Mencari rumah untuk orang-orang mati

Peringatan Hari Orang Mati di Filipina Hak atas foto Dondi Tawatao/Getty Images
Image caption Seorang perempuan di tempat pemakaman umum di Manila, Filipina, pada peringatan Hari Orang Mati, November 2016.

Dalam 50.000 tahun terakhir, diperkirakan ada sekitar 101 miliar orang yang hidup dan kemudian meninggal di Bumi. Suka atau tidak, semua orang yang hidup saat ini berjumlah lebih dari 7 miliar orang akan menyusul dengan mereka yang sudah mati dalam seabad ke depan. Lalu apa yang akan kita lakukan terhadap jasad-jasad tersebut?

Seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia yang memadati kota-kota, metode tradisional penanganan jenazah setelah kematian menjadi terlupakan.

Berbagai masalah mulai dari kekurangan burung bangkai di India — yang membuat komunitas Zoroaster meninggalkan praktik kuno pemakaman terbuka dan beralih ke "konsentrator solar" — sampai jasad di Jerman yang tetap segar selama 40 tahun meski berada di tanah.

Di banyak negara Eropa, adalah hal wajar untuk menggunakan kembali kuburan setelah 15-20 tahun. Namun baru-baru ini beberapa penghuni kuburan menolak membusuk. Sementara itu di Hong Kong, real estat buat orang mati sama sulitnya dengan yang masih hidup.

Banyak kolumbarium umum, tempat di mana guci abu jenazah disimpan, penuh, beberapa rumah duka menyimpan abu dari ratusan ribu orang mati di tempat penyimpanan, sambil menunggu pemerintah mencari lahan untuk menempatkannya kembali.

Dan saat lahan itu tersedia, tempat itu — yang hanya cukup menyimpan satu guci abu — harganya bisa setara dengan satu apartemen mewah.

Berbagai solusi aneh dan kadang kejam ditawarkan, termasuk mencairkan berbagai bagian tubuh tersisa yang membusuk dengan jeruk nipis sehingga ada tempat tersisa, dan mengalokasikan tempat di kolumbarium menggunakan sistem lotere.

Namun mungkin salah satu solusi yang paling bertolak belakang dengan kebiasaan dan paling tepat guna, serta paling mendapat banyak perhatian adalah kuburan vertikal.

Makam bertingkat ini biasanya memiliki beberapa lantai tempat menyimpan peti mati, yang ditata rapi dalam deretan lemari atau laci.

Pemakaman seperti ini mengklaim bisa menghemat ruang tujuh kali lipat daripada pemakaman yang dikubur di tanah, meski menarik dan mungkin agak seram, ini bisa menjadi bangunan penting.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di India, menara kuburan parsi memungkinkan jenazah dimakan oleh burung bangkai.

Bangunan seperti ini sudah ada, dari Israel sampai Brasil, dan banyak desain baru untuk menara kuburan juga dibuat di kota-kota seperti Oslo, Verona, Mexico City, Mumbai dan Paris.

Bisakah ini menyelesaikan masalah? Dan apakah ide ini akan semakin berkembang?

"Kekurangan ruang adalah masalah besar. Di hadapan saya, sudah ada beberapa kawasan di London yang sudah tak punya lagi ruang kuburan," kata Gary Burks, manajer Pemakaman dan Krematorium Kota London di London timur.

Di kota-kota dengan penduduk Yahudi dan Muslim yang jumlahnya besar, situasinya menjadi semakin mendesak karena kremasi adalah tabu besar dalam agama.

Satu penelitian memperkirakan bahwa jika kuburan tetap populer di 2050 seperti halnya di 2014, dunia harus menyediakan sekitar 6.500 km persegi area tambahan — kawasan yang luasnya lima kali kota New York.

Dan ternyata, selama seribu tahun, kita sudah mengistirahatkan jenazah dalam gedung. Salah satu contohnya adalah pemakaman Les Innocents yang dulunya berada di jantung kota Paris.

Di abad pertengahan, tempat ini sangat penuh — tingginya tumpukan jenazah sampai bisa terlihat melebihi tembok taman gereja.

Kebanyakan mereka yang dikubur di sini dalam kuburan massal, dengan 18.000 jenazah berhimpitan di satu lubang yang sama.

Warga pun melakukan tindakan drastis untuk menyediakan ruangan tambahan, mengambil tulang dari kuburan dan menyimpannya di bangunan beratap melengkung di sepanjang tembok kuburan yang disebut rumah charnel atau tempat penyimpanan tulang. Kuburan vertikal versi awal ini tak sepenuhnya sukses.

Banyak jenazah yang masih dalam proses membusuk ketika dipindahkan, dan seorang pengunjung Paris pada akhir abad 18 menggambarkan bahwa memasuki kota rasanya seperti "disedot ke dalam got yang bau".

Akhirnya pemakaman dan rumah charnel itu ditinggalkan setelah hujan deras menghancurkan tembok antara salah satu kuburan massal dengan rumah di sebelahnya, dan jenazah pun tumpah ke langit-langit rumah.

Kini, kuburan di atas tanah menjadi semakin beradab. Pemakaman Katolik Roma di New Orleans, Louisiana sering disebut sebagai "kota orang mati", karena banyaknya makam yang tinggi dan pudar karena sinar matahari. Solusi ini dipilih karena alasan praktis, kota itu dibangun di atas rawa-rawa.

Namun salah satu bangunan makam yang tertinggi adalah Memorial Necrópole Ecumênica di Santos, Brazil.

Saat ini, ketinggian makam telah mencapai 32 lantai, dan bisa menyimpan jasad 14.000 orang.

Saat pertama dibangun pada 1983, makam ini lebih sederhana, tapi permintaan akan "makam berpemandangan" begitu tingginya sampai mereka menambah lantai-lantai baru. Dan kini makam itu sedang diperluas lagi sampai ketinggiannya mencapai 32 meter.

Selain ruang untuk menyimpan guci abu jenazah, peti mati dan mausoleum keluarga, ada juga ruang duka, ruang penyimpanan bawah tanah, krematorium, kapel, museum kendaraan, dan anehnya, bar untuk makanan kecil di atap.

Bangunan ini dikelilingi oleh taman yang cantik dan luas, termasuk hutan dan danau dengan kura-kura yang berjemur dan air terjun.

Ada area konservasi di mana mereka berencana untuk membiakkan burung tukan. Sangat berbeda dari bayangan pemakaman era Victoria yang gelap.

Di setiap lantai ada deretan blok bernomor yang menyimpan 150 makam dan dilengkapi dengan sistem ventilasi canggih.

"Kerabat bisa menggunakan lift dan saat mereka sampai di lantai tersebut, peti jenazah sudah menunggu," kata Priscila Trevisani, yang dua kakek-neneknya dimakamkan di sana.

Sama seperti di banyak negara Eropa, plot tanah disewa, dan bukan dibeli. Begitu jasad sudah terdekomposisi — proses yang membutuhkan waktu tiga tahun — tengkorak dan tulang-belulangnya kemudian dipindahkan ke tempat penyimpanan.

"Karena tidak ada tanah, maka prosesnya menjadi lebih bersih. Semuanya cerah dan ada banyak cahaya alami saat sisi dari setiap gang dibuka," katanya.

"Terasa sangat tenang dan damai. Anda bisa melihat pemandangan kota dan laut dari lantai yang lebih tinggi karena bangunan didirikan di atas tanah yang tinggi. Di sisi lain Anda bisa melihat pegunungan (Serrat)."

Hak atas foto PATRICK KOVARIK/AFP/Getty Images
Image caption Di katakomba Paris, jenazah ditumpuk di atas jenazah lain untuk menyimpan ruang seefisien mungkin.

Di Santos, efisiensi ruang tak menjadi masalah, tapi kuburan vertikal tetap muncul. Sementara di Tel Aviv, ada aturan baru yang membatasi pembelian plot luar ruang, maka Kuburan Yarkon kini tengah membangun gedung bertingkat yang bisa menampung 250.000 jenazah.

Awalnya warga ultra-ortodoks Yahudi skeptis, namun kemudian rabbi setempat menyatakan pemakaman seperti itu kosher atau dibolehkan. Menara bangunan berisi pipa-pipa yang penuh dengan tanah, sehingga tiap lapisnya masih terhubung dengan tanah.

"Kuburan horizontal sangat tidak efisien," kata Chandrasegar Velmourougane, yang merancang kuburan vertikal di Paris bersama koleganya, Fillette Romaric pada 2011.

Dalam ruang seluas panjang 83 meter kali lebar 25 meter, biasanya hanya bisa menampung 200 jenazah di dalam tanah, dan di atas tanah atau vertikal, tempat seluas itu bisa menampung 1.480 jenazah.

Solusi tidak biasa ini juga membuka kesempatan untuk membawa urusan kematian ke abad 21.

"Di bangunan yang kami rancang, setiap orang yang dimakamkan di sana punya potongan kayu kenangan yang ditempelkan di luar gedung. Setahun sekali lampu akan menyala saat peringatan kematian orang tersebut. Ini adalah cara menunjukkan kehadiran mereka di sekelilingnya," kata Velmourougane.

Namun ada pertimbangan praktis. Batu nisan yang semakin bertambah di banyak kuburan konvensional menjadi pengingat bahwa pada akhirnya, kerabat dari mereka yang sudah meninggal — dan semua orang yang mereka kenal — juga akan mati.

Ini tentu tidak masalah jika Anda dikubur di bawah tanah, namun berabad-abad kemudian, setelah kuburan penuh, kuburan vertikal pun akan penuh. Satu-satunya cara agar sistem ini bisa berjalan adalah dengan mendaur ulang plot makam.

Tentu saja, ini bukan gambaran yang diterima banyak orang soal beristirahat dengan tenang.

Pemakaman Kota London telah mulai menggunakan kembali beberapa kuburan, namun mereka seringnya tak perlu mengganggu jasad atau tulang yang tersisa.

"Biasanya plot lama di Pemakaman Kota London dirancang untuk enam orang," kata Burks. "Sebagian dikubur di kedalaman 3-3,5 meter dan hanya digunakan untuk dua pemakaman."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam fasilitas seperti ini di Jepang, abu disimpan dalam guci di belakang buddha yang menyala - sehingga banyak orang bisa disemayamkan di satu ruangan.

Setidaknya di London, ada jalan penjang sebelum masyarakat merasa nyaman dengan pembongkaran kuburan — bahkan, ini bukan hal yang legal.

"Dan ini adalah poin penting karena meski Anda boleh mengklaim lagi kuburan yang sudah tidak terpakai selama 75 tahun, ini tidak sama dengan pemakaman di atas tanah," kata Burks.

"Saya bisa melihat betapa sederhananya membersihkan memorial dari sebuah area dan membangun mausoleum di atasnya, namun saya lebih ingin memprioritaskan penggunaan ulang makam yang sudah ada," kata Burks.

Trevisani lebih optimis lagi. "Kami melihatnya sebagai cara yang indah untuk menghormati kakek-nenek kami. Pertama dengan membiarkan mereka bersama, bersebelahan, di kota yang mereka pilih dengan pemandangan yang indah dan tempat yang tenang. Dan juga karena mereka tidak mengambil ruang di kuburan umum."

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The buildings designed to house the dead di laman BBC Future

Topik terkait

Berita terkait