Delapan pameran seni terakbar 2020: Aksi Christo 'membungkus' Arc de Triomphe hingga instalasi 'tubuh-tubuh telanjang' Marina Abrahamovic

Kelly Grovier memilih beberapa karya seni, mulai dari Raphael sampai Yayoi Kusama, yang tidak ingin Anda lewatkan di tahun 2020.

Hak atas foto Getty Images

Pameran karya seni yang cemerlang dapat mengubah, bukan hanya kekayaan dan reputasi subyek pameran, tetapi juga kehidupan dan imajinasi orang-orang yang tersihir oleh keajaibannya.

Tahun 2020, tahun yang formulasi numeriknya memperlihatkan kejernihan penglihatan, menyuguhkan atraksi visual secara maraton yang bakal membukakan mata dan pikiran.

Dari New York ke Paris, Oxford ke Madrid, berikut ini beberapa pameran yang sensasinya sudah diakui dunia:

Raphael, perupa era Renaisan, lahir kembali di Washington

Seseorang bisa saja meratap, bertanya-tanya apa lagi yang bisa diciptakan seniman besar di era Renaisan, Raphael, bila saja dia tidak tutup usia pada 1520, di usia 37 tahun.

Untuk menandai peringatan ke-500 kematiannya, sejumlah pertunjukan telah dipersiapkan di seluruh dunia - mulai dari retrospektif berskala penuh di National Gallery di London, sampai sketsa kartun karya terbaik sang seniman yang baru-baru ini direstorasi the Vatican fresco School of Athens (1509), di Veneranda Biblioteca Ambrosiana, Milan.

Demi menghormati kejeniusan Raphael dalam peran pentingnya di dunia seni grafis yang menyuguhkan visinya sebagai seniman, National Gallery of Art di Washington DC akan memamerkan koleksi barang cetakan atau lukisan, baik karya sang seniman itu sendiri maupun orang-orang yang terkenal di zamannya, mulai 16 Februari.

Di antara karya-karyanya, yang akan dipamerkan adalah cukilan kayu chiaroscuro karya Ugo da Carpi, David Slaying Goliath, yang didasarkan rancangan Raphael di Vatikan. Karya ini menunjukkan keahlian Raphael sebagai pembuat gambar dan daya cipta Da Capri sebagai pembuat cetakannya.

Hak atas foto Public Domain
Image caption Berdasarkan rancangan karya Raphael, David Slaying Goliath karya Ugo da Carpi (1520-1527) adalah salah satu contoh pertama dari cukilan kayu dalam "terang dan gelap" (chiaro et scuro) atau chiaroscuro

Artemisia Gentileschi, pelopor seniman perempuan

Pada April, National Gallery di London memperlihatkan survei terbesar yang pernah diadakan di London atas karya termasyhur pelukis Baroque Italia sekaligus pelopor perupa perempuan, Artemisia Gentileschi.

Perempuan pertama yang diterima sebagai anggota Accademia delle Arti del Disegno (akademi seniman) yang eksklusif di Florence, Gentileschi diakui karena penemuannya, terutama dalam pembuatan adegan alegoris dan potret diri yang inovatif.

Di antara tiga lusin karya Gentileschi yang dikumpulkan dari berbagai koleksi internasional adalah Self-Portrait as a Lute Player yang menghipnotis, menggambarkan sang seniman itu sendiri.

Hak atas foto Wadsworth Artheneum Museum of Art
Image caption Self-Portrait as a Lute Player (1616-18) akan menjadi salah satu karya Gentileschi yang dipamerkan di National Gallery.

Karya-karya Rembrandt muda di Oxford

Pada Februari, Ashmolean Museum di Oxford, Inggris, menggelar pameran besar pertama yang pernah diadakan di Inggris, yang didedikasikan untuk Rembrandt van Rijn, kemungkinan pelukis yang paling dipuja di antara para seniman Belanda.

Pameran Young Rembrandt itu menjanjikan untuk mengajak para pengunjung menikmati coretan-coretan terawal yang diketahui dan dibuat pada 1620-an sampai karya-karya luar biasa pada dekade berikutnya, yang secara permanen mendorongnya ke dalam imajinasi populer.

Pameran ambisius ini (yang akan menampilkan lebih dari 130 karya, termasuk 34 lukisan karya Rembrandt dan 10 karya seniman terkenal pada zamannya), akan menampilkan untuk yang pertama kalinya lukisan yang baru ditemukan dari periode formatif ini, Let the Children Come to Me (1627-1628), yang dibuat ketika Rembrandt berusia 20-an awal, dengan potret diri baru sang seniman muda yang berwajah segar dan menatap kami dengan tatapan bangga.

Hak atas foto Bayerische Staatgemaldesammlungen
Image caption Pameran The Ashmolean dimulai dengan karya-karya awal Rembrandt, yang dibuat di tempat asalnya, Leiden, di pertengahan 1620-an, termasuk lukisan diri dari tahun 1629.

Christo bakal 'membungkus' Arc de Triomphe

Tahun 2020 menjanjikan untuk menjadi lebih dari sekedar platform tempat karya-karya besar dari abad ke-16 dan ke-17, dengan membawa Anda menuju titik fokus yang lebih jelas.

Bagi para penikmat seni yang ingin mengukur dampak kesadaran masa kini terhadap karya besar yang lebih modern, pembukaan pameran di Paris tentang karya instalasi baru oleh seniman lingkungan kelahiran Bulgaria, Christo, kemungkinan akan menjadi salah satu sorotan utama tahun ini.

Selama 16 hari, mulai tanggal 19 September, Arc de Triomphe, ikon kota ini, akan dibungkus seluruhnya dengan kain polypropylene berwarna biru seluas 25.000 meter persegi, yang diikat erat dengan 7.000 meter tali berwarna merah tua, mengubah monumen yang begitu terkenal itu menjadi sesuatu yang mengejutkan dan aneh.

Karya ini akan mengingatkan kembali karya serupa Christo berjudul Wrapped Reichstag, yang merupakan era sang seniman pada 1995, ketika dia membungkus gedung Reichstag di Jerman.

Hak atas foto Régis BOSSU/Getty
Image caption Karya ini akan mengingatkan kembali karya serupa Christo berjudul Wrapped Reichstag, yang merupakan era sang seniman pada 1995, ketika dia membungkus gedung Reichstag di Jerman.

Jika Anda berpikir Christo melakukan 'serangan' subversif di Paris dengan menyembunyikan salah satu obyek yang paling berharga di bawah plastik yang sangat luas, Anda akan menempatkan seniman itu ke dalam deretan tokoh seni dunia terkenal yang dituduh melakukan serangan di sebuah kota.

Sang seniman anarkis, Félix Fénéon

Pada 1894, kritikus seni yang dikenal anarkis, Félix Fénéon, yang menjadi subyek pameran yang dijanjikan menarik di Museum of Modern Art di New York (mulai akhir Maret), didakwa telah menanam bom di pot bunga di sebuah hotel nan modis di Paris.

Fénéon adalah sosok penting bagi kemunculan lukisan Post-Impressionist dan berperan penting dalam penciptaan salah satu istilah yang membuat kita mengetahui bahwa kumpulan titik-titik kecil dan cat berhubungan dengan seniman seperti Georges Seurat dan Paul Signac: 'Neo Impressionism'.

Menampilkan lebih dari 150 karya yang dia jagokan dan kagumi, pameran ini akan mengeksplorasi bagaimana visi seni Fénéon membantu meledakkan kepekaan modern hingga berkeping-keping.

Hak atas foto The Museum of Modern Art
Image caption Fénéon adalah figur yang sulit dipahami; dia menolak permintaan Paul Signac untuk melukis fotonya sampai 1890, ketika akhirnya dia setuju selama memperlihatkan seluruh wajahnya - namun Signac melukis wajahnya dari samping.

Fénéon merupakan figur yang sulit dipahami; dia menolak permintaan Paul Signac untuk melukis fotonya sampai 1890, ketika akhirnya dia setuju selama memperlihatkan seluruh wajahnya - namun Signac melukis wajahnya dari samping.

Kusama dan instalasi bermotif polkadot

Jika membagi dunia menjadi badai yang memesona dari titik-titik atomistik, seperti yang dilakukan para seniman Neo-Impressionist, ada baiknya mencatat agenda pembukaan pameran ambisius di New York Botanical Garden pada Mei, tentang karya dan visi seniman kontemporer Jepang, Yayoi Kusama - tersohor karena patung dan instalasi bermotif polkadot.

Ketertarikan Kusama pada titik-titik dan bunga-bunga dapat ditelusuri kembali ke visi halusinasi yang dialaminya semasa kanak-kanak.

Menempati lanskap NYBG yang luas dan termasuk gedung-gedungnya, 'presentasi multisensori' akan mencakup perwujudan lingkungan cermin karya terkenal sang seniman, kolase biomorfik, lukisan, sketsa dan bahkan suatu pameran rumah kaca, di samping patung-patung khasnya yang bermotif polkadot.

Hak atas foto NYBG
Image caption Karya-karya Kusama terinspirasi oleh halusinasi visual yang dialaminya ketika masih kecil

Marina Abrahamovic dan 'tubuh-tubuh telanjang'

Anda tidak pernah melupakan pameran Marina Abramović. Para pengunjung pameran yang berlangsung di Bologna pada 1977 dituntun memasuki galeri dengan merapatkan diri melewati pintu masuk, yang diapit dengan tubuh-tubuh telanjang (tubuhnya sendiri di satu sisi dan tubuh pasangannya pada saat itu, Ulay, di sisi lain). Canggung.

Sebelumnya, artis kelahiran Beograd ini membuat penonton bergidik ketika dia membuat sayatan berbentuk bintang di perutnya dengan pisau dan mencambuk dirinya sendiri tanpa alasan sambil berbaring di balok es.

Baru-baru ini, dia menantang pengunjung galeri untuk menatap matanya selama mereka bisa lakukan. Dia bertahan selama 736,5 jam.

Mereka yang berhasil melakukannya mulai membentuk kelompok pendukung. Tepatnya, apa yang dipajang di Royal Academy of Arts di London, saat Abramović menggelar survei 50 tahun pada September (Marina Abramović: After Life) sudah diperkirakan semua orang. Gosipnya, 'pintu masuk hidup' kemungkinan akan kembali beraksi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Untuk pertunjukan The Artist is Present di tahun 2010, Marina Abramović bertemu dengan banyak orang asing di MoMA - banyak yang merasa terharu.

René Magritte dan mesin membuat lukisan

Tiga belas tahun sebelum Andy Warhol mengeluarkan pernyataan yang sensasional "Saya ingin menjadi mesin", surealis dari Belgia, René Magritte, membayangkan kemunculan serangkaian alat otomatis luar biasa yang mampu menghasilkan apapun yang mungkin diinginkan oleh budaya modern - daftar mesin-mesin buatan itu termasuk "mesin untuk membuat lukisan".

Tujuh puluh tahun kemudian, museum Thyssen-Bornemisza di Madrid menggali implikasi dari mimpi sang surealis itu melalui penggabungan 65 lukisan kanvas, karya fotografi dan film yang secara bersama-sama menjadi 'The Magritte Machine'.

Dengan membagi mesin imajiner Magritte menjadi enam bagian komponen - museum, siluet, jendela, mekanisme, mimikri dan topeng, yang menghapus dan memproyeksikan wajah - pihak penyelenggara pameran berharap dapat menghilangkan keragu-raguan terhadap mesin yang jenius ini.

Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris berjudul The Eight Must-See Exhibitions of 2020 pada laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait