Berkebun di gurun a la Yordania, bagaimana caranya?

kebun, rumah kaca, Yordania Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Proyek di Yordania ini bertujuan mengatasi masalah produksi makanan, kelangkaan air, dan energi terbarukan.

Di dalam rumah kaca, daun-daun kecil tanaman wild rocket, selada bokor, dan pak choi mencuat dari tanah, masing-masing seukuran kuku jari. Di pot-pot tumbuh kala lili dan buah naga, samphire rawa dan herbras. Buah stroberi cerah menitik dedaunan hijau. Dan baris demi baris tanaman merambat, menggantung di kawat, dengan daun sebesar piring makan: mentimun dan basil dan sembilan varietas tomat.

"Basil saya agak berantakan," kata kepala perkebunan Blaise Jowett, dengan nada meminta maaf. "Tapi saya menyimpan mereka untuk pesto."

Ia sebetulnya tak perlu meminta maaf. Di luar rumah kaca, seekor unta merumput. Pasir berwarna merah muda pucat membentang sampai pegunungan berbatu nun jauh di sana. Hanya tanaman hijau berdaun paling tebal yang tumbuh di tanah. Tidak ada air. Tidak ada pohon.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Unta yang merumput adalah pemandangan yang biasa ditemukan di proyek Hutan Sahara.

Lokasi di gurun Yordania ini, hanya satu kilometer dari perbatasan Israel dan 15 km dari Laut Merah, mungkin menjadi salah satu tempat paling tak biasa di Bumi untuk membuka perkebunan. Tapi ini juga salah satu tempat yang, dalam beberapa hal, paling masuk akal.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut bahwa pada tahun 2050 produksi pangan perlu ditingkatkan sebesar 50% demi mengimbangi peningkatan populasi yang diperkirakan. Itu tidak akan mudah.

"Tantangannya adalah menghasilkan makanan sebanyak itu dalam batasan planet ini, dengan hanya sejumlah hektar lahan yang dapat ditanami - di sisi lain, banyak lahan dan tanah semakin terdegradasi," kata petugas FAO, Sylvie Wabbes-Candotti.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Pada 2050, produksi pangan dunia harus meningkat sebesar 50%.

Kita juga menghadapi tantangan global lainnya. Salah satunya, perubahan iklim. Dan di banyak negara, termasuk Yordania, kekurangan air. Dan yang membuat persoalannya semakin pelik, masing-masing masalah ini berdampak pada yang lain.

Saat ini, produksi pangan membutuhkan sekitar 70% dari konsumsi air tawar global dan menyebarkan 25% gas rumah kaca. Jika hanya menaikkan jumlah makanan yang kita hasilkan - tanpa mengubah cara melakukannya - akan menambah tingkat emisi penggunaan air.

Sementara itu, seiring perubahan iklim dan kekurangan air semakin parah, semakin sulit untuk memproduksi makanan dengan metode yang kita gunakan saat ini.

"Anda tidak bisa memandang perubahan iklim sebagai tantangan yang berdiri sendiri; ia terkait dengan produksi air dan makanan," kata Joakim Hauge, presiden Yayasan Proyek Hutan Sahara, organisasi di belakang proyek Wadi Araba.

"Anda perlu mengatasi masalah-masalah itu bersama-sama dengan menanggulangi perubahan iklim. Tanggapan kami atas hal itu, baiklah, mari kita gunakan apa yang cukup kita punya untuk menghasilkan lebih banyak yang kita butuhkan. "

Tiga poros

Satu sumber daya yang paling dibutuhkan Yordania adalah air. Sebagai negara termiskin-air kedua di dunia, Yordania hanya memiliki kurang dari 150 kubik meter air per warga, per tahun. (Sebagai acuan, AS punya lebih dari 9000).

Sebagian masalahnya ialah dua-pertiga negeri itu adalah gurun pasir. Masalah lainnya ialah agrikultur. Pertanian menyedot setengah dari persediaan air Yordania, tapi kontribusinya hanya 3% ke PDB negara.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Panel surya di rumah kaca dapat mengumpulkan energi selama 330 hari dalam setahun.

Hal yang dimiliki Yordania secara berlimpah ialah sinar matahari. Rata-rata, negeri itu mendapat 330 hari cerah per tahun dengan rata-rata energi per jamnya antara 5 dan 7kW per meter persegi. Energi sebanyak itu cukup untuk menyalakan 100 bola lampu, 10 mesin cuci, atau, yang mungkin lebih relevan bagi Yordania, satu pendingin ruangan.

Itulah salah satu alasan Administrasi Perdagangan Internasional Amerika Serikat menyebut energi terbarukan sebagai salah satu prospek industri terbaik Yordania.

Yordania juga punya air laut... sedikit. Meski sebagian besarnya terkurung daratan, dengan akses ke Mediterania yang terpisah oleh Israel dan Lebanon, 26 km dari negeri itu berbatasan dengan Laut Merah. Garis pantai tersebut tidak terlalu panjang — tetapi dengan pendekatan yang dilakukan Proyek Hutan Sahara, itu mungkin sudah cukup.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Diluncurkan pada September 2017, proyek ini masih dalam tahap awal.

Konsep proyek ini elegan dalam kesederhanaannya: energi matahari Yordania mendesalinasi air laut, air yang terdesalinasi menumbuhkan tanaman (dan limpasannya mendinginkan rumah kaca) dan tanaman membantu menarik karbon dari atmosfer kembali ke tanah. Tiga tantangan besar, ditangani sekaligus.

Dan seiring menjadi bentuk penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, proyek ini dapat membawa manfaat lain. Setelah ditingkatkan dan dikomersilkan – dan terutama jika metodenya diadopsi oleh pertanian lain di negara itu – proyek ini bisa menambah komoditas ekspor Yordania. Saat ini, negara itu mengimpor 98% bahan pangannya.

"Yordania bergantung pada impor bahan pangan," kata Wabbes-Candotti, yang bekerja di wilayah itu tetapi tidak terlibat dengan proyek Sahara. "Air benar-benar langka. Jika Anda tidak dapat bergantung pada hujan, tetapi memiliki persediaan air yang dapat diandalkan dengan air yang terdesalinasi ini, maka jika Anda punya modal yang cukup, dan menguasai tekniknya... Anda dapat menghasilkan pangan sendiri dan bahkan menjadi pengekspor pangan. "

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Kepala perkebunan Blaise Jowett memamerkan tanaman tomatnya yang tumbuh di dekat tembok rumah kaca.

Mencapai tahap itu akan sedikit lebih rumit. Proyek ini baru berusia satu tahun, diluncurkan pada September 2017. Rumah kaca dan pekarangannya, tempat Jowett bereksperimen dengan menanam tanaman lain, saat ini memiliki luas total yang kira-kira setara dengan empat lapangan sepak bola.

Ini baru tahap uji coba. Total lahan yang mereka punya adalah 200 hektar. Setelah mereka mampu membuktikan bahwa konsep tersebut bisa berhasil, idenya adalah memperluas perkebunan sebesar 10 hektar pada tahun 2020, lalu 20 hektar.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Tiga pekerja menanam benih ketimun di bagian rumah kaca yang sejuk.

Tak ada yang meragukan bahwa akan ada sejumlah tantangan di depan mereka.

Tetapi bahkan sekarang, tim telah mulai menangani persoalan terkait cara menggunakan air desalinasi untuk bercocok tanam dalam kondisi gurun pasir yang tidak ramah.

Rumah panas

Pada pagi musim semi ketika saya berkunjung, suhu di luar ruangan sekitar 30C. Mengelola panas adalah salah satu aspek penting yang harus dikuasai oleh proyek ini. Di dalam rumah kaca, tempat tiga pegawai pria muda menanam bibit mentimun dalam barisan yang rapi, suhu ruangan di kisaran 25C.

Meski begitu, Jowett menunjuk pada tanaman yang tumbuh paling dekat dengan dinding rumah kaca: tanaman yang berada paling dekat rumah kaca kepanasan dan mati, dan kumpulan tanaman berikutnya harus dipindahkan ke tempat yang lebih jauh.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Di ruang pendingin, 'selimut' yang ditunjukkan di sebelah kanan menyerap air garam; air yang menguap kemudian mendinginkan udara.

Bersama Jowett dan manajer fasilitas Frank Utsola, saya berjalan di belakang rumah kaca ke ruang pendingin yang terpisah. Sistem dinyalakan: seketika udara terasa lebih nyaman.

Sistem dapat menurunkan temperatur di dalam rumah kaca sebesar 15C. Di daerah tempat temperatur siang hari di musim panas bisa mencapai 45C, terlalu panas bahkan untuk tanaman yang paling kuat, ini kuncinya.

Cara kerjanya "sangat mudah dijelaskan," kata Utsola. Air asin dipompa ke pipa yang membentang di sepanjang bagian atas dinding yang terpapar angin. Dinding ditutupi semacam 'selimut' yang menarik air ke bawah; ketika angin bertiup, air pun menguap, mendinginkan udara. (Cara kerjanya sama seperti menggantung handuk basah di rumah Anda pada hari yang panas). Pada saat yang sama, garam yang lebih berat ditinggalkan.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Tanaman diberi lebih banyak air dari yang bisa mereka serap, dan sisanya digunakan untuk eksperimen pada tanaman lain di luar rumah kaca.

Meskipun mereka dapat menyalakan kipas bertenaga surya daripada mengandalkan angin, mereka biasanya tidak perlu; seringkali, angin menyapu lembah dari utara — ke arah ruang pendingin yang memang dibangun untuk memanfaatkan sepenuhnya arah angin ini.

Tim mengakui bahwa semua ini bukanlah teknologi baru. Utsola menunjuk ke 'selimut' yang melapisi ruang pendingin: Suku Badui telah menggunakan karpet seperti ini untuk mendinginkan tenda mereka selama berabad-abad, katanya. Tentu saja, tenaga surya dan teknik desalinisasi juga bukan hal baru.

"Kebanyakan adalah teknologi lingkungan yang sudah teruji," kata Hauge. "Yang baru dari ini adalah bagaimana kami menggabungkannya."

Cuaca panas tantangan bagi tanaman. Di malam hari, suhu bisa turun sampai 7C. Ketika itu terjadi, pipa di langit-langit menyimpan air yang dihangatkan oleh matahari di siang hari. Ketika disalurkan ke tanaman di malam hari, mereka seperti mandi air hangat.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Jowett telah menanam 864 tanaman di luar rumah kaca, salah satunya roket.

Sementara itu, tanaman di dalam rumah kaca diberi lebih banyak air daripada yang bisa diserap oleh akar; limpasannya terkumpul dalam tangki di ujung rumah kaca. Jowett menggunakannya untuk bereksperimen pada tanaman di luar, tempat ia membagi tanah ke dalam plot dengan berbagai tingkat salinitas untuk melihat seberapa besar tingkat salinitas yang bisa ditoleransi tanaman.

Ini juga pekerjaan yang masih dalam proses. Dari 864 tanaman di luar, 49 telah mati. Beberapa tanaman ditumbuhkan hanya untuk membantu menyuburkan tanah.

"Di sini saya mencoba menanam kacang-kacangan," kata Jowett. "Saya cuma ingin membiarkannya tumbuh, karena tanaman legum mengikat nitrogen ke tanah. Selanjutnya, kita menggali mereka dan membaurkannya dengan pasir. Mereka akan terdekomposisi dan meningkatkan kualitas tanah dan kapasitas penyimpanan airnya, serta menambahkan sedikit nutrisi."

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Saat ini, air untuk keperluan rumah kaca diangkut dari Laut Merah dengan menggunakan truk — tapi mungkin itu akan berubah tak lama lagi.

Memompa air dari laut

Meski tim Proyek Hutan Sahara telah menguasai cara bercocok tanam di padang pasir, ada satu batu sandungan yang belum mereka atasi: bagaimana membawa air laut dari Laut Merah ke lokasi tersebut. Saat ini, sedang dibawa oleh lori yang menempuh perjalanan sejauh 15km setiap dua hari sekali. Itu bukan cara yang netral karbon, dan tidak akan berkelanjutan setelah proyek berkembang.

"Untuk mengembangkan operasi, kami membutuhkan saluran pipa dari laut yang memompa air laut. Itulah yang sekarang kami sedang usahakan untuk biayai" kata Hauge.

Meski demikian, mereka tetap optimis. Mereka saat ini tengah mempersiapkan penelitian untuk menunjukkan bagaimana saluran pipa dapat menciptakan nilai tidak hanya untuk skala-komersial Sahara Forest Project, tetapi untuk masyarakat lainnya, misalnya dengan menciptakan lapangan kerja dan peluang bisnis.

Besarnya dukungan untuk proyek ini – termasuk, yang terpenting, dukungan dari keluarga kerajaan dan istana kerajaan Yordania – berarti mereka punya alasan untuk berpikir bahwa proyek ini dapat bergerak maju, mungkin dengan pembangunan saluran pipa dimulai segera setelah akhir 2018.

Bahkan dengan mengesampingkan tantangan politik dan birokrasi yang berhubungan dengan pipa saja, gagasan untuk mengubah petak gurun seluas 20ha menjadi kumpulan rumah kaca dan kebun bukanlah hal yang mudah dibayangkan. Tapi seperti kata tim Proyek Hutan Sahara, teknologi di sini semuanya sudah teruji — dan sudah digunakan secara bersamaan di padang pasir ini.

Namun bukti yang paling meyakinkan adalah ketimun yang diberikan Utsola sebagai camilan perpisahan, yang tumbuh dari tanaman merambat di rumah kaca bertenaga surya: rasanya lezat, renyah, dan sangat nyata.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini,How to use seawater to grow food in the desert, di BBC Future.

Berita terkait