Cara unik Belanda menangani tahanan yang mengalami gangguan jiwa

Penjara Zwolle Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Suasana penjara di Zwolle, Belanda.

Di Belanda, narapidana dengan gangguan kejiwaan diperlakukan sangat berbeda dibandingkan narapidana di negara-negara lain. Melissa Hogenboom mengunjungi sebuah penjara di Belanda untuk melaporkannya.

Saat saya tiba di penjara Zwolle di Belanda, awalnya sulit untuk membayangkan gedung yang tenang ini, yang terletak di sebelah gerai makanan waralaba dan sebuah pusat pertamanan, adalah penjara bagi 400 lebih tahanan.

Sebagian dari mereka adalah tahanan dengan gangguan jiwa yang parah.

Meski parkiran mobil tampak penuh, tapi tidak ada seorang pun di luar gedung. Bahkan tidak jelas pintu mana yang akan terbuka untuk saya masuki, tetapi saya melihat kamera-kamera sudah terlebih dahulu merekam setiap gerakan saya.

Saya masuk lewat area staf — terpisahkan dari area tahanan lewat beberapa pintu terkunci, tapi saya harus tetap menjalani pemeriksaan keamanan yang ketat.

Paspor, kartu identitas pekerjaan saya dan kamera diperiksa, dan semua barang bawaan saya harus dipindai sebelum saya boleh masuk.

Dari saat saya melewati pintu besi yang tebal, jelas-jelas terasa bahwa saya sedang memasuki penjara.

Ada sekitar 124 pria dan 36 perempuan yang tinggal di sini, terpisah dari area tahanan umum. Sepertiga dari para tahanan perempuan tinggal di 'bangsal krisis': di sinilah kondisi mereka harus distabilkan sebelum memasuki bangsal psikiatris umum.

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Ada 421 tahanan perempuan di Belanda.

Bahkan di tingkat dunia pun, kondisi ini termasuk jarang. Di negara-negara seperti Inggris dan AS, tahanan dengan kondisi gangguan kesehatan jiwa biasanya akan ditahan bersama dengan tahanan umum lainnya.

Namun di Belanda, penjara-penjara dibedakan menjadi segmen khusus sesuai dengan kondisi napi. Dengan ini, mereka bisa menerima layanan kesehatan yang layak dan khusus sesuai yang mereka butuhkan.

Saya mengunjungi penjara Zwolle untuk memahami dampak dari pemisahan ini dan bagaimana pemisahan seperti ini bisa membantu mereka yang memiliki gangguan kesehatan jiwa.

Fokus saya adalah bagaimana segmentasi ini berpengaruh pada perempuan, setelah saya menulis tentang perempuan dengan masalah kesehatan jiwa di penjara.

Lima tingkatan keadilan

Salah satu hal unik dalam sistem hukum kriminal Belanda adalah seseorang bisa dianggap bertanggungj awab atas kejahatannya dalam lima tingkatan.

"Hukum Belanda berbeda dengan hukum Inggris karena mengenali skala yang berbeda dari bertanggung jawab penuh sampai tidak bertanggungjawab, dan ada tiga tahapan di antaranya," menurut penjelasan sebuah laporan di jurnal Criminal Behaviour and Mental Health.

Meski klausul tanggung jawab yang berkurang sama dengan sistem hukum Inggris, namun tidak ada tahapan skala.

Bayangkan sebuah situasi di mana seseorang meminum obat yang membuatnya mengalami kondisi tak sadar diri.

Jika mereka kemudian melakukan suatu kejahatan yang keji, mereka bisa bertanggung jawab sampai satu titik karena mereka mengambil keputusan untuk mengonsumsi obat tersebut.

Tapi jika kondisi tersebut tidak disebabkan oleh obat-obatan, maka mereka dianggap tidak terlalu bertanggung jawab atas kejahatan itu.

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Koridor-koridor panjang di penjara kebanyakan kosong dan tenang saat para tahanan berada di dalam sel.

Artinya, gangguan kejiwaan di kalangan tahanan ditangani dengan cara berbeda dibandingkan di negara-negara lain.

Jika ternyata napi memiliki masalah kesehatan jiwa, maka mereka bisa dikirim ke salah satu dari beberapa tempat berbeda.

