Bagaimana istilah homoseksual dan heteroseksual 'diciptakan'

Elizabeth Taylor dan Richard Burton. Hak atas foto Express/Getty Images
Image caption Elizabeth Taylor menikahi suami kelimanya Richard Burton (1925-1984)di Montreal.

Seratus tahun lalu, masyarakat memiliki gagasan yang sangat berbeda tentang apa artinya menjadi heteroseksual. Memahami pergeseran cara berpikir ini dapat menjelaskan kepada kita mengenai identitas seksual yang berubah-ubah, tulis Brandon Ambrosino.

Tulisan ini termasuk dalam koleksi BBC Future "Yang terbaik pada 2017".

Kamus Medis Dorland terbitan 1901 mengungkapkan heteroseksualitas sebagai sebuah "hasrat yang abnormal atau sesat terhadap lawan jenis."

Lebih dari dua dekade kemudian, pada 1923, kamus Merriam Webster dengan serupa menyebutnya sebagai "gairah seksual yang tidak wajar terhadap salah satu lawan jenis." Baru pada 1934 heteroseksualitas diartikan seperti yang kita kenal saat ini:" manifestasi gairah seksual terhadap lawan jenis; seksualitas normal."

Di manapun saya mengatakan pada orang-orang, mereka merespons dengan ketidakpercayaan. Tidak benar itu! Memang rasanya tidak pas. Seolah-olah heteroseksual itu "selalu begitu".

Beberapa tahun yang lalu, mulai menyebar video seorang "pria di jalanan", di mana pembuatnya bertanya pada orang-orang apakah mereka menganggap homoseksual dilahirkan menyukai sesama jenis.

Jawabannya bervariasi, sebagian besar mengatakan "Itu merupakan kombinasi faktor alam dan pengasuhan."

Pewawancara kemudian menyampaikan pertanyaan lanjutan, yang merupakan sebuah eksperimen: "Kapan Anda memilih untuk menyukai lawan jenis?" Banyak yang kaget, mengakui dengan malu-malu bahwa mereka tidak pernah memikirkannya.

Merasa bahwa prasangka mereka telah terungkap, mereka dengan cepat menangkap dengan jelas maksud si pembuat video, yaitu orang gay lahir menyukai sesama jenis seperti orang heteroseksual lahir menyukai lawan jenis.

Video ini tampaknya menunjukkan bahwa orientasi seksual kita "sudah dari sananya begitu", bahwa kita tidak membutuhkan penjelasan untuk homoseksualitas seperti halnya kita tidak butuh penjelasan untuk heteroseksualitas.

Sepertinya tak pernah terpikir oleh si pembuat video, atau jutaan orang yang menyebarkannya, bahwa kita sebenarnya butuh penjelasan untuk keduanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketika heteroseksual jelas sama tuanya dengan manusia, konsep heteroseksualitas sebagai sebuah identitas merupakan suatu penemuan yang baru (Kredit: Getty Images)

Ada banyak kajian secara ilmiah ataupun populer, terhadap konstruksi sosial dari gairah dan identitas homoseksual. Alhasil, hanya sedikit yang terkejut ketika membahas tentang "kebangkitan kaum homoseksual". Sebagian besar khalayak telah mengetahui bahwa keberadaan homoseksual muncul pada suatu bagian dalam sejarah manusia.

Yang tidak diajarkan adalah hal yang sama juga berlaku dengan keberadaan heteroseksual.

Banyak alasan tentang kealpaan edukasi ini, termasuk bias relijius dan jenis homofobia yang lain. Tetapi alasan terbesar kita tidak menyelidiki asal-usul heteroseksual karena tampaknya, yah, begitu alami. Normal. Tidak perlu mempertanyakan sesuatu yang "sudah ada sejak dulu".

Tetapi heteroseksual tidak selalu "terjadi sejak dulu". Dan tidak ada alasan untuk menggambarkan bahwa itu akan selalu terjadi.

Ketika heteroseksual merupakan abnormal

Bantahan pertama terhadap klaim bahwa konsep heterokseksualitas diciptakan biasanya mencecar dalil reproduksi: bahwa hubungan seks berbeda kelamin telah ada sejak manusia ada--tentu saja, spesies manusia tidak akan bertahan lama tanpa fungsi reproduksi. Asumsinya heteroseksualitas sama dengan hubungan seksual reproduksi. Padahal tidak.

Menurut ahli teori queer David Halperin dari Universitas Michigan, "seks tidak memiliki sejarah" karena "tertanam pada fungsi tubuh."

Seksualitas, di sisi lain, justru karena itu merupakan sebuah "produk budaya", memiliki sejarah. Dengan kata lain, seks merupakan sesuatu yang secara alamiah dilakukan sebagian besar spesies. Adapun penamaan dan pengkategorian tindakan itu, dan yang mempraktikkannya, merupakan fenomena sejarah sehingga dapat serta harus dipelajari sebagai sejarah seksualitas.

Atau lebih jelasnya: selalu ada naluri seksual di dunia hewan (jenis kelamin). Tetapi pada sebuah titik tertentu, manusia melekatkan makna pada naluri ini (seksualitas) ini. Ketika manusia berbicara mengenai heteroseksualitas, kita berbicara mengenai seksualitas.

Hanne Blank menawarkan cara memahami diskusi ini dalam bukunya Straight: The Surprisingly Short History of Heterosexuality dengan sebuah analogi dari sejarah alam.

Pada 2007, International Institute for Species Exploration mencantumkan ikan bernama Latin Electrolux addisoni sebagai salah satu "10 besar spesies baru." Tetapi tentu saja, spesies itu tidak dengan tiba-tiba hadir di Bumi 10 tahun yang lalu, tapi ikan tersebut ditemukan dan diberi nama secara keilmuan 10 tahun lalu.

Seperti yang disimpulkan Bland: "dokumen yang ditulis dengan cara tertentu, oleh seorang figur otoritas tertentu itulah yang mengubah Electrolux dari sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang dikenal."

Hak atas foto PA
Image caption Persidangan Oscar Wilde 'ketidaksenonohan' seringkali dianggap sebagai momen penting dalam pembetukan identitas gay.

Suatu kemiripan luar biasa terjadi dengan heteroseksual, yang, pada akhir abad ke-19, berubah dari yang sudah ada menjadi diketahui.

"Sebelum tahun 1868, tidak ada heteroseksual," tulis Blank.

Yang menarik, homoseksual tidak ada juga. Manusia belum terpikirkan bahwa mereka mungkin dapat "dibedakan satu sama lain dari jenis cinta atau ketertarikan seksual yang mereka alami." Perilaku seksual, tentu saja, diidentifikasikan dan dimasukkan dalam daftar, dan sering kali dilarang. Tetapi yang ditekankan adalah tindakannya, bukan orangnya.

Jadi apa yang berubah? Bahasa.

Pada akhir 1860an, wartawan Hungaria, Karl Maria Kertbeny, menciptakan empat istilah untuk menggambarkan pengalaman seksual: heteroseksual, homoseksual, dan dua istilah yang saat ini dilupakan untuk menggambarkan masturbasi dan bestialitas, yaitu, monoseksual dan heterogenit.

Kertbeny menggunakan istilah "heteroseksual" satu dekade kemudian ketika dia diminta untuk menulis sebuah bab untuk buku berisi perdebatan mengenai dekriminalisasi homoseksualitas. Sang editor, Gustav Jager, memutuskan untuk tidak mempublikasikannya, tetapi dia akhirnya menggunakan istilah dalam novel Kertbeny untuk buku yang dia publikasi pada 1880.

kata tersebut dipulikasikan lagi pada 1889, ketika psikiater Austria-Jerman Richard von Krafft-Ebing memasukkannya dalam Psychopathia Sexualis, sebuah katalog tentang penyimpangan seksual.

Namun sepanjang hampir 500 halaman, kata "heteroseksual" hanya digunakan sebanyak 24 kali, dan bahkan tidak diindeks. Penyebabnya karena Krafft-Ebing lebih tertarik dengan "naluri seksual yang tertentangan" (penyimpangan) daripada "naluri seksual". Kata "naluri seksual" bagi dia adalah hasrat seksual yang "normal" bagi manusia.

"Normal" tentu saja merupakan sebuah kata yang sarat makna dan telah disalahgunakan sepanjang sejarah. Penataan hierarki yang mengarah pada perbudakan pada suatu masa diterima sebagai sesuatu yang normal, seperti juga semua benda langit mengelilingi bumi alias geosentris. Hanya dengan mempertanyakan dasar dari pandangan konsensus, fenomena "normal" diturunkan dari posisi istimewanya.

Bagi Krafft-Ebing, hasrat seksual normal terletak pada sebuah konteks fungsi prokreasi--sebuah pemikiran yang sesuai dengan teori seksual dominan Barat.

Di dunia Barat, jauh sebelum tindakan seksual dipisahkan dalam kategori hetero/homo, ada perbedaan soal seks: prokreasi atau non-prokreasi. Injil, sebagai contoh, mengutuk hubungan intim homoseksual sama kerasnya dengan kecaman terhadap masturbasi. Pasalnya, benih yang mengandung kehidupan tumpah sia-sia dalam tindakan itu.

Meskipun etika ini diajarkan secara luas, dipelihara, dan ditegakkan oleh Gereja Katolik dan kemudian cabang-cabang Kristen, penting untuk dicatat bahwa etika tersebut bukan berasal dari Kitab Suci Yahudi atau Kristen, tetapi dari Stoisisme.

Hak atas foto Wikimedia Commons
Image caption Karl Maria Kertbeny menciptakan label 'heteroseksual" (Kredit: Wikimedia Commons)

Sebagai pakar etika Katolik, Margaret Farley, menekankan, penganut Stoisisme "memegang teguh kekuatan tekad manusia dalam mengatur emosi dan hasrat untuk menyukai pengaturan tersebut demi kedamaian batin".

Musonius Rufus, sebagai contoh, berpendapat dalam On Sexual Indulgence bahwa setiap manusia harus melindungi diri mereka sendiri melawan kesenangan diri, termasuk perbuatan seksual.

Untuk mengekang kesenangan seksual ini, menurut pakar teologi Todd Salzman, Rufus dan penganut Stoisisme lainnya berupaya untuk menempatkannya "dalam sebuah konteks yang lebih besar mengenai makna manusia". Mereka berpendapat bahwa seks hanya dapat bersifat moral dalam mencapai prokreasi.

Para pakar teologi Kristen pada masa awal kekristenan mengadopsi etika reproduksi suami-istri ini, dan pada masa Kaisar Agustus, seks reproduksi merupakan satu-satunya seks yang normal.

Ketika Krafft-Ebing begitu saja menerima etika seksual prokreasi, dia menggariskannya sedemikian rupa. "Dalam hubungan seks yang didasari cinta, tujuan sebenarnya dari hasrat, yaitu pengembangbiakan spesies, bukan merupakan bagian dari kesadaran," tulis dia.

Dengan kata lain, naluri seksual mengandung semacam tujuan reproduksi yang muncul secara alami- sebuah tujuan yang bahkan tidak disadari mereka yang melakukan hubungan seks 'normal'.

Jonathan Ned Katz, dalam buku The Invention of Heterosexuality, menekankan dampak dari tindakan Krafft-Ebing. "Menempatkan reproduksi di sisi alam bawah sadar, Krafft-Ebing menciptakan sebuah ruang kecil yang di dalamnya terdapat sebuah norma kesenangan yang mulai tumbuh."

Pentingnya pergeseran ini - dari naluri reproduktif ke gairah erotik - tidak dapat dibesar-besarkan, karena itu penting bagi konsep seksualitas modern.

Ketika sebagian besar orang saat ini berpikir heteroseksualitas, yang mungkin mereka pikir seperti ini: Billy memahami sejak usia yang masih sangat muda bahwa dia secara erotis tertarik dengan gadis. Suatu hari dia memfokuskan energi erotis itu pada Suzy, dan dia merayunya. Pasangan tersebut jatuh cinta dan memberi ekspresi seksual fisik pada gairah erotis mereka. Dan mereka hidup bahagia selamanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kehidupan kota di abad ke-19 dituding memiliki perilaku seksual 'tak bermoral'

Tanpa kajian Krafft-Ebing, narasi ini mungkin tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang "normal." Tidak ada yang menyebutkan, implisit sekalipun, tentang prokreasi.

Mendefinisikan naluri seksual normal sesuai keinginan erotis adalah revolusi fundamental dalam memikirkan seks. Karya Krafft-Ebing meletakkan dasar bagi pergeseran budaya yang terjadi antara definisi heteroseksualitas tahun 1923 sebagai "mengerikan" dan definisi 1934 sebagai "normal."

Sex and the city

Gagasan dan kata-kata seringkali merupakan produk pada masanya. Itu tentu saja merupakan heteroseksual yang sebenarnya, yang dilahirkan saat kehidupan warga Amerika mulai teratur. Seperti yang diungkapkan Blank, penciptaan konsep heteroseksual berkaitan dengan kebangkitan kelas menengah.

Pada akhir abad ke-19, populasi di kota-kota di Eropa dan Amerika Utara mulai meledak. Pada 1900, sebagai contoh, Kota New York memiliki 3,4 juta penduduk - 56 kali populasinya dibandingkan satu abad sebelumnya. Ketika orang-orang pindah ke pusat kota, mereka membawa penyimpangan seksual- prostitusi, erotisme sesama jenis- bersama mereka. Atau yang tampaknya demikian.

"Dengan membandingkan kota di daerah pinggiran dan desa-desa," tulis Blank, "Kota-kota besar tampak seperti sarangnya penyimpangan seksual dan perbuatan yang berlebihan."

Ketika populasi kota lebih kecil, menurut Blank, lebih mudah untuk mengontrol perilaku seperti itu, sama seperti mudahnya mengatur ketika perilaku tersebut terjadi di tempat yang lebih kecil, daerah perdesaan di mana keakraban dengan tetangga merupakan tradisi. Gosip kota kecil dapat menjadi sebuah motivator yang besar.

Karena meningkatnya kepedulian publik terhadap praktik seksual sejalan dengan masuknya kelas bawah ke perkotaan, "penyimpangan seksual masyarakat kota biasanya, jika tidak akurat, disalahkan" pada kelas pekerja dan orang miskin, kata Blank. Itu sangat penting bagi kelas menengah untuk membedakan diri mereka dari perbuatan tersebut.

Keluarga borjuis membutuhkan sebuah cara untuk melindungi anggotanya "dari dekadensi aristokrat di satu sisi dan kengerian kota yang padat di sisi yang lain." Ini membutuhkan sistem "sistematis, dapat diciptakan ulang, sistem yang dapat diterapkan secara universal yang dapat diimplementasi dalam skala besar".

Di masa lalu, sistem-sistem ini dapat berdasarkan pada agama, tetapi "negara sekuler yang baru membutuhkan pembenaran sekuler bagi aturannya," jelas Blank.

Mengikuti pakar seks seperti Krafft-Ebing, yang menulis pengantarnya di edisi pertama buku Psychopathia bahwa karyanya dirancang "untuk mengembalikan (manusia) ke dalam kondisi mereka yang sesungguhnya." Memang, meneruskan kata pengantar, penelitian ini "menerapkan pengaruh baik terhadap undang-undang dan yurisprudensi".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sejak abad ke-20 para pemikir mulai memisahkan hasrat seksual dari reproduksi

Karya Krafft-Ebing yang mencatat penyimpangan seksual membuat jelas bahwa kelas menengah yang sedang tumbuh tidak lagi memperlakukan penyimpangan seksualitas normal (hetero) sebagai sebuah dosa, tetapi sebuah degenerasi moral- satu dari label terburuk yang dapat disematkan pada seseorang.

"Sebut seorang pria sebagai 'seorang yang kurang ajar' dan Anda telah menetapkan status sosialnya," tulis Williams James pada 1895. "Sebut dia sebagai 'seseorang yang bobrok' dan Anda mengelompokkannya dengan kelompok manusia yang paling menjengkelkan." Seperti ditekankan Blank, degenerasi seksual menjadi tolok ukur untuk menggambarkan seseorang.

Degenerasi, akhirnya, merupakan proses sosial Darwinisme. Jika seks prokreasi sangat penting bagi evolusi spesies, menyimpang dari norma tersebut merupakan ancaman bagi seluruh struktur sosial. Untungnya, penyimpangan itu dapat dipulihkan, jika diketahui sejak awal, kata para ahli.

Menurut Krafft-Ebing, "pemutarbalikan seksual" terjadi melalui sejumlah tahapan, dan dapat disembuhkan sejak awal.

Melalui kajiannya, tulis Ralph M Leck, penulis dari Vita Sexualis, "Krafft-Ebing menyampaika seruan keras melawan degenerasi dan penyimpangan. Semua orang yang peduli dengan sekitarnya harus secara bergantian menjaga menara pemantau sosial."

Dan ini tentu saja sebuah pertanyaan bagi mereka: sebagian petugas kolonial berasal dari kelas menengah, yang besar dan berkembang.

Meskipun sejumlah non-profesional mengenal karya Krafft-Ebing, Freud yang memberikan cara pandang ilmiah terhadap publik dalam berpikir mengenai seksualitas. Meskipun sulit untuk menjabarkan teori-teori doktor dalam beberapa kalimat, warisannya yang paling abadi adalah teori perkembangan psikoseksualnya yang menyatakan bahwa anak-anak mengembangkan seksualitas mereka sendiri melalui sebuah elaborasi tarian psikologis orang tua yang rumit.

Bagi Freud, heteroseksual tidak lahir dengan cara ini, tetapi dijadikan seperti itu. Seperti yang ditekankan Katz , heteroseksual bagi Freud merupakan pencapaian; mereka yang mencapainya berhasil mengarahkan perkembangan masa kecil mereka tanpa terlempar dari jalan lurus dan sempit.

Namun, seperti yang diingatkan Kats, dibutuhkan imajinasi yang sangat besar untuk membingkai navigasi ini dalam istilah normalitas:

Menurut Freud cara normal menuju normalitas heteroseksual ditaburi dengan nafsu inses anak laki-laki terhadapibu dan (dan anak perempuan terhadap bapak), keinginan anak laki-laki untuk membunuh ayah (dan anak perempuan membunuh ibu), dan keinginan mereka untuk memusnahkan adik kandung yang dianggap menjadi rival. Jalan menuju heteroseksual diselimuti dengan hawa nafsu yang penuh darah… Penemuan heteroseksual, dalam pandangan Freud merupakan sebuah produksi yang sangat mengganggu.

Itulah pandangan Oedipus yang bertahan begitu lama karena penjelasan untuk seksualitas normal merupakan "satu lagi ironi besar tentang sejarah heteroseksual," kata dia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Alfred Kinsey (tengah) telah melonggarkan rasa tabu terhadap seks, tetapi laporannya kembali memastikan keberadaan kategori perilaku homoseksual dan heteroseksual (Kredit: Getty Images)

Tetap saja, penjelasan Frued tampaknya memuaskan mayoritas publik, yang, melanjutkan obsesi mereka dengan menstandarisasi setiap aspek kehidupan, secara bahagia menerima ilmu baru yang normal.

Sikap seperti itu mendapatkan pembenaran secara keilmuan lebih lanjut dalam kajian Alfred Kinsey, yang studinya pada 1948 berjudul Sexual Behavior in the Human Male (Perilaku Seks pada Manusia Laki-laki), berupaya menilai seksualitas laki-laki dalam skala nol (ekslusif heteroseksual) sampai enam (eksklusif homoseksual).

Temuannya membuat dia menyimpulkan bahwa sebagian besar, jika tak dapat disebut mayoritas, "porsi populasi laki-laki setidaknya memiliki beberapa pengalaman homoseksual antara masa remaja dan usia lanjut."

Ketika studi Kinsey membuka kategori homo/hetero sehingga memungkinkan adanya rangkaian seksual tertentu, namun studi itu juga "menegaskan dengan tegas gagasan tentang seksualitas yang terbagi antara "dua kutub", seperti yang ditulis Katz.

Masa depan heteroseksualitas

Dan kategori tersebut masih ada pada saat ini. "Tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan pasti mengapa heteroseksual dan homoseksual seharusnya berbeda," tulis Wendell Ricketts, penulis studi Biological Research on Homosexuality pada 1984. Jawaban terbaik yang kami dapat adalah sesuatu yang bersifat tautologi: "heteroseksual dan homoseksual dianggap berbeda karena dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan keyakinan bahwa mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok."

Meskipun hetero/homo tampak seperti fakta alami yang abadi dan tak dapat dihancurkan, namun tidaklah demikian. Itu hanya sebuah tata bahasa baru yang diciptakan untuk membicarakan arti seks bagi kita.

Heteroseksualitas, menurut Katz, "ditemukan dalam sebuah diskursus seperti halnya wacana yang ada di luar. Itru diciptakan dalam sebuah diskursus tertentu yang merupakan universal…yang merupakan di luar waktu."

Itu merupakan sebuah konstruksi, tetapi dianggap bukan. Seperti fisuf Prancis atau anak-anak dengan sebuah kumpulan Lego, segala yang telah dikonstruksikan dapat didekonstruksikan juga. Jika heteroseksualitas tidak ada di masa lalu, kemudian tak perlu ada di masa depan.

Baru-baru ini saya tertangkap basah oleh Jane Ward, penulis buku Not Gay, yang, selama wawancara untuk tulisan mengenai orientasi seksual, bertanya kepada saya untuk berpikir mengenai masa depan seksualitas.

"Apa maknanya untuk berpikir mengenai kapasitas orang-orang untuk memetik hasrat seksual mereka sendiri, dengan cara yang mungkin sama dengan kita mendapatkan rasa dari sebuah makanan?"

Walaupun sejumlah orang mungkin mewaspadai kemungkinan terjadinya fluiditas seksual, penting untuk disadari bahwa berbagai argumen Lahir Seperti Ini (Born This Way) tidak diterima bagi sebagian besar ilmu sains terbaru. Para peneliti tidak yakin apa "penyebab" homoseksualitas dan mereka pasti menolak teori yang memmberikan kesan sederhana, seperti sebuah "gen gay".

Menurut pendapat saya, hasrat seksual, seperti halnya dengan seluruh keinginan kita, bergeser dan berorientasi ulang sepanjang hidup kita. Dan selagi mereka melakukan itu, mereka seringkali menyarankan identitas baru kepada kita. Jika itu benar, kemudian dugaan Ward bahwa kita dapat memetik preferensi seksual sepertinya pas.

Di luar pertanyaan Ward tersimpan sebuah tantangan halus: Jika kita tidak nyaman dengan memikirkan seberapa besar kekuatan yang kita miliki tentang seksualitas kita, mengapa kenyataannya seperti itu? Demikian pula, mengapa kita merasa tidak nyaman dengan menantang keyakinan bahwa homoseksualitas, dan dengan perluasan heteroseksualitas, merupakan kebenaran alam yang abadi?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penulis James Baldwin menolak keras untuk mendefinisikan orang sebagai straight atau gay, dengan alasan bahwa "ia menjawab sebuah argumen palsu, sebuah tuduhan palsu" (Kredit: Getty Images)

Dalam sebuah wawancara dengan wartawan Richard Goldstein, novelis dan penulis naskah James Baldwin mengaku memiliki fantasi yang baik dan buruk terhadap masa depan. Salah satu yang baik itu adalah "Tidak ada yang harus menyebut diri mereka sebagai gay," sebuah istilah yang membuat Baldwin tidak sabar. "Ini menjawab sebuah argumen palsu, sebuah tuduhan palsu."

Bahwa?

"Klaim bahwa Anda tidak berhak berada di sini, bahwa Anda harus membuktikan Anda berhak untuk berada di sini. Saya mengatakan saya tidak memiliki bukti apapun. Dunia juga merupakan milik saya."

Pada suatu waktu, heteroseksual diperlukan karena manusia modern butuh untuk menunjukkan siapa mereka dan mengapa mereka begitu dan mereka butuh mempertahankan hak mereka untuk berada di tempat mereka berada.

Seiring berjalannya waktu, label tersebut tampaknya benar-benar membatasi cara kita untuk memahami hasrat kita dan cinta dan ketakutan. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa jajak pendapat Inggris baru-baru ini menemukan bahwa kurang dari setengah dari mereka yang berusia 18-24 tahun mengidentifikasi diri sebagai "heteroseksual 100%."

​​Itu tidak berarti mayoritas responden muda tersebut secara teratur mempraktikkan biseksualitas atau homoseksualitas; Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa mereka tampaknya tidak memiliki kebutuhan yang sama untuk kata "heteroseksual" sebagaimana leluhur abad ke-20 mereka.

Perdebatan tentang orientasi seksual cenderung berfokus pada konsep "alam" yang didefinisikan dengan buruk. Karena hubungan seks yang berbeda jenis kelamin pada umumnya menghasilkan kelanjutan spesies, kami memberikannya status moral khusus.

Tapi "alam" tidak mengungkapkan kewajiban moral kita - kita yang bertanggung jawab untuk menentukannya, bahkan ketika kita tidak sadar bahwa kita melakukannya. Untuk melompat dari observasi tentang alam ke membuat resep bagaimana seharusnya alam berjalan, seperti yang dicatat oleh David Hume, merupakan kesalahan logis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Hak gay semakin diakui, banyak orang yang menggambarkan hasrat seksual mereka berdasarkan sebuah spektrum (Kredit: Getty Images)

Mengapa menilai apa yang alami dan etis bagi manusia dari sifat hewaninya? Banyak hal yang dihargai manusia, seperti medis dan seni, sangat tidak wajar. Di saat yang sama, manusia membenci banyak hal yang sebenarnya sangat alami, seperti penyakit dan kematian.

Jika kita menganggap sejumlah fenomena alami sebagai etis dan lainnya tidak etis, itu berarti pikiran kita (cara memandang) menentukan akan sebagai apa alam dimanfaatkan (sessuatu yang dilihat). Alam tidak berwujud di "luar sana," terlepas dari kita - kita selalu sudah menafsirkannya dari dalam.

Sampai titik ini dalam sejarah Bumi kita, spesies manusia telah mengalami kemajuan dengan hubungan seksual reproduktif antar jenis kelamin yang berbeda. Sekitar seabad lalu, kita menyematkan makna spesifik terhadap hubungan seksual semacam ini, sebagian karena kita ingin menganjurkannya. Tetapi dunia kita sangat berbeda dari sebelumnya. Teknologi seperti diagnosis genetik praimplantasi (PGD) dan fertilisasi in vitro (IVF) semakin maju.

Pada tahun 2013, lebih dari 63.000 bayi dikandung melalui IVF. Sebenarnya, lebih dari lima juta anak telah lahir dibantu dengan teknologi bantuan reproduksi. Memang, jumlah ini masih mempertahankan reproduksi semacam itu dalam kelompok minoritas kecil, namun semua kemajuan teknologi dimulai dengan penolakan dari sejumlah kalangan.

Secara sosial juga, heteroseksualitas kehilangan "posisi di atas angin", seperti jaman dulu. Jika ada saat ketika ketidaksopanan homoseksual adalah skandal hari ini, kita telah beralih ke dunia lain, dunia yang dipenuhi masalah heteroseksual politisi dan selebriti, lengkap dengan gambar, pesan teks, dan lebih dari beberapa rekaman video.

Budaya populer penuh dengan gambaran hubungan dan pernikahan yang disfungsional. Sekadar catatan, antara 1960 dan 1980, Katz mencatat, tingkat perceraian naik 90%. Dan sementara itu anjlok selama tiga dekade terakhir, persentasenya belum terlalu membaik sehingga siapa pun bisa mengklaim "ketidakstabilan hubungan" adalah sesuatu yang eksklusif untuk homoseksualitas, seperti yang ditulis Katz.

Batasan antara heteroseksualitas dan homoseksualitas tidak hanya kabur, sebagaimana dipaparkan Kinsey dalam risetnya, tapi konsep itu juga diciptakan, mitos, dan mitos yang sudah ketinggalan zaman.

Pria dan wanita akan terus berhubungan seks dengan jenis kelamin berbeda satu sama lain sampai spesies manusia tidak ada lagi. Tapi heteroseksualitas - sebagai penanda sosial, sebagai cara hidup, sebagai identitas - mungkin akan mati jauh sebelum itu.

Brandon Ambrosino menulis untuk New York Times, Boston Globe, The Atlantic, Politico, Economist, dan publikasi yang lain. Dia tinggal di Delaware, dan mahasiswa teologi di Universitas Villanova.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggrisnya dalam The invention of heterosexuality atau artikel lain dalam BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait