Cara 'unik' otak kita mendefinisikan masalah

perempuan, gelisah Hak atas foto Getty Images

Kenapa banyak masalah dalam hidup rasanya terus-terusan muncul—betapapun kita bekerja keras untuk menyelesaikannya?

Ternyata cara otak manusia memproses informasi sungguh unik sehingga sesuatu yang seharusnya jarang ada, malah jadi terlihat di mana-mana.

Contohnya program ronda, di mana para sukarelawan melapor ke polisi ketika mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Bayangkan seorang sukarelawan baru yang ikut meronda untuk membantu menurunkan tingkat kejahatan di wilayahnya.

Ketika ia baru mulai meronda, ia membunyikan alarm ketika melihat tanda-tanda kejahatan serius, misalnya penyerangan atau perampokan.

Mari berasumsi upaya ini efektif dan, seiring waktu, penyerangan dan perampokan menjadi semakin jarang. Apa yang akan dilakukan sang sukarelawan setelahnya?

Satu kemungkinan adalah ia akan bersantai dan berhenti melapor ke polisi. Toh kejahatan serius yang dulu ia risaukan kini tak ada lagi.

Tapi Anda mungkin punya intuisi yang sama dengan kelompok riset saya—bahwa banyak sukarelawan dalam situasi ini tidak akan bersantai hanya karena tingkat kejahatan menurun.

Alih-alih, mereka akan mulai menyebut beberapa hal sebagai 'mencurigakan' padahal mereka tidak pernah memedulikannya ketika tingkat kejahatan masih tinggi, misalnya menyeberang sembarangan atau keluyuran di malam hari.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jika program ronda efektif – dan tingkat kejahatan turun – lantas apakah para sukarelawan akan bersantai? Tidak juga.

Anda mungkin bisa membayangkan banyak situasi serupa, di mana masalah rasanya tidak selesai-selesai karena seseorang terus mengubah cara mereka mendefinisikannya.

Bagaimana Anda tahu jika Anda semakin dekat pada solusi sebuah masalah, jika Anda terus mendefinisikan ulang masalahnya?

Saya dan kolega saya ingin memahami kapan perilaku seperti ini muncul, alasannya, dan cara mencegahnya jika bisa.

Cari masalah

Untuk mempelajari bagaimana konsep berubah ketika mereka menjadi lebih jarang, kami membawa sukarelawan ke laboratorium dan memberi mereka tugas sederhana—melihat serangkaian wajah buatan-komputer dan memilih wajah mana yang dirasa "mengancam".

Wajah-wajah tersebut telah dirancang dengan teliti oleh peneliti dengan rentang dari sangat mengancam sampai sangat tidak berbahaya.

Setelah kami menunjukkan semakin sedikit wajah yang mengancam seiring waktu kepada para sukarelawan, kami mendapati bahwa mereka memperluas definisi 'mengancam' dengan melibatkan lebih banyak wajah.

Dengan kata lain, ketika mereka kehabisan wajah yang mengancam, mereka mulai menunjuk wajah-wajah yang awalnya mereka anggap tidak berbahaya.

Bukannya kategori yang tetap, apa yang kita anggap sebagai ancaman tergantung pada berapa banyak ancaman yang kita lihat belakangan ini.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Apa yang dianggap seseorang sebagai ancaman tergantung pada banyak ancaman lain yang ia temukan sebelumnya.

Ketidak-konsistenan ini tidak terbatas pada penilaian tentang ancaman. Dalam eksperimen lain, kami meminta orang-orang untuk membuat keputusan yang lebih sederhana: menentukan apakah titik-titik di layar berwarna biru atau ungu.

Ketika titik biru menjadi semakin jarang, mereka mulai menyebut titik berwarna sedikit ungu sebagai biru. Mereka bahkan melakukannya ketika kami memberi tahu mereka bahwa titik biru akan menjadi semakin jarang, atau ketika kami menawarkan hadiah uang tunai agar mereka tetap konsisten.

Riset ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut tidak sepenuhnya di bawah kendali sadar.

Setelah mengkaji hasil eksperimen tentang wajah mengancam dan penilaian warna, kelompok riset kami bertanya-tanya apakah perilaku ini unik pada sistem visual. Apakah perubahan konsep ini juga terjadi dalam penilaian non-visual?

Untuk menguji hipotesis ini, kami melakukan eksperimen terakhir. Kami meminta sukarelawan untuk membaca berbagai penelitian saintifik, dan memilih mana studi yang etis dan yang tidak etis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jika masalah atau bahaya rasanya tidak pernah pergi, mungkin itu karena otak kita terus mengubah cara kita mendefinisikannya.

Kami merasa skeptis bahwa kami akan menemukan inkonsistensi yang sama dalam penilaian ini, seperti yang kami temukan dalam penelitian tentang warna dan ancaman.

Penilaian moral, kami kira, akan lebih konsisten seiring waktu daripada penilaian lainnya.

Bagaimanapun, jika Anda berpikir bahwa kekerasan itu salah pada hari ini, Anda seharusnya masih berpikir bahwa itu salah esok hari - terlepas dari banyak atau sedikitnya kekerasan yang Anda lihat pada hari itu.

Tapi ternyata ini keliru. Kami menemukan pola yang sama.

Ketika kami menunjukkan semakin sedikit penelitian tidak etis seiring waktu, mereka mulai menyebut semakin banyak studi sebagai tidak etis.

Dengan kata lain, hanya karena mereka membaca lebih sedikit studi yang tidak etis, penilaian mereka akan studi yang etis dan yang tidak etis menjadi lebih ketat.

Perbandingan konstan

Kenapa orang menemukan banyak hal yang mengancam justru ketika ancaman semakin jarang?

Riset psikologi kognitif dan neurosains menunjukkan bahwa perilaku seperti ini adalah konsekuensi dari cara otak kita memproses informasi—kita terus membandingkan apa yang ada di hadapan kita dengan apa yang terjadi sebelumnya sebagai konteks.

Alih-alih memutuskan dengan cermat seberapa berbahayakah suatu wajah dibandingkan wajah-wajah lain, misalnya, otak kita menganalisis seberapa berbahayakah ia dibandingkan wajah-wajah lain yang dilihatnya sebelumnya—atau membandingkannya dengan beberapa wajah yang baru-baru ini dilihat, atau wajah paling berbahaya dan paling tidak berbahaya yang pernah dilihat.

Perbandingan semacam ini dapat secara langsung menuntun pada pola yang kami temukan dalam eksperimen kami: ketika wajah yang mengancam menjadi jarang, wajah baru akan dinilai secara relatif dibandingkan wajah-wajah yang kebanyakan tidak mengancam.

Di antara wajah yang biasa saja, bahkan wajah yang sedikit mengancam pun bisa kelihatan seram.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Apakah Anda menganggap wajah ini 'mengancam' atau 'tidak berbahaya' lebih bergantung pada hal-hal lain yang Anda lihat baru-baru ini, daripada wajah itu sendiri.

Ternyata bagi otak Anda, perbandingan relatif membutuhkan lebih sedikit energi daripada pengukuran absolut.

Bayangkan saja betapa lebih gampangnya mengingat siapa sepupu Anda yang paling tinggi daripada tinggi badan setiap sepupu secara tepat.

Otak manusia mungkin telah berevolusi untuk menggunakan perbandingan relatif dalam banyak situasi karena perbandingan ini kerap menyediakan informasi yang cukup untuk menavigasi lingkungan kita dengan aman dan membuat keputusan, dengan usaha sesedikit mungkin.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penilaian relatif terkadang sudah cukup—misalnya ketika Anda membandingkan restoran mewah di kota berbeda.

Kadang-kadang, penilaian relatif sudah cukup. Jika Anda mencari restoran mewah, misalnya, apa yang dianggap 'mewah' di Paris, Texas, akan berbeda dibandingkan di Paris, Prancis.

Kelompok riset saya sekarang tengah melakukan penelitian lanjutan di laboratorium untuk mengembangkan intervensi yang lebih efektif dalam melawan konsekuensi tak diinginkan dari penilaian relatif.

Salah satu strategi yang mungkin ampuh: ketika Anda membuat keputusan yang membutuhkan konsistensi, definisikan kategori Anda sejelas mungkin.

Jadi jika Anda bergabung dengan program ronda, misalnya, cobalah menulis apa saja perbuatan yang dianggap sebagai pelanggaran sebelum Anda mulai meronda.

Jika tidak, Anda mungkin saja akan menghubungi polisi hanya karena mendapati anjing berkeliaran tanpa tali anjing.

Tapi ada lebih banyak situasi problematik, seperti petugas ronda yang, dengan penilaian relatif, akan terus memperluas konsep 'kejahatan' untuk mencakup pelanggaran yang lebih ringan.

Sebagai hasilnya, mereka mungkin tidak akan sepenuhnya mengapresiasi kesuksesan mereka dalam membantu mengurangi masalah yang mereka khawatirkan.

Dari diagnosis medis sampai investasi finansial, manusia modern harus membuat banyak pertimbangan rumit yang membutuhkan konsistensi.

Tapi bagaimana caranya supaya orang bisa membuat keputusan yang lebih konsisten ketika dibutuhkan? Jawabannya perlu kita cari bersama.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Why your brain never runs out of problems to find di BBC Future

Berita terkait