Upaya Jakarta dan kota-kota dunia untuk hentikan amblasnya permukaan tanah

banjir Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Banjir di Jakarta pada 2015 lalu. Michelle Sneed, peneliti badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), mengatakan Jakarta dilanda peningkatan air laut dan amblasnya permukaan tanah.

Warga kota-kota pesisir di dunia, mulai dari Miami hingga Jakarta, tengah menggelar perlawanan terhadap dampak peningkatan air laut.

Namun, di beberapa daerah, masalah diperparah oleh fenomena lainnya, amblasnya permukaan tanah.

Ibu kota Indonesia, misalnya, merosot 17cm per tahun.

"Itu menjadi masalah karena mereka sejajar dengan permukaan air laut," kata Michelle Sneed, peneliti spesialis penurunan permukaan tanah dari badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).

"Mereka semakin tertekan oleh meningkatnya frekuensi banjir dan naiknya permukaan air laut. Mereka membangun tembok laut. Akan tetapi, kota tersebut menurun begitu cepat sehingga ketika laut pasang, air langsung meluap," tambahnya.

Karena contoh seperti Jakarta, penurunan permukaan tanah kerap disalahartikan oleh kaum yang skeptis pada perubahan iklim. Mereka berargumen fenomena penurunan permukaan tanah merupakan penyebab tunggal dari makin seringnya banjir di kawasan pesisir.

Namun, kenyataannya lebih rumit.

Baik peningkatan air laut dan penurunan permukaan tanah terjadi pada saat bersamaan. Bedanya, peningkatan air laut merupakan masalah global yang disebabkan semakin hangatnya samudera dan melelehnya es di kutub, sedangkan penurunan permukaan tanah adalah masalah lokal yang berdampak pada sejumlah komunitas setempat.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Banjir di Jakarta pada 2015 lalu. Jakarta "menurun begitu cepat sehingga ketika laut pasang, air langsung meluap," kata peneliti.

Di kawasan pesisir yang terpapar oleh dua fenomena ini, risiko banjir bisa sangat parah. Akan tetapi, jangan berpikir komunitas non-pesisir yang tidak merasakan dampak peningkatan air laut, baik-baik saja.

Sebagian warga, seperti di Mexico City dan Lembah San Joaquin, California, berjuang dengan kesulitan yang ditimbulkan penurunan permukaan tanah.

Untuk mengatasi dua fenomena ini, upaya yang harus dilakukan berbeda.

Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa peningkatan air laut hanya dapat dicegah melalui kesepakatan dunia dengan menurunkan emisi karbon. Adapun masalah penurunan permukaan tanah bisa ditangani lewat upaya komunitas setempat.

"Jika air laut meningkat, maka Anda harus mencapai kesepakatan dari seluruh dunia. Dari berbagai sudut pandang, lebih mudah menangani penurunan permukaan tanah karena hanya perlu tanggapan dari warga setempat," kata Gilles Erkens, geolog dan peneliti penurunan permukaan tanah dari Universitas Utrecht, Belanda.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Jakarta berupaya membangun tembok laut raksasa untuk menahan naiknya air laut, sebagaimana tampak pada April 2017 lalu.

Penyebab penurunan permukaan tanah

Salah satu penyebab penurunan permukaan tanah adalah faktor alam. Dahulu kala, pada Jaman Es, terdapat miliaran ton es yang menyelimuti bumi sehingga mengakibatkan permukaan tanah menurun.

Namun, sekitar 12.000 tahun lalu, es mencair dan beban pada permukaan tanah seketika lenyap. Imbasnya, permukaan tanah yang dulu tertutup es perlahan mencuat kembali. Istilah canggihnya, Penyesuaian Isostatik Global (Global Isostatic Adjustment/GIA).

Agar Anda bisa lebih paham fenomena ini, bayangkan jari Anda menusuk balon. Pada bagian yang kena tusuk, terdapat permukaan yang melesak ke dalam. Lalu, begitu Anda mengangkat jari, lesakan itu mencuat kembali. Di belahan Amerika Utara, lesakan itu adalah Kanada dan Alaska, sedangkan tonjolannya adalah Atlantik Tengah.

Fenomena GIA ini tentu saja merentang sepanjang ribuan tahun dan berlangsung secara perlahan. Philippe Hensel, peneliti dari lembaga pengkaji atmosfer dan kelautan Amerika Serikat (NOAA), mengatakan laju GIA paling signifikan di Alaska dan Kanada mencapai 10mm per tahun.

"Jika ada area yang permukaan tanahnya merosot secara signifikan, itu bukan karena Penyesuaian Isostatik Global. Laju maksimum Penyesuaian Isostatik Global cukup kecil," kata Hensel.

Akibat ulah manusia

Penyebab penurunan permukaan tanah paling signifikan tentu saja ulah manusia.

"Semua yang Anda keluarkan dari dalam tanah menyebabkan penurunan permukaan tanah. Anda mengambil sesuatu dari lapisan tanah, maka permukaannya akan amblas," kata geolog Simone Fiaschi, yang meneliti penurunan permukaan tanah di Universitas Padova, Italia.

Itu artinya segala macam pengeboran, entah itu mencari gas atau minyak, menimbulkan efek serupa. Namun, pengeboran dalam rangka mencari air bersih adalah penyebab paling umum.

Di India, pengguna air tanah paling banyak di dunia, sebanyak 85% air minum berasal dari tanah. Kemudian di Eropa, 75% dari seluruh populasi mendapat air minum dari dalam tanah.

Selain air minum, air dari dalam tanah digunakan untuk berbagai tujuan. Di AS, misalnya, irigasi pertanian menyebabkan 225 juta meter kubik air disedot dari dalam tanah setiap hari pada 2010. Jumlah itu cukup untuk mengisi Danau Tahoe, danau terbesar di California, selama sedikitnya dua tahun.

Air tanah memang bisa terisi kembali secara alamiah melalui curah hujan dan salju yang meresap ke dalam tanah. Namun, di sejumlah kawasan di dunia, air tanah disedot lebih cepat dari kemampuan tanah mengisi kembali. Ini bisa mengakibatkan permukaan tanah amblas, kadang kala secara signifikan.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Sebagian wilayah Mexico City saat ini amblas 30cm per tahun.

Mexico City, misalnya, bergantung pada akifer—formasi batuan yang mempunyai kemampuan menyimpan dan mengalirkan air tanah. Setengah dari seluruh kebutuhan air minum di ibu kota Meksiko ini berasal dari akifer tersebut.

Namun, akibat populasi kota yang mencapai 21 juta orang dan ketidakefisienan penggunaan air yang mengakibatkan 42% air hilang lantaran bocor, beban yang ditanggung akifer teramat besar.

Arnoldo Matus Kramer, kepala badan ketahanan Mexico City, memprediksi akifer akan terkuras dalam 50 tahun mendatang. Memperparah keadaan, sebagian wilayah kota saat ini amblas 30cm per tahun.

Akibatnya Mexico City sekarang terjebak dalam lingkaran setan. Penurunan permukaan tanah merusak jaringan pipa air sehingga kebocoran air semakin banyak dan jumlah air yang disedot kian besar.

Selagi krisis air berlangsung, menurut Kramer, penurunan permukaan tanah menyebabkan gedung-gedung menjadi rentan ketika gempa mengguncang baru-baru ini.

Seberapa besar dampak penurunan permukaan tanah di dunia sulit ditebak.

"Kami masih mencoba memperoleh data di beberapa tempat di dunia. Di banyak tempat, kami tidak tahu secara persis apa yang terjadi sehingga menghambat opsi untuk menangani tantangan-tangan yang ada," kata Erkens.

Pengalaman Tokyo

Bagaimanapun, dari data yang tersedia saat ini, para ilmuwan sepakat mereka melihat upaya yang menjanjikan. Menghentikan penyedotan air tanah bisa menghentikan penurunan permukaan tanah dan bahkan membantu permukaan tanah mencuat kembali.

Beberapa kota telah membuktikannya. Setelah berpuluh tahun menyedot air tanah, permukaan tanah di Tokyo semakin amblas. Pada 1968 penurunannya mencapai 24cm per tahun dan pada saat bersamaan penyedotan air tanah menyentuh 1,5 juta meter kubik saban hari.

Pemerintah Kota Tokyo kemudian merilis aturan yang membatasi penyedotan air. Pada awal 2000-an penurunan permukaan tanah di kota tersebut melambat menjadi 1cm per tahun.

Meski demikian, menghentikan penyedotan air tanah menimbulkan masalah baru. Dari mana sumber air bersih didapat?

Lembah San Joaquin di California, misalnya, belum punya caranya. Padahal, masalah penurunan di sana begitu mendesak. Akibat penyedotan air tanah untuk irigasi, sebagian tanah di wilayah itu amblas 60cm per tahun. Sistem kanal pun gagal berfungsi lantaran penurunan permukaan tanah.

"Laju penurunan itu termasuk yang paling cepat di dunia," kata Sneed dari USGS.

Parlemen Negara Bagian California telah merilis regulasi pada 2014 untuk memastikan penggunaan air tanah tidak menyebabkan penurunan permukaan tanah lebih lanjut. Kendati begitu, di ranah teknis, solusi masih nihil.

"Saya pikir mereka mulai menyadari betapa besar tantangan ke depan. Warga setempat harus menentukan pilihan yang sangat sulit mengenai bagaimana mereka menggunakan tanah mereka," kata Sneed.

Hak atas foto AFP/Getty Images

Air limbah

Beberapa kota, seperti Shanghai, mengatasi masalah penurunan permukaan tanah dengan membatasi penyedotan air tanah sekaligus mengisi ulang akifer. Solusi lebih kreatif tengah dikembangkan di Virginia, AS.

Di bagian selatan Virginia, tepatnya di Hampton Roads, masyarakat memanfaatkan air limbah.

Ted Henifin, manajer umum Divisi Sanitasi Hampton Roads, mengaku dia dan rekan-rekannya terpikir untuk memanfaatkan air limbah di sungai beberapa tahun lalu.

"Air yang kita buang ke sungai kan tidak digunakan atau bahkan tidak diperlukan orang lain," ujarnya.

Pemikiran ini menuntun Henifin dan rekan-rekannya untuk menciptakan proyek Swift. Alih-alih membuang air ke sungai, proyek itu mengolah air limbah menjadi air layak minum sebanyak 682 meter kubik per hari. Mereka bahkan mengupayakan agar tingkat keasaman air tersebut sama dengan air tanah yang biasa disedot warga.

Begitu pemrosesan rampung, air itu akan dipompakan kembali ke akifer.

Proyek ini masih berupaya mendapatkan semua perizinan pada 2019. Jika didapat, Henifin dan kawan-kawan bakal menyuntikkan 45.500 hingga 91.000 meter kubik air ke akifer pada 2023. Tujuh tahun kemudian, rencananya proyek ini akan berfungsi dengan kapasitas penuh hingga 545 meter kubik per hari.

Henifin mengklaim penurunan permukaan tanah sedalam 61cm bisa dihindari jika proyeknya berjalan mulus.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Akibat penyedotan air tanah untuk irigasi, sebagian tanah di Lembah San Joaquin, California, AS, amblas 60cm per tahun. Sistem kanal pun gagal berfungsi lantaran penurunan permukaan tanah.

David Nelms, ilmuwan dari USGS yang terlibat dalam proyek ini, mewanti-wanti bahwa proyek ini bukan obat tokcer untuk segala penyakit. Seperti di daerah lainnya, tanah di Hampton Roads punya lapisan pasir dan tanah liat. Penyedotan air tanah selama seabad terakhir mengakibatkan kedua lapisan itu menjadi padat.

Ketika air disuntikkan, yang naik hanyalah pasir sedangkan tanah liat tetap padat.

"Anda tidak akan pernah mendapatkan kondisi itu kembali, itu permanen. Namun, wilayah proyek ini terbesar dan sifat tanahnya berbeda satu dengan yang lain sehingga hasilnya berbeda-beda di beraneka tempat."

Penurunan permukaan tanah memang masalah yang rumit. Namun, dengan proyek seperti Swift yang berupaya mengatasinya, mungkin ada alasan untuk bersikap optimistis—bukan hanya mengatasi penurunan permukaan tanah, tapi juga memitigasi bahaya peningkatan air laut.

"Ide ini mungkin adalah satu-satunya yang kami punya dan dengan itu boleh jadi kita bisa mengulur waktu untuk wilayah kita," tandas Henifin.

Anda bisa membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris berjudul The ambitious plan to stop the ground from sinking pada laman BBC Future

Topik terkait

Berita terkait