Bisakah kita mengubah pola pikir psikopat yang penuh kekerasan?

penjara Hak atas foto Getty Images

Untuk membuat jalanan jadi lebih aman, banyak usaha telah dilakukan untuk mengobati para pelaku kekerasan kambuhan. Tetapi sejauh mana keberhasilannya?

Demi penulisan artikel ini, bayangkan skenario berikut. Suatu sabtu malam di bar yang ramai di tengah kota, Toni mengambil botol bir kosong di meja di depannya dan menimbang-nimbangnya.

Tiba-tiba, dia memecahkan botol itu di meja, berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah orang yang tadi tak sengaja menyenggolnya, lalu memukulkan pecahan botol ke mukanya.

Teman orang yang terluka itu, sebut saja Adi, kemudian bereaksi dengan agresif, mendorong Toni. Adi makin mengamuk ketika orang berusaha menenangkan, dan akhirnya makin banyak orang terlibat dalam perkelahian.

Ketika polisi tiba, Toni justru dengan tenang mengambil alih situasi, mencoba mendamaikan suasana, dan malah menyalahkan Adi. Polisi yang terkecoh mencoba menahan Adi, membuat dia meledak untuk kedua kalinya, sampai memukul muka polisi.

Cerita ini fiksi, dan bertujuan menggambarkan perbedaan di antara dua macam pelaku kekerasan di penjara. Watak yang ditunjukkan Toni menunjukkan sifat psikopat: dingin, penuh perhitungan, dari luar nampak luwes, dan tanpa belas kasihan.

"Aksi kekerasan yang dia lakukan sudah dipikir matang, dan pelaku kemungkinan mendapat kesenangan dan kepuasan ketika melakukannya," kata Stephen Blumenthal, konsultan psikologi klinis dan psikoanalis yang menangani para pelaku kekerasan di Klinik Portman, klinik khusus pasien psikoterapi di London.

Adi, pada sisi lain, menunjukkan gejala gangguan kepribadian antisosial: kondisi yang ditunjukkan oleh sifat impulsif dan agresif. "Tipe kekerasan yang dilakukan oleh orang antisosial yang tidak psikopat, biasanya digerakkan oleh emosi yang kuat, impulsif dan reaktif," kata Blumenthal.

Dua pria pelaku kekerasan, dengan dua motivasi yang berbeda — tapi sistem peradilan pidana seringkali memperlakukan mereka secara serupa. Walaupun keduanya penuh kekerasan, sehingga dapat membahayakan masyarakat secara berulang, menyamakan mereka adalah sebuah kesalahan.

Riset semakin yakin bahwa otak mereka bekerja dengan cara yang berbeda. Ini dapat berarti bahwa mereka membutuhkan jenis rehabilitasi yang berbeda sebelum mereka bisa secara aman dikembalikan ke masyarakat.

Hak atas foto Getty Images

Dengan pemikiran ini, beberapa upaya tengah dilakukan untuk merancang perlakuan baru untuk para pelaku kekerasan kambuhan. Psikiater Amerika Hervey M Cleckley memformalisasikan konsep psikopat di bukunya 'Topeng Kewarasan" yang terbit tahun 1941. Buku ini berdasarkan dari wawancara dengan para napi di penjara berkeamanan tinggi.

"Dia mengidentifikasi kelompok orang yang nampak punya gangguan, tapi tidak dapat dimasukkan ke kategori gangguan mental yang biasa," kata Blumenthal.

Psikopati didiagnosa dengan alat ukur yang menilai individu dibanding beberapa kriteria. Mereka yang ada di atas batas tertentu secara resmi dikategorikan sebagai psikopat — meskipun pesikopati adalah spektrum dan sebagian besar psikopat tidak suka kekerasan (faktanya, sebagian sangat sukses di dunia bisnis).

Di antara para napi yang melakukan kekerasan, hanya sedikit yang punya sifat psikopatik. Riset di Inggris baru-baru ini menemukan bahwa angkanya adalah 8% napi laki-laki dan 2 persen napi perempuan, dan studi lain menyebitkan bahwa 31 persen napi laki-laki dan 11 persen napi perempuan. Penting untuk menyebut bahwa angka ini adalah unutk napi yang telah diadili. Jadi, bukan berarti populasi secara umum — yang hanya kurang dari 1 persen tergolong psikopat, dikategorikan sebagai psikopat- dan ditakdirkan hidup dalam kejahatan.

Psikopati jelas tidak bisa digunakan untuk menjelaskan semua kejahatan dengan kekerasan. Tapi sekali seorang psikopat masuk ke penjara, penting untuk tahu bagaimana cara menrehabilitasi mereka dengan lebih baik: mereka punya risiko empat kali lebih besar untuk mengulang kekerasan, daripada mereka yang bukan psikopat.

Gangguan yang lebih umum adalah gangguan kepribadian antisosial (GKA), yang diperkirakan mempengaruhi antara 50-80% dari populasi penjara umum. "Dikatakan bahwa mencari GKA di penjara adalah seperti mencari jerami di tumpukan jerami juga," kata Blumenthal.

Meskipun penderita GKA bisa nampak seperti orang yang ceria dan diskuai, saat menghadapi konflik mereka bisa dengan cepat kalap dan menjadi menakutkan. "Mereka adalah grup yang berkepala panas," kata Nigel Blackwood, dosen klinis di Kings College London. "Mereka

"Mereka frustrasi dan jengkel; melihat ancaman yang tidak benar-benar ada; dan menyerang atau menggunakan agresi reaktif untuk menyelesaikan masalah mereka."

Dalam sedikit kasus, pelaku kekerasan akan masuk dalam kedua kriteria, GKA dan psikopati. Blackwood dan rekannya telah mengidentifikasi perbedaan di otak pelaku semacam itu, yang membedakan mereka dari pelaku yang hanya punya GKA dan pelaku yang sehat secara mental.

Psikopat nampaknya memproses informasi tentang hukuman dan penghargaan secara berbeda dibanding orang biasa. Sebagian besar anak-anak melewati masa memukul atau menggigit anak lain, tapi mereka kemudian belajar bahwa itu adalah perilaku tak pantas yang akan mendapat hukuman.

Psikopat, tak peduli dengan hukuman, sehingga membuat mereka sulit diatur. "Eksperimen kami menemukan bahwa psikopat bukan hanya kurang respon pada hukuman, tapi mereka juga memprosesnya dalam cara yang berbeda."

Dia percaya ini bisa berperan penting pada rehabilitasi, dan suatu program bisa dibuat khusus untuk mereka yang jatuh pada kategori ini.

Memberi otak mereka sistem penghargaan yang tak biasa, satu pendekatan yang harus dipertimbangkan adalah memberikan aktivitas yang berharga, seperti hobi atau pekerjaan. Tapi dia memperingkatkan bahwa ini masih "sangat-sangat dini" untuk tahu apakah cara itu akan efektif.

Riset lebih lanjut menggunakan intervensi untuk menyasar pelaku kekerasan dengan GKA. Penelitian menyebutkan bahwa individu semacam itu kesulitan membaca ekspresi muka dan menunjukkan beberapa kesulitan mentalisasi: kemampuan untuk mengerti tindakan mereka maupun orang lain dalam hal pikiran, perasaan, harapan, kepercayaan dan keinginan. Ini tak hanya akan membuat mereka menyalahartikan sebuah tindakan menjadi lebih mengancam dari yang seharusnya, ini juga bisa membuat mereka lebih kesulitan mengatur emosi-emosi ini karena mereka kesulitan mengerti perasaan mereka sendiri.

Peter Fonagy, psikoanalis dan psikolog klinis di University College London, sedang melakukan percobaan terapi berdasarkan mentalisasi terhadap pelaku kekerasan yang sedang menjalani hukuman percobaan — sebagian besar menderita GKA.

Tiap pekan, mereka bertemu dan membahas isu yang mereka anggap penting, dengan tujuan mengenalkan makin banyak pengertian tentang posisi mereka dan orang-orang di sekitarnya.

"Kami mencoba untuk memencet semacam tombol berhenti di mentalisasi: untuk mengatakan bahwa, tidak apa-apa, berhenti di situ, apa yang sebenarnya sedang terjadi?" kata Fonagy. Membongkar situasi secara mental seringkali menyebabkan panasnya emosi berkurang, mengurangi keinginan melakukan sesuatu tanpa berpikir.

Hak atas foto Getty Images

Studi juga menunjukkan bahwa psikopati memang punya komponen warisan, dan anak-anak yang menunjukkan ciri-ciri "tak punya emosi' punya risiko lebih tinggi menjadi orang dewasa psikopat. Gagasan bahwa psikopati bisa didiagnosis pada masa kanak-kanak adalah sebuah ide yang masih kontroversial, tapi memang menunjukkan bahwa ada faktor risiko yang jelas. Psikopati terkait dengan sejarah pengabaian dan pelecehan pada masa kecil.

Sementara anak-anak yang secara emosi reaktif dapat merespon baik adanya batas-batas yang tegas, anak-anak yang tidak emosional kurang responsif. Itulah mengapa intervensi bisa membantu: penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka mungkin lebih rentan terhadap intervensi yang berfokus pada penguatan perilaku positif daripada memberi hukuman pada perilaku buruk. Ini sesuai dengan penemuan Blackstock pada psikopat dewasa.

"Jika Anda bisa membangun bagian otak yang ingin merasakan imbalan yang Anda dapatkan dari menyenangkan orang lain, bukan hanya mendapatkan apa yang Anda inginkan, maka Anda mungkin memiliki peluang sukses yang lebih baik," kata Graham Music, seorang konsultan psikoterapis anak dan dewasa yang bekerja dengan Blumenthal di Portman Clinic.

Anak-anak seperti itu juga kurang bisa membaca keadaan emosi orang lain, tetapi penelitian Australia menunjukkan bahwa keterampilan ini dapat ditingkatkan dengan mengarahkan mereka melihat ke mata orang lain, yang dapat meningkatkan empati dan ikatan emosional.

Itulah mengapa intervensi dini adalah kunci: otak lebih mudah dibentuk selama masa anak-anak. Tantangannya adalah bahwa anak-anak ini tak mudah dibawa melewati pintu psikolog anak.

"Anak-anak yang sering dirujuk adalah mereka yang sering berulah, melempar barang, menendang orang, berteriak, terlibat perkelahian," kata Music. Anak-anak tanpa emosi, di sisi lain, kadang-kadang disebut sebagai 'agresif-bahagia' karena mereka tampaknya tidak terpengaruh oleh kekerasan.

Semakin banyak bukti bahwa pelaku kekerasan tidak sama dan serupa, jelas menuntut pendekatan yang lebih berwarna. Bagian dari tantangan adalah mengenali individu yang akan memanfaatkan ini dengan baik dan menyalurkan sumber daya untuk mendukung upaya mereka untuk berubah.

Mungkin ada individu yang sudah tak bisa diselamatkan, tetapi banyak yang masih bisa ditolong. "Saya percaya bahwa biologi itu lentur, dan saya lebih suka tidak menyerah saat membantu orang lain," kata Fonagy.


Anda bisa membaca tulisan aslinya dalam Can you ever change a violent psycopaths mind dan artikel sejenis di BBC

Topik terkait

Berita terkait