Memberikan solusi cerdas bagi industri pewarnaan yang mematikan

Sungai Citarum di Jawa Barat Hak atas foto Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Sungai Citarum di Jawa Barat adalah salah satu sungai yang tercemar berat oleh limbah industri teksil dan pewarnaan kain.

Industri pewarnaan menggunakan setengah triliun galon air segar yang berharga setiap tahun, dan industri fesyen adalah industri yang menciptakan paling banyak polusi kedua di dunia.

Para peneliti di Colorifix telah mengembangkan solusi yang cukup cerdas, terinspirasi dari alam.

Seni mewarnai kain adalah sebuah seni kuno yang dimulai sejak .500 sebelum masehi. Selama berabad-abad manusia telah berusaha untuk mencerahkan penampilan kita dengan pakaian yang mencerminkan warna-warna alami yang semarak yang terlihat di alam, dan banyak pewarna awalnya bersumber dari alam di sekitar kita.

Ketika pewarna sintetis ditemukan pada 1856 oleh W H Perkins, rangkaian warna yang lebih luas menjadi memungkinkan, dan dengan munculnya revolusi industri, industri kain berkembang pesat.

Di zaman modern, permintaan konsumen mendorong rumah mode dan warna menjadi raja: tetapi pewarnaan kain muncul dengan biaya yang tinggi.

Limbah bahan kimia dari pewarna sering sangat beracun - pewarna Azo yang menyumbang 60-70% dari semua pewarna yang digunakan menjadi karsinogenik ketika dipecah dan dimetabolisme.

Dan zat pengikat yang digunakan yang dapat mengandung senyawa formaldehida dan klor, tidak lebih baik - keduanya dikaitkan dengan alergi dan kanker, tidak hanya berbahaya bagi manusia tetapi juga bagi lingkungan.

Masalah ini tersebar luas di daerah-daerah seperti Maheshtala di Bangladesh bagian barat di mana penelitian telah menunjukkan bahwa air permukaan begitu tercemar sehingga tidak cocok untuk keperluan rumah tangga, industri atau pertanian.

Hak atas foto baytunc/Getty
Image caption Limbah kimia yang digunakan untuk mewarnai kain sangat beracun.

Secara total lebih dari 8000 bahan kimia telah diidentifikasi digunakan dalam proses pewarnaan, banyak di antaranya telah dicatat sebagai karsinogenik atau berbahaya bagi kesehatan.

Tambahkan ini ke sejumlah besar air yang diperlukan untuk proses pewarnaan di mana kolam air besar diperlukan pada setiap tahap proses (dibutuhkan sekitar 500 galon air untuk menghasilkan kain yang cukup untuk menutupi sofa) dan kita dapat melihat mengapa industri ini adalah salah satu yang paling merusak lingkungan di bumi, bertanggung jawab atas setidaknya 17-20 persen dari total polusi air.

Negara-negara seperti Cina dan Bangladesh yang memiliki banyak pabrik-pabrik tekstil menderita masalah serius karena jutaan galon air limbah yang penuh dengan logam berat, senyawa kromium, nitrat dan asam mencemari permukaan air tanah.

Jadi, apakah ada cara lain? Ahli biologi sintetis, Orr Yarkoni, berpikiran demikian.

Perusahaannya, Colorifix, telah memelopori teknik baru yang melewati teknik pewarnaan tradisional demi pendekatan berdasarkan metode alami.

Daripada memerangi alam, dia percaya kita perlu memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah lingkungan kompleks yang menantang saat ini.

"Colorifix sangat terinspirasi dari alam," katanya, "alam telah menciptakan seluruh palet warna yang kita lihat setiap hari".

Hak atas foto Chris Knowles
Image caption Colorifix mereplikasi organisme-organisme yang membawa DNA warna tertentu. Secara keseluruhan proses pewarnaan akan membutuhkan lebih sedikit air, menghasilkan lebih sedikit limbah, dan membutuhkan lebih sedikit bahan kimiawi.

Mengambil warna dari berbagai pigmen alami Colorifix kemudian merekayasa mikroorganisme menggunakan DNA untuk mengubah produk sampingan pertanian menjadi pewarna.

"Salah satu fokus terbesar adalah untuk memahami bahasa yang digunakan oleh alam: DNA", sebuah lompatan konseptual yang telah mengarahkan Colorifix untuk membuat kemajuan yang signifikan dalam mengurangi dampak lingkungan dengan memanfaatkan kekuatan alam pada tingkat paling dasar.

Yang terpenting dari semua itu, mikroorganisme yang tercipta ketika meledak 'memperbaiki' warna pada kain sehingga mengurangi kebutuhan akan air dalam jumlah besar.

Organisme itu sendiri dapat dikembangkan atau difermentasi begitu kode DNA untuk pewarna yang diperlukan telah ditanamkan dan reproduksi alami ini cepat dan efisien.

Secara keseluruhan seluruh proses menggunakan lebih sedikit air, menghasilkan lebih sedikit limbah, dan membutuhkan bahan kimia yang jauh lebih sedikit.

Sebuah jalan baru yang terinspirasi oleh alam.

Mari kita berharap para pemimpin industri merangkulnya sebelum benar-benar terlambat.

Silakan membaca artikel aslinya dalam Bahasa Inggris, Breathing life into a dyeing artdan tulisan-tulisan lain tentang lingkungan diBBC Earth.

Berita terkait