Tiga perkara tentang Bumi yang bisa kita pelajari dari para astronot

Earth Hak atas foto NASA/Getty Images

"Pandangan pertama saya akan Bumi terjadi beberapa detik setelah peluncuran," kata ilmuwan Helen Sharman, astronot Inggris pertama. "Begitu wahana melesat, cahaya mengalir melalui jendela dan saya disergap pemandangan Samudra Pasifik - sangat cantik, menakjubkan."

Sharman berusia 27 tahun saat dia dikirim ke luar angkasa untuk menghabiskan delapan hari di stasiun ruang angkasa Mir milik Rusia (waktu itu, Soviet) pada tahun 1991. Selama misinya, dia menghabiskan banyak waktu untuk bisa mengintip Bumi di bawah sana melalui jendela. Pada malam terakhirnya di orbit, dia membiarkan jendela terbuka untuk menyaksikan matahari terbit setiap 90 menit saat stasiun antariksa mengitari planet ini.

Saya mewawancarai Sharman untuk serangkaian film 360 baru untuk BBC, yang menampilkan para astronot yang menggambarkan kesan mereka memandang ke bumi dari luar angkasa. Sebagai pemirsa yang melayang di atas Bumi, Sharman, astronot AS Ron Garan dan Luca Parmitano dari Italia menggambarkan bagaimana rasanya berada di luar angkasa, dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari pengalaman mereka.

Video-video tersebut diproduksi untuk menandai dirilisnya program virtual reality BBC yang mendapat panyak tanggapan positif, Spacewalk.

Luca Parmitano: Planet kita menakjubkan

Astronot dari European Space Agency (ESA), Luca Parmitano pertama kali melangkah di luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada pagi pukul 8:02, Selasa 9 Juli 2013. Berjalan di ruang angkasa, Spacewalk - atau EVA (Extra Vehicular Activity) - antara lain dengan dengan menjepitkan kakinya ke salah satu lengan robot stasiun yang akan dibawa ke area kerjanya.

Hak atas foto SHAMIL ZHUMATOV/AFP/Getty Images
Image caption Astronot Italia Luca Parmitano beberapa saat setelah mendarat di bumi setelah 66 hari berada di ISS

"Saya memperoleh pengalaman istimewa dan kemewahan hidup yang hanya didapat oleh sangat sedikit astronot," katanya. "Saya membawa banyak hal di tangan saya, jadi saya tidak dapat mengambil gambar dan tidak bisa ke mana-mana - selama enam menit saya sama sekali tidak melakukan apapun kecuali menatap."

Jalan-jalan ruang angkasa waktunya ditetapkan berbarengan dengan matahari terbit dan, saat ISS melewati Atlantik, matahari muncul. "Cahaya matahari bagaikan meledak menyeruak," kata Parmitano.

"Saya terbang di atas Afrika barat dan dalam ledakan cahaya ini, sekaligus terdapat warna kuning, merah muda, merah matahari terbit.

"Di latar depan ada lautan biru yang dalam, sangat dalam di bawah sana... warna putih ketika gelombang laut menyentuh pasir ... lalu warna padang pasir - oker dan terakota. Semua ini muncul brsamaan. Ini bukan peristiwa yang muncul dengan lambat: semuanya bagai meledak dan membuat kita menghela napas."

Ron Garan: Ruang angkasa menempatkan bumi ke dalam perspektif

Mantan astronot NASA Ron Garan menghabiskan 178 hari di luar angkasa, termasuk lebih dari 27 jam di luar pesawat luar angkasa Space Shuttle dan ISS selama empat kali jalan-jalan ruang angkasa. Pengalaman yang telah mengubah hidupnya dan sejak itu dia mengabdikan sebagian besar karirnya kepada apa yang dia sebut "perspektif orbital" melalui buku, lukisan dan film. Dia juga baru-baru ini mempresentasikan program BBC World Service dalam misi Voyager, Space 1977.

Hak atas foto NASA
Image caption Astronot Garan terlihat bergelantungan di lengan robotik ISS dengan latar belakang bumi

"Melihat planet kita dari luar angkasa, terutama saat spacewalk, adalah pengalaman yang sungguh emosional," kata Garan.

"Apa yang saya alami adalah rasa syukur yang mendalam - rasa syukur karena bisa melihat planet ini dari perspektif lain dan rasa syukur untuk planet yang dikaruniakan kepada kita.

"Berjarak dan terlepas dari satu-satunya dunia yang pernah saya kenal membuat saya merasa sangat terhubung dengan semua orang di dalamnya," katanya.

"ISS adalah, boleh dibilang, struktur paling rumit yang pernah dibangun. Dan yang mengejutkan saya adalah kenyataan bahwa jika kita dapat mengalihkan tingkat kolaborasi ini dan membawanya ke permukaan bumi ... betapa akan begitu majunya kita sebagai spesies dalam memecahkan tantangan kita yang paling mendesak."

Helen Sharman: Ingatlah apa yang paling penting

"Saya ingin mengatakan kepada semua orang betapa tidak pentingnya benda-benda material bagi kita," Sharman berkata saat kami berbicara di kantornya di Imperial College London untuk film-film BBC 360.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Astronot Helen Sherman dan teman-teman dari asosiasi astronot Eropa merayakan 25 tahun misi luar angkasanya pada tahun lalu.

"Saya tidak mengatakan bahwa memiliki mobil sport merah yang mentereng itu salah, atau bahwa punya keluar terbaru dari produk-produk keren itu keliru -semua terpulang pada masing-masing orang, tidak apa-apa," kata Sharman. Tapi sebenarnya kehidupan itu bukan cuma itu," kata Sharman.

"Apa yang saya lihat ketika menatap bumi dari kejauhan membuat saya sadar betapa pentingnya hubungan-hubungan antar manusia dalam kehidupan itu.

"As long as you've got your very basics for survival, the next most important things are those individual relationships we have," she adds. "It's our family and friends that in the end are more important than anything else in the world."

"Selama kita sudah memiliki apa yang paling dibutuhkan untuk bertahan hidup, hal terpenting berikutnya adalah hubungan individual yang kita miliki," tambahnya.

"Keluarga dan para sahabat yang kita miliki, pada akhirnya merupakan hal yang jauh lebih penting daripada hal apa pun di dunia ini."

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca dalam bahasa Inggris di Three lessons about earth from astronouts di laman BBC FUture

Berita terkait