Anda ingin menjadi fosil: Simak tujuh kiat ini

Bagaimana saya bisa menjadi fosil? Hak atas foto GoodLifeStudio/Getty Images
Image caption Fosilisasi begitu jarang sehingga para ilmuwan memperkirakan bahwa kurang dari seperpuluh dari 1% dari seluruh spesies hewan yang pernah hidup telah menjadi fosil—jumlahnya yang telah ditemukan jauh lebih sedikit lagi.

Setiap fosil adalah keajaiban. Seperti ditulis Bill Bryson dalam bukunya A Short History of Nearly Everything, cuma kira-kira satu dari semiliar tulang yang menjadi fosil. Dengan perhitungan itu, warisan fosil dari sekitar 260 juta jiwa manusia hidup di Indonesia saat ini akan sama dengan sekitar 26 tulang—tidak sampai seperempatnya rangka manusia.

Tapi itu baru peluang Anda menjadi fosil belaka. Jika kita berasumsi bahwa kumpulan tulang tersebut dapat terkubur di manapun dalam 1,9 juta kilometer persegi wilayah Indonesia, maka peluang tulang-tulang ini ditemukan di masa depan mendekati nol.

Fosilisasi begitu jarang sehingga para ilmuwan memperkirakan bahwa kurang dari seperpuluh dari 1% seluruh spesies hewan yang pernah hidup yang telah menjadi fosil. Sedangkan jumlahnya yang telah ditemukan jauh lebih sedikit lagi.

Sebagai manusia, kita lebih diuntungkan: kita punya rangka yang keras dan ukuran tubuh yang relatif besar. Jadi peluang 'kesuksesan' kita lebih baik dari ubur-ubur atau cacing. Namun demikian ada hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan peluang tersebut.

Tafonomi adalah studi tentang penguburan, pembusukan, dan pengawetan—seluruh proses yang terjadi setelah suatu organisme mati dan akhirnya menjadi fosil. Untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana caranya menjadi fosil, BBC Future berkonsultasi dengan beberapa pakar tafonomi terkemuka.

1. Kubur jasad Anda, segera

"Ini soal menjaga kondisi jasad setelah mati—cukup lama untuk terkubur di bawah sedimen dan kemudian berubah melalui proses fisika dan kimia jauh di bawah tanah menjadi fosil," kata Sue Beardmore, pakar tafonomi dan asisten koleksi di Museum Sejarah Alam Universitas Oxford.

"Supaya terawetkan selama jutaan tahun, Anda juga perlu bertahan dalam satu jam, hari, musim, dekade, abad, dan milenia pertama," Susan Kidwell, profesor di Universitas Chicago, menambahkan.

"Dengan kata lain, Anda harus bertahan selama transisi awal dari 'zona aktif tafonomis'... ke zona penguburan permanen, tempat yang membuat peluang jasad Anda tergali (secara tak sengaja) sangat kecil."

Ada begitu banyak hal yang bisa menyebabkan proses fosilisasi gagal. Sebagian besarnya terjadi di permukaan, atau 20-50cm di bawah, tanah atau dasar laut. Jangan sampai jasad Anda dimakan dan disebarkan oleh hewan pemakan bangkai, misalnya, atau terpapar cuaca terlalu lama. Dan jangan sampai jasad Anda dilubangi atau dipindahkan oleh hewan penggali.

Hak atas foto L Heusinkveld/Getty
Image caption Endapan pasir dan lumpur di Badlands Kanada mengubur tulang-tulang dengan cepat, menjadikan wilayah ini salah satu tempat perburuan fosil dinosaurus ternama di dunia.

Jika Anda ingin terkubur dengan cepat, kadang-kadang bencana alam bisa membantu—misalnya banjir yang melimpahkan banyak sedimen, atau letusan gunung api yang meliputi semuanya dengan lumpur dan abu.

"Salah satu teori yang menjelaskan terjadinya stratum geologi yang berisi tulang dinosaurus, atau bone bed, ialah pertama-tama kondisi kekeringan, yang mematikan para dinosaurus; disusul dengan banjir yang membawa sedimen, yang kemudian mengubur mereka," kata Beardmore.

Tentu saja, kebiasaan mengubur jasad manusia di bawah dua meter di dalam tanah (kecuali dikremasi) memberi Anda keuntungan tambahan. Tapi itu saja tidak cukup.

