, menggemakan kesamaan visual dengan karya dari pendiri aliran Ekspresionis Jerman Die Brücke, seperti Karl Schmidt-Rottluff. Didirikan di Dresden pada awal tahun di abad ke-20, para anggota kelompok pelukis ini menggunakan warna sebagai sarana untuk mengekspresikan emosi.

Juni

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Twitter/Pinterest
Image caption Kedipan mata yang entah artinya apa menjadi pembicaraan di dunia maya pada Juni, mirip dengan lukisan di tahun 1559-an.

Sebuah kedipan mata yang entah apa artinya diberikan oleh Duchess of Cornwall pada Juni saat kunjungan resmi Presiden AS Donald Trump ke Inggris. Berjalan di belakang Donald dan Melania Trump seraya meninggalkan tempat foto bersama di Clarence House, Camilla secara mengejutkan mengedipkan sebelah matanya ke arah petugas keamanannya saat kamera masih menyala. Ini adalah kedipan yang kemudian dibicarakan seluruh dunia.

Seniman Pieter Bruegel the Elder menyelipkan apa yang di masa itu disebut sebagai 'snip eye', di zaman sekarang istilah ini bisa digantikan dengan emoji mengedip, dalam lukisannya Netherlandish Proverbs (sekitar 1559-an).

Juli

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Dan Abbot/Wikipedia
Image caption Dunia bawah laut yang tergambar dengan nuansa warna emas dan kehijauan.

Tidak ada yang bisa menggambarkan kehidupan dunia bawah laut seperti ubur-ubur raksasa. Parasit yang seperti alien ini bergerak dan meluncur membelah air tak ubahnya penari balet yang anggun. Di bulan Juli, sepasang penyelam yang tengah memeriksa dedaunan rumput laut bersirobok dengan makhluk raksasa luar biasa ini di sebuah teluk di Cornwall, Inggris.

Foto pertemuan yang diambil oleh salah satu penyelam, Dan Abbot, menunjukkan rekannya, Lizzie Daly, mengingatkan kita pada kekuatan lukisan JMW Turner, Sunrise with Sea Monsters (1845) — sebuah lukisan yang keberadaannya tak diketahui oleh para ahli lukisan hingga setengah dekade kematian Turner pada 1851, saat lukisan itu tak sengaja ditemukan di ruang bawah tanah Galeri Nasional London pada 1906. Potret monster raksasa memberikan getaran yang sama dengan ubur-ubur jumbo yang ditemui oleh Daly dan Abbot.

Agustus

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Eye Vine untuk The New York Times/Pinterest
Image caption Potret polisi Hong Kong yang membawa pentungan dan perisai mengingatkan pada gambar tembikar era Yunani Kuno.

Demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong – dan pertempuran sengit dengan para penegak hukum yang telah mencengkeram wilayah ini selama enam bulan – menghasilkan foto-foto dramatis oleh para wartawan yang meliputnya.

Pawai pasukan polisi mengenakan pentungan dan perisai transparan untuk menangkis lemparan api ini seperti yang digambarkan oleh banyak perajin keramik di zaman Yunani Kuno.

September

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Victor Moriyama untuk The New York Times/Wikipedia
Image caption Kebakaran hutan Amazon mirip dengan lukisan Apocalypse.

Lahan-lahan yang membara karena kebakaran hutan di Amazon pada September dipahami sebagai salah satu akibat dari perubahan iklim yang melanda berbagai temapt di dunia. Bagi banyak orang, kobaran api ini menjadi bukti kegagalan manusia memerangi penggundulan hutan ilegal di kawasan tersebut, dan bagaimana ekosistemnya yang rapuh berubah menjadi sebuah bencana besar.

Foto yang diambil oleh Victor Moriyama ini memiliki visi menakutkan, seperti yang pernah disapukan oleh goresan kuas Albert Goodwin di lukisan Apocalypse.

