Gua Thailand: Terperangkap dalam gelap bisa berdampak pada kesehatan para remaja

Hak atas foto Getty Images
Image caption Regu penyelamat memeriksa situasi di dalam Gua Tham Luang, Thailand--tempat 12 remaja dan pelatih mereka terperangkap.

Selama sembilan hari 12 remaja Thailand dan pelatih sepak bola mereka terperangkap di dalam kompleks Gua Tham Luang. Suasananya gelap, lembab, dan berbahaya jika mencoba ke luar.

Namun, pada Senin (2/7), para remaja itu dapat bernapas lega karena tim penyelam gabungan telah menemukan mereka.

Sejak saat itu, mereka dapat makan dan pemeriksaan kesehatan memastikan tiada seorang pun yang menderita kondisi kesehatan serius. Tantangannya adalah bagaimana mengeluarkan mereka dari dalam gua.

Hal itu mulai bisa terjawab pada Minggu (8/7), ketika empat remaja berhasil dibawa keluar. Sehari kemudian, empat lainnya menyusul sehingga menyisakan lima orang lagi di dalam gua.

thailand, gua Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Seorang anggota keluarga dari salah satu remaja yang terperangkap di dalam gua memperlihatkan foto mereka pada 2017.

Di samping trauma psikologis akibat terperangkap ratusan meter di bawah tanah, ketiadaan cahaya matahari bisa mempengaruhi indera mereka dalam merasakan pergeseran waktu dan persepsi mereka soal waktu.

Perubahan ini bisa menimbulkan risiko depresi, insomnia, dan menyebabkan ketidakuran di antara mereka.

Apa yang diketahui para ilmuwan mengenai reaksi tubuh dan pikiran manusia ketika terpapar kegelapan? Dan apakah ada cara untuk membantu mereka?

Peristiwa manusia terperangkap di gua selama berbulan-bulan bukan pertama kali terjadi.

Pada 1962, seorang ahli geologi asal Prancis bernama Michel Siffre mengurung dirinya di dalam glasier bawah tanah yang dia temukan dekat Kota Nice selama dua bulan.

Tanpa melihat jam, kalender, terpapar cahaya matahari, serta tidak dikunjungi siapapun, Siffre membiarkan tubuhnya mendikte perilakunya.

Dia membuat catatan soal aktivitasnya dan menelpon timnya di luar setiap kali dia bangun tidur, makan, dan sesaat sebelum tidur. Selama periode tersebut, teman-temannya tidak pernah mengungkap soal waktu dan jam.

Pada saat rekan-rekannya menghubungi Siffre untuk memberitahu bahwa dia telah mendekam selama dua bulan, dia tidak percaya. Dia yakin betul bahwa hanya satu bulan yang terlewati.

Persepsi psikologisnya soal waktu menjadi kabur oleh kegelapan konstan.

thailand, gua Hak atas foto Keystone/Getty Images
Image caption Pada 1960-an, Michel Siffre secara sukarela menghabiskan waktu dua bulan di bawah tanah untuk kepentingan sains.

Serupa dengan kasus Siffre, manakala para penyelam menemukan ke-12 remaja dan pelatih mereka, salah satu pertanyaan yang diajukan adalah berapa lama mereka di sana.

Catatan Siffre mengungkap fenomena menarik lainnya.

Meski dia menghabiskan sekitar sepertiga waktunya untuk tidur seperti yang dia lakukan secara normal, siklus tidur/bangun tidurnya bukan 24 jam, melainkan 24 jam dan 30 menit.

Atau dengan kata lain, dia mulai hidup dengan waktu internalnya, bukan berdasarkan jam yang berpatokan pada waktu matahari terbit dan tenggelam sebagaimana yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena serupa dapat diamati pada orang yang sepenuhnya buta.

Walaupun jam internal setiap orang berbeda-beda—beberapa orang punya jam internal di bawah 24 jam, lainnya mendekati 25 jam—waktu mereka dengan dunia luar sama sekali lain. Karena itu, jam tidur mereka berbeda pula.

Seseorang yang punya jam internal 24,5 jam mungkin bangun pada pukul 08.00 pada hari Senin. Tapi keesokan harinya mereka bangun pukul 08.30. Kemudian pada Rabu mereka bangun pukul 09.00 dan begitu seterusnya.

Sampai setelah dua pekan, tubuh mereka mengira bahwa sekarang pukul 20.00, padahal sebenarnya pukul 08.00.

Istilah medis untuk kondisi ini adalah gangguan tidur-bangun tidur non-24 jam. Salah satu cirinya adalah ada masa tidur nyenyak—ketika jam internal kira-kira sama dengan jam dunia luar—diikuti dengan masa tidur tidak nyenyak dan mengantuk berlebihan pada siang hari. Kira-kira serupa dengan kondisi jetlag tapi permanen.

Ritme internal ini didorong oleh secuil bagian pada otak yang disebut suprachiasmatic nucleus (SCN). Bagian ini berada sejauh 2cm di dalam otak, di antara kedua alis.

Bagian tersebut bereaksi setelah mendapat masukan dari sekelompok sel peka cahaya di bagian belakang retina mata yang disebut sel-sel ganglion retina intrinsik peka cahaya.

Meskipun jam internal kita lebih cepat atau lebih lambat dari 24 jam, ketika cahaya matahari mengenai mata setiap hari, itu bertindak sebagai tombol reset bagi SCN sehingga tetap sinkron dengan siklus gelap/terang di luar.

thailand, gua Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Regu penyelamat berupaya mencari cara untuk mengeluarkan 12 remaja dan pelatih mereka yang terperangkap.

Nah, jika Anda terperangkap di bawah tanah, atau mata Anda mengalami kerusakan parah sehingga otak tidak bisa mendapat sinyal bahwa ada cahaya, koneksi ini terputus dan Anda mulai menjalankan jam internal seperti terjadi pada remaja-remaja Thailand itu.

Sebab kemungkinannya tipis bahwa mereka punya jam internal yang sama—periode ketika semuanya mengantuk dan semuanya terjaga. Ini bisa menciptakan masalah di ruang yang sempit, khususnya ketika beberapa ingin tidur sedangkan ada yang merasa terjaga.

Ada jam-jam pada bagian tubuh kita yang lain dan mereka biasanya tetap tersinkronisasi satu sama lain oleh SCN.

Jika jam di antara bagian tubuh menjadi bingung—seperti ketika seseorang terperangkap di bawah tanah—maka jam-jam lainnya bisa kacau. Gangguan ini kemudian bisa berujung pada depresim, insomnia, gangguan metabolisme dan hormone, serta gangguan konsentrasi.

Kabar baiknya, ada cara untuk memulihkannya. Tatkala 33 penambang terjebak di tambang batubara Cile selama 69 hari pada 2010, 'pencahayaan sirkadian' khusus dibawa turun guna menirukan terang/gelap di dunia luar.

Strategi serupa bisa dilakukan di Thailand. Jika pencahayaan artifisial digunakan pada siang hari cukup terang, hal ini bisa memanipulasi SCN untuk menekan tombol reset sehingga tubuh tetap tersinkronisasi dengan dunia luar.

Presentational white space

Linda Geddes adalah penulis buku Chasing The Sun: the astonishing science of sunlight, yang akan diterbitkan Januari mendatang.

Artikel ini bisa Anda baca dalam bahasa Inggris dengan judul Thai cave: How life in darkness could affect trapped boys pada laman BBC Future

Berita terkait