2. Silakan mati di dekat sumber air

Sudah jelas bahwa langkah pertama adalah mati, tapi Anda tak bisa mati di sembarang tempat. Memilih lingkungan yang tepat adalah kuncinya.

Air adalah satu hal penting untuk dipertimbangkan. Jika Anda mati di lingkungan kering, setelah jasad Anda digerogoti hewan pemakan bangkai, tulang Anda mungkin akan melapuk di permukaan tanah. Padahal sebaiknya, banyak pakar sepakat, jasad Anda harus segera tertutupi pasir, lumpur, dan sedimen—dan lokasi terbaik untuk itu ialah danau, dataran banjir, dan sungai, atau dasar laut.

"Lingkungan-kuno (paleo-environment) tempat kita menemukan fosil dalam kondisi paling baik adalah danau dan sistem sungai," kata Caitlin Syme, pakar tafonomi dari Universitas Queensland di Brisbane, Australia.

Hal yang penting ialah laju penguburan jasad oleh sedimen segar. Ia merekomendasikan sungai yang mengalir dari gunung. Sungai ini menyebabkan erosi dan karena itu membawa banyak sedimen.

Pilihan lainnya ialah delta pesisir atau dataran banjir, tempat sedimen sungai dilimpahkan seiring air mengalir ke laut.

Idealnya Anda juga membutuhkan lingkungan 'anoksik': yaitu lingkungan dengan kadar oksigen sangat rendah, tempat hewan dan mikroorganisme yang bisa memangsa dan merusak jasad Anda tidak bisa hidup.

Kidwell menyarankan agar menghindari sekitar 50cm di bawah dasar laut, "kedalaman maksimal lubang yang digali udang, kepiting, dan cacing yang bisa mengairi sedimen dengan air beroksigen", yang akan mendorong dekomposisi dan merusak jasad Anda.

"Setelah mati, Anda sebaiknya berakhir di lokasi yang elevasinya relatif rendah, sehingga lokasi tersebut menjadi wadah yang menampung sedimen. Lebih bagus lagi kalau ada air menggenang – kolam, danau, estuari, atau laut – sehingga kondisi anoksik bisa berkembang," Kidwell menjelaskan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam kondisi yang tepat, Anda juga bisa terawetkan selama 150 juta tahun seperti archaeopteryx.

Dalam beberapa kasus yang jarang, fosil yang tercipta dalam kondisi yang tetap dan anoksik ini mempertahankan jaringan lunak mereka seperti kulit, bulu, dan organ dalam. Contohnya meliputi banyak dinosaurus berbulu dari Cina atau lokasi penggalian di Bayern tempat ditemukannya fosil burung tertua, archaeopteryx.

Setelah fosil Anda sampai di bawah lapisan tanah yang aktif secara biologis, ia akan stabil dan terus terkubur semakin dalam seiring lebih banyak sedimen terakumulasi, kata Kidwell.

"Risiko untuk hancur kemudian beralih ke peristiwa geologi yang sama sekali berbeda, yaitu tektonisme."

Pertanyaannya, kemudian, ialah berapa lama sebelum sedimen yang membungkus jasad berubah menjadi batu yang lebih permanen... dan terangkat oleh aktivitas geologi sampai ketinggian dapat mengungkap sisa-sisanya.

3. Jangan pakai peti mati

Sekarang kita sampai pada bagian teknis tentang apa sebenarnya yang disebut fosil—dan jenis fosil seperti apa yang Anda inginkan.

Umumnya, peninggalan apapun yang berusia 50.000 tahun disebut 'subfosil'. Fosil ini umumnya masih terdiri dari jaringan asli organismenya. Megafauna dari zaman Pleistosen yang ditemukan di goa – misalnya kukang raksasa di Amerika Selatan, beruang goa di Eropa, dan singa berkantung di Australia – adalah contoh yang bagus.

Akan tetapi, jika Anda ingin jasad Anda menjadi fosil yang bertahan sampai jutaan tahun, Anda benar-benar membutuhkan mineral meresap ke tulang Anda dan menggantinya dengan substansi yang lebih padat. Proses ini, dikenal sebagai 'permineralisasi', biasanya menciptakan fosil yang mantap. Proses ini bisa terjadi selama jutaan tahun.

Karena itu, Anda sebaiknya tak menggunakan peti mati. Tulang melalui permineralisasi paling cepat ketika air kaya-mineral bisa mengalir melaluinya, memberinya unsur seperti besi dan kalsium. Peti mati mungkin menjaga kerangka tetap utuh, tapi akan menghalangi proses ini.

Tapi mungkin peti mati juga bisa bermanfaat. Mike Archer, pakar paleontologi di Universitas New South Wales, menyarankan penguburan di peti beton yang dipenuhi pasir dan dengan ratusan lubang berukuran 5mm yang dibuat dengan menggunakan bor di sampingnya. Ini kemudian dikubur cukup dalam sehingga air tanah bisa lewat.

"Jika Anda ingin menjadi fosil tulang klasik, seperti di Taman Provinsi Dinosaurus di Kanada, maka pasir [kasar] dari sungai cukup bagus," kata Syme.

"Semua jaringan lembut akan hancur dan yang tersisa adalah mendapatkan kerangka yang tersambung dengan cantik."

Dalam hal mineral, ion kalsium yang dapat mengendap menjadi kalsit, suatu bentuk kalsium karbonat, khususnya bagus. "Mineral ini dapat mulai mengukuhkan atau menutupi jasad yang akan melindunginya dalam jangka panjang, karena seiring waktu jasad kemungkinan besar akan terkubur lebih dalam lagi," kata Syme.

Sengaja menyemai jasad Anda dengan mineral yang pas, misalnya kalsit atau gipsum, bisa menjadi cara mempercepat proses ini. Mendorong pertumbuhan mineral kaya-besi juga langkah bagus karena jasad menjadi tahan lapuk dalam jangka panjang.

Hak atas foto James St. John [CC BY 2.0]
Image caption Jika Anda ingin membuat fosil Anda semakin cantik, seperti fosil kayu dari zaman Triasic ini, tambahkan sedikit warna dengan tembaga.

Silikat, dari pasir, juga mineral tahan lama yang bagus untuk digabungkan dengan tulang-belulang. Archer bahkan menyarankan supaya Anda dikubur bersama strip tembaga dan pelet nikel supaya fosil tulang dan gigi Anda berwarna hijau-kebiruan yang cantik.

4. Hindari tepian plat tektonik

Jika Anda berhasil bertahan selama beberapa ratus ribu tahun pertama dan mineral mulai menggantikan tulang Anda, selamat! Anda telah sukses menjadi fosil. Seiring sedimen menumpuk di atas dan Anda terdorong semakin dalam ke kerak bumi, panas dan tekanan akan menunjang proses ini lebih jauh.

Tapi Anda belum selesai. Fosil Anda masih mungkin terdorong terlalu dalam sampai dilelehkan oleh panas dan tekanan Bumi.

Tidak mau itu terjadi? Jauhkan diri dari tepi plat tektonik, tempat kerak pada akhirnya akan terhisap ke bawah permukaan bumi. Salah satu zona subduksi itu adalah Iran. Di sana, Plat Eurasia naik ke atas Plat Iran.

5. Ditemukan

Sekarang Anda perlu memikirkan peluang untuk ditemukan.

Jika Anda ingin seseorang kebetulan menemukan fosil Anda yang terawetkan dengan baik di kemudian hari, Anda perlu merencanakan penguburan di lokasi yang cukup rendah untuk akumulasi sedimen yang bisa mengubur Anda lebih dalam—tapi satu saat akan terdorong ke atas lagi.

Dengan kata lain, Anda butuh tempat yang terangkat, supaya pelapukan dan erosi nantinya akan mengikis lapisan permukaan, menyingkap sisa-sisa jasad Anda.

Hak atas foto Ruslan Dashinsky/Getty Images
Image caption Selain untuk berenang, Laut Mati mungkin tempat yang bagus untuk mengawetkan fosil.

Salah satu lokasi yang bagus mungkin Laut Mediterrania, kata Syme; lautan ini semakin dangkal karena Afrika terus terdorong ke arah Eropa. Lautan kecil lainnya yang berada di pedalaman dan akan dipenuhi sedimen juga taruhan yang bagus.

"Mungkin Laut Mati," ujarnya. "Kadar garamnya yang tinggi akan mengawetkan dan mengasamkan Anda."

6. Atau cari cara lain

Kita telah membahas metode standar untuk fosil yang keras dan tahan lama, dengan tulang yang sebagian besar digantikan dengan batu. Namun ada juga metode lainnya yang bisa Anda pertimbangkan.

Pilihan pertama ialah ambar. Ada banyak fosil menakjubkan yang terawetkan dengan sempurna di batu permata yang terbuat dari getah pohon ini—misalnya penemuan burung, kadal dan bahkan ekor dinosaurus berbulu di Myanmar baru-baru ini.

"Jika Anda bisa menemukan cukup banyak getah pohon dan terbungkus dalam ambar, itu akan jadi cara terbaik untuk mengawetkan jaringan lunak dan tulang Anda," kata Syme. "Tapi ini jelas sulit bagi hewan berukuran besar."

Tidak bisa menemukan cukup ambar? Pilihan selanjutnya ialah lubang tar, seperti yang telah mengawetkan kucing gigi pedang dan mammoth di La Brea, Los Angeles; meskipun di sini Anda mungkin tulang Anda akan terputus-putus, bercampur dengan hewan-hewan lain.

Anda juga bisa membeku di gunung atau glasier, seperti Ötzi si manusia es, yang ditemukan di Pegunungan Alpen pada 1991.

Hak atas foto Kogo (GFDL)/Wikimedia Commons
Image caption Tempat Ötzi si manusia es menemui ajalnya mungkin tidak begitu nyaman, namun menjadi kunci untuk mengawetkan jasadnya.

Cara lainnya ialah proses mumifikasi alami, dengan tubuh Anda dibiarkan mengering di sistem gua. "Ada banyak bangkai di gua yang terbungkus kalsium dari air tanah, yang juga membentuk stalaktit dan stalagmit," kata Syme. "Orang suka menjelajah gua, jadi jika sistem gua masih ada di masa depan, mereka mungkin akan menemukan Anda."

Metode terakhir untuk mengawetkan mayat Anda, hampir untuk selamanya, meski bukan dalam bentuk fosil, ialah meluncurkan Anda ke ruang angkasa – atau menaruhnya di benda langit statis yang tidak diselimuti atmosfer, contohnya Bulan.

"Kondisi hampa udara di ruang angkasa sangat pas jika Anda tidak ingin jasad Anda membusuk," kata Syme. Ia menambahkan, Anda bisa melekatkan suar radio jika Anda ingin ditemukan kembali di masa depan.

7. Tinggalkan benda-benda tambahan

Katakanlah Anda ditemukan jutaan tahun kemudian, apa lagi yang akan terawetkan bersama Anda?

Plastik (mungkin fidget spinner?), produk turunan minyak bumi yang tidak terdegradasi atau logam inert, seperti logam campuran, emas, dan logam langka yang terdapat dalam telepon seluler, semuanya bisa bertahan lama.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Akankah telepon seluler menjadi salah satu artefak yang kita tinggalkan bagi generasi masa depan?

Kaca juga tahan lama, dan dapat bertahan di bawah temperatur dan tekanan tinggi. Anda dapat bayangkan menemukan "kerangka atau bentuk smartphone," kata Syme.

Secara terpisah, Archer menerangkan bahwa sifat tahan lama kaca berarti Anda dapat mengukir kata 'ENJOY!' di atas sebuah lempengan kaca dan menyimpannya di dalam peti mati bersama jasad Anda, dan pelat kaca itu akan ditemukan bersama fosil Anda.

"Supaya 100% yakin, saya akan menggunakan berlian," Syme menambahkan. Struktur berlian sangat stabil. Dengan menggunakan laser, Anda dapat mengukir semacam catatan yang menjelaskan langkah-langkah yang telah Anda tempuh untuk menjadi fosil.

Jika Anda juga ingin merencanakan konteks arkeologi Anda, Syme yakin aspal jalan raya dan fondasi gedung pencakar langit adalah lokasi yang bagus. "Kita menggali cukup dalam untuk membangun infrastruktur dan gedung-gedung ini. Anda akan masih bisa melihat... tata ruang kota di sana," ujarnya.

Ingat, kata-kata yang Anda tulis akan pudar dan segala perbuatan Anda akan terlupakan. Tapi fosil, mungkin, akan abadi.


Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, How Can I Become a Fossil?, di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait