Di masa depan, masihkah budaya tulisan tangan dipertahankan?

menulis Hak atas foto Getty Images
Image caption Siswi dari Kanada ini menggunakan tablet di sekolah.

Komputer dan tablet telah mengubah cara kita menulis, lalu akankah kemampuan kita menulis dan menggenggam pensil sirna?

Banyak yang mengatakan bahwa eranya tulisan tangan sudah mati. Saat ini komunikasi tertulis kita dilakukan dengan papan ketik dan sentuhan layar. Bahkan, tanda tangan saja sudah semakin jarang dilakukan, karena banyak kartu kredit kini dilengkapi chip dan nomor sandi.

Di zaman ini, anak-anak kita menggeser, mencubit, dan menyentuh layar ponsel pintar dan tablet dari lahir. Apakah istilah 'tangan' pada tulisan tangan akan tersingkir selamanya? Dan, ada untungnya kah menyimpan pulpen dan kertas: peninggalan yang artistik, demi manfaat kognitif, atau alasan lain?

Pulpen berkurang

Dulu, belajar menulis tulisan sambung pernah jadi mata pelajaran wajib di sekolah. Tapi sekarang tidak lagi.

Di negara seperti Finlandia, tulisan sambung tidak diajarkan lagi di sekolah. Siswa justru diajarkan mengetik. Dan di Amerika Serikat, syarat bisa menulis dengan tulisan sambung sudah ditinggalkan. Sejak 2013, syarat tersebut tidak lagi menjadi standar utama. Namun, masih ada beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang masih memberikan pelajaran menulis sambung dalam pendidikan dasar. Salah satunya di Arizona, tapi tidak mayoritas juga.

Hak atas foto Getty Creative Stock
Image caption Banyak sekolah di berbagai belahan dunia yang tidak lagi menekankan pelajaran menulis dalam kurikulum mereka.

Beberapa ahli menyebutkan berlatih menulis bisa memberi manfaat tak langsung. Anne Trubek yang menulis The History and Uncertain Future of Handwriting berpendapat pelajaran semacam ini bisa mendorong kemampuan gerak otomatis. Gerakan ini artinya Anda bisa menuntaskan suatu tugas dengan sempurna dan melakukannya tanpa berpikir. Sehingga, kapasitas mental Anda untuk berpikir tidak tersita banyak dan Anda bisa melakukan hal lain sambil menuntaskan tugas tersebut. Trubek mencontohkan gerak otomatis yang bisa dilatih pada pelajaran menulis tangan seperti saat seseorang bisa mengemudi.

''Setelah menyetir cukup lama, Anda secara otomatis tanpa berpikir lagi bisa menginjak gas atau memutar setir sedikit,'' ujarnya. ''Semua tinggal dikerjakan dan gerakan semacam itu yang diinginkan dari anak-anak lewat pelajaran menulis. Anda dan saya tidak lagi berpikir untuk membuat huruf 'I' yang melingkar ke atas atau mencari huruf 'r' di papan ketik. Itu sebabnya otak kita bisa bebas memikirkan hal lain yang lebih penting, misalnya tempat yang dituju, pohon di pinggir jalan atau merenungkan ide yang ingin kita tulis.

Trubek sudah menulis banyak esai dan buku bertopik tulisan tangan dan dia sangsi kalau budaya ini akan mati dalam waktu dekat, bahkan dia tidak yakin budaya menulis bisa mati. Tapi, dia yakin kalau para pelajar akan lebih cepat mempelajari gerak otomatis lebih cepat dengan papan ketik ketimbang tulisan tangan: siswa belajar mengetik tanpa menatap papan ketik sejak usia dini dan dengan mengetik lebih cepat daripada durasi mereka menulis, maka mereka punya waktu tambahan untuk memikirkan pilihan kata atau struktur kalimat.

Dalam artikel yang ditulis untuk New York Times tahun lalu, Trubek mengatakan bahwa dengan perkembangan gerak otomatis dengan teknologi papan ketik, anak-anak zaman sekarang bisa lebih baik berkomunikasi lewat teks sebab waktu mereka tidak tersita lagi untuk melatih tulisan tangan. Pandangan ini mengundang kritik dan juga dukungan.

Dia menjelaskan, dua pendapat yang paling sering dia dengar dari para pengecam menurunnya budaya tulis tangan adalah tidak ada yang melindunginya sehingga ''sejarahpun hilang'' dan ''sentuhan personalpun hilang''.

Dia menantang kritikan pertama bahwa dari penelitian dia mendapati 95% manuskrip yang ditulis tangan tidak bisa dibaca oleh orang awam - ''itu sebabnya kita punya paleografer,'' jelas dia. Paleografi adalah studi yang mempelajari gaya tulisan tangan kuno. Sedangkan untuk menangkal kritikan yang kedua yang mengacu pada hubungan hangat kita dengan memberikan catatan personal yang ditulis tangan seperti kartu terima kasih.

''Ini menandakan bahwa orang tersebut mengorbankan waktunya; bahwa tindakan ini lebih menguras tenaga, maka menghasilkan komunikasi yang amat berarti,'' kata Trubek. ''Saya lihat ada banyak cara untuk mengatakan kita peduli dan menyisihkan waktu untuk hal tersebut - seperti mengirim setoples kue misalnya kalau tulisan sambung Anda kurang bagus.''

Beberapa pendidik tampaknya setuju, setidaknya sampai pada satu titik.

Finlandia, contohnya, saat ini terdepan di Eropa dalam mengembangkan metode pendidikan sekolah yang progresif dan sederet revisi kurikulum di tahun 2014 yang pada akhirnya merevisi panduan bagi pendidikan menulis, kemudian memprioritaskan metode komunikasi cetak dan digital.

Hak atas foto Vincenzo Pinto/AFP/Getty Images
Image caption Menurut penelitian, aktivitas fisik dari menulis dengan tangan bisa membantu anak-anak mengenal huruf bahkan di era tablet saat ini.

Minna Harmanen dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia mengatakan respon terhadap perubahan yang dilakukan pada umumnya positif. ''Tidak ada komplain dari guru, anak-anak atau orang tua ke Badan Pendidikan Nasional Finlandia,'' kata dia.

Harmanen mengatakan bahwa alasan terpenting untuk perubahan adalah tulisan tangan sambung tidak banyak digunakan lagi.

''Belakangan, di kehidupan kerja Anda harus membuat sebagian besar teks dengan komputer dan itu sebabnya lancar mengetik itu penting,'' kata dia. ''Tulisan tangan lama selalu susah dibaca dan dokumen sejarah bisa dipelajari untuk dibaca jika diperlukan.''

Sisi positif menulis

Meski begitu, ada penelitian yang mengatakan bahwa tulisan tangan bisa memberi sejumlah keuntungan kognitif.

Tulisan tangan bisa merangsang kemampuan motorik halus yang ada di tangan dan jari-jari. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan University of Washington, saat menulis dengan tangan dibandingkan dengan papan ketik, bagian otak yang bekerja berbeda. Ini yang digaungkan lewat artikel William Klemm di Psychology Today pada 2013.

''Ada keuntungan berlebih dalam hal kemampuan berpikir yang digunakan dalam membaca dan menulis,'' ungkap dia. ''Untuk bisa menulis tulisan sambung yang bisa terbaca, kontrol motorik harus diperlukan. Utamanya di sekitar jari. Anda harus fokus dan memikirkan apa yang akan dan bagaimana cara Anda menuliskannya. Anda harus berlatih. Penelitian tentang kemampuan visual otak memperlihatkan bahwa menulis sambung akan mengaktifkan area otak yang pasif saat mengetik di papan ketik.''

Penelitian akademis lanjutkan memperlihatkan bahwa tulisan tangan bisa menstimulasi pengenalan visual dan juga daya serap visual.

Dalam artikel tahun 2012 yang dipublikasikan di jurnal Trends in Neuroscience and Education, penulis Karin James dan Laura Engelhardt mendapati bahwa tulisan tangan boleh jadi penting dalam membantu anak-anak belajar huruf.

Dalam penelitian tersebut, sekelompok anak-anak prasekolah berlatih mengenal huruf dengan berbagai cara antara lain menulis dengan tangan dan mengetiknya di papan ketik. Sesudah itu, anak-anak diperlihatkan pada berbagai huruf sambil berbaring di mesin pindai MRI. Hasil pemindaian memperlihatkan bahwa saat anak-anak melihat huruf yang mereka latih lewat tulisan tangan, ada bagian otak mereka yang aktif yang berbeda dengan huruf-huruf yang mereka latih di papan ketik. Artinya, kemungkinan tulisan tangan bisa membantu anak-anak menguasai bacaan dan tulisan.

Jadi, tulisan tangan bisa saja punya keuntungan kognitif, memberi sensitivitas akan seni, memberi sentuhan personal, serta bisa membantu siswa lebih cepat belajar.

Walau demikian, ada sejumlah teknologi yang kian menggantikan tulisan tangan bahkan teks yang kita ketik. Ambil contoh perangkat lunak pengenal suara (VRS), seperti Siri yang dikembangkan Apple, Alexa dari Amazon dan Cortana dari Microsoft.

Seabad yang lalu, penulis seperti saya harus punya pena dan kertas, tapi mungkinkah ke depan saya cukup mengandalkan suara untuk menulis? Tahun lalu, Google Docs memperkenalkan fitur ketik dengan suara yang baru. Kemampuannya tidak cuma mengeja lewat ucapan, tapi mengaktifkan penyuntingan dengan suara di perambah Chrome. Ambil contoh, saya mengetik kalimat menggunakan fitur ini dan Anda bisa lihat hasilnya cukup baik dan tampaknya fitur ini mampu mengenali kata yang saya ucapkan walau dengan aksen Skotlandia yang kental. Meski belum sempurna.

Hak atas foto Tolga Akmen/AFP/Getty Images
Image caption Menurut para pendukung tulisan tangan, budaya ini memiliki sisi artistik dan peran historis. Foto ini memperlihatkan tulisan tangan penyanyi Prince saat menulis lirik Purple Rain

Harmanen yakin dengan hadirnya VRS maka orang bisa melatih bicara seakan-akan sedang menulis. ''Menarik sekali membayangkan kalau program yang secara otomatis menulis kata-kata yang diucapkan atau mengubah ucapan menjadi teks cetak juga akan dipakai di sekolah-sekolah,'' kata dia. ''Apa untungnya memiliki program seperti ini, nanti kita lihat.''

Walau demikian, ada keraguan membangun perangkat lunak yang bisa mengenali perintah suara karena khawatir tulisan tangan akan benar-benar tersingkir.

''Tulisan tangan akan tetap memiliki tempat di saat orang ingin berinteraksi memakai pena dan kertas demi sensasi lebih, menggunakan keahlian menulis gaya lama untuk mengekspresikan seni dan hal-hal lain yang berarti,'' kata Nils Lenke dari Nuance, yang merancang perangkat lunak dengan perintah suara. ''Masih cukup nyaman dipakai saat situasi tidak memungkinkan bagi Anda berbicara atau situasi dimana tidak ada papan ketik.'' Contohnya, perangkat pengenal perintah suara yang dibuat Nuance bagi mobil memungkinkan pengemudi berganti ke fitur menulis seandainya mereka memilih demikian.

Tulisan sambung kemungkinan akan menghilang, tetapi nilainya tidak bisa diremehkan. Penemuan telepon, mesin tik, papan ketik komputer, dan surel semuanya tidak membuat kita benar-benar menyingkirkan penggunaan pena di kehidupan sehari-hari. Dan, tulisan tangan itu sendiri merupakan perilaku yang cair dan bisa beradaptasi dengan situasi. Masih sangat mungkin tulisan sambung tetap dipakai di kalangan penyuka desain, estetika, dan kalangan pecintanya.

Walaupun penggunaan tulisan tangan di sekolah semakin berkurang seiring waktu dan dari hari ke hari catatan tidak dibuat menggunakan tangan, tapi garis dan kurva yang digoreskan dengan tangan kemungkinan masih punya sisa hidup sendiri.

--

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris artikel ini yang berjudul The uncertainity future of handwriting di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait