Komunitas warga yang melawan penangkapan lobster berlebihan

Merlin shows off his catch, these small lobsters are hard to sell and will often be eaten by the locals Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Merlin menunjukkan hasil tangkapannya, lobster kecil ini sulit dijual dan biasanya dimakan oleh penduduk setempat.

Di sebuah desa kecil di Madagaskar selatan, penduduk setempat mencari nafkah mencari lobster menggunakan pot yang terbuat dari daun palem dan perahu kayu buatan tangan.

Saat matahari terbit di pantai berpohon kelapa di desa Manafiafy, di komunitas Sainte Luce, puluhan pirogue (kano kayu) berselancar di atas ombak.

Penduduk setempat mendaratkan kapal yang berat ke pantai dan mulai menghitung dan menimbang tangkapan mereka; lobster segar yang ditangkap dalam pot yang terbuat dari daun palem yang dirajut tangan.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Mendaratkan pirogue ke pantai saat matahari terbit.

Penangkapan lobster skala kecil di Sainte Luce adalah sumber pendapatan utama bagi 80% rumah tangga dan merupakan produsen lobster utama untuk wilayah Anosy, di mana ekspor lobster memberikan kontribusi paling signifikan bagi perekonomian regional.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan menurun, kemungkinan besar karena penangkapan lobster yang berlebihan dan pola cuaca yang tidak dapat diprediksi, mengancam keamanan aliran pendapatan utama masyarakat yang miskin itu.

Menanggapi penurunan hasil tangkapan, para nelayan, dengan bantuan LSM Inggris SEED Madagaskar, telah menerapkan kawasan laut yang dikelola secara lokal yang mencakup zona larangan penangkapan dengan luas 13 km2 untuk hampir sepanjang tahun.

Proyek ini telah menunjukkan keberhasilan besar dalam menyeimbangkan kembali persediaan dan menyelamatkan industri penting di Sainte Luce. Sedemikian rupa sehingga masyarakat sekitar sekarang menerapkan zona larangan penangkapan mereka sendiri.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Para pembeli memeriksa hasil tangkapan masing-masing kapal.

Saya berada di Sainte Luce menyelidiki dampak perubahan iklim di Madagaskar dan menghabiskan pagi hari di pantai berbicara dengan nelayan tentang pekerjaan mereka dan bagaimana hal-hal telah berubah.

Di sepanjang pantai, para pembeli pergi dari kapal ke kapal saat mereka masuk, memeriksa hasil tangkapan dan menimbang lobster yang lebih besar. Para nelayan dengan gelisah menunggu untuk melihat berapa besar penghasilan mereka pada hari itu.

Seorang pria bernama Andry Christin mendatangi kapal-kapal dengan sebuah papan klip.

Dia tinggal di desa dan telah bekerja untuk memantau wilayah laut yang dikelola secara lokal.

Dia mencatat bobot dan ukuran lobster dan memeriksa apakah ada lobster betina yang sedang bertelur.

Dia menjelaskan bahwa dia ingin mengajari nelayan tentang mengembalikan lobster kecil sehingga mereka dapat tumbuh hingga ukuran penuh serta membiarkan lobster betina yang bertelur.

Itu adalah bagian dari proyek tetapi adalah bagian yang sulit untuk diterapkan, jelasnya, "Kata orang kepada saya, kami butuh uang untuk membeli beras karena kami tidak bisa menanamnya di sini sehingga kami harus menjual semua yang kami bisa."

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Tsiraiky sedang merajut pot lobster.

Kepala desa (Chef Cartier), Benagnomby Foara, mengatakan bahwa pola cuaca menjadi jauh lebih tidak terduga sehingga mereka tidak tahu kapan hujan akan datang seperti dulu dan sering gagal panen.

Penangkapan lobster sangat penting agar orang dapat membeli makanan ketika mereka tidak bisa mengandalkan untuk menanam apa pun, tetapi katanya, iklim juga mempengaruhi penangkapan ikan.

"Ada lebih banyak badai sekarang dan berbahaya untuk keluar dalam cuaca badai, beberapa orang mengambil risiko ketika mereka putus asa, tetapi itu tidak aman," kata Foara.

Pada saat saya di pantai, cuaca indah, tetapi itu bisa menjadi rintangan juga.

Lobster harganya sekitar 80 pence untuk 1kg. Yang bisa dibawa kapal paling banyak pada hari itu adalah 2kg dan setiap perahu membutuhkan tiga hingga empat pekerja.

Mereka memberi tahu saya bahwa hari itu adalah hari yang buruk; lobster tidak menyukai matahari karena mereka tidak dapat bersembunyi dari predator.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Kapal perahu kayu yang diperbaiki dengan panel plastik.

Christin menjelaskan bahwa kadang-kadang dia melihat orang membawa pulang 20kg lobster, tapi itu sangat jarang.

"Ketika kakek saya dulu menangkap lobster, dia kadang-kadang membawa 100kg per kapal dalam satu hari, tetapi itu tidak akan pernah terjadi lagi," ungkap Christin.

Mereka mungkin tidak akan pernah melihat tangkapan 100kg dalam sehari lagi, namun dengan area-area yang diatur itu, persediaan lobster meningkat dan ini membantu masyarakat setempat.

Terlepas dari antusiasme masyarakat setempat untuk terus menerapkan zona larang tangkap, perubahan iklim masih menjadi masalah bagi mereka.

"Kami akan terus melakukan yang terbaik untuk mengelola persediaan lobster, tetapi kami tidak bisa mengendalikan cuaca."

Silakan membaca artikel aslinya dalam Bahasa Inggris, The community battling overfishing dan tulisan-tulisan lain tentang lingkungan di BBC Earth.

Berita terkait