Dapatkah kita mengubah genetika para astronot?

Luar angkasa Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang peneliti menilai menemukan cara manusia beradaptasi dengan luar angkasa lebih penting daripada membuat pesawat ulang-alik canggih.

Kehidupan di luar angkasa sungguh sulit karena manusia tidak diciptakan untuk tinggal dan berkembang di lingkungan itu. Jika kita harus berada dalam perjalanan panjang di luar angkasa, apakah kita tetap dapat berkembang sebagai mahkluk hidup?

Butuh sesuatu yang sangat spesial untuk menjadi astronot -gabungan luar biasa antara keberanian, kebugaran, kecerdasan, pengambilan keputusan cepat, dan ketenangan saat mengalami tekanan.

Perihal tadi dikenal sebagai 'sang pilihan terbaik'.

Ketika Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyeleksi astronot pertama mereka pada akhir dekade 1950-an, rentang pilihan mereka jatuh pada deretan tentara dan pilot terbaik.

Uni Soviet kala itu melakukan hal serupa, meski mereka juga menyertakan syarat bahwa kosmonot setidaknya harus bertinggi badan 170 sentimeter agar muat di kapsul Vostok dan parasut.

Tujuannya, kosmonot terpilih itu dapat keluar dari pesawat luar angksa ketika dia kembali memasuki atmosfer bumi. Tidak seperti AS, Uni Soviet juga merekrut perempuan.

Sejak saat itu astronot berasal dari beragam profesi, seperti ilmuwan, insinyur, dan dokter. Meski begitu, selama kurang lebih 60 tahun terakhir, kriteria ideal untuk 'sang pilihan terbaik' masih tetap bertahan.

Hak atas foto AFP
Image caption Tiga penjelajah luar angkasa yang akan bertugas di Terminal Luar Angkasa Internasional melambaikan salam ke publik sebelum terbang dari Kazakhstan, 17 Desember 2017.

Keputusan Badan Luar Angkasa Eropa (ESA) pada tahun 2009 merupakan salah satu contohnya. Dari tiga astronot yang mereka pilih, tiga di antaranya merupakan penerbang pesawat tempur dan satu pilot komersial. Dua astronot lainnya memiliki hobi terjun payung dan mendaki gunung.

Walaupun calon terbaiklah yang terpilih menjadi astronot, manusia sebenarnya tidak cocok hidup di luar angksa.

Kita adalah produk dari evolusi selama 3,8 miliar tahun yang tinggal di biosfer kaya oksigen dan dilindungi dari kerasnya benda-benda luar angksa oleh gelembung magnetik.

Saat berada jauh dari bumi, astronot dibombardir radiasi kosmik dan menderita mual luar biasa, kehilangan kekuatan persendian, pengelihatan yang memburuk, bahkan melemahnya sistem imun karena ketiadaan gravitasi.

Astronot ESA, Luca Parmitano, mengatakan betapa dia merasa takjub pada perubahan cepat tubuhnya selama lima setengah bulan berada Stasiun Internasional Luar Angkasa yang berada di jalur orbit bumi.

"Adapatasi terasa seperti transformasi. Anda melihat kaki anda semakin ramping dan wajah anda menjadi bulat. Secara perlahan tubuh anda terbiasa dengan kondisi 'normal'," ujarnya.

Parmitano juga mengamati perubahan cara tubuhnya bergerak. "Pada awalnya anda cenderung bergerak horizontal karena anda khawatir menyenggol benda di sekitar anda," kata dia.

"Anda harus terbiasa dengan bagian tubuh anda yang bergerak dengan cara berbeda. Setelah sekitar enam pekan, anda kembali mulai bergerak secara vertikal. Anda harus terbiasa karena anda berada di luar angkasa," tambahnya.

Namun adaptasi tersebut bahkan terjadi terlampau jauh. "Saya merasa kaki saya tidak berguna. Saya tidak akan memotongnya dan mengapa saya tidak menggunakannya sebagai tangan?

"Memiliki dua pasang tangan di luar angkasa akan begitu bermanfaat, satu pasang pada pegangan tangan dan satu lainnya untuk bekerja," kata Parmitano.

"Menstabilkan bagian bokong sangat menarik karena tiga titik keseimbangan lebih baik daripada dua titik," tambahnya.

Hak atas foto ESA
Image caption Astronot asal Jerman, Alexander Gerst, melakukan swafoto ketika berjalan di luar angkasa, November 2014.

Semakin lama astronot menghabiskan waktu di luar angkasa, termasuk rencana mendarat di bulan serta Mars, sejumlah pihak mulai mempertimbangkan membuat pesawat ulang-alik yang menyediakan habitat di mana astronot dapat tetap sehat dan bugar.

Rekor terlama berada di luar angkasa sejauh ini masih dipegang kosmonot Valeri Polyakov, yaitu 437 hari.

Pesawat luar angkasa yang dibayangkan itu digadang-gadang dapat melindungi astronot dari radiasi, memiliki sistem pendukung kehidupan manusia, dan kemungkinan besar dibuat untuk terus berputar untuk memunculkan efek gravitasi.

Tapi bagaimana jika kita tidak perlu bersusah payah membuat pesawat luar angkasa yang sesuai dengan habitat manusia, dan sebaliknya, mendorong manusia untuk bisa sesuai dengan kondisi luar angkasa seperti yang dikatakan Parmitano?

"Anda dapat membayangkan mendesain kendaraan luar angkasa di masa depan. Tidak mengagetkan atau mengejutkan tapi jelas kita dapat menciptakan sesuatu dan mungkin kita harus membuatnya," kata Parmitano.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Astronot asal Amerika Serikat, Edward White, mengambang di luar angkasa tatkala ia dalam tugas dengan pesawat ulang alik Gemini-Titan 4.

Perkataan Parmitano tadi merupakan hal yang juga dipertimbangkan dalam pertemuan tahunan Tennessee Valley Interstellar Workshop di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat.

Di ajang itu, ilmuwan luar angkasa, insinyut, dan orang-orang yang antusias dengan luar angkasa bertemu untuk merancang koloni masa depan ang mengorbit matahari dan bintang, menjelajah generasi ke generasi, didesan untuk manusia yang mencari planet baru.

Ahli saraf Robert Hampson yang mempelajari efek radiasi pada otak, memimpin grup diskusi tentang kemampuan adaptasi manusia.

"Butuh waktu lama dan sejumlah material untuk menciptakan planet yang ramah manusia dalam. Tapi kita dapat mencari cara agar manusia lebih terbiasa dengan ketiadaan gravitasi dan atmosfer yang berbeda," kata Hampson.

Pada tingkatan yang lebih lanjut, seperti para astronot hari ini, para penghuni koloni luar angkasa pada masa depan mungkin dipilih berdasarkan kemampuan mereka bertahan dalam penerbangan ulang-alik berdurasi panjang.

Hak atas foto Esa/Nasa
Image caption Apakah manusia harus mengubah sejumlah sistem dalam tubuh agar mampu bertahan lama di luar angkasa?

Para penghuni koloni itu mungkin memiliki daya tahan alami terhadap radiasi, masa jenis yang tinggi atau sistem imun yang kuat. Ciri khas itu harus diteruskan kepada manusia generasi selanjutnya yang hanya akan mengenal lingkungan luar angkasa.

"Jika sekarang anda menempatkan sepasang muda-mudi ke pesawat luar angkasa untuk membuat koloni, mereka mungkin akan memiliki anak yang dapat beradaptasi dengan koloni itu, bukan bumi," tutur Hampson.

"Orang tua mereka telah mengambil keputusan untuk keturunan mereka dan generasi berikutnya yang akan menyusul," kata dia.

Oleh karenanya, selama beberapa generasi ke depan, para penjelajah luar angkasa mungkin akan memliki ciri khas yang berbeda dengan pendahulu mereka yang lebih akrab dengan bumi.

Tapi tentu tidak begitu berbeda. Mereka akan tetap memiliki dua tangan. "Evolusi berjalan begitu lamban. Pertanyaannya, seberapa besar kita mendorong evolusi itu terjadi?" ujar Hampson.

Hak atas foto NASA
Image caption Astronot NASA, Robert L. Curbeam, Jr. tengah memperbaiki peralatan di Stasiun Luar Angkasa Internasional, Desember 2006.

Sebelumnya saya telah menulis tentang resiko membesarkan anak di lingkungan suram yang tandus seperti Mars. Namun secara genetika, menyiapkan generasi penjelajah luar angkasa dapat mengatasi sejumlah hambatan moral.

Tantangan itu termasuk menyusun embrio manusia, teknologi telah dikembangkan untuk mencegah kelainan yang diturunkan secara genetika.

"Ada otoritas moral yang menyatakan kita harus mewariskan kemampuan, bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga berkembang sebagai manusia.

"Untuk hidup, bekerja, meraih kesuksesan, sehat, dan kemudian memiliki anak atau keturunan," kata Hampson.

Peluangnya ada ketika sesedikit apapun manusia mulai meninggalkan bumi. Kita diharuskan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Bukannya mencari bumi versi 2.0, kita justru dapat menciptakan manusia 2.0. Mereka mungkin memiliki empat tangan dan ekor.

"Lebih menarik membayangkan hidup di lingkungan yang tidak dibatasi gravitasi. Peluang untuk menemukan kembaran bumi begitu tipis, tapi gagasan tentang lingkungan baru di mana manusia dapat hidup bagi saya lebih memikat.

"Tapi tentu saja ide itu hanya muncul dari pemikiran saya," kata Parmitano.

Anda dapat membaca artikel berjudul asli Will we ever have genetically modified astronauts dalam bahasa Inggris di BBC Future.

Berita terkait