Seberapa besar ancaman bahaya plastik di danau dan sungai?

plastik Hak atas foto ANDREJ ISAKOVIC/AFP/Getty Images
Image caption Seekor bebek berenang melintasi kumpulan botol plastik di Sungai Sava, Beograd, Serbia. Satwa-satwa terancam bahaya jika mereka menelan limbah plastik di sungai, danau, dan lautan.

Perhatian khalayak soal limbah plastik sering tertuju ke lautan. Bukti-bukti yang baru bermunculan menunjukkan bahwa dampaknya terhadap danau dan sungai juga memprihatinkan.

Pada 2016, sekelompok ilmuwan menyusuri tepian Danau Jenewa di Swiss. Perhatian mereka bukan tertuju pada flora atau fauna, melainkan pada sampah. Khususnya, sampah plastik.

Tidak sulit bagi mereka untuk mengumpulkan benda bekas pakai yang dibuang khalayak umum. Benda-benda ini mencakup tutup botol, korek kuping, pena, mainan, dan sedotan. Ada pula bongkahan styrofoam, yang pernah dipakai untuk melindungi barang pecah belah.

Mengumpulkan sampah ini bukanlah tujuan utama para ilmuwan ini, kata Montserrat Filella dari University of Geneva.

Sejatinya mereka ingin meninjau apakah zat-zat kimia yang dilepaskan plastik-plastik di danau dapat dikategorikan sebagai membahayakan.

Kajian mereka dilakukan tatkala dunia kita saat ini berada dalam posisi tidak nyaman akibat polusi plastik buangan manusia—mulai dari kumpulan plastik di samudera hingga mikroplastik di dasar sungai.

Hak atas foto David Shukman
Image caption Konsentrasi sampah plastik yang nyaris menutup permukaan anak sungai di Bandung.

Sebagaimana diistilahkan PBB, bumi sedang menghadapi "krisis berskala planet" yang menghancurkan ekosistem kita. Meskipun sudah ada kesadaran akan bahayanya, polusi plastik sudah telanjur di mana-mana.

Potensi solusinya memang sudah bermunculan, semisal enzim pemakan plastik yang suatu hari mungkin membantu umat manusia memangkas jumlah sampah, tidak ada jaminan bahwa semua itu bisa menangani jutaan ton sampah yang sudah beredar di alam.

Dari semua jenis polusi plastik, polusi plastik yang mencemari lautan lebih banyak dikaji dan coba dipahami ketimbang limbah di air tawar.

"Sistem air tawar semakin banyak dipelajari, namun skalanya jauh lebih kecil dibanding kajian polusi plastik di lautan," ujar Filella.

Hal ini mungkin terjadi karena kajian awal berfokus pada lautan—sehingga proposal riset dan dana riset sekadar mengikuti.

Tidak perlu waktu lama bagi tim ilmuwan Jenewa untuk menemukan yang mereka cari. Filella dan para koleganya mengumpulkan 3.000 sampel dan menganalisa 670 di antaranya. Hasilnya cukup mengkhawatirkan.

Sebagian besar dari sampel-sampel ini mengandung elemen beracun serta berbahaya, termasuk cadmium, merkuri, dan timbal. Beberapa elemen kini dilarang atau dibatasi peredarannya.

Bahkan, kadar elemen beracun dalam beberapa sampel "sangat tinggi", sebagaimana digambarkan dalam makalah yang dimuat jurnal ilmiah Frontiers of Environmental Science.

Hak atas foto David Shukman
Image caption Limbah menumpuk di sebuah sungai di Bandung.

Situasi ini, menurut Filella "mencerminkan lamanya plastik berada di danau". Limbah tersebut telah menumpuk selama beberapa dekade. Padahal, seperti kita tahu, plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai.

Jenis plastik yang ditemukan sama persis dengan plastik yang hanyut di banyak pesisir. Namun, ada satu perbedaan signifikan.

Filella menegaskan, elemen berbahaya pada plastik-plastik yang ditemukan tim peneliti di Danau Jenewa "tampak jauh lebih banyak" ketimbang elemen pada sampel plastik di lautan.

Efeknya terhadap satwa liar jelas menjadi keprihatinan utama. Keberadaan plastik di dalam air dan di pesisir laut, danau, dan sungai berarti plastik bisa—dan sering—ditelan satwa liar. Padahal, jika satwa menelannya, asam lambung mereka akan berupaya mencerna plastik secepat mungkin. Konsekuensinya, elemen berbahaya pada plastik juga bakal mengemuka lebih cepat.

Beragam studi menunjukkan bahwa penyu laut secara rutin mati ketika bongkahan plastik memblokir saluran pencernaan mereka. Plastik juga bisa merusak lambung, menghalangi saluran pencernaan, dan menyebabkan spesies mati terjerat.

Karena belum banyak kajian yang mumpuni, belum diketahui dengan jelas bagaimana satwa di dalam air tawar bisa hidup ketika mereka menelan limbah plastik.

Martin Wagner dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia menghabiskan sebagian besar waktunya meneliti dampak plastik terhadap satwa di air tawar. Dia menemukan bahwa spesies-spesies air tawar akan menderita saar terpapar mikroplastik dalam kadar tinggi.

Filella menduga skalanya jauh lebih besar.

"Mungkin diperlukan plastik dalam jumlah banyak untuk membunuh kutu air, tapi itu tidak menjelaskan konsekuensi jangka panjang dan imbasnya terhadap ekologi. Plastik tidak akan menyingkir begitu saja. Benda itu ada di lingkungan dan akan tetap di situ selama puluhan tahun," ujar Filella.

Hak atas foto FABRICE COFFRINI/AFP/Getty Images
Image caption Matahari terbit di Danau Jenewa, Swiss.

Danau Jenewa bukanlah sampel unik. Sejumlah danau lainnya menunjukkan polusi dalam taraf yang sama. Limbah plastik di Danau Garda, Italia, misalnya, sangat banyak. Sebuah sampel di bagian utara danau mengandung 1.000 partikel plastik besar dan 450 partikel kecil (mikroplastik) per meter persegi.

Mikroplastik, khususnya, diam-diam mematikan sebagaimana disoroti dalam sebuah kajian pada 2015. Partikel pada mikroplastik seringkali berukuran 5 milimeter atau bahkan lebih kecil.

Benda ini umumnya ditemukan di danau dan dasar sungai dan satwa bisa mengiranya sebagai makanan. Sebagian mikroplastik berasal dari serat plastik pakaian manusia, sebagian lain dari produk kosmetik yang mengandung bulir mikro. Sebuah studi bahkan menemukan mikroplastik dalam air minum.

Akan tetapi "luasan dan relevansi dampaknya terhadap kehidupan air" belum dipahami secara dalam, seperti diungkap kajian pada 2015 tersebut. Apalagi, dampaknya terhadap kesehatan manusia. Hal ini, menurut para para peneliti penyusun kajian itu, "merisaukan".

Ketua tim peneliti, Dafne Eerkes-Medrano, menjelaskan bahwa ketika mereka mencari polusi plastik di air tawar, jumlahnya sangat banyak. Hal ini mereka temukan bahkan di Danau Hovsgol, Mongolia, yang terpencil.

Sampel di danau tersebut menunjukkan jumlah mikroplastik mencapai 44.435 butir per kilometer persegi—hampir sama banyaknya dengan mikroplastik di Danau Jenewa yang mencapai 48.146 butir per kilometer persegi. Sebuah analisis mengungkap bahwa mikroplastik di danau tersebut terbawa oleh angin dari bagian danau yang didiami manusia.

Hak atas foto LAKRUWAN WANNIARACHCHI/AFP/Getty Images
Image caption Berbagai macam limbah mencemari sebuah danau di Kolombo, Sri Lanka.

Kini menjadi semakin jelas bahwa sebagian besar plastik yang hanyut di laut bermula dari air tawar. Sebuah riset memperkirakan kemungkinannya bisa mencapai 70% sampai 80%.

Pangkal pencemaran, kata Martin Wagner dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, bsia berasal dari pabrik-pabrik di tepian sungai.

Tidak ada solusi tunggal atas permasalahan plastik kita, mengingat produk plastik yang kita gunakan sehari-hari sedemikian banyak. Inilah sebabnya Wagner mendorong kita semua "kembali ke akar permasalahan", berpikir lagi mengenai bagaimana kita bisa mengurangi konsumsi plastik mulai dari kemasan makanan hingga gelas minuman.

"Kita harus meninggalkan logika memproduksi, menggunakan, dan membuang. Kita justru harus mencoba menciptakan sistem ekonomi yang membuat semua produk bisa dipakai kembali," katanya.

Mengurangi penggunaan plastik boleh jadi akan mengurangi limbah yang hanyut di pesisir dan kita bisa saja berargumen bahwa plastik yang kita gunakan zaman sekarang kurang berbahaya ketimbang produk plastik di masa lalu.

Namun, sebagaimana ditunjukkan dalam kajian pada plastik di Danau Jenewa, plastik-plastik di dasar sungai pun masih akan merilis elemen beracun selama berpuluh tahun mendatang.

"Mungkin dibutuhkan puluhan tahun untuk mengatasi masalah ini," kata Filella.

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Why plastics are not just an ocean problem pada laman BBC Future.

Berita terkait