"Mereka disaring di awal, bahkan sebelum para tahanan masuk penjara," kata Maud Verbruggen, seorang psikolog di Penjara Zwolle.

Saat seorang tahanan masuk ke penjara, mereka kemudian langsung dipertemukan dengan psikolog atau psikiatris.

Di Zwolle, saya bertemu staf yang bekerja dengan para tahanan tersebut, psikolog Verbruggen dan psikiater Menno van Koningsveld.

Tahanan dengan gangguan kesehatan jiwa yang parah atau yang menolak perawatan kesehatan bisa dikirim ke PPC atau pusat penahanan psikiatris.

Pusat ini nantinya terpisah dari penjara umum, seperti halnya yang ada di Zwolle.

Sementara dalam kasus-kasus yang tidak terlalu parah, tahanan bisa dibawa ke EZG atau fasilitas perawatan khusus, yang ditata agar "menawarkan suasana yang tenang dan memberi stimulasi", menurut Kementerian Kehakiman Belanda.

Ada juga beberapa tempat di rumah sakit jiwa umum bagi tahanan yang setuju menjalani perawatan secara sukarela.

Ada banyak keuntungan dari pemisahan tahanan sejak awal ini, menurut tim yang bekerja di sana.

Jika Anda menempatkan orang-orang, terutama yang punya kecenderungan melukai diri sendiri, di lantai yang sama, "itu akan jadi bencana," kata Verbruggen.

Mereka membutuhkan struktur dan kebutuhan perlindungan yang lebih besar dan para tahanan ini juga lebih susah diprediksi, katanya.

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Psikolog Maud Verbruggen dan psikiater Menno van Koningsveld mengawasi pasien psikiatris di penjara.

Contohnya, di penjara-penjara umum di Belanda, kini ada praktik yang semakin rutin bagi tahanan untuk mendapat kunci ke sel mereka sendiri, namun di PPC tidak seperti itu.

Di sana, tahanan punya tanggung jawab yang lebih sedikit karena mereka lebih rapuh, kata para dokter.

"Mereka cenderung dipukuli, mengalami kekerasan, atau obat-obatan mereka diambil," kata van Koningsveld, yang sudah bekerja di penjara selama beberapa dekade.

Para narapidana juga mungkin melakukan tindakan antisosial seperti berteriak-teriak pada malam hari.

Dan secara sengaja, atau tidak sengaja, mereka bisa melukai diri sendiri: menurut van Koningsveld sebagian dari mereka "makan kaus kaki sendiri" atau membongkar colokan listrik dan berusaha menelan bagian-bagian besi yang bisa mereka ambil.

Ada 12 kasur di bangsal krisis perempuan untuk tahanan yang mengalami gejala kesehatan jiwa akut, sebagian menolak pengobatan. (Dalam kasus-kasus seperti itu, van Koningsveld bisa turun tangan dan menolak keberatan si tahanan).

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Staf dan pengunjung melewati pendeteksi logam saat memasuki dan keluar dari penjara.

Selain itu, ada beberapa perempuan yang diletakkan terpisah demi keselamatan mereka sendiri, seperti sebagian kecil yang berusaha melakukan infanticide atau pembunuhan bayi, kejahatan yang bisa mengundang kekerasan atau pelecehan dari tahanan lain. Dan para perempuan ini juga biasanya diawasi untuk kemungkinan bunuh diri.

Perempuan yang masuk ke penjara ini biasanya merasa bahwa "dunia mereka hancur", kata Verbruggen.

Bantuan yang mereka peroleh bisa memberi mereka struktur serta rutinitas harian, selain juga makanan, tempat tinggal, dan pengobatan. Banyak dari perempuan ini yang tidak punya akses yang cukup terhadap kebutuhan mendasar ini sebelumnya, terutama mereka yang tinggal di jalanan.

Pada hari saat saya berkunjung, ada 12 tempat tidur kosong di bangsal perempuan, dan ini jarang terjadi — biasanya ada daftar tunggu karena tingginya permintaan.

Meski Belanda melihat adanya penurunan populasi tahanan dari tahun ke tahun, dan 19 penjara baru-baru ini ditutup, menurut van Koningsveld, ini disebabkan karena penggunaan gelang kaki elektronik dan meningkatnya hukuman masyarakat.

Bagi pasien psikiatris, terutama perempuan, populasi penjara justru meningkat. Menurut penelitian, ini terjadi di Belanda maupun di seluruh dunia.

Tak jelas apa sebabnya. Mungkin ada perubahan di masyarakat, kata van Koningsveld. Struktur sosial tak sedekat dulu, dan dia yakin orang menjadi semakin individualistis.

"Saat Anda mulai berteriak-teriak di jalan, jarang ada orang yang bertanya 'apa kamu mau makan?' Mereka biasanya akan menelpon polisi."

Penelitian pun mendukung ini. Sebuah penelitian dari 2017 di 87 negara menemukan bahwa individualisme telah meningkat di "sebagian besar masyarakat".

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Populasi penjara di Belanda kini menurun.

Per April 2018, ada 421 perempuan dari sekitar 8.000 tahanan penjara di Belanda, menurut Kementerian Kehakiman.

Angka ini turun dari 547 pada 2016. Direktur layanan penjara, Angeline van Dijk, mengatakan di program On Assignment BBC pada 2016 bahwa, terlepas dari peningkatan penggunaan gelang kaki, salah satu alasan penurunan tajam tersebut adalah penjara digunakan untuk individu yang berbahaya dan rentan.

Namun mereka yang melakukan kejahatan yang tidak terlalu berat menjalani hukumannya di masyarakat. (Alasan lain termasuk penurunan anggaran untuk kepolisian).

Perempuan yang memasuki PCC di Zwolle rata-rata akan tinggal selama empat bulan.

Biasanya, mereka ada di sini sebagai tempat sementara sebelum dijatuhi hukuman, atau kadang malah mereka dilepaskan. Jika seorang hakim memutuskan mereka bebas, maka ada waktu sisa bagi program kesehatan jiwa untuk bisa berjalan efektif.

Inilah salah satu sebabnya mengapa pelanggaran yang berulang — dan kambuhan gangguan psikiatris — menjadi umum.

Verbruggen dan van Koningsveld juga menjelaskan sesuatu yang tidak saya sangka-sangka: di dalam, para tahanan lebih mungkin menerima layanan psikiatris daripada saat mereka berada di luar penjara.

Salah satu sebabnya adalah kurangnya tenaga psikiatris bagi penduduk kebanyakan. Sebab lain adalah para tahanan cenderung merupakan "pasien bermasalah", yang bisa menjadi agresif, sering membutuhkan bantuan langsung, dan tidak berada di daftar tunggu yang panjang.

Kejahatan berat

Para pelaku pelanggaran kejahatan serius bisa ditahan di institusi forensik bernama TBS (terbeschikkingstelling), yang berarti "dalam perawatan pemerintah".

Mereka bisa ditahan di sana sampai dianggap tak lagi menjadi risiko bagi umum — dan kondisi ini diperiksa ulang setiap satu atau dua tahun.

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption Tanda di sebelah pintu ini bertuliskan,"pintu masuk bagi tahanan".

Vivienne de Vogel bekerja sebagai psikolog forensik di salah satu rumah sakit TBS di Utrecht, spesialisasinya adalah perempuan pelaku kejahatan berat.

Dia mengatakan pada saya, risiko seseorang melakukan kejahatan yang sama cukup tinggi, masa tinggal tahanan bisa diperpanjang beberapa tahun lebih lama daripada hukuman penjara yang dijatuhkan pada mereka (hukuman penjara dan TBS bisa diberikan bersamaan).

Rata-rata masa tinggal mereka adalah antara enam sampai tujuh tahun, dan TBS berusaha memenuhi dua tujuan: untuk melindungi publik dan merehabilitasi mereka yang ada di sana.

Pada 2007, peneliti menemukan bahwa sistem ini "pragmatis dan sukses dalam mengurangi berulangnya kejahatan di kalangan para pelaku yang berisiko tinggi di Belanda," dan bahwa Inggris bisa belajar dari Belanda.

Inggris sempat membuka institusi serupa yang terinspirasi oleh TBS pada 2001, namun dianggap tidak efektif "dalam mengatasi target utamanya dan mungkin tidak efektif dari sisi biaya," menurut laporan pada 2010. Maka fasilitas tersebut pun "dibubarkan" pada 2011.

Namun tetap saja, satu masalah utama dalam sistem penahanan di Belanda, dan sama seperti penjara-penjara lain di seluruh dunia, fasilitas tersebut dibuat dengan anggapan ditujukan untuk pria. Contohnya, alat-alat berisiko tinggi telah "dikembangkan dan diuji pada pria," kata Vogel.

Namun dia menemukan bahwa para perempuan yang melakukan kejahatan berat memperlihatkan sejarah pola masalah kompleks yang berbeda dari laki-laki.

Hal ini terjadi khususnya bagi mereka yang melakukan kejahatan yang sangat serius, seperti satu perempuan dengan sejarah psikis yang memerintahkan pemerkosaan seorang perempuan yang menjadi selingkuhan pacarnya.

Saat menggali lebih dalam, de Vogel menemukan bahwa perempuan-perempuan ini hampir selalu memiliki masa lalu bermasalah.

Melihat masa lalu mereka tentu tidak mengurangi kejahatan yang mereka lakukan, namun dia menemukan bahwa pengalaman tersebut bisa membantu untuk mengatasi gangguan kejiwaan serta merehabilitasi mereka.

Karena itulah de Vogel mengembangkan alat penilaian risiko yang spesifik-gender, tapi belum digunakan secara luas, yang mempertimbangkan beberapa faktor risiko seperti sejarah prostitusi, kesulitan membesarkan dan merawat anak, kehamilan masa remaja, dan rasa percaya diri yang rendah — yang terakhir diyakini menjadi faktor risiko bagi seorang perempuan untuk melakukan lagi kejahatannya, namun bukan faktor risiko bagi laki-laki.

Hak atas foto Melissa Hogenboom
Image caption "Sel tunggu" ini adalah tempat tahanan pertama datang sebelum masuk ke sel mereka sendiri.

De Vogel berharap masyarakat bisa memahami, para perempuan ini bisa dan harus "dirawat" selain juga dihukum — dan perawatan ini diharapkan bisa mencegah mereka mengulangi kejahatannya di masa depan, katanya. (Pendekatan ini nampaknya efektif; hanya sedikit perempuan yang keluar dari TBS kemudian mengulangi perilaku mereka).

Saat saya melihat sistem penanganan kesehatan jiwa di penjara, terutama di Inggris, saya mendapati bahwa para individu tersebut kesulitan menerima bantuan yang mereka butuhkan, dan seringnya badan amallah yang turun tangan.

Di Zwolle, menurut Verbruggen, ini tidak terjadi — atau setidaknya tidak terjadi di penjara. Selain dari sistem pendukung yang disediakan oleh penjara di Belanda, ada kesan bahwa mereka sudah berada di dasar.

"Mereka juga merasa karena mereka di penjara, mereka tak bisa jatuh lebih dalam lagi, dan karena itu, mereka harus berubah," katanya tentang para tahanan. Sama halnya seperti di Inggris, layanan kesehatan jiwa di luar penjara akan sulit diperoleh.

Tapi tidak berarti bahwa ada cukup waktu untuk memenuhi kebutuhan pasien sebelum mereka dilepaskan. Tujuan PPC adalah "menstabilkan". Bahkan waktu empat bulan, yang menjadi rata-rata masa tinggal tahanan di fasilitas tersebut, tidak cukup untuk merawat kondisi dasar tahanan atau bahkan mulai menangani rehabilitasi.

Saat mereka meninggalkan penjara, mereka akan kembali berhadapan dengan struktur sosial yang sama kacaunya seperti sebelumnya — mereka berada di pinggiran masyarakat dan bertemu dengan orang-orang yang menjadi sumber masalah mereka.

Saat saya meninggalkan penjara Zwolle, pendeteksi logam berbunyi saat saya melewatinya, dua pintu besi biru besar tertutup di belakang saya.

Saya tahu, mungkin akan sulit bagi saya untuk kembali. Sayangnya, mungkin nasibnya akan berbeda bagi tahanan yang keluar dari fasilitas ini saat masa hukuman mereka selesai.


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The unique way the Dutch treat mentally ill prisoners di laman BBC Future

Topik terkait

Berita terkait