Oktober

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Twitter/Wikimedia
Image caption Keberanian gestur Nancy Pelosi berhadapan dengan sosok yang lebih berkuasa seperti digambarkan pada pahlawan perempuan Irlandia, Grace O'Malley.

Ketika Presiden Donald Trump berusaha mempermalukan lawan politiknya, Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, dengan mencuitkan sebuah foto wanita tersebut berdiri mengacungkan jari di seberang meja darinya, Pelosi justru menggunakan foto yang sama untuk menyerang balik Trump. Dengan segera, Pelosi menggunakan foto yang sama sebagai banner di Twitternya.

Ketegasan sosok Pelosi dalam foto ini dan kemauannya untuk berdiri berhadapan dengan kepala negara, yang secara politik lebih kuat, mengingatkan pada pahlawan perempuan kuno Irlandia, Grace O'Malley, yang menolak membungkukkan badan tanda memberi hormat kepada Ratu Elizabeth I, saat keduanya bertemu pada 1593 untuk mendiskusikan daftar tuntutan O'Malley. Pertemuan ini diabadikan dalam gambar oleh ilustrator dan para pengukir pada Abad ke-17 dan 18.

November

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Wikimedia
Image caption Venesia yang tenggelam banjir dalam foto, bersanding dengan Venesia yang tertutup salju di lukisan karya seniman anonim.

Pada November, banjir parah di Venesia mengakibatkan lebih dari tiga per empat wilayah situs Warisan Dunia Unesco ini tenggelam, dan harta budaya yang tak terhitung jumlahnya berisiko mengalami kerusakan. Sebuah foto yang diambil oleh turis yang berswafoto di Piazza San Marco beredar di media sosial.

Ini bukan kali pertama dalam sejarah kota kuno ini menghadapi cuaca ekstrem. Menurut sebuah lukisan anonim pada akhir Abad ke-18, hawa dingin yang misterius pada 1789 mengubah laguna kota menjadi berselimut salju. Lukisan ini menampakkan para pedagang dan pelancong berjibaku dan beraktivitas di atas jalanan yang membeku.

Desember

lukisan, foto 2019, peristiwa 2019 Hak atas foto Getty Images/Pinterest
Image caption Kedua karya seni ini menyampaikan kritik di dunia modern melalui kejadian Alkitabiyah.

Terkadang – meski jarang sekali – sebuah karya seni muncul begitu kuat mendobrak kesadaran budaya, hingga kehadirannya diakui secara luas sebagai peristiwa yang bernilai berita. Instalasi seni peristiwa kelahiran Yesus ini dipasang di gereja Claremont United Methodist di California ini bisa dimasukkan dalam kategori yang jarang tersebut.

Karya ini menggambarkan tiga tokoh utama tablo Alkitabiah – Yesus, Maria, dan Yusuf – memandang satu sama lain dari kejauhan, dipisahkan oleh kurungan kawat berduri yang suram. Karya ini adalah sebuah kritik yang ditujukan pada perlakuan terhadap keluarga pengungsi yang tiba di perbatasan selatan AS, dan membuat gempar media sosial ketika pertama kali diluncurkan. Para pendukung dan penolak kebijakan imigrasi Amerika yang kontroversial terlibat dalam debat tentang apakah Yesus sendiri adalah seorang imigran.

Jika kita hilangkan konteks kelahiran Kristus dan keberadaannya di Amerika modern dalam instalasi seni tersebut, kita akan menemukan bahwa seniman yang membuat karya itu menggemakan strategi artistik sama seperti seniman lanskap dari Kuba, Tomás Sánchez, yang lukisannya pada 1994 berjudul Al Sur del Calvario (atau dalam bahasa Inggris, To the South of Calvary) merelokasi tempat penyaliban Kristus dari Golgota di Abad ke-1, tepat di pinggiran Yerusalem, ke tempat pembuangan sampah di masa modern, yang menunjukkan kehancuran lingkungan akibat sampah konsumerisme yang tak ada batasnya.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul The most striking images of 2019 pada laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait