Alasan Rusia mengirim robot kapal selam ke Kutub Utara

Presiden Rusia Vladimir Putin di sebelah Perdana Menteri Dmitry Medvedev saat mereka mengunjungi pulau Arktik terpencil, Franz Josef Land pada 29 Maret 2017. Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Rusia Vladimir Putin di sebelah Perdana Menteri Dmitry Medvedev saat mereka mengunjungi pulau Arktik terpencil, Franz Josef Land pada 29 Maret 2017.

Laut es yang ganas itu adalah salah satu sumber penting gas alam dan minyak bumi — dan Rusia mengirimkan militernya untuk menegaskan klaimnya.

Kutub Utara: yang terkecil dari lima samudra di Bumi, dengan perairan penuh es dan angin setajam belati, adalah salah satu tempat di dunia dengan kondisi paling sulit.

Namun jauh di bawah permukaan perairan es yang mencair dan membeku sesuai musim, kondisi laut yang tidak ramah ini menyimpan harta karun sumber daya alam — yang sebagian besar belum digunakan oleh manusia.

Samudra Arktik diperkirakan menyimpan miliaran barel minyak bumi, dan triliunan kubik meter persegi gas alam — dan ini setara dengan 16-26% dari cadangan Bumi yang belum ditemukan. Dan ada negara adidaya yang berupaya keras untuk mengalahkan negara lain dalam perlombaan untuk mengeksploitasi simpanan sumber daya di kutub: Rusia.

Beberapa dekade setelah Uni Soviet runtuh, Rusia menjalankan misi untuk mengebor minyak di dasar Samudra Arktik, dan mengirimkan armada robot bawah laut dan kapal selam tanpa awak ke perairan paling kejam di Bumi.

Dan kini, setelah bertahun-tahun mengebor di area itu, Rusia — yang 68% dari ekspornya adalah minyak bumi dan gas alam — berencana untuk menggunakan teknologi yang tak pernah dilihat sebelumnya untuk membawa misi ini ke tingkat selanjutnya.

Rusia sudah mengekstraksi sekitar 5,5 juta ton minyak setiap tahunnya dari ladang minyak yang beroperasi di Arktik, namun sebagian besar laut itu tertutup oleh lapisan es tebal sepanjang tahun sehingga eksploitasi menggunakan kendaraan di atas permukaan laut menjadi tak mungkin.

Lewat Project Iceberg, Rusia menetapkan rencana ambisius untuk menggunakan teknologi ekstrem di kondisi yang juga sama ekstremnya. Kami berbicara dengan pakar yang menjelaskan rencana Rusia di Arktik itu.

***

Perlombaan untuk mendapatkan sumber daya berharga Arktik bukanlah hal baru. Simpanan gas dan minyak bumi itu dikelilingi oleh negara-negara berkuasa — Rusia, Denmark, Norwegia, AS dan Kanada — dan semua ingin dapat bagian.

Rusia sendiri sudah mengebor Lingkar Arktik selama beberapa dekade.

Pada Agustus 2007, mereka melakukan tindakan berbahaya dan provokatif secara global dengan mengirimkan dua kapal selam mini Rusia di kedalaman 4.200 meter di bawah Kutub Utara untuk menanamkan bendera titanium anti-karat di dasar laut untuk mengklaim teritori tersebut.

Sekarang, pada 2017, dunia mengamati semua yang dilakukan Rusia, yang berusaha untuk memperluas genggaman dan pengaruhnya di perairan Arktik — dan sumber daya berharga di dalamnya.

Untuk Rusia, minyak bumi dan gas alam adalah sumber utama bahan bakar dan pemasukan mereka. Project Iceberg bisa menjadi langkah penting negara itu untuk memastikan monopoli regional atas dua sumber daya tersebut.

Hak atas foto BBC Future
Image caption Di bawah permukaan perairan es yang membeku dan mencair sesuai musim, diperkirakan ada simpanan miliaran barel minyak bumi, dan triliunan kubik meter persegi gas alam.

Rusia sudah terlebih dulu menambah kekuatan militernya di Arktik, dengan membangun lebih banyak markas militer di daerah itu setelah sebelumnya membuka beberapa markas militer lain.

Pada April, wartawan BBC adalah wartawan asing pertama yang diizinkan untuk merekam brigade militer Rusia yang ditempatkan di sana, dekat dengan perbatasan Finlandia.

Penambahan jumlah personel militer di wilayah itu merupakan tanda akan semakin kuatnya ambisi Rusia atas Arktik di masa di mana es yang mencair membuat sumber daya alam yang disimpan di dalamnya lebih mudah didapat.

Mengebor minyak bumi dari Laut Utara pernah dianggap sebagai tantangan pertambangan pada 1970an karena tidak ada yang pernah mengoperasikan pengeboran begitu jauh di kawasan utara, dengan kondisi cuaca yang begitu sulitnya.

Dan kini, Arktik pun memberikan tantangan serupa. Dengan air yang bisa mencapai kedalaman 5km di tempat-tempat yang kadang juga tertutup es, Arktik adalah salah satu tempat tersulit di dunia untuk melakukan pengeboran minyak.

Namun juga tak ada yang pernah mencoba melakukan sesuatu seperti Project Iceberg.

Yayasan Penelitian Tingkat Tinggi, atau badan pemerintah yang melakukan penelitian terhadap proyek pertahanan tingkat tinggi, tengah mengembangkan "pengembangan hidrokarbon yang bisa bergerak sendiri di bawah air, di bawah es, di Samudra Arktik dengan kondisi es yang parah". Dengan kata lain: robot kapal selam pencari minyak.

Namun ada sebagian yang mengatakan bahwa tujuan proyek ini tidak realistis — dan mungkin hanya pengalihan dari pengembangan sistem militer yang bisa diluncurkan di bawah es.

Yang pasti, proyek ini akan menambah kekuatan pada klaim teritorial Rusia di Kutub Utara, yang kini tengah dievaluasi oleh PBB.

***

Inti Project Iceberg adalah Belgorod yang panjangnya mencapai 182 meter, kapal selam nuklir terbesar yang pernah dibangun.

Belgorod akan melakukan survey bawah laut dan menempatkan kabel komunikasi di bawah es, namun tugas utamanya adalah menjadi induk kapal bagi flotilla kapal-kapal selam yang lebih kecil.

"Kapal selam Belgorod adalah platform bagi peluncuran berbagai sistem, termasuk sistem yang belum pernah dibuat sebelumnya," kata Vadim Kozyulin, analis pertahanan di PIR Centre, lembaga penelitian yang berfokus pada isu keamanan.

Inilah sebabnya kapal selam itu berukuran besar: satu bagian sepanjang 30 meter sudah ditambahkan di fasilitas dok, baik untuk kapal selam yang berawak maupun tidak.

Tapi mungkin bagian paling ambisius dari Proyek Iceberg adalag rencana untuk membuat pembangkit listrik tenaga nuklir bawah laut pertama di dunia, yang akan menjadi tempat perhentian bagi kapal selam yang akan diluncurkan.

Pembangkit listrik bawah air ini akan berada di dasar laut dan bertindak sebagai titik isi ulang energi bagi kapal selam yang berlalu-lalang.

Desain yang ada menyebut reaktor itu akan bertenaga 24 megawatt dengan masa operasi 25 tahun. Setiap pembangkit akan beroperasi secara otomatis dan teknisi hanya akan datang setahun sekali untuk perawatan rutin.

Namun Rusia punya catatan buruk soal keamanan nuklir di laut, karena mereka telah kehilangan tujuh kapal selam nuklir bawah laut sejak 1961, sebagian karena masalah reaktor.

Kecelakaan di kapal yang dioperasikan oleh Uni Soviet tercatat sebagai 14 insiden nuklir paling mematikan yang pernah terjadi di laut.

Dalam satu kejadian, seluruh kapal selam terpapar tingkat radiasi yang tinggi, dan di kasus lain, ada kehilangan pendingin dan kebocoran sebagian reaktornya. Salah satu insiden itu kemudian didramatisir dalam film Hollywood, K-19: The Widowmaker.

Perusahaan listrik Rusia Nikiet menyatakan bahwa tanpa operator manusia, justru keamanan akan lebih terjamin.

Tidak adanya manusia berarti risiko kesalahan manusia, seperti yang kemudian menyebabkan bencana Chernobyl, saat operator melewati sistem keamanan yang seharusnya akan mematikan reaktor tersebut.

"Kesan saya adalah sebagian besar dari teknologi nuklir yang diajukan di sini cukup matang dan dipahami dengan mudah," kata William Nuttall, profesor energi di Universitas Terbuka di Inggris.

Eugene Shwageraus dari Pusat Energi Nuklir Universitas Cambridge mengatakan bahwa, meski reaktor itu tanpa awak, tapi tetap saja bisa diawasi, dan dengan cara itu, akan sama dengan banyak reaktor modern yang membutuhkan hanya sedikit fungsi operator dalam operasional kesehariannya.

"Reaktor masa kini cukup otomatis, menghasilkan tenaga listrik selama 24 jam dan operator reaktor hanya mengawasi diagnostik hasil pembacaan instrumen tersebut," kata Shwageraus.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Markas militer Arktichesky Trilistnik dibuka pada April: di dalamnya ada hunian, garasi untuk kendaraan militer dan kendaraan khusus.

Reaktor bawah laut Rusia dilaporkan sudah dalam tahap pengembangan yang canggih, dan reaktor pertama diharapkan bisa beroperasi pada 2020.

Dan meski ada manusia yang terlibat dalam Proyek Iceberg, banyak operasional rutin yang hanya akan dilakukan oleh robot saja.

Kapal selam tanpa awak bawah laut atau AUV akan menjadi para pekerja. AUV kini digunakan dalam jumlah sedikit oleh banyak negara, dan biasanya berada di bawah pengawasan ketat dan kendali operator, bukan bergerak bebas.

Rusia sebelumnya ketinggalan di bidang ini, tapi kini tampaknya mereka mampu mengejar.

AUV jenis Harpsichord-2R-PM telah dikembangkan untuk Iceberg, dan rencananya akan menjadi kendaraan bawah laut unggulan di antara jenis-jenis lain.

Kapal bentuk torpedo dengan bobot 2 ton dan panjang 6 meter ini kini diuji di Laut Hitam namun juga telah digunakan untuk membantu penyelamatan pesawat yang jatuh.

Pada 2009, salah satu AUV ini menemukan pesawat Angkatan Laut Rusia yang jatuh dan menewaskan 11 orang di dalamnya saat latihan terbang.

Pesawat jatuh di laut dekat Sakhalin, pulau Rusia dekat Jepang, namun pencarian di permukaan terhambat oleh es dan cuaca buruk.

Kemampuan AUV beroperasi secara mandiri di bawah gelombang laut memungkinkannya untuk menemukan kotak hitam perekam penerbangan yang dibutuhkan untuk menentukan penyebab kecelakaan.

Meski AUV sudah cukup sering digunakan untuk survey bawah laut, belum ada preseden penggunaannya untuk mengebor di dasar laut.

Igor Vilnit, kepala perusahaan desain kapal selam terbesar di Rusia, Rubin Central Design Bureau for Marine Engineering, mengklaim bahwa jika sesuai jadwal, dalam lima tahun, mereka akan punya AUV yang mengebor di dasar laut.

Hak atas foto H I Sutton, Covert Shores
Image caption Rancangan gambar akan bentuk Belgorod: kapal selam nuklir terbesar yang pernah dibangun dan merupakan inti rencana misi Kutub Utara Rusia.

Di tengah berbagai upaya pengeboran dan eksplorasi bawah laut, ada perubahan besar yang melebihi ketegangan politik yang semakin tinggi.

Perubahan iklim mempercepat mencairnya bongkahan es di Kutub Utara — dan ini memunculkan tantangan bagi kelompok masyarakat adat yang tinggal di kawasan itu, termasuk juga untuk satwa liar, seperti beruang kutub.

Saat peningkatan suhu mencairkan es di Kutub Utara, kawasan tersebut menjadi semakin 'ramah' dan mudah diakses, perubahan iklim pun kemungkinan akan memperparah ketegangan politik di kawasan itu.

***

Dalam sebuah konferensi di bulan Maret, Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin mengatakan bahwa perkembangan di kawasan Kutub Utara akan membantu membangun hubungan tetangga dengan negara-negara di sekitarnya dan ini seharusnya menjadi "teritori damai dan kerjasama".

Namun pernyataan ini tidak konsisten dengan aktivitas Rusia di area tersebut.

Sekitar 50 markas militer berkas Soviet sudah digunakan kembali. Tentara Rusia punya Brigade Kutub Utara baru, dan memperlihatkan kendaraan militer khusus untuk kerjasama kutub pada parade Hari Buruh tahun ini.

Armada Utara Rusia juga mendapat kapal pemecah es yang canggih, dan juga kapal-kapal patroli yang mampu 'menembus es', atau kapal penghancur es mini yang dipersenjatai dengan rudal anti-kapal.

Proyek Iceberg juga akan terus berlanjut di tengah ancaman sanksi yang akan diberlakukan negara-negara Barat melawan Rusia setelah aneksasi Crimea.

Sanksi ini membatasi akses Rusia terhadap perusahaan gas dan minyak bumi, padahal investasi asing dan teknologi itulah yang dibutuhkan oleh Rusia untuk mengembangkan ladang minyak di Kutub Utara dengan kondisi sulit.

Namun Rusia telah memutuskan akan melakukannya sendirian. Awal tahun ini, Rusia mulai melakukan operasi pengeboran horizontal yang kompleks di semenanjung terpencil di tepian Laut Laptey untuk mencapai cadangan minyak yang terltak 15km di bawah laut beku.

Meski begitu, Kozyulin ragu akan jaringan stasiun isi ulang nuklir bawah laut yang direncanakan untuk Proyek Iceberg dan menyebutnya "terlalu fantastis".

Dia bertanya, kenapa, jika ini adalah operasi pengeboran komersil, Gazprom atau salah satu perusahaan minyak Rusia lainnya tidak dilibatkan?

Kozyulin mengatakan bahwa lebih mudah untuk meyakini bahwa tujuan utama Iceberg adalah militer. Contohnya, reaktor air bawah laut akan digunakan untuk pagar sonar Rusia yang sudah direncanakan, yang dikenal dengan nama Harmony, yang mendeteksi dan menelusuri kapal selam Nato.

Hak atas foto TASS via Getty
Image caption Brigade infanteri Arktik Armada Utara melakukan latihan militer di kawasan Murmansk di negara itu pada Januari.

Rusia tengah mengejar klaim akan perluasan teritori bawah laut di Kutub Utara dengan Komisi PBB untuk Batas Landas Benua.

Klaim ini bertentangan dengan klaim negara lain, termasuk Kanada, kata Stephen Blank, pakar Rusia di Dewan Kebijakan Luar Negeri Amerika. Rusia sebelumnya pernah sukses dengan klaim PBB.

"Komisi memberi Rusia hak yang ekstensif di Laut Okhotsk (di Pasifik Barat) pada 2013," kata Blank. "Moskow kemudian segera mengubahnya jadi benteng laut yang eksklusif dan menjaganya untuk perusahaan energi mereka. Dan ini akan menjadi preseden untuk Kutub Utara."

Blank yakin bahwa peningkatan kekuatan militer adalah karena ketakutan bahwa negara-negara lain akan mencoba merebut sumber daya energi di Kutub Utara terlebih dulu.

"Saya tidak akan terkejut jika mereka juga telah melakukan sejenis peluncuran rahasia di laut dalam selama beberapa waktu terakhir," kata Blank.

Sulit untuk mengetahui apakah rencana Iceberg untuk mengeksploitasi gas dan minyak bumi ini realistis, atau apakah Rusia hanya ingin mengamankan wilayah itu agar bisa mengekploitasinya di masa depan.

Yang tak bisa diragukan lagi adalah kegigihan Rusia untuk memastikan bahwa jika ada pihak yang akan mengambil untung dari Kutub Utara, maka itu adalah mereka.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Why Russia is sending robotic submarines to the Arctic di laman BBC Future

Topik terkait

Berita terkait