Novelis, penyair, fotografer dan aktor yang tutup usia pada 2019: Toni Morrison, Robert Frank, Agnès Varda hingga Karl Lagerfeld

Para penulis dan editor BBC Culture memberikan penghormatan kepada novelis, penyair, sutradara, aktor dan fotografer dunia yang meninggal pada 2019.

Burung terbang Hak atas foto TIZIANA FABI/AFP

Robert Frank

Robert Frank Hak atas foto Patrick Downs/Getty Images

Meski sulit menemukannya di jajaran nama orang-orang terkenal, Robert Frank bisa dikatakan adalah salah satu fotografer paling berpengaruh di abad ke-20: seorang seniman yang mendefinisikan ulang seperti apa fotografi dokumenter, dan mengubah pandangan kita selamanya tentang Amerika Serikat, tanah air keduanya.

Kendati karir Frank membentang di sepanjang bagian terbaik dari lima dekade, dia akan selalu dikenang dalam The Americans, sebuah catatan foto tentang kisah perjalanannya melintasi Amerika pada pertengahan 1950.

Delapan puluh tiga foto hitam putih, yang diambil di beberapa lokasi sejauh New Jersey dan Santa Fe, The Americans menimbulkan kemarahan di Amerika Serikat karena memotret gambaran sebenarnya tentang Amerika dan masyarakatnya, dan penggambaran berkelanjutan perihal rasisme dan kemiskinan di pedesaan.

Tetapi, terlepas dari dampak politiknya, keindahan karya-karya Frank tetap ada bersama kita - ditangkap dengan cepat, gambar-gambar ini secara bergantian menampilkan keintiman, kepedihan, kegembiraan dan kesedihan.

Tidak ada yang memiliki mata yang lebih tajam daripada Frank untuk mengenali retakan-retakan dalam lukisan American Dreams; atau yang lebih baik.

Dia meninggal pada 9 September di usia 94 tahun (AD)

Toni Morrison

Toni Morrison Hak atas foto Todd Plitt/Getty

Novelis, penulis esai, penulis naskah dan penulis lagu, Toni Morrison, yang meninggal pada 5 Agustus dalam usia 88 tahun, adalah sosok penting dan bereputasi.

Terlahir sebagai Chloe Ardelia Wofford di Ohio pada 1931, dia terjun dalam dunia sastra sejak dini, dan itulah awal keterlibatan karirnya di bidang akademis, dan kemudian menerbitkan karya-karyanya.

Novel autobiografi pertamanya, The Bluest Eye, yang diterbitkan pada 1970, tetapi novel terbaiknya tetap Beloved, berdasarkan pada kisah nyata seorang budak yang melarikan diri karena telah membunuh putrinya daripada membiarkannya tertangkap kembali.

Sebagai penulis sejarah orang Amerika keturunan Afrika, pengalaman Morrison tidak hanya terfokus pada kalimat-kalimatnya yang intens tetapi pada tekadnya agar perhatiannya tidak teralihkan, dan dia mewariskan gambaran-gambaran penting yang selalu dibutuhkan.

Dia tetap menjadi satu-satunya penulis Amerika keturunan Afrika - dan salah satu dari sedikit penulis perempuan - yang memenangkan Penghargaan Nobel Sastra (HA)

Albert Finney

Albert Finney Hak atas foto Hulton Archive/Getty

Albert Finney lebih dari sekedar penampil yang brilian - bahkan, sebagai salah-seorang dari gelombang aktor berlatar kelas pekerja yang meraih puncak di tahun 1960, dia ikut merombak profesi itu.

Putra seorang pembuat buku asal Salford, Inggris, ini berangkat ke Rada, dan setelah meninggalkan tempat itu, segera saja dia tampil unggul di atas panggung melalui perannya dari karya-karya Shakespeare.

Namun demikian, perannya dalam film membuat namanya menjadi kurang terkenal. Memerankan sosok ikonik 'anak muda yang pemarah' yang menjadi trend pada masanya, yaitu sosok Arthur Seaton dalam film Saturday Night and Sunday Morning pada tahun 1960an, bakatnya masih mentah di depan layar - sehingga perlu diasah.

Karirnya di dunia peran kemudian meningkat saat memerankan sosok pemimpin berangasan dalam film karya Tony Richardson pada 1963, yang menempatkannya dalam jajaran pertama nominasi Oscar dari lima nominasi.

Sepanjang karirnya, Finney menghindari peran-peran sejenis. Kemampuannya yang serba bisa diperlihatkan dalam berbagai perannya, mulai dari penampilannya yang matang sebagai Hercule Poirot dalam Murder on the Orient Express pada 1974, dan sebagai sosok pendendam dalam adaptasi karya Ronald Harwood, The Dresser, hingga perannya yang lebih bersahaja sebagai guru era klasik yang diabaikan istri dalam film karya Terence Rattigan, The Browning Version di tahun 1994, dan sebagai seorang pengacara yang baik tetapi tidak antusias dalam Erin Brockovich (2000).

Salah satu dari penampilannya yang luar biasa berasal dari layar kaca: dalam drama BBC/HBO, The Gathering Storm, dia berperan sebagai Winston Churchill dengan penampilan yang luar biasa.

Dia meninggal pada 7 Februari, di usia 82 tahun. (HM)

Scott Walker

Scott Walker Hak atas foto RB/Getty

Musik Scott Walker bisa terdengar berupa melodi yang manis atau mengejutkan secara tiba-tiba. Karya-karyanya selalu memancarkan daya pikat yang aneh.

Terlahir sebagai Noel Scott Engel di Amerika Serikat, dia pindah ke Inggris pada pertengahan 1960-an.

Awalnya dia meraih ketenaran sebagai vokalis The Walker Brothers, yang jelas-jelas aliran popnya klasik, termasuk The Sun Ain't Gonna Shine (Anymore) dan versi mereka dari Make It Easy On Yourself. Dia juga menjadi pembawa acara TV sendiri.

Vokal Scott Walker - yang berat dan suram, acap melambung - nyaris selalu luput dari kesalahan, tetapi repertoarnya terus berkembamg, bergerak ke dunia yang semakin eksperimental melalui rekaman solonya dan rekaman kolaborasi.

Dia adalah sosok penuh teka-teki, dan sudah pensiun dari dunia pertunjukan (bahkan ketika dia menjadi kurator Meltdown Festival di London pada 2000), tetapi dia tidak mengasingkan diri.

Dia bekerja dengan band-band indie, termasuk Pulp, Bat For Lashes dan Seattle avant rocker Sunn O, yang dikutip sebagai akibat pengaruh oleh David Bowie, dan terus merilis karya yang menggugah dan tak terduga, apakah menggunakan showtune industri (Bish Bosch, 2012) atau menyusun musik ringan untuk film (Vox Lux, 2018).

Pada saat kematiannya, pada usia 76 tahun, Walker telah membangun karya kreatifnya sendiri, yang tanpa batas. (AH).

Agnès Varda

Agnes Varda Hak atas foto FADEL SENNA/Getty

"Saya berperan sebagai perempuan tua," kata Agnès Varda dalam memoar lirisnya dalam film dokumenter The Beaches of Agnes (2008).

Pada saat itu, perintis New Wave ini telah menjadi salah-seorang yang dituakan dalam dunia film, yang dikenal melalui pendekatan fiksi dan juga non-fiksi.

Tidak mengherankan dia menghasilkan banyak film dalam jajak pendapat BBC Culture tentang Film-film terkenal yang disutradarai oleh perempuan ketimbang sutradara manapun.

Akan tetapi, jangkauannya yang menakjubkan itu melampaui gender, dengan film-film yang tetap memukau dalam keintiman, inovasi dan resonansi sosial mereka.

Cléo from 5 to 7 (1962) adalah karya klasik ala New Wave yang anggun tentang seorang perempuan yang menghadapi kematian.

One Sings, the Other Doesn't (1977) adalah lagu kebangsaan kaum feminis terkait aborsi.

Dalam film-film dokumenter seperti The Gleaners and I (2000), Varda muncul di layar, sehingga kehadirannya mengundang rasa ingin tahu.

Dan Jacquot de Nantes (1991), tentang suaminya, sutradara Jacques Demy, merupakan gabungan yang indah dari kenangan dan fiksi.

Dia adalah orang yang kreatif sampai akhir. Rambut putihnya, dengan batas berwarna merah cerah sempurna, menjelaskan bagaimana Varda mengakui usianya, tetapi itu tidak menghentikannya.

Dia meninggal pada tanggal 29 Maret pada usia 90 tahun (CJ).

Peter Fonda

Peter Fonda Hak atas foto Silver Screen Collection/Getty Images

Putra Henry, saudara laki-laki Jane, dan ayah Bridget, Peter Fonda menjalani dunia aktor, sutradara dan penulis naskah film, selama beberapa dekade, dan dinominasikan meraih Oscar dalam penampilannya yang sensitif di film Ulee's Gold (1997).

Tetapi sosoknya akan selalu dikaitkan dengan gerakan counterculture pada 1960-an, ketika komentarnya - "Saya tahu bagaimana rasanya mati" - dikutip John Lennon bersama The Beatles, dalam lagu She Said She Said.

Perannya yang tak terlupakan adalah sebagai pengendara sepeda motor yang pesan-pesan filosofisnya dalam Easy Rider (1969), film jalanan semi improvisasi yang dibuatnya bersama Dennis Hopper dan Jack Nicholson.

Dia memiliki rasa humor dan kesadaran diri yang cukup untuk berperan dalam Ghost Rider dan Wild Hogs (keduanya di tahun 2007), di mana ketampanan khas California-nya dengan rahang persegi masih sama mencoloknya seperti sebelumnya.

Dia meninggal pada 16 Agustus, di usia 79 tahun. (NB).

Judith Kerr

Judit Kerr Hak atas foto OLE SPATA/Getty

Dalam wawancara terakhirnya, Judith Kerr berujar kepada The Guardian bahwa kesenangan yang paling membuatnya merasa berdosa adalah menenggak sisa wiski dari malam sebelumnya.

Diterbitkan beberapa hari sebelum kematiannya, pernyataan nakal sekaligus menawan ini, merupakan catatan Kerr, simbol dari karakter sebagian besar karyanya.

Dia lebih terkenal karena buku anak-anaknya The Tiger Who Came to Tea dan 17 judul seri Mog, Kerr menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggris, setelah melarikan diri dari Jerman dengan keluarga Yahudi-nya ketika berusia 13 tahun,

Dia memperoleh beasiswa di Central School of Art and Design, dan menulis lebih dari 30 buku, serta membuat ilustrasi dari sekian banyak bukunya.

Dia ditunjuk sebagai OBE (Order of the British Empire) pada 2012 karena dedikasinya dalam penerbitan buku untuk anak-anak dan pendidikan tentang Holocaust.

Dia juga menerima penghargaan seumur hidup dari lembaga amal sastra Inggris BookTrust, dan seminggu sebelum kematiannya, dia dinobatkan sebagai ilustrator tahun ini oleh British Book Awards.

Bagi penulis buku anak-anak, Kerr juga terbilang radikal ketika dia menulis Goodbye Mog pada 2002, ketika kucing kesayangannya mati.

Dalam sebuah wawancara tentang buku itu, dia mengatakan kepada The Guardian, "Saya hampir 80 tahun… dan Anda mulai berpikir tentang orang-orang yang akan ditinggalkan… Saya hanya ingin mengatakan: Ingatlah saya, tetapi teruskan hidupmu."

Dia meninggal pada 22 Mei, di usia 95 tahun. (AC).

João Gilberto

João Gilberto Hak atas foto Hiroyuki Ito/Getty

João Gilberto, yang dinobatkan sebagai pelopor bossa nova ('new wave') Brasil, dan dikenal sebagai O Mito ('legenda') memiliki keunikan luar biasa dengan permainan melodinya.

Vokalnya lembut-membujuk dan irama gitarnya yang mendayu-dayu seperti membius, membuatnya sangat cocok dengan Carioca chic di Rio de Janeiro pada 1960-an.

Gilberto lahir di Bahia, dan juga menjalin ikatan kuat dengan musisi jazz Amerika, terutama pemain saksofon Stan Getz, tetapi Rio adalah asal suaranya, yang menggabungkan akar tradisional seperti samba dengan energi kontemporer.

Kolaborasinya dengan Antônio Carlos Jobim membawa bossa nova kepada para pendengar internasional, dan menginspirasi sejumlah inovator Brasil lainnya, seperti Caetano Veloso; Chega de Saudade versi 1958-nya ('No More Blues', dengan lirik oleh Vinicius de Moraes) adalah sebuah tubrukan silang, dan lagunya yang paling legendaris adalah The Girl From Ipanema, terutama versi yang dinyanyikan oleh istrinya, Astrud Gilberto.

Impian Gilberto yang cemerlang tetap hidup, seperti angin sejuk yang hembusannya terasa di budaya pop.

Dia meninggal pada 6 Juli di usia 88 tahun. (AH).

Doris Day

Doris Day Hak atas foto Silver Screen Collection/Getty

Citra Doris Day begitu menyeluruh, sehingga keterlibatannya dalam berbagai film komedi seks tak dimasalahkan.

Film-filmnya tampak ganjil dari kaca mata sekarang, tetapi pada 1950-an dan 60-an, merupakan salah satu bintang box-office terbesar Hollywood.

Dalam film-film seperti Pillow Talk (1959), Rock Hudson mencoba merayunya dan tak pernah berhasil.

Day memulai karirnya sebagai penyanyi, yang salah-satu rekamannya, Sentimental Journey menjadi hit pada 1945, yang menampilkan gaya ekspresif dan penuh emosi pada liriknya.

Di dunia layar lebar dia tampil dengan penuh kehangatan dengan wajah natural dan alas gadis belasan tahun dengan wajah berbintik, dalam puluhan film, termasuk film musikal Calamity Jane (1953), dan The Pyjama Game (1957).

Secara khusus dia membintangi film thriller karya Alfred Hitchcock, The Man Who Knew Too Much (1956).

Latar belakang karakternya sebagai penyanyi memberikan alasan bagi Day untuk menyanyikan Que Sera, Sera (Whatever Will Be, Will Be), yang menjadi lagu hit dan menjadi lagu khasnya.

Day mengatakan bahwa citranya "lebih banyak berupa khayalan ketimbang peran yang dia mainkan dalam berbagai filmnya," tetapi itu membuatnya disayangi penggemarnya dari berbagai generasi.

Dia meninggal pada 13 Mei di usia 97 tahun. (CJ).

Karl Lagerfeld

Karl Lagerfeld Hak atas foto PIERRE GUILLAUD/Getty

Dengan kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya, sarung tangan tanpa penutup jari, dan rambut putihnya yang berkuncir buntut kuda, Karl Lagerfeld adalah pakar mitologi diri.

Dia juga seorang jenius dalam desain - membawa sifat kimiawi tak terduga untuk segala hal yang dia sentuh.

Dilahirkan di Hamburg, dia kemudian pindah ke Paris di masa remajanya, dan meski tidak terlatih, berhasil dalam bidang fesyen.

Dia menjadi direktur kreatif di Fendi, dan kemudian sejak tahun 1983 pindah ke Chanel.

Dia kemudian mentransformasinya dan menjadikannya sebagai pertunjukan catwalk yang spektakuler.

Petinggi Vogue, Anna Wintour, berkata perihal sosoknya: "Dia mewakili jiwa fesyen: gelisah, melihat ke depan, dan cermat mengamati perubahan budaya."

Dia terkenal dengan salah-satu komentarnya yang tajam, ""Sweatpants are a sign of defeat," dan "I'm very much down to Earth. Just not this Earth."

Dia meninggal pada 15 Februari di usia 85 tahun. (LB).

John Singleton

John Singleton Hak atas foto Anthony Barboza/Getty

John Singleton baru berusia 23 tahun ketika debutnya sebagai sutradara, melalui film Boyz n the Hood di tahun 1991, membuka jalan baru dalam penggambaran kehidupan ghetto di South Central, Los Angeles.

Dia menyebut dirinya sebagai "pembuat film pertama dari generasi hip hop", dia juga menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang dinominasikan sebagai sutradara terbaik pada Oscar, dan tetap sebagai nominee termuda dalam kategori tersebut.

Singleton melakoni sebagai sutradara film-film action yang lebih menarik bagi banyak penonton ketimbang memberikan semacam penghargaan kepadanya (Shaft, 2 Fast 2 Furious).

Karirnya terhenti pada dekade terakhir, kemudian menjadikan lebih sedih lagi karena kematiannya pada usia 51 tahun pada 28 April, sebelum dia memiliki kesempatan untuk kembali, di mana dia layak mendapatkannya. (NB).

Jessye Norman

Jessye Norman Hak atas foto Sean Gallup/Getty

Penyanyi opera bersuara sopran asal Amerika Serikat, Jessye Norman, tersohor karena ketenangannya yang agung dan kemampuan teknisnya dalam tarik suara.

Namun demikian dia juga melakoni peran ikonis dan keterlibatannya dalam berbagai konser dari Purcell ke Bizet, Beethoven dan Verdi, dengan kemampuan mengekspresikannya secara hangat dan emosi luar biasa.

Dia selalu terkenang latar perjalanan hidupnya yang dihabiskannya di kawasan selatan Amerika yang terekam dalam memoarnya yang terkenal, Stand Up Straight and Sing! (2014).

Norman juga berkomitmen memberikan kesempatan terbuka kepada kaum muda untuk menyalurkan bakatnya di dunia tarik suara.

Dia mendirikan Jessye Norman School for the Art, yang membebaskan anak didiknya dari kewajiban membayar uang sekolah, di tempat kelahirannya di Augusta, Georgia.

Berbagai pertunjukkan legendaris Norman, termasuk diantaranya penampilannya pada peringatan Bastille Day pada 1989. Saat itu, dia mengenakan Tricolour, dan menyanyikan La Marseillaise (disiarkan ke sekitar 500 juta di seluruh dunia).

Pertunjukan ikonis lainnya, dia menyanyikan Amazing Grace dalam konser anti-apartheid yang menandai ulang tahun Mandela ke 70 tahun.

Dia juga memeriahkan upacara untuk para presiden dan keluarga kerajaan, dan banyak penghargaan lainnya, termasuk penghargaan seumur hidup Grammy (2006).

Cita rasa seni Norman yang mendalam dan apik benar-benar memikat hati.

Dia meninggal pada 30 September di usia 74 tahun. (AH).

Rutger Hauer

Rutger Hauer Hak atas foto Elisabetta A. Villa/Getty

Aktor Belanda ini, tentu saja, terkenal lantaran satu peran: tiruan Roy Batty dalam film karya Ridley Scott, Blade Runner.

Dan tempatnya dalam sejarah sinema tercatat dalam satu adegan klimaks yang ikonik dalam film sains-fiksi klasik: di mana karakter cyborgnya yang sekarat berujar dalam monolog akhir yang menyayat hati, bahwa semua kenangannya akan hilang seperti "air mata dalam hujan".

Ini merupakan bidikan perpisahan yang jauh lebih pedih karena kenyataan bahwa pikiran utamanya ditulis oleh Hauer sendiri.

Di samping momen indah itu, Hauer memiliki karier produktif dan beragam sampai akhir hayatnya.

Namanya muncul pertama kali pada 1970-an di negara asalnya, Belanda, dengan membangun hubungan kerja dengan sutradara Paul Verhoeven.

Debutnya di Amerika Serikat muncul sebagai penjahat dalam film thriller Sylvester Stallone, Nighthawks 1981, sebelum Blade Runner yang kemudian menempatkannya di peta Hollywood, menyusul peran lain yang mengesankan sebagai penumpang psikopat dalam The Hitcher (1986) dan perubahan heroik tidak lazim dalam drama fantasi Ladyhawke (1985).

Tidak lama berselang dia menjadi ikon film berbudget rendah (b-movie), dengan menggabungkan akting cemerlang Sin City dan Batman Begins dengan peran yang tak terhitung jumlahnya dalam film thriller dan horor.

Tetapi apapun skala proyeknya, energi Hauer yang kuat membuat semua yang dia lakoni tampak begitu alamiah, tidak dibuat-buat. Dia meninggal pada 19 Juli di usia 75 tahun. (HM).

Robert Evans

Robert Evans Hak atas foto Chris Polk/Getty

Sebagai kepala produksi di Paramount Pictures, dan kemudian sebagai produser independen, Robert Evans terlibat dalam pembuatan sejumlah film terbaik pada 1960-an dan 70-an, termasuk The Godfather, Chinatown dan Rosemary's Baby.

Tetapi dia hampir sama terkenalnya dengan kehidupan pribadinya, yang menggambarkan sisi jorok dari kehidupan Hollywood yang glamour.

Pada saat kematiannya pada 26 Oktober di usia 89 tahun, dia telah menikah sebanyak tujuh kali, pernah dihukum karena terlibat perdagangan kokain, dan menginspirasi karya fiksi para makelar, termasuk sosok Saul Goodman dalam film seri Breaking Bad dan Better Call Saul.

Kehidupan pribadi dan profesionalnya hadir bersamaan dalam The Kid Stay in the Picture (2002), film dokumenter yang diadaptasi dari memoarnya yang muram.

Film dokumenter itu merupakan salah satu yang paling menghibur dari semua film yang mendapatkan manfaat dari kontribusinya. (NB).

Andrea Levy

Andrea Levy Hak atas foto Christopher Furlong/Getty

Andrea Levy tidak menulis sampai berusia 30-an tahun dan menerbitkan hanya enam buku, tetapi karya fiksinya digemari banyak pembaca dan memiliki dampak yang sangat besar pada penerbitan Inggris, dengan kemampuannya mendemonstrasikan kisah-kisah protagonis kaum kulit hitam yang memiliki daya tarik universal.

Levy dilahirkan pada 1956 dari imigran campuran Jamaika, dan dibesarkan di sebuah rumah susun di London Utara, kesadarannya akan etnisitasnya sendiri bangkit karena perlakukan rasis ringan yang dialaminya di masa mudanya.

Kenyataan masa lalunya ini menjadi hal penting dalam prosanya yang hangat dan lucu, dan membangkitkan novel terkenal yang memenangkan penghargaan, Small Island, yang memberi tempat bagi suara-suara yang tak terbendung bagi generasi Windrush, di mana orang tuanya menjadi bagian di dalamnya.

Sejak saat itulah, di Inggris saja buku itu sudah terjual satu juta copy.

Levy meninggal pada 14 Februari di usia 62 tahun. (HA)

IM Pei

IM Pei Hak atas foto Jack Mitchell/Getty

IM Pei adalah arsitek China-Amerika, yang menggunakan geometri nan tegas dan penggunaan kaca serta beton, yang membuatnya banjir pujian.

Pei lahir di Canton pada 1917, tumbuh besar di Shanghai, kemudian belajar arsitektur di Amerika Serikat, tempatnya tinggal.

Di antara bangunan-bangunan rancangannya yang paling terkenal adalah East Wing dari National Gallery of Art di Washington DC, yang dibuat dengan indah dan modern, serta Hancock Tower di Boston, pencakar langit yang menjulang tajam.

Pada 1983 dia memenangkan Pritzker Prize, yang sering disebut sebagai Nobel Prize untuk arsitektur.

Pada 1989, Louvre Pyramid selesai dibangun, dan struktur kaca-logam yang menakjubkan itu telah menjadi landmark kota Paris yang terkenal.

Pei berkata: "Jika ada satu hal yang saya tahu saya tidak melakukan kesalahan, itu adalah Louvre."

Dia meninggal pada 16 Mei di usia 102 tahun. (LB)

Terry O'Neill

Terry O'Neill Hak atas foto Simon Russell/Getty

O'Neill adalah fotografer dari era lain: anggota paparazzi British Fleet Street yang muncul dari memotret selebritas yang kemudian menjelma semacam selebriti itu sendiri.

Makelar kelas kakap yang mendapati aksen Cockneynya menganggapnya cocok untuk memikat orang-orang kaya dan terkenal agar berpose di depannya, O'Neill lantas memotret siapa pun orang-orang tersohor antara 1960-an dan 70-an.

Di antara yang dipotretnya adalah The Rolling Stones, Frank Sinatra, Brigitte Bardot, Raquel Welch, Elvis, David Bowie dan sekelompok kecil artis pendatang baru (dia acap menyombongkan diri, beberapa di antaranya berakhir di tempat tidurnya).

Sama halnya dengan nalurinya yang diberkahi kemampuan untuk menemukan sudut baru, bakat O'Neill di dunia fotografi pun terbayar.

Meskipun hasil bidikannya acap berupa candid - Bowie yang murung tampak kerdil karena anjingnya yang menggonggong, Faye Dunaway yang memegang piala Oscar tengah bersama teman-temannya di tepi kolam renang - target fotonya tidak pernah kehilangan daya pikat.

Dia meninggal dunia pada 16 November di usia 81 tahun. (AD).

Mary Oliver

Mary Oliver Hak atas foto Frederick M. Brown/Getty

Salah seorang penyair terpopuler di Amerika Serikat, dan tentu saja terlaris, Mary Oliver lahir pada 1935 di Cleveland, Ohio.

Masa kanak-kanaknya yang tidak bahagia, menjadikan dunia bacaan atau buku sebagai pelariannya, sebelum dia menekuni dunia menulis.

Kiblatnya adalah dunia alam, dan selama lebih dari 50 tahun berkarier dan berbagai penghargaan yang diraihnya, puisi-puisi Oliver banyak menyuarakan sosok dan kawanan burung hantu, katak dan angsa liar di New England, tempat dia tinggal bersama pasangannya, fotografer Molly Malone Cook.

Dunia kesehariannya yang banyak bersinggung dengan nilai-nilai kebijakan terkadang membuat pengeritiknya curiga, namun demikian di balik ketenangannya, sejatinya ada kekuatan hidup yang bercahaya, dan bukan hal yang aneh bagi penggemarnya untuk memujinya lantaran sikapnya dalam menjalani hidup.

Dia meninggal pada 17 Januari pada usia 83 tahun. (HA)

Stanley Donen

Stanley Donen Hak atas foto Theo Wargo/Getty

Sutradara Stanley Donen menjadikan kamera layaknya partner saat menari, sekaligus membantunya mewujudkan sebuah nyanyian, tarian dan musikal nan cantik ala Hollywood.

Film-film besutannya termasuk dari sekian film paling ikonis dalam perjalanan sejarah Hollywood.

Bekerjasama dengan Gene Kelly, dia menafsir ulang film bisu produksi tahun 1920-an, Singin in the Rain, menjadi film dengan judul yang sama pada 1952, dengan menyulapnya menjadi film musikal-komedi-romantis.

Dan, sebagai sutradara tunggal, dia menciptakan adegan ketika penari-aktor Fred Astaire menari di langit-langit rumah dalam film Royal Wedding (1951), dan bernyanyi bersama Audrey Hepburn dalam Funny Face (1957).

Melalui karya-karya filmnya musikalnya, dia mampu membuat terobosan melalui kemampuannya dalam menggabungkan dunia koreografi dan musik sehingga canggih secara sinematik.

Pada 1960-an, dia menyutradarai film-film drama yang tidak standar, dua diantaranya dibintangi oleh Audrey Hepburn, yakni film thriller Charade (1963), serta film drama seputar pahit manis kehidupan perkawinan Two for the Road (1967).

Terinspirasi setelah melihat Fred Astaire di layar, Stanley Donen tiba di Hollywood sebagai seorang calon penari, tetapi langkah terbaiknya adalah bergerak di belakang kamera. Donen tutup usia pada 21 Februari di usia 94 tahun. (CJ).

Michel Legrand

Michel Legrand Hak atas foto Eric Fougere/Getty

Komponis Prancis, Michel Legrand, menciptakan beberapa film yang paling berkesan dan romantis sepanjang 50 tahun terakhir.

Jika Anda pernah mendengar The Windmills of Your Mind dan iramanya tetap mengendap di kepala, itu artinya Anda tengah mendengar warisan Legrand.

Dia memenangkan Academy Award untuk lagu itu, dari film The Thomas Crown Affair (1968), dan raihan yang sama digaetnya dalam film Summer of '42 (1971), serta, dengan nada kurang romantis, di film Yentl (1983), karya Barbara Streisand.

Di luar Hollywood, dia adalah pianis produktif, penggubah, pengiring dan penyanyi selama karirnya yang panjang.

Dia memulai sebagai pianis dan penggubah lagu-lagu jazz, dengan albumnya yang tersohor pada 1958, Legrand Jazz, di mana tampil pula sejumlah pemusik jazz terbaik, termasuk Miles Davis dan John Coltrane.

Sejak 1960-an, dia menyusun komposisi elegan untuk teman-temannya di French New Wave. Drama musikal The Umbrellas of Cherbourg (1964) karya Jacques Demy, merupakan karyanya yang akan menjadi salah satu lagu Legrand yang paling termasyhur, I Will Wait for You.

Seperti banyak musiknya yang lain, melodinya sarat kerinduan dan patah hati, yang tetap abadi. Dia meninggal pada 26 Januari pada usia 86 tahun (CJ)

Ditulis oleh: Hephzibah Anderson, Lindsay Baker, Nicholas Barber, Amy Charles, Andy Dickson, Arwa Haider, Caryn James and Hugh Montgomery.

Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris berjudul Arts and culture stars who died in 2019 pada laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait