Siapkah kita menghadapi dampak perang nuklir?

Nuklir Hak atas foto Jeff J Mitchel/Getty Images

Pada abad ke-20 ini, kita mendapatkan informasi kampanye, tempat penampungan, sirene dan kesadaran akan ancaman nuklir secara luas. Apakah hari ini kita membutuhkan sebuah kebangkitan 'pertahanan sipil'?

Jika terjadi perang nuklir, pemerintah Inggris setidaknya telah memiliki satu bunker yang tersembunyi di jantung kota London. Disebut Pindar. Namanya diambil dari seorang penyair Yunani kuno - tapi rujukannya mengerikan.

Dikatakan bahwa pada 335 tahun Sebelum Masehi, Alexander yang Agung menghancurkan kota Thebes dan menyisakan rumah penyair Pindar- yang disisakan terutama berkat sejumlah puisinya, yang memuja leluhur raja Yunani itu.

Implikasinya, tentu saja, bahkan andaikata pun London menjadi rata akibat sebuah perang nuklir, Pindar akan bertahan. Apakah bangunan secara spesifik telah dirancang untuk itu, tidak diketahui.

Hanya beberapa foto saja dari kompleks itu yang pernah dipublikasikan- bahwa foto-foto itu memag diambil di Pindar, dikukuhkan oleh Kementerian Pertahanan berdasarkan yang mengacu pada UU Kebebasan Memperoleh Informasi.

Selain markas besar militer yang sangat aman, Pindar juga menawarkan "keberlanjutan pemerintahan"- sebagai bagian dari rencana negara untuk memastikan bahwa pihak berwenang dapat berkuasa bahkan selama dan setelah bencana ekstrem.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Sebuah tempat pengungsian yang terbengkalai di New York.

Namun kapasitas untuk pemimpin militer dan politisi penting untuk selamat dari bencana merupakan satu hal. Bagaimana dengan publik yang seharusnya mereka lindungi dan wakili? Apakah kita juga siap mengahadapi keadaan bencana nuklir?

Pertanyaan itu yang menyita perhatian Alex Wellerstein pada Institut Teknologi di New Jersey. Dalam hal keberlangsungan pemerintah dia mengatakan,"Saya tidak tertarik pada hal ituā€¦ itu merupakan masalah mereka."

Wellerstein baru-baru ini mengumumkan bahwa dia dan rekannya mengambil bagian pada sebuah proyek untuk menghidupkan lagi pertahanan sipil. Yakni metode dan kampanye informasi yang dirancang untuk membantu publik untuk melindungi diri mereka sendiri dalam sebuah peristiwa serangan militer atau bencana alam.

Hak atas foto Alex Wellerstein
Image caption Salah satu dari proyek Wellerstein adalah Nukemap yang menginformasikan tentang ledakan nuklir.

Pertahanan sipil lebih banyak didiskusikan selama masa Perang Dingin - ketika momok serangan nuklir membentuk budaya populer dan jadi topik dalam politik. Sekarang ini kita tidak lagi banyak berbicara mengenai jatuhnya bom atau kejadian setelahnya, tetapi hal itu harus diubah, kata Wellerstein.

Lagi pula, masih ada sekitar 15.000 senjata nuklir di dunia pada saat ini, sebagian besar dimiliki oleh Rusia dan Amerika Serikat. Para pemimpin kedua negara baru-baru ini sepakat satu sama lain bahwa hubungan antar kedua negara mereka berada pada titik terendah dan sangat membahayakan.

Meskipun Wellerstein mengakui bahwa perang nuklir atau sebuah ledakan nuklir berskala kecil oleh negara yang nyeleneh atau kelompok teroris sangat tidak mungkin, dia yakin bahwa sangat penting bagi kita untuk berjaga-jaga.

Salah satu dari proyek Wellerstein adalah Nukemap: sebuah versi modifikasi. Google Maps yang menyampaikan efek dasar dari ledakan kepada pengguna - dari senjata nuklir pilihan mereka - di seluruh lokasi manapun di bumi, termasuk kota-kota besar.

Idenya adalah untuk mendorong orang untuk memperlakukan ancaman nuklir dalam istilah yang sudah dikenal, untuk membuatnya tampak lebih nyata. Ini karena banyak yang mencemooh dan menganggap ide pertahanan sipil itu tak ada gunanya - "mereka senang sekali menertawakan hal ini," jelas dia. Dan saat ini Wellerstein merencanakan alat yang lebih canggih.

"Bayangkan Anda dapat menggunakan sebuah headset (realitas virtual)," kata dia. "Anda menatap langit Manhattan dan trlihat sebuah senjata nuklir melesat. Bayangkan Anda melihat awan jamur membumbung di depan Anda."

"Apakah itu membuatnya lebih terasa nyata?"

Hak atas foto Chung Sung-Jun/Getty Images
Image caption Sebuah tanda 'lokasi pengungsian' di dekat stasiun kereta bawah tanah di Seoul, Korea Selatan.

Proyek terbarunya akan mempertimbangkan segala jenis bahan untuk kegunaan yang sama, kata dia. Sebagai contoh, dia yakin tentang ide novel grafis yang diarahkan untuk menyampaikan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan peluang untuk menyintas setelah serangan nuklir.

Sarannya sesederhana seperti bertahan di dalam rumah dan bukan berupaya menuju lokasi yang terdampak. Hal ini karena jalanan dalam situasi krisis seringkali macet - ini sering terjadi menyusul peringatan terjadinya badai, misalnya. Dan ketika sebuah bom nuklir meledak, itu akan menyedot banyak debu dan puing-puing dan mengontaminasinya sebelum "berhamburan" di atas lahan sekitarnya.

"Di dalam sebuah bangunan, daya lindung meningkat secara dramatis," jelas Wellerstein. "Anda dapat bertahan di sana selama beberapa jam dan risiko terkena radiasi turun secara dramatis."

Seiring berlanjutnya demonstrasi oleh Korea Utara dalam meningkatkan kemampuannya untuk meluncurkan rudal nuklir yang dapat menjangkau AS dan ketegangan yang meningkat antara pemimpin kedua negara, sejumlah komunitas dalam jangkauan rudal itu mulai melakukan persiapan lebih serius. Di Jepang, sebuah desa memulai latihan serangan nuklir.

Hawaii memperbaharui pedoman untuk warganya mengenai apa yang harus dilakukan dalam sebuah peristiwa ledakan nuklir, seperti juga dilakukan sejumlah otoritas lokal di wilayah pesisir barat AS. Salah satu dari wilayah AS yang diancam oleh Korea Utara, Guam, juga baru saja menerbitkan instruksi mengenai bagaimana melindungi dari radiasi (Baca "Pedoman Armageddon"). Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS juga baru mendesain ulang situsnya yang disebut Ready.gov, yang antara lain membahas tentang ledakan nuklir

Di negara lain, pentingnya pertahanan sipil tidak menjadi agenda dalam beberapa tahun terakhir. Pada 1980, di Inggris telah dikembangkan serangkaian kebijakan persiapan pertahanan sipil, di antaranya - pengendali regional yang berada di seluruh pelosok- yang bisa membantu memastikan keberlanjutan pemerintah. Lainnya, seperti sirene serangan udara dan kampanye informasi, ditujukan khusus bagi masyarakat umum.

Sirene, misalnya, dipasang di ribuan lokasi, bisa digunakan untuk memperingatkan tentang akan datangnya suatu serangan rudal atau untuk mengabarkan bahwa situasi aman ketika tingkat radiasi sudah dinetralkan.

Apakah infrastruktur Perang Dingin benar-benar berguna jika perang nuklir habis-habisan terjadi? Syukurlah, itu tak pernah harus diuji dalam skenario yang nyata.

"Masalah dengan isu ini adalah suatu tingkat darurat bisa sangat berbeda dengan tipe darurat lainnya," kata Patricia Lewis, direktur departemen keamanan internasional pada institut kebijakan Chatham House. "Sangat berbeda-beda."

Di masa lalu, pertahanan sipil di Inggris tidak mendpat dana yang cukup, terbatas jangkauannya dan terlambat dalam mengenali ancaman yang sangat nyata, kata sejarawan dari Universitas Essex Matthew Grant. Ia menuliskan topik ini dalam bukunya, After the Bomb: Civil Defence and Nuclear War in Britain, 1945-68.

Dan seperti dijelaskan Jennifer Cole pada Royal United Services Institute (RUSI), perang nuklir tidak lagi ada tercantum dalam "Daftar Risiko Nasional" - meskipun kemungkinan sebuah bom nuklir diledakkan oleh sebuah kelompok teroris memang "rendah tetapi tidak boleh diabaikan".

"Sebuah serangan nuklir sudah bukan lagi sebuah skenario terburuk yang bisa terjadi," kata dia.

Hak atas foto AFP/Nikolay Doychinov
Image caption Sebuah instalasi seni di Bulgaria untuk menandai bencana nuklir Chernobyl, yang menunjukkan bagaimana bahaya dan lamanya radiasi dapat terjadi.

Koleganya di RUSI, Tom Plant, juga menyebut bahwa kapal selam Inggris - dilengkapi dengan hulu ledak nuklir - saat ini dalam keadaan siaga untuk menerima "pemberitahuan untuk menembak" dlam beberapa hari. Pada puncak Perang Dingin, rudal dapat diluncurkan dalam tempo 15 menit.

"Kita tidak berada dalam situasi seperti Perang Dingin saat kita mengandaikan adanya ancaman dalam tingkat yang tinggi," kata dia.

Tanpa ancaman yang berlebihan, sebagian besar perencanaan dan kesiapsiagaan yang disusun oleh pemerintah-pemerintah abad 20 telah mereda atau dicantumkan sebagai bagian dari rencana manajemen krisis lainnya. Skema untuk menghadapi banjir yang parah, serangan teroris atau peristiwa lain yang mungkin menyebabkan banyak orang mengungsi tampaknya merujuk pada perencanaan yang disusun terkait Perang Dingin di masa lalu, kata Cole.

Apa yang masih ada hari ini? Di Inggris, peraturan kuncinya adalah Regulasi (Kesiapan Darurat dan Informasi Publik) akan radiasi - atau 'Reppir.'

Ambil contoh, Portsmouth dan Southampton. Kedua kota di Inggris itu merupakan tempat di mana kapal selam bertenaga nuklir dapat berlabuh. Dengan demikian, dewan kota telah memiliki rencana darurat yang terinci berdasarkan Reppir sebagai pedoman jika terjadi kecelakaan yang menyebabkan radioaktivitas tersebar di kawasan itu. Pedoman itu mencantumkan beberapa kali, bahwa reaktor itu sendiri tidak dapat menyebabkan terjadinya ledakan nuklir.

Hak atas foto Chung Sung-Jun/Getty Images
Image caption Masker gas dan peralatan darurat di dalam kereta bawah tanah Seoul, di Korea Selatan.

Pangkalan Angkatan Laut di Portsmouth bahkan memiliki sirene udara tua yang rutin diuji coba, jika dibutuhkan andai terjadi kecelakaan. Di tempat lain di Inggris juga ada sistem sirene untuk memperingatkan bahaya kimia dari pabrik, misalnya.

Pertanyaan tentang berapa jauh yang bisa dilakukan untuk mengurangi aibat suatu bom nuklir masih terlontar.

Tentu saja, ada banyak tempat di dunia yang masih memiliki tempat pengungsian untuk bencana nuklir, misalnya di New York. Tetapi di sana sejumlah tempat telah berubah fungsi menjadi fasilitas lain yang membuatnya kurang cocok sebagai lokasi perlindungan jika ada senjata nuklir meledak sekitar mereka.

Komite Internasional Palang Merah ICRC secara teratur membahas langkah yang dapat dilakukan terhadap sejumlah negara untuk menghadapi berbagai jenis bencana- termasuk ledakan senjata nuklir.

"Jika kita membahas lokasi yang terdampak dalam beberapa menit setelahnya," jelas Johnny Nehme, kepala unit kontaminasi senjata,"hampir tak ada yang dapat dilakukan."

"Satu-satunya bantuan kemanusiaan yang dapat saya bayangkan adalah beberapa pekan kemudian."

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Makanan kaleng yang berasal dari sebuah bunker nuklir yang dimiliki oleh pemerintah Irlandia, dekat Ballymena di Irlandia Utara (Kredit: AFP/Getty Images)

Dia juga menekankan bahwa dalam situasi perang, sangat memungkinkan bahwa perbatasan akan ditutup dan penerbangan ditiadakan, benar-benar membatasi kemampuan organisasi kemanusiaan untuk membantu para penyintas.

Kehancuran akibat ledakan nuklir di sebuah kota modern- dan terbatasnya kemampuan lembaga kemanusiaan, layanan darurat dan pemerintah untuk membantu - membuat skenario terburuk ini membangkitkan keputus-asaan. Tetapi bagi Alex Wellerstein, dan pendukung pertahanan sipil lainnya, sebenarnya ada setitik harapan: sebuah kemungkinan bagi penduduk untuk meningkatkan peluang untuk selamat jika mereka benar-benar lebih memiliki ksiapan dan mendapat informasi yang lengkap.

Hal itu bukan yang sesuatu yang benar-benar ingin dipikirkan oleh setiap orang. Tetapi jika yang sesuatu yang tak terbayangkan terjadi, mungkin memikirkannya - bahkan kendati hanya selewatan saja - akan memberikan pada kita peluang terbaik.


Anda bisa membaca artikel How prepared are we for he impact of a nuclear war? dalam BBC Future.

Berita terkait