Benarkah suasana emosional membuat kita sulit berempati pada derita orang lain?

Tidak mood Hak atas foto Thinkstock

Emosi ternyata bisa bereaksi secara tidak terduga jika kita merasa sedih dan terluka, tulis wartawan BBC Future, Melissa Hogenboom.

Ketika membaca novel tentang dunia distopia mencekam karya Margaret Atwood, A Handmaid's Tale, banyak yang merinding saat membayangkan apa yang dialami karakter Offred. Ketika dia diceritakan dipukul dan ditusuk dengan besi, kita seakan ikut merasakan kepedihan yang dirasa Offred. Kita ikut geram, menentang ketidakadilan.

Kondisinya semakin ironis ketika mengetahui bahwa berbagai narasi fiksi dan kekejaman yang dituturkan Atwood, ternyata didasarkan pada berbagai fakta sejarah di sejumlah tempat. "Jika saya ingin membuat dunia khayalan ini terasa nyata, saya juga harus menulisnya berdasarkan kenyataan," kata Atwood pada New York Times.

Kita dengan gampangnya bisa berempati, berandai-andai bagaimana jika kita lah yang menjadi Offred. Dan memang itulah bagian dari kemampuan emosi kita sebagai manusia: berbagai rasa dengan orang lain. Faktanya, jika kita melihat seseorang menderita, area otak kita yang berfungsi untuk merasakan sakit, ikut aktif.

Namun, ada satu temuan unik, bahwa kondisi emosi kita akan mempengaruhi empati pada orang lain. Kondisi emosi bisa mengubah reaksi pada orang lain, meskipun mereka sedang kesakitan, membutuhkan bantuan.

Image caption Emosi negatif bisa mengurangi empati kita pada orang yang sedang bersedih atau terluka.

Kalau kita sedang tidak senang atau kesal, kehidupan sosial pun bisa terkena dampaknya.

Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa mood akan mempengaruhi cara kita bertindak, pilihan makanan, dan lain sebagainya. Kalau kita sedang tidak mood, biasanya kita cenderung makan makanan tidak sehat, misalnya. Ketika teman kita sedang sedih, biasanya kita akan ikut-ikutan sedih pula.

Lebih jauh lagi, sebuah studi tahun 2017 memperlihatkan bahwa mood jelek juga bisa menyebar lewat media sosial.

Meskipun begitu, ada fakta yang mungkin bisa dibilang membahagiakan. Ketika emosi kita sedang baik, sedang sangat berbahagia, kita juga tidak akan terlalu kesakitan jika terluka. Efeknya seperti obat penghilang rasa sakit. Namun, kalau kita sedang tidak mood, sedang sedih, maka kesakitan yang kita rasakan juga akan bertambah berkali lipat.

Hak atas foto Hulu
Image caption A Handmaid's Tale banyak menghadirkan momen-momen yang menyesakkan dada.

Lebih buruk lagi, sebuah studi terkini, pada Desember 2017 lalu memperlihatkan bahwa, kalau perasaan kita sedang tidak enak, sedih, kemampuan kita untuk merasakan derita orang lain juga berkurang. Kita jadi kurang empati.

Emilie Qiao-Tasserit dari Universitas Jenewa pun berupaya untuk memahami bagaimana kondisi emosi kita mempengaruhi reaksi kita pada orang yang tengah kesakitan.

Dalam penelitiannya, Qiao-Tasserit memasang alat di kaki seseorang, yang bisa memanas (sebagai sumber sakit). Sementara kepada sejumlah relawan, peneliti pun mempertonton video yang bernuansa bahagia dan sedih, sembari merekam reaksi otak mereka.

Hasilnya, mereka yang menonton video sedih, reaksi area otak mereka yang terkait dengan rasa sakit, terhadap mereka yang meraung karena kakinya kepanasan, juga minim. Bagian otak tersebut: anterior insula dan cortex cingulate tengah, biasanya aktif ketika melihat orang kesakitan atau merasakan sendiri kesakitan.

"Dengan kata lain, emosi negatif bisa membuat otak kita jadi tidak sensitif dengan derita orang lain," jelas Qiao-Tasserit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wajar kalau kita berempati pada orang yang kalah.

Temuan ini mencengangkan, karena membuktikan bahwa kondisi emosi kita ternyata benar-benar bisa "mengubah cara otak kita bertindak".

Hasil penelitian ini tentu berdampak pada dunia nyata. Jika seorang bos sedang tidak mood, misalnya saja setelah menonton film sedih, si bos bisa saja jadi kurang sensitif dengan rekan kerja atau bawahannya, bahkan berpotensi bertindak negatif pada mereka.

Berkurangnya empati juga punya dampak lain. Riset memperlihatkan bahwa berkurangnya empati akan membuat sikap dermawan seseorang berkurang. Pemindaian terhadap otak juga memperlihatkan bahwa berkurangnya empati ini umumnya akan terjadi pada orang yang berada di lingkaran sosial kita.

Lalu, mengapa emosi negatif membuat kita kurang empati? Ini mungkin terkait dengan satu jenis empati yang diberi nama 'empati tertekan'. Menurut Olga Klimecki dari Universitas Jenewa, 'empati tertekan' ini adalah kondisi ketika munculnya perasaan syok melihat hal buruk terjadi pada orang lain, tapi diri malah berupaya "melindungi dirinya sendiri", daripada membantu orang yang kesakitan.

Jenis empati ini juga mengurangi perasaan kasih sayang.

Pendeknya, jika seseorang dalam keadaan tidak senang, berduka atau sedang tidak mood, maka otak akan mendorongnya untuk lebih fokus pada dirinya dan masalahnya sendiri. "Pasien depresi cenderung hanya fokus pada masalah mereka sendiri. Mereka seakan jadi terisolasi," jelas Qiao-Tasserit.

Dalam studi yang dilakukan Klimecki tahun 2016, dia menemukan bahwa 'empati tertekan' ini bisa menyulut sikap agresif. Dalam skenario di mana relawan dihadapkan pada situasi yang tidak adil, mereka yang sehari-hari tidak penyayang, cenderung memutuskan untuk membalas dendam.

Namun, mereka yang karakter sehari-harinya adalah penyayang, lebih memilih untuk memaafkan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Karakter penyayang dan empati bisa diajarkan meskipun mood sedang tidak enak.

Dari sini Klimecki menegaskan bahwa karakter penyayang sebenarnya bisa diajarkan, dilatih dan dikembangkan. Respons emosi kita pada orang lain jelas tidak terpatri selamanya seperti ukiran di batu.

Ini memperlihatkan pula bahwa kita bisa menumbuhkan kembali empati, meskipun sedang tidak mood. "Ketika kita berupaya untuk berpikir lebih positif, empati kita terhadap orang lain juga akan semakin bertumbuh," ungkap Qiao-Tasserit.

Jadi, jika suatu saat Anda sedang tidak mood atau kesal dan sedih, Anda juga harus mempertimbangkan apa efek yang bisa ditimbulkannya pada orang lain, orang yang Anda sayangi mungkin. Dan tampaknya, Anda juga harus mulai berhati-hati memilih waktu yang tepat untuk menonton film horor atau film sedih, agar orang lain tidak terkena imbasnya.

Anda bisa menyimak versi asli dari artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul How feeling bad changes the brain di BBC Future.

Berita terkait