Lima solusi tak biasa untuk masalah plastik

sampah, lautan Hak atas foto Getty Images
Image caption Tumpukan sampah di pantai utara Jakarta.

Krisis plastik -bukan dalam arti kekurangan melainkan sebaliknya- adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi planet Bumi.

Saat ini, 12,7 juta ton plastik berakhir di lautan setiap tahun, dan konsekuensinya bagi kehidupan laut sangat tragis, dari kura-kura yang tersedak sampai paus yang mati keracunan.

Jelas, solusi utamanya ialah mengurangi jumlah plastik yang kita gunakan di hulu. Tapi bagaimana dengan teknologi, pemikiran lateral, dan bahkan peran spesies lain untuk menemukan solusi bagi tumpukan raksasa plastik di planet Bumi?

Berikut ini lima solusi yang paling tak biasa:

Jamur

Aspergillus tubingensis adalah spesies jamur berpigmen gelap yang tumbuh subur di habitat hangat. Penampilannya tidak istimewa, tetapi ia punya satu sifat yang menarik minat para ilmuwan.

Masalah besar dengan plastik adalah bahwa ia sulit terurai. Menemukan agen yang dapat memecah polimer akan sangat membantu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pakar mikrobiologi menguji penggunaan jamur untuk mengurai sampah plastik.

Sekelompok ahli mikrobiologi di Universitas Quaid-i-Azam di Pakistan menemukan bahwa Aspergillus tubingensis dapat mengurai poliuretana (PU).

"Jamur ini mengeluarkan enzim yang mengurai plastik, dan sebagai gantinya, ia mendapatkan makanan," kata peneliti utama Sehroon Khan. Aspergillus tubingensis dapat digunakan untuk mengurai plastik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Membersihkan lautan

Pulau Sampah Pasifik Besar adalah tumpukan plastik terbesar di lautan yang berada di antara California dan Hawaii. Luasnya tiga kali negara Prancis dan berat totalnya 80.000 ton.

Sekelompok teknisi dari Belanda, dipimpin oleh penemu berusia 24 tahun bernama Boyan Slat, telah meluncurkan sistem pembersihan samudera yang disebut 'System 001'. Ini adalah pemungut sampah berukuran raksasa, sepanjang 600 meter. 'Truk sampah' yang mengambang di permukaan air ini mampu memungut sampah sampai kedalaman 3 meter.

Hak atas foto The Ocean Cleanup
Image caption 'System 001' akan dikerahkan untuk memungut sampah plastik di Pulau Sampah Pasifik Besar.

Kapal sampah itu akan memungut plastik setiap bulan. Dengan menggunakan simulasi komputer dan pemodelan skala, para teknisi telah menguji coba sistem ini; dan sekarang ia sedang dalam perjalanan menuju Pulau Sampah Pasifik Besar.

Slot telah dipuji dan dikritik atas temuannya tapi, saat ini, kita masih harus menunggu. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang bakal terjadi. "Momen yang paling saya nantikan ialah ketika kita membawa pulang tumpukan plastik pertama dan membuktikan teknologi ini," kata Slat.

Jalanan berbahan plastik?

Ide lainnya yang datang dari Belanda ialah proyek yang disebut PlasticRoad. Ini adalah jalanan untuk sepeda di kota Zwolle yang terbuat dari hasil daur ulang plastik. Ini merupakan salah satu cara untuk menggunakan kembali botol, gelas, dan bungkus plastik alih-alih membakarnya atau menumpuknya di TPA.

Saat ini jalanan tersebut menggunakan 70% plastik daur ulang, tapi rencananya di masa depan akan digunakan 100% plastik daur ulang.

Perusahaan mengatakan bahwa plastik daur ulang lebih tahan lama daripada aspal biasa, lebih cepat dipasang dan tidak membutukan peralatan berat, sehingga jejak karbonnya juga lebih kecil.

Jalanan plastik pertama di Zwolle panjangnya 30m dan mengandung plastik daur ulang yang setara dengan 218.000 gelas plastik atau 500.000 tutup botol plastik. Pada bulan November, jalanan plastik kedua juga akan dibangun di Overijssel.

Mengganti plastik dengan rumput laut

Upaya melawan plastik membuat para teknisi dan desainer untuk mencari material lain yang dapat digunakan untuk mengemas makanan. Bioplastik dibuat dari biomassa yang dapat diperbarui, biasanya minyak dan lemak sayur, pati singkong, kayu, atau limbah makanan. Tapi rumput laut adalah solusi yang dipilih perusahaan perintis Indonesia bernama Evoware.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rumput laut diduga merupakan solusi baru bagi penggunaan plastik yang berlebihan untuk membungkus makanan.

Perusahaan itu bekerja sama dengan petani rumput laut untuk menciptakan bungkus sandwich dan burger, sachet untuk kopi dan bumbu masakan, serta kemasan sabun, yang semuanya terbuat dari rumput laut.

Kemasan itu dapat dilarutkan dalam air panas atau, untuk mengurangi sampah sama sekali, dimakan. Berkelanjutan dan bergizi.

'Bank Sampah'

Masalah terbesar yang ditimbulkan plastik adalah dampaknya terhadap kehidupan laut. Pada 2050, menurut beberapa estimasi, akan ada lebih banyak potongan plastik daripada ikan di lautan. Salah satu ide untuk mencegah plastik sampai ke lautan sedikit lebih abstrak.

Plastic Bank adalah usaha sosial yang membayar sampah plastik dengan harga di atas harga pasar. Orang yang mengumpulkan plastik dapat menukarkannya dengan uang, barang (bahan bakar, kompor) atau layanan, seperti biaya sekolah.

Proyek ini memberi insentif kepada orang-orang untuk mengumpulkan plastik sebelum memasuki saluran air sambil memerangi kemiskinan, memberikan penghasilan, membersihkan jalanan, dan mengurangi jumlah sampah yang masuk ke lautan.

Tujuan dari Plastic Bank adalah membuat plastik terlalu berharga untuk dibuang dan mengubahnya menjadi mata uang. Perusahaan kemudian menjual plastik ke klien-kliennya, yang membayar sekitar tiga kali lipat lebih besar dari harga normal plastik.

Perusahaan tersebut saat ini beroperasi di Haiti, Brasil dan Filipina dan berencana membuka cabang di Afrika Selatan, India, Panama dan Vatikan.


Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Earth.

Topik terkait

Berita